Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 Februari 2016
[Dimuat di Metro Riau, Minggu, 24 Januari 2016]
Puncak segatan matahari terjadi lagi, padahal ini
sudah masuk musim penghujan. Pasir kembali mendidih. Angin berembus seperti
kobaran api yang menyala. Ini memang aneh. Tapi, tidak ada yang lebih
mengejutkan selain kabar kematian Pak Burhan, pria berumur yang begitu dermawan,
di siang bolong begini. Banyak yang bilang, Pak Burhan mati kelaparan.
Semua orang berbondong-bondong menaruh tanya. Mengapa
Pak Burhan bisa menjemput maut karena kelaparan? Sosoknya yang pemurah dan
selalu membantu banyak orang seolah mustahil kematian seperti itu yang
menimpanya. Jika Pak Burhan mati stroke atau serangan jantung, mungkin semua
orang akan terima karena umurnya yang memang sudah tua. Pertanyaannya lagi,
kenapa dia sampai mati kelaparan? Tidak adakah orang yang memberinya makan?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di kepala
banyak orang. Tidak ada yang menyangka akan seperti ini akhir hidup Pak Burhan.
Saya sendiri sontak kaget mendengar kabar angin itu. Namun, bagaimanapun
jenazah Pak Burhan telah diangkut dengan ambulans menuju tempat
peristirahatannya yang terakhir.
Iring-iringan pengantar jenazah sangat banyak
diikuti suara sirene ambulans yang meraung-raung. Semua seperti menyimpan
kehilangan yang mendalam. Betapapun, Pak Burhan telah mencetak banyak amal
kebaikan. Kemurahan hatinya dan kesederhanaannya. Satu yang masih saya
sesalkan, kenapa Pak Burhan yang kami kenal baik harus mati kelaparan?
Saya dan Pak Burhan memang tidak terlalu dekat. Saya
mengenalnya hanya sebatas rekan kerja sebelum akhirnya dia mengundurkan diri.
Kami sama-sama kerja sebagai buruh di pabrik beras. Meskipun Pak Burhan cukup
berumur ketimbang kami yang bekerja dengannya tapi dia memiliki semangat kerja
yang lebih besar daripada kami.
Saya tidak pernah melihatnya mengeluh sama sekali
walaupun mesti lembur hampir tiap hari. Suatu hari saya melihatnya telah
bermandikan keringat, sambil batuk-batuk dia masih menyelesaikan pekerjaannya.
Menumbuk padi dan menggilingnya.
“Pak, kenapa tidak istirahat saja?” Saya
mengingatkan. “Nanti saya gantikan pekerjaannya.”
“Tidak apa-apa. Sebentar lagi juga selesai,” katanya
masih penuh semangat.
Saya mendekat padanya, bermaksud membantu
pekerjaannya. “Pak Burhan ini hebat.”
Pak Burhan tersenyum mendengar pujian saya.
“Bapak ini kan lebih tua daripada kami semua. Tapi,
semangat Bapak masih seperti anak muda. Sama sekali tidak pernah capek.”
Dia terkekeh. “Saya juga pernah capek. Tapi bukan
berarti itu adalah alasan saya untuk mengeluh. Saya masih bisa kerja. Saya
masih bisa kasih makan diri sendiri. Sementara banyak orang tunggang langgang
cari kerja untuk makan. Makanya, ya, disyukuri saja.”
Begitupun, setelah setahun lebih bekerja di pabrik,
Pak Burhan memutuskan untuk mengundurukan diri. Alasan tepatnya tidak begitu
saya ketahui, tapi kata beberapa rekan kerja, Pak Burhan sudah merasa beda visi
dengan di pabrik. Banyak kejanggalan yang tidak diingini, misalnya gaji yang tidak
seimbang dengan pekerjaan atau ego tinggi yang dimiliki pihak pengelola yang
selalu membedakannya dengan buruh lain hanya karena masalah umur. Dia dianggap
tidak becus lagi. Namun, setelah pengunduran dirinya, Pak Burhan kadang jadi
kuli panggul, kuli bangunan, atau apa saja yang bisa dikerjakannya.
Saya kian kagum pada sosok yang lumayan ringkih itu.
Selain sifat kesederhanaannya dan dengan semangat yang tinggi, Pak Burhan
banyak membantu orang padahal dia sendiri sedang kesusahan. Dia bukan orang yang
berkecukupan tapi terlihat selalu cukup jika bersedekah.
Hal yang saya heran dari Pak Burhan, meskipun suka
membantu sesama tapi dia paling tidak suka dibantu orang. Dia selalu beralasan
bahwa dia masih kuat untuk mendapat bantuan. Pernah sesekali saya melihat Pak
Burhan jalan kaki sendirian. Tampaknya perjalanan kaki Pak Burhan sudah lumayan
jauh atau matahari yang semakin terik saja hingga Pak Burhan terlihat begitu
letih, baju kaosnya bahkan basah karena keringat. Beberapa kali dia mengusap
dahinya dengan lengan.
Saya yang kala itu mengendarai motor menuju pasar
berhenti tepat di sampingnya. Saya mencoba untuk memberikan tumpangan padanya.
“Pak, mau ke mana?” tanya saya pelan.
“Mau ke terminal,” jawabnya.
“Oh, ikut saya saja. Toh, saya mau ke pasar dan
jalurnya searah.”
“Tidak! Terima kasih. Adek jalan saja.” Pak Burhan
menolak sambil tersenyum sedikit. Dari wajahnya, saya bisa melihat guratan
keletihan di dalamnya.
“Ikut sajalah, Pak! Kelihatannya Bapak capek sekali
apalagi masih jauh perjalanannya.”
Pak Burhan tetap menolak. Dalihnya dia ingin
olahraga. Daripada maksa terus dan akhirnya terdengar menyinggung. Saya pun
memutuskan pergi sendiri. “Kalau begitu saya duluan, Pak!”
“Hati-hati.” Dia masih sempat teriak saat itu. Dalam
teriakannya, tetap terdengar rasa semangat di sana. Pak Burhan memang hebat.
Hal-hal yang saya paling kenal dari Pak Burhan
terasa mengaburkan kabar penyebab kematiannya. Mati kelaparan. Saya benar-benar
tidak percaya. Pasti ada orang-orang yang sengaja menyebar gosip tentang itu.
Setelah jenazah Pak Burhan dimasukkan ke dalam liang
lahat dan dibacakan doa oleh Pak Imam, para rombongan meninggalkan makam. Di
antara rombongan itu, tidak seorang pun yang saya lihat merupakan keluarga
dekat Pak Burhan. Kebanyakan dari yang datang hanyalah mantan rekan kerja Pak
Burhan, tetangganya, dan orang-orang yang mengenalnya atau mungkin yang pernah
dibantunya.
Selama saya mengenal Pak Burhan, saya memang tidak
pernah mendengar kabar soal keluarganya. Hingga umur genap lima puluh dua, Pak
Burhan tetap menjadi bujang lapuk. Saya tidak tahu menahu mengapa Pak Burhan
tidak mencari istri. Ada yang bilang, Pak Burhan tetap setia sendiri karena
tidak mau menyusahkan seorang wanita yang akan menjadi istrinya nanti. Hidup
sudah susah, tidak perlu dibikin tambah susah.
Pak Burhan juga tidak memiliki kerabat dekat. Dia
telah lama hidup sendiri sebagai manusia perantauan. Pak Burhan seperti hidup
sebatang kara.
Sepulang dari mengantar jenazah Pak Burhan, sudah
banyak obrolan soal mengapa Pak Burhan sampai mati kelaparan. Semua seakan
menyesal telah melupakan sosok yang selama ini banyak membantu. Seperti sebuah
ketidakadilan, banyak yang merutuki kelalaian masyarakat sekitarnya sampai
membiarkan Pak Burhan harus hidup di tengah perut yang kosong.
Pak Lurah dengan inisiatif beberapa warga pun
mengadakan pertemuan mendadak di balai desa untuk membahas penyebab kematian
Pak Burhan, yang terasa sangat disesalkan. Pak Lurah membuka pertemuan dengan
sedikit pidato.
“Innalillahiwainnailaihirajiun! Telah berpulang,
keluarga kita, saudara kita, sahabat kita, Pak Burhan Saleh. Dia sosok yang
kita kenal begitu baik dan dermawan. Banyak di antara kita yang telah mendapat
bantuan darinya. Termasuk saya pribadi. Saya dan tentunya kalian semua merasa
kehilangan akan sosoknya. Namun, keresahan saya timbul ketika mendengar kalau
Pak Burhan meninggal karena kelaparan. Mengapa hal itu bisa sampai terjadi? Ini
pasti sebuah kelalaian. Saya mengadakan pertemuan ini agar tidak ada lagi
korban kelaparan selanjutnya.”
Semua orang yang hadir menundukkan kepala. Ada
guratan sedih di wajah mereka. Beberapa orang yang mengenal begitu dekat sosok
Pak Burhan bahkan meneteskan air mata. Suasana pun menjadi senyap dan haru.
Di tengah kegamangan, Pak Amin, tetangga Pak Burhan,
angkat bicara. “Semenjak Pak Burhan tidak lagi kerja di pabrik, dia memang
selalu kelayapan tidak jelas. Apalagi umurnya yang sudah tidak muda lagi, Pak
Burhan sempat beberapa kali sakit. Dulu, saya pernah melihat dia keluar rumah.
Ketika ditanya mau ke mana, katanya ingin membeli obat. Saya tahu betul kalau
Pak Burhan itu orang baik dan beberapa kali juga membantu saya. Tiap kali
diberi uang, dia selalu tolak dan menganggap itu keikhlasan. Saat itu, saya
bermaksud ingin menolongnya untuk membelikan obat yang diingini, sekaligus
balas budi. Namun sekali lagi, Pak Burhan menolak bantuan saya. Makanya, karena
sering sekali ditolak, saya pun jadi sungkan untuk membantunya bahkan terkesan
mengabaikan padahal saya paham dia juga mengharap bantuan. Jika saya kurang
perhatian padanya, saya minta maaf. Kematiannya juga bukan mau saya.” Pak Amin
mengakhiri ucapannya dengan tatapan menyesal.
“Saya juga.” Sebuah suara terdengar lagi. Seseorang
pun maju di hadapan para warga yang hadir. Dia adalah Pak Jahid. Seorang bapak
berkumis tebal itu bukan mantan rekan kerja, tetangga, apalagi keluarga Pak
Burhan. Mungkin dia orang yang juga pernah dibantu olehnya.
Pak Burhan memang membantu semua orang tanpa melihat
status dan kedekatan. Pak Burhan pernah bilang, jika kita membantu, bukan
dilihat dari siapa yang kita bantu tapi apa yang bisa kita bantu.
“Kamu juga apa?” Pak Lurah bertanya.
“Saya juga pernah ditolong Pak Burhan. Bahkan saya
merasa telah berutang budi padanya. Namun saya minta maaf.” Pak Jahid tiba-tiba
mengubah ekspersi wajahnya dengan begitu menyesal.
Semua orang lantas menatap Pak Jahid dengan bingung.
“Sehari sebelum Pak Burhan meninggal. Saya sempat
melihat dia berjalan sambil membawa bakul besar. Saya ingin mendekatinya untuk
memberi bantuan tapi urung karena saya pikir dia akan kembali menolak. Soalnya
saya sempat malu besar ketika berusaha menolongnya di hari lain dan ditolak
mentah-mentah di depan banyak orang. Dia bilang saat itu kalau dia bukan lagi
orang tua dan masih kuat untuk bekerja sendiri. Dia lalu pergi meninggalkan
saya.” Pak Jahid mulai meneteskan air mata. “Padahal maksud saya baik. Kemudian
saat dia tampak capek menenteng bakul dari sana ke mari, dia pun terjatuh. Saya
tetap tidak menolongnya. Saya menyesal sekali. Apalagi saya langsung pergi saat
itu.”
Mendengar berbagai cerita penyesalan yang dialami
mereka bersama Pak Burhan, saya jadi teringat namun tidak ingin menyampaikan di
depan khalayak. Saya seperti malu pada diri sendiri hanya karena Pak Burhan
juga sering menolak bantuan saya.
Kala itu. Saya melihat Pak Burhan terjatuh. Saya
melihat bakul berisi nasi sisa itu berserakan di tanah. Saya melihat dia
berjuang seorang diri untuk memunguti nasi sisa itu sedikit demi sedikit. Namun
saya tidak membantunya dan malah pergi meninggalkannya. Pak Burhan, kami
menyesal, saya sangat menyesal.
Watampone, 10-01-15 22:20
JUSTANG ZEALOTOUS. Menulis cerpen, puisi, dan
artikel. Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP
Muhammadiyah Bone. Anggota dari Forum Lingkar Pena Cabang Bone. Beberapa
karyanya sudah pernah diterbitkan.
Jumat, 10 Juli 2015
Teka-Teki Pembunuhan
Oleh: Justang Zealotous
Pria berpakaian hitam putih dengan rambut dianyam ke atas dahi sedang berdiri di depan sidang. Dia diadili atas kasus pembunuhan kekasihnya sendiri, Martha.
Pria bernama Refan itu terus menyangkal akan tuduhan yang dilemparkan padanya. Bahwasanya bukan dia yang telah membunuh Martha, bahkan tak tahu menahu tentang pembunuhan tersebut.
“Kenapa kau terus menyangkal? Bukankah sudah pasti dari pesan singkat yang masuk tentang kau akan datang ke rumahnya pada pukul sepuluh malam,” tuduh sahabat Martha, juga sebagai saksi persidangan. Wanita rambut ikal panjang itu sengit mendakwa Refan. Dia terlalu kesal akan kematian sahabat karibnya.
“Benar. Aku memang mengirim pesan singkat itu. Tapi—“
“Tapi apa? Kau masih mau menyangkal?” potong sahabat Martha.
“Izinkan terdakwa menjelaskan terlebih dahulu!” seru hakim sidang.
Keringat Refan mulai bercucur pelan. Dia berkali-kali menelan ludah sambil sekali-kali bernapas pendek. Lalu, dia melanjutkan kembali ucapannya, “Tapi, aku terlambat datang karena tiba-tiba bensin motorku habis. Aku bingung harus beli di mana karena pom bensin lumayan jauh. Kucoba untuk kirim pesan ke teman yang rumahnya dekat dari pom bensin, tapi baterai ponselku habis—“
“Aishhh, palingan kamu mengada-ada tentang itu. Apa susahnya, sih, jujur?” potong sahabat Martha lagi. Dia kelewat emosi.
“Sssttt!” tegur hakim sidang, membuat sahabat Martha membisu.
Refan mendesah lagi, lalu melanjutkannya, “Kemudian aku mengecas ponsel. Setelah nyala kembali, segera kuhubungi Jefri, teman yang kumaksud tadi. Dia meng-iya-kan. Lama sekali dia datang, katanya macet. Aku pun berangkat ke rumah Martha. Tapi, aku yakin sudah sangat telat.”
“Kau tahu? Hasil penyelidikan menunjukkan sidik jarimu banyak ditemukan di pisau yang kaupakai menghilangkan nyawa sahabatku. Itu semua sudah jadi bukti,” tegas sahabat Martha lagi.
“Setelah tiba di rumahnya yang ternyata pukul sebelas. Aku sudah menemukan dia terkapar bersimbah darah di lantai dengan pisau sudah tertancap di pe—“
“Kau pasti penulis ulung, ya?” potong sahabat Martha lagi, “Karanganmu sangat luar biasa hingga buat tercengang. Tepat saat datang, memang sudah kulihat kau menggenggam pisau yang masih tertancap di perutnya. Dan, kau tahu juga? Aku masih punya saksi lagi.”
Saksi yang dimaksud langsung muncul setelah dipanggil.
“Bisa kaujelaskan apa yang kautahu soal kasus ini?” tanya hakim.
“Sekitar pukul 10.30, aku melihat seseorang dengan pakaian serba hitam melewati pagar rumah korban,” jelas saksi tersebut.
“Bisa dijelaskan ciri-cirinya yang lebih detail!” pinta hakim.
“Tinggi sekitar 175 cm, badan tidak kurus juga tidak gemuk, seperti penutup ninja yang menutupi wajahnya. Pakai motor skuter biru menyala.”
“Skuter biru?” kaget Refan. Matanya melotot tajam, mukanya memerah penuh emosi.
“Ada apa? Itu motor kamu? Hah?” tanya sahabat Martha penuh selidik.
“Bukan! Itu motor Jefri. Apa alasannya terlambat itu sebenarnya karena habis membunuh Martha? Sialan!” ungkap Refan.
Jefri segera dipanggil masuk ke ruang sidang. Kebetulan, dia sedang menemani Refan.
“Bukan! Bukan aku yang membunuhnya. Aku memang ingin membunuhnya tapi ternyata dia lebih dulu bunuh diri. Sebelumnya aku menguping, dia bunuh diri karena kesal setelah menemukan foto mesra Refan dengan Tina, sahabatnya sendiri,” jelas Jefri sambil mengap-mengap.
Sahabat Martha dan Refan langsung bertatap muka.
Jumat, 03 Juli 2015
Pria dan Bunga Mawar dalam Genggaman
Oleh: Justang Zealotous
Bunga yang terus kugenggam sedari tadi terjatuh. Kelopaknya berhamburan, bentuknya tak lagi sempurna. Setitik senyum pada pita menghilang, dipudarkan kegelisahan.
Bulir air mata tak tahan basahi pipi. Tak lagi terseka pada gerangan tangan yang rela. Semua hilang, rasa dan cinta itu. Semua yang telah lama kusimpan sejak pertama lihat dia di lantai dansa.
***
“Aku suka bunga tapi kau tak akan menemukannya di sini. Cepat datang, ya!” ucap wanita itu lewat telepon.
“Aku pasti ke sana dengan bunga mawar dalam genggaman dan tak mungkin kulewatkan momen kedua ini. Masih Kafe Armenda, kan? Tunggu aku!” Telepon itu segera kumatikan tanpa basa basi. Aku terlalu senang.
Pakaian nuansa biru abu-abu dengan manik-manik berkilauan telah terpasang. Celana jin tebal tak terlalu ketat jua kupasang. Minyak rambut dan semprotan parfum sana sini. Aku tak bisa menjadi makhluk biasa untuk malam luar biasa.
Kendaraan butut, setidaknya hampir mirip Lamborgini zaman batu, segera kuhampiri yang tepat terparkir di tepi jalan. Kukendarai dengan super hati-hati, namun tak begitu lamban juga.
Aku tak sabar untuk bertemu kedua kalinya di lantai dansa. Bukan karena apa, cuma dia yang kukenal sebagai pedansa terbaik di kota seribu kafe. Dan, aku bakal berdansa dengannya. Suatu kebahagiaan terbesar yang pernah ada dalam hidupku. Selain itu, aku diam-diam menaruh hati padanya.
Setelah tiba, rupanya ada penjual bunga di depan kafe. Bunga mawar dengan kelopak merah menyala dan semerbak harumnya yang mewangi. Tepat sekali seperti janji akan membawakannya.
Kubuka pintu kafe dengan perasaan yang beradu, senang juga gelisah. Aku senang karena bakal dansa lagi dengannya. Gelisah, ya, aku belum bisa menjelaskan mengenai kata ini, mungkin cukup gelisah tak bisa maksimal untuknya.
Setelah pintu kafe terbuka dan suara musik nostalgia ala tahun 90-an langsung memburu telinga, sudah ada puluhan orang yang meramaikan tempat itu. Kuarahkan ke pandangan segala arah, wanita itu tak terlihat. Apa dia sungguh datang? Aku sangat gelisah kini.
Tiba-tiba seorang wanita dengan topeng muka di wajahnya langsung maju ke lantai dansa. Dari postur tubuh yang lentik, jelas sekali dia yang ingin kutemui. Senyumannya mengembang dan menunjuk ke salah satu arah, kepadaku. Aku membunga.
“Kau!” teriaknya.
“Aku?” tanyaku dengan perasaan sangat gugup. Dia menggerakkan jemarinya memanggil.
Lalu, aku segera melangkah. Satu dua langkah, segera terhenti. Bukan aku. Dia tak menunjuk ke arahku, ada seorang pria gagah dari belakang yang melewati langkahku. Pria itu bergegas ke lantai dansa.
“Hentikan musiknya!” pinta lelaki itu sembari sebuah kain dari balik panggung
mengiringinya turun. Ada tulisan di sana, ‘Will you marry me?’.
***
Aku tak sanggup melihat ini semua. Air mataku masih berlinang. Bunga tadi barangkali sudah terinjak di sana. Aku tak peduli dan akan segera pulang. Cukup buat aku terluka lebih dalam.
Segera kucari ponsel di saku celana untuk menelepon teman agar dia menjemputku. Setidaknya menenangkan diri bersamanya. Ternyata ada pesan singkat yang dari tadi masuk. Aku membukanya. ‘Bukan Kafe Armenda. Tapi, Kafe Armenia. Segera datang dan dansa bersamaku.’
Jumat, 16 Mei 2014
PANGERAN JAS
HUJAN
By. Justang Zealotous
Rupaku
bukan bidadari
Aku
tak manis, tak juga rupawan
Aku
tak menawan, cuma hati seputih awan
Gayaku
bukan permaisuri, cuma cinta selalu tulus
Sajak itu selalu
terukir dalam coretan hati. Terkadang tersimpul dalam secarik kertas. Berharap
suatu hari nanti, akan ada seorang pangeran yang entah siapa kan membacanya dan
paham tentang aku. Paham tentang perasaanku. Paham tentang adanya cinta yang
selalu tulus untuk sang idaman.
Namaku Tina. Pengalamanku
tentang cinta, bisa dikatakan sangat langka. Terlahir dengan wajah tak karuan
begini, siapa mau? Meski yakin, Tuhan telah menyiapkan sosok yang pantas
untukku.
Gadis
kacamata. Rambut kepang. Riasan tebal. Mulut yang menjorok ke depan. Rahang
yang moncong. Hidung yang setengah habis. Hantu sendiri bahkan muak jika
melihatku. Ingin operasi plastik, biaya super mahal. Menghabiskan hartaku tujuh
turunan. Tuhan pernah bilang, manusia diciptakan berpasangan-pasangan. Apa iya,
aku punya pasangan juga?
Pertanyaan yang membuatku
sempat putus asa itu memang selalu membelenggu hidupku. Namun, untungnya ada
sesosok pria di kampus yang selalu buat hatiku berbunga. Dia Henry. Cowok tampan, tinggi, kulit putih
bersih, rapi, fashionable dan dengan
tubuh atletisnya yang selalu kupandangi dari jauh. Mana berani aku mendekatinya.
Aku sadar diri. Dia pangeran sedangkan aku hanyalah budaknya bawahan.
Jujur. Henry yang
sering kujuluki sebagai pangeran kampus itu memang menjadi inspirasi
terbesarku. Demi dia, aku rela berubah jadi lebih cantik agar bisa dilirik.
Tiap hari perawatan. Tapi, sepertinya takdir tidak bisa dibohongi. Henry masih
saja ogah melirikku. Meski hasil perawatan itu memang hanya mengubah dari
terlalu jelek menjadi agak jelek. Setidaknya, menatapku bukan hal menjijikkan
untuknya, bukan?
***
Seperti biasa di
kampus, aku menjadi makhluk terasing. Segitu burukkah diriku hingga terkesan buangan.
Tapi, tak masalah. Dedikasiku dalam pendidikan dan sosok Henry membuatku tetap
bertahan. Dia sungguh hadiah terindah dari Tuhan untukku. Meskipun hadiahnya
hanya terbungkus dan terpajang di etalase kaca.
Aku berjalan sendirian.
Sangat tergesa-gesa karena hari ini harus mengikuti ujian praktikum. Tuhan
memang adil, walau aku dikaruniai wajah yang tak maksimal tapi otakku masih
brilian. Aku tak mungkin melewatkan ujian begitu saja.
Brak! Langkah yang
memburu terhenti saat menabrak seseorang. Buku-buku yang kubawa berjatuhan.
Sebelum kupungut semua, kutatap orang yang kutabrak. Aku terperanjat. Rupanya
orang itu Henry. Tubuhnya sangat dekat denganku, bahkan kulitnya yang mulus
sempat menyentuhku. Aku pasti akan selalu ingat momen ini.
Aku tersenyum. Dia
cemberut. Lalu, kugerakkan bibirku yang kaku perlahan, “Ma-af!”
Dia tak menjawab.
Tampaknya sangat kesal karena kacamata yang dikenakannya terjatuh dan pecah
karena saat melangkah, aku tak sengaja menginjaknya.. Wajahnya pun memerah dan
siap merutuk tapi aku menunduk dan segera mengambil kacamata itu untuknya. Belum
sempat kuserahkan, dia telah melangkah pergi tanpa menoleh. Kacamata itu pun
kusisipkan ke saku.
Wajar dia bertindak begitu
karena sepenuhnya salahku. Aku telah merusak kacamatanya. Aku sungguh merasa
bersalah. Ingin rasanya minta maaf walau tak cukup berani. Aku tak mau buat dia
kesal karena kebodohanku.
Kutarik napas
pelan-pelan, lalu memungut buku-buku yang sedari tadi berserakan di tanah.
Kemudian melanjutkan langkahku. Aku tak mau terlambat dan mendapat penyesalan
dua kali hari ini.
***
Ujian praktikum
selesai. Sementara kurapikan meja, mataku tiba-tiba berpaling ke kaca bening di
laboratorium, di sana ada Henry sedang berjalan. Jantungku berdegup. Sejauh ini
saja dia mampu membuat terlena, bagaimana kalau dekat. Aku harus segera
membereskan semuanya sebelum terlambat. Aku ingin minta maaf. Harus. Ini
kesalahanku.
Kuambil tas merah di
atas kursi dan menggantungnya ke pundak. Lalu mengambil langkah cepat menuju ke
luar. Saat di bahu pintu, kutatap sekeliling. Rupanya dia sudah ada di ujung
koridor, selangkah lagi langkahnya akan menghilang.
Aku tak akan
kehilangannya kali ini, kata maaf itu harus terucap. Entah dia terima atau
tidak, yang jelas tidak menyimpan beban. Kukejar dia dengan langkah seribu, sesekali
juga kuteriakkan namanya agar dia memalingkan wajah dan menyadari panggilanku.
Rupanya semua sia-sia,
napasku yang sudah sengal-sengal tak berhasil menggapainya. Dia lebih dahulu
menaiki mobil sporty merah miliknya
dan melaju kencang. Aku mengatur napas kembali dan meraih kacamatanya di saku. Aku pasti bisa minta maaf padamu.
Batinku.
Aku memang sudah
terlambat hari ini. Tapi, aku tetap yakin niatku yang baik untuk minta maaf
akan segera membawaku padanya, cepat atau lambat. Kumasukkan kembali kacamata
itu ke saku. Satu-satunya benda miliknya yang kini di tanganku. Sungguh
bahagia.
***
Sudah hampir gelap,
atau mungkin karena langit sedang mendung. Awan hitam bergerombol di atas sana.
Sepertinya akan hujan. Kuraih payung yang kusematkan di tas. Payung hijau
totol-totol yang memang selalu kubawa, apalagi musim hujan begini. Meski aku
pencinta hujan tapi beberapa buku kuliah harus diselamatkan. Daripada basah,
rusak, mending sedia payung sebelum hujan.
Segera kutarik benang
panjang pada payung dan seketika itu kain payung terbentang ke atas. Aku
melangkah menelusuri jalan pulang di bawah lindungan payung. Benar saja,
beberapa menit berjalan, angin sudah menderu. Dedaunan di pohon menari-nari.
Payungku ikut bergoyang tak terkendali. Kupegang erat-erat agar tak melayang.
Setengah perjalanan,
petir ikut bergemuruh. Bersahut-sahutan memecah angkasa. Titik-titik air yang
berjatuhan segera datang. Sementara payungku kian tak terkendali karena amukan
angin. Aku berusaha menggenggamnya dengan sekuat tenaga.
Tak berselang lama,
genggaman tanganku tak cukup erat hingga payungku melayang terseret angin. Aku
mencoba mengejar tapi angin kian menerbangkannya semakin jauh. Benar-benar tak
berguna, aku terlalu lemah hingga itu terjadi.
Aku cemas ketika hujan
datang dan membasahi seluruh tubuhku, juga tasku. Buku-buku yang kusimpan bisa
rusak. Itu akan semakin membuat aku menggundah. Tapi, aku tak mungkin berdiam
diri, berharap hujan menyurutkan niatnya untuk turun hari ini. Itu sungguh
mustahil dan benar-benar bodoh. Sebaiknya mencari tempat berteduh.
Kuedarkan pandangan ke
sekeliling. Hanya pepohonan yang rindang berjejer rapi di tepi jalan. Halte bis
mana? Tanda-tanda hujan semakin nyata.
Petir bergejolak. Angin menderu hebat. Awan menghitam. Aku masih saja seperti
orang tolol. Membisu.
Di tengah cemasnya
hati, sesosok dari kejauhan berjalan ke arahku. Langkahnya semakin mendekat.
Apakah dia malaikat yang diturunkan untuk melindungiku? Semakin dekat dan
semakin jelas. Dia agak tinggi, pakai jas hujan, dan membawa payung.
Tunggu! Payung itu tak
asing. Payung itu payungku. Apakah dia benar-benar malaikat? Bukan, dia seperti
pangeran. Pangeran yang membawa payungku. Aku ingin memperhatikan wajahnya tapi
tertutupi oleh masker penutup mulut dan hidung . Tak masalah yang penting
payungku telah kembali.
“Ini payungmu?”
tanyanya seraya menyerahkan payung itu.
Aku mengangguk sambil tersenyum
dan mengambil payung dari tangannya. “Terima kasih!”
“Tak masalah. Tadi tak
sengaja melihat payung itu terlepas dari tanganmu hingga melayang-layang.
Untungnya melayang dekat ke arahku, jadi mudah untuk mengambilnya,” jelasnya.
Aku cuma bisa tersenyum,
mulutku kaku. Dia sungguh baik. Aku tak pernah menemukan pria sebaik dia. Tuhan
memang tak pernah tidur, Dia mendatangkan seorang pangeran jas hujan ke bumi
untuk menolongku.
“Sebaiknya kamu pegang
payung itu erat biar tak terbang lagi. Hujan segera datang dan tak baik untuk
kesehatanmu,” sarannya dengan nada lembut. Tak ada kepalsuan pada setiap
ketukan kalimatnya.
Oh
Tuhan, pangeran yang Kau turunkan untukku ini sangat baik? Batinku.
Aku menatapnya sayup-sayup sambil tetap tersenyum. “Sekali lagi terima kasih.”
Dia mendesah. Desahan
napasnya terdengar jelas.
“Boleh tanya, tidak?”
pintaku.
“Tentu boleh!”
“Kenapa kau menolongku?
Apakah tidak malu dekat denganku? Selama ini tak pernah ada yang dekat denganku
karena wajah yang buruk.”
Dia tertawa kecil dan
kemudian menjawab, “Aku menolongmu karena wajib. Kenapa harus malu? Orang yang
tak mau dekat denganmu, berarti mereka buta.”
Aku terdiam membisu. Seakan
terhipnotis akan kalimatnya yang syahdu. Tak percaya ada orang yang mengucapkan
demikian. Hening beberapa saat hingga hujan datang memecah kesunyian.
“Hujan sudah datang.
Kita ke bawah pohon itu, yuk!” ajakku.
“Untuk apa?” tanyanya.
Keningku mengerut,
“Kalau di bawah pohon, kan, biar hujannya tak cukup deras.”
“Oh, baiklah. Kamu ke
sana dan biar aku di sini! Aku suka hujan.”
Dia suka hujan? Aku
juga. Apakah kita jodoh? Tidak, dia bukan jodohku. Jodohku pangeran kampus. Aku
tak mungkin berpaling hati. Cintaku sudah tulus untuknya. Jika aku mencintai pangeran
jas hujan, berarti tak punya cinta lagi. Hanyalah khianat.
Terpaksa kusurutkan
niatku ke bawah pohon. Tak mungkin membiarkan dia sendiri. Itu terlalu egois.
Saat dia membantuku, aku malah kabur tak tahu malu. “Aku juga suka hujan.
Baiklah, aku akan menemanimu di sini,” putusku akhirnya.
“Wah, kita sama dong.
Tapi, buku kamu bakal basah jika tetap bertahan di sini. Atau begini, kita
berjalan pulang saja. Rumahmu ke barat, kan?” sarannya lagi.
Aku mengangguk pelan.
Kami berjalan bersama
di bawah derasnya hujan. Aku di bawah lindungan payung, sementara dia dalam
lindungan jas hujan. Aku memintanya untuk sepayung berdua tapi ditolak karena menurutnya
tak baik, bisa menimbulkan fitnah.
***
Sepanjang perjalanan,
tak lupa saling mengenal. Dia Hasyim. Dia mahasiswa tapi tak bilang kampusnya
di mana. Dia suka hujan karena menurutnya sangat indah ketika setiap tetesan
itu berjatuhan dan memercik seperti lantunan lagu. Hujan juga membuatnya
bahagia karena terus mengingatkannya pada orang yang dicintai. Dia tak bilang
siapa orang itu.
Selama perjalanan itu
pula, kami mengobrol banyak hal. Aku sangat suka ngobrol dengannya. Nyambung
dan hangat. Aku juga sempat menceritakan ketertarikanku dengan Henry. Tapi
entah kenapa setiap aku bercerita tentang Henry, dia seperti tersedak,
batuk-batuk. Apa dia cemburu? Tak mungkin. Baru saja bertemu dan kenalan.
Sudah hampir masuk gang
rumahku. Hujan perlahan mereda. Aku belum jua sempat melihat wajahnya. Dia
pamit duluan dan bergegas pergi. Namun sebelum beringsut meninggalkanku, dia
tak lupa meminta nomor handphone. Dia
berlindung sejenak di bawah payung dan mencatat nomorku ke handphone-nya. Dia janji akan menghubungiku malam ini.
***
Senja kemerahan baru
saja menghilang. Di bawah sinar bulan purnama, kubuka jendela lebar-lebar dan
menatap jutaan bintang di langit. Kubayangkan rupa Henry dan menyatukan setiap
rasi bintang, seakan dia sedang tersenyum manis ke arahku. Entah kapan dia mau
membuka hatinya untukku? Aku selalu menunggu hari itu tiba.
Terus kupandangi
bintang yang sesekali mengerling, juga lamunanku tentang Henry yang masih bertahan.
Tiba-tiba handphone berdering. Dengan
gesit langsung kuraih handphone yang
tergeletak di sampingku dan segera memencet tombol angkat.
“Henry?” terkaku.
Dia terdiam. Tak ada
suara di ujung sana. Aku langsung menepuk jidat. Betapa bodohnya aku. Dia tidak
mungkin Henry. Sejak kapan Henry tahu nomorku?
“Maaf, aku pikir
temanku. Ini siapa, ya?” tanyaku lagi.
Agak lama terdiam,
hingga jawaban dari sana terdengar jua, “Maaf Tina. Ini nomor aku, Hasyim.
Ganggu, ya?”
“Oh, kamu. Tidak kok.
Maaf, yah, soal tadi,” balasku.
“Ngga apa-apa. Kayaknya
kamu suka, ya, sama Henry? Dari kemarin sebut Henry terus.”
Aku tersenyum dan
kembali membayangkan Henry. Lalu, lanjut berucap, “Tapi kayaknya dia tidak suka
sama aku. Aku jelek, dia tampan.” Aku memasam. Kembali kudongakkan kepalaku,
bintang perlahan semakin sedikit. Hanya satu yang cerah, setia menemani bulan.
“Kenapa bilang begitu?
Tak pernah ada yang tahu takdir Tuhan seperti apa. Bisa saja kamu berjodoh
dengan dia. Jangan sedih, ya!” ucapnya menyemangati.
Dia begitu perhatian
padaku. Kami menelepon semalam suntuk. Membicarakan banyak hal. Memang tak
terasa waktu saat mengobrol dengannya. Mungkin terlalu asyik hingga jam yang
terpajang di dinding kamarku telah menunjukkan tengah malam. Kami masih saja
mengobrol.
Namun akhirnya kantuk
mengalahkanku. Mata tak lagi kuat menahan. Kuputuskan untuk mengakhiri
panggilan itu. Tapi hubunganku dengan Hasyim dalam sambungan telepon bukan cuma
malam itu. Tiap malam, kami selalu menelepon. Kadang dia dahulu, kadang pula
aku yang menelepon duluan.
Hasyim memang menjadi
temanku kini, tidak lebih. Aku tidak ingin mengkhianati perasaanku sendiri
kalau nyatanya hatiku masih untuk Henry, bukan dia. Aku juga memang tak pernah
bertemu dengan Hasyim. Hanya sekali, saat hujan kemarin.
***
Menghadap ke depan,
lebih jauh, atau ke arah esok fajar bakal semburat. Kini harus kuhadapi
semuanya. Henry tepat di hadapanku. Dia sedang berdiri, menyandarkan
punggungnya ke dinding bersama temannya yang lain. Siapkah aku? Beranikah aku? Itu
tak penting lagi harus dipikirkan. Hal yang sukses bukan apa yang dipikirkan
tapi apa yang akan dilakukan.
Aku berjalan mendekatinya
perlahan. Kuraih kacamatanya yang kusisipkan di saku. Meski bentuknya sudah tak
terlalu baik, tapi bagian pengaitnya telah kusambung dengan plester bening,
kacanya juga sudah kuganti. Aku memperbaikinya seminggu penuh. Aku melakukan
ini demi dia. Demi rasa bersalahku padanya. Demi cinta yang tak pernah
berkurang untuknya selalu.
Selangkah lagi, aku
menyapanya dengan rasa bersalah, “Henry, aku minta maaf!”
Dia berbalik. Jantungku
berdebar. Wajahnya kusam menatapku. Lalu, aku menjulurkan tangan dan
menyerahkan kacamata. Dia terdiam lama hingga akhirnya mengangkat tangan ke
atas dengan telapak tangan terbuka, kemudian mengibaskannya dan merebut
kacamata itu paksa. Belum sampai itu saja, dia lalu mengempaskan kacamata ke
lantai. Aku terkejut.
“Siapa tuh, Henry?”
tanya lelaki di belakangnya.
Henry tak menjawab dan
langsung merutuk ke arahku. “Masih berani dekat denganku? Enyah kau!” ucapnya
sinis dan segera mengempaskan tubuhku, lalu melangkah pergi.
Hatiku sakit. Seakan
diremuk dan dicabik-cabik. Air mataku masih tertahan, hanya ingin menjerit
sekencang-kencangnya. Aku tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Apakah ini
cinta yang sebenarnya saat cinta dibalas dengan pedih?
Aku tak tahan lagi. Aku
mengambil langkah tercepat. Berlari sejauh-jauhnya. Awan tampak hitam dan angin
perlahan mengencang. Hujan mungkin datang. Itu lebih baik. Biarkan hujan temani
aku yang sedih, biarkan hujan temani linangan air mata yang mulai menderai.
Saat hujan akhirnya
tumpah, kurentangkan tanganku dan
biarkan titik-titik air itu membasahiku. Segera kulepaskan semua rintihan hati.
Aku menjerit bersama jeritan petir yang menggejolak. Ini alasan mengapa aku
suka hujan, bisa menangis dan berteriak tanpa ada yang tahu.
Tak berselang lama,
seseorang datang membentangkan payungnya untuk melindungiku. Kutatap orang itu
dengan mata sembap.
“Tina? Apakah kamu baik-baik
saja?” tanyanya.
“Hasyim? Aku baik-baik
saja. Aku hanya terharu dengan hujan yang sangat indah hari ini,” sergahku.
Dia tertawa. “Memang
indah. Tapi, kalau kamu punya masalah, ceritalah!”
“Hmhm, aku tak punya
masalah. Aku boleh minta sesuatu?”
“Tentu saja!”
“Boleh aku lihat
wajahmu? Ah, agak aneh saat kita dekat malah tak pernah lihat wajahmu? Atau,
jangan-jangan—“
Dia terdiam tapi agak
aneh dan memalingkan wajahnya ke kiri. Seakan menyembunyikan sesuatu. Namun,
dengan jahil kutarik penutup kepala jas hujannya, begitupun masker yang
menutupi mukanya. Aku tertawa geli karena berhasil melakukannya. Tapi tiba-tiba
tawa itu terhenti saat melihat wajahnya. Sungguh di luar dugaan.
“Hasyim? Henry? Kau
Henry atau Hasyim? Atau Henry Hasyim itu satu?” tanyaku sangat tak percaya.
Wajahnya sungguh mirip dengan Henry. Jadi, selama ini aku dekat dengan dua
orang berbeda yang nyatanya sama. Aku benar-benar bodoh.
“Aku bisa jelaskan!”
pintanya.
“Apa lagi yang harus dijelaskan?
Kamu mau bilang lakuin ini semua karena mau mempermainkan aku. Biar semua orang
tahu kamu keren. Yah, kamu keren. Karena kamu keren, aku sangat mencintaimu.
Tapi, rupanya persepsi aku tentang cinta itu salah. Cinta yang benar itu apa
yang kita rasa, bukan yang kita lihat. Sukses!”
“Tina, dengarkan aku
dulu!” Dia mulai mengiba tapi wajahnya terlalu bulus untuk kuperhatikan kini.
Aku menjerit lagi. Aku
tak ingin mendengar suaranya. Tiap kali melihatnya, aku terus terluka lebih
dalam dan lebih sakit. Lalu, aku segera berlari menjauh. Meninggalkan dia yang
kini berlutut berharap aku mendengarkannya. Tapi itu tak mungkin, aku sudah
terlalu kesal. Rutukan barusan menyadarkan kebodohanku.
***
Petir masih bergemuruh
dan hujan terus menimpa bumi. Sesaat kemudian, sebuah mobil sporty merah datang dan berhenti dekat
dengan Hasyim. Saat kulihat wajahnya. Dia mirip dengan Hasyim atau Henry. Siapa
lagi dia? Apakah dia pangeran mobil? Pikiranku kacau. Sangat rumit untuk
memikirkan mereka semua.
Masih kugerakkan kakiku dan melangkah pergi.
Tak terduga, sebuah mobil melaju kencang ke arahku. Lajunya tak terkendali. Aku
pasrah dan tak akan menghindar. Aku lebih baik mati daripada terus ditipu oleh
kebodohan.
Kupejamkan mataku. Tuhan, maafkan aku! Aku membatin. Kutunggu
mobil menabrak namun tubuhku terlempar. Seseorang mendorongku dan membuat aku
terlempar ke tepi jalan. Kuarahkan pandangan ke jalanan dan sudah terkapar
seseorang di sana. Dia Hasyim? Hasyim atau Henry yang menolongku.
Aku segera berlari
menghampirinya. Berkali-kali dia memuntahkan darah. Aku berlutut dan menopang
tubuhnya. Air mataku masih berderai.
“Tina, maafkan aku yang
tak bisa jujur padamu!” ucapnya masih terbata-bata, agak tidak jelas tapi aku
masih mampu memaknainya.
“Jangan banyak bicara
dulu! Kita harus ke rumah sakit!” tuturku.
“Aku Hasyim, Tina.
Henry kembaranku. Aku sengaja merahasiakan identitasku karena ingin lebih dekat
denganmu, aku tahu kamu lebih menyukai Henry daripada aku,” jelasnya lagi.
Henry yang dimaksud segera datang.
Aku menatap Henry
lamat-lamat saat dia menggenggam tangan Hasyim penuh penyesalan. Air matanya
tak berderai tapi yakin hatinya menjerit.
“Aku tidak bermaksud
membohongimu. Tina, kamu baik. Aku banyak belajar darimu. Arti cinta yang
kaumaksud benar, aku merasakan cinta bersamamu bukan saat melihatmu.” Hasyim
terus berbicara, sementara darah yang keluar dari mulutnya semakin banyak. Aku
menyuruhnya berhenti karena tak tahan menatapnya terluka tapi dia tetap
melanjutkan, “Tiap hari aku menatapmu dari jauh. Aku tak berani mendekatimu
karena wajahku yang mirip dengan Henry. Aku takut kamu tak mau dekat denganku.”
Hasyim memaksa tubuhnya
bergerak. Dia meraih sesuatu dari dalam sakunya, yakni kacamata Henry. Dia
menunjukkan kacamata itu. “Henry, jaga Tina untukku! Dia sangat mencintaimu
lebih dari dirinya sendiri. Ada banyak hal yang dia lakukan demi kamu. Jangan
sia-siakan cinta yang dia miliki untukmu!”
Reflek aku memalingkan
wajahku ke arah Henry. Dia menatapku balik. Kami bertemu dalam satu mata. Entah
kenapa debaran jantung itu tak lagi kuat dari sebelumnya. Kembali kuarahkan
mataku pada Hasyim dan matanya telah terpejam. Nadinya pun tak terasa. Dia
telah tiada bersama cinta yang telah kami genggam.
Watampone, 16 Mei 2014
Justang Zealotous
Jumat, 18 April 2014
Lelaki dan Payung
Oleh: Justang Zealotous
“Maaf,
Sayang. Hanya payung ini yang tersisa. Aku sudah tak punya apa-apa lagi,” ucap
Kino pilu sambil menunjukkan payung kecil hitam di tangan kanannya.
Heni,
kekasihnya, tertunduk sedih. Ada raut kepiluan yang menghiasi wajah sendunya.
Ia sadar, ini adalah keputusan yang diambilnya untuk bertahan bersama Kino—lelaki
yatim piatu miskin. Orang tuanya tak pernah setuju dengan hubungan itu tapi
cinta Heni pada Kino telah buta.
“Aku
tak bisa memaksamu lagi. Jika kamu ingin pergi, aku sudah pasrah. Selama bersamaku,
kamu selalu menderita.” Kino memelas. Wajahnya semakin pilu disertai rinai air
mata membasahi pipinya. Ia membentangkan payungnya ke atas dan berjalan
menjauh. Heni terdiam, tak ada aksi untuk mengejarnya.
“Ah,
masa dia tidak kejar, sih? Kayaknya dia memang sudah tidak tahan bersamaku
lagi,” gumam Kino pelan, “Payung, hanya ada kau dan aku kini. Semoga kita tak
terpisahkan.”
***
Sudah
tiga hari Kino sendiri. Hanya payung hitam yang menemaninya. Bersama saat hujan
turun, melindunginya dari terik, dan menjadi rumah buatnya.
Tiba-tiba,
cuaca hari itu sangat buruk. Angin menderu kencang. Kino berjalan bersama
payungnya yang terbentang ke atas. Payung itu terhentak-hentak karena angin
bertiup semakin kencang. Saat Kino tak lagi kuat menahan, payung itu terbang
melayang. Sangat tinggi, sangat jauh.
Kino
berusaha mengejar. Ia berlari gesit tapi angin kencang itu membatasi
pergerakannya. Hampa sudah, payung itu kini terbang menjauh, hilang dibawa
angin. Kino menjerit, menangis terisak-isak. Tak ada lagi yang menemaninya.
Pakaiannya? Menurut Kino, payung itu jauh lebih berarti.
“Ya
Tuhan, apa salahku hingga semuanya pergi menjauh dariku?” Kino berteriak-teriak
sambil berlutut dan mengadu pada Yang Maha Kuasa.
Kino
lalu menyeka air matanya. Mengusap dengan tangan kanannya. Ia berdiri perlahan
dan berjalan dengan kepasrahan hati. Ia menuju ke emperan toko. Berlindung dari
kegilaan angin saat itu.
Beberapa
menit kemudian, angin telah berlalu. Pergi tanpa menyisahkan hujan ataupun
membawa pelangi. Matahari kembali terik. Kino pun pergi dari toko itu.
Tak
disangka, seorang wanita yang sepertinya tak asing bagi Kino terlihat sedang
menjajaki sebuah toko. Ia sedang asyik menelusuri rak-rak di toko itu seakan
mencari sesuatu. Setelah berhasil mendapatkan yang diinginkannya, wanita itu pun
keluar dari toko sambil membawa kantong plastik. Kino tercekat, wanita itu
ternyata Heni.
Ketika
merasa dilihat oleh Heni, Kino berlari menjauh. Ia tak mau menyusahkan Heni
lagi. Rupanya, Heni mengejarnya kali ini tak seperti beberapa hari yang lalu.
Kino semakin melaju kencang, Heni pun tak mau kalah mengejar.
“Kino,
tunggu aku!” pekik Heni berusaha menghentikan Kino. Tapi, Kino tetap berlari
tanpa memedulikan Heni.
Heni
semakin gesit mengejar Kino, tapi ternyata sebuah batu membuatnya tersandung
dan jatuh. “Auuuwwwh!” Heni meringis kesakitan. Kino tersadar, langkah kakinya
dihentikan. Ia membalik dan menghampiri Heni.
“Kau
tak apa-apa?” Kino menjulurkan tangannya dan Heni meraihnya. Heni pun berdiri
perlahan dengan bantuan Kino.
“Aku
baik-baik saja,” ucap Heni menahan sakit, “Jangan pergi lagi! Aku tak bisa
hidup tanpamu. Aku membelikan payung yang lebih besar agar kita bisa bersama
selalu di bawah satu payung.” Heni langsung merangkul Kino.
“Yakin?”
tanya Kino tak percaya.
“Tentu
saja. Cinta kita seperti payung ini, akan selalu satu untuk dua jiwa.”
Langganan:
Postingan (Atom)






