Sabtu, 10 Februari 2018

Cerpen: Karma Sirawu Sulo karya Justang Zealotous

Cerpen: Karma Sirawu Sulo karya Justang Zealotous
[Dimuat di Harian FAJAR Makassar edisi Minggu, 11 Februari 2018]

Saya tidak pernah menyangka akan berdebat dengan Ambo. Diiringi tangisan yang datang dari langit yang menurunkan air serupa jarum-jarum sehingga genting rumah seolah ditusuk-tusuk. Setelah sejak lama hingga usia saya mencapai dua puluh empat tahun, rumah kami selalu diramaikan dengan suara bernada rendah, kalau pun bernada tinggi hanya saat Ambo berteriak karena tulang betisnya bergeser sebab terjatuh dari pohon kelapa atau Indo yang berteriak ketika melihat kecoa membuntutinya di kamar mandi, lalu hari ini tiba-tiba saja rumah sudah berubah menjadi medan peperangan.

Perdebatan saya dengan Ambo dimulai sepulang Ambo dari rumah Sanro, ketua adat yang rambutnya beruban dan matanya mulai rabun dengan ingatan yang tak lagi jernih, kemudian membisiki Indo  kalau Sirawu Sulo akan dilaksanakan tahun ini. Saya yang tentu mendengarnya karena duduk tepat di belakang Indo angkat bicara.

"Serius, Ambo? Baru dua tahun kemarin dilaksanakan, tahun ini dilaksanakan lagi?" heran saya. Ambo sontak menatap saya tajam. Matanya seperti panah yang bersiap menembus mata saya.

"Tahu apa? Ambo sudah berkunjung ke rumah Sanro, dan dia sendiri bilang begitu."

Saya masih tidak percaya. Sirawu Sulo selalu dilaksanakan tiga tahun sekali, meski dulu lima tahun sekali tapi politik merembesi kampung diubahlah jadi tiga tahun sekali agar sekalian bahan promosi untuk Pongka, tapi kini malah diubah lagi. Mentang-mentang Ambo calon wakil rakyat. Ini pelanggaran adat.

Saya tahu Ambolah yang senantiasa berhubungan dengan Sanro untuk diinformasikan pada Kepala Desa, kemudian diturunkan ke masyarakat mengenai tanggal baik Sirawu Sulo dilaksanakan. Ketika tadi pagi, dia tiba-tiba bertandang ke rumah Sanro, dan pulangnya malah mengabarkan hal yang tak masuk akal.

"Adampengi'ka, Ambo, betulji Sanro bilang begitu? Bukannya tahun depan baru dilaksanakan?"

"Kurang ajar. Kaukira Ambo berbohong?" Suara Ambo meninggi, kemudian tampaklah hujan turun seperti jarum-jarum dari balik jendela yang selalu terbuka. "Ini sudah perintah adat. Jika kita tidak laksanakan, kampung bisa kena karma."

Kami memang percaya semua yang keluar dari bibir Sanro merupakan kalimat yang datang dari Tuhan. Kami harus meyakini. Bilamana ada yang mengingkar dan tidak melaksanakannya, kampung kami akan mendapatkan musibah berupa kematian berturut-turut, seolah diracuni alam dan kekuasaan.

"Apa seharusnya Ambo konfirmasi ulang sama Sanro? Jangan sampai Sanro salah ingat. Dia sudah pikun, Ambo." Saya membalas Ambo dengan nada sehalus mungkin. Bagaimanapun, saya seorang anak dan dia seorang bapak. Lancang saya meninggikan suara di hadapan beliau.

Tapi Ambo tak terima. Dia menganggap saya sudah melawan orang tua.

Ambo pun meninggalkan saya setelah gemuruh yang terus dia lontarkan, seperti gemuruh yang enggan berhenti meronta di langit sana. Hujan masih turun. Jalan yang batu dan tanah semakin basah.

***

Indo tampak sibuk menyiapkan nasi ketan dan telur. Itu sesajen untuk ritual Mabbule Manu. Setelah segala rangkaian adat dilaksanakan seperti Mabbepa Pitu atau membuat tujuh jenis kue sebagai syarat wajib yang harus dilakukan semua masyarakat Pongka, memainkan permainan rakyat yang sudah diganti dengan pertandingan sepak bola sebagai wujud perkembangan zaman yang dilangsungkan seminggu penuh dan finalnya dilakukan tadi sore, kini puncak Sirawu Sulo akan dilaksanakan dengan diawali Mabbule Manu, mengarak ayam dari rumah Sudirman Mappangara, sanro baru setelah kematian Dajange, sanro lama yang kata Ambo sudah mengatakan kalau Sirawu Sulo harus dilaksanakan tahun ini.

Dajange mati dua hari setelah gemuruh datang di rumah saya kala itu. Banyak menduga kalau dia mati karena usianya memang sudah sangat lapuk. Beberapa orang sedikit menyayangkan, termasuk saya, sebab kami belum sempat menanyakan kebenaran perihal ucapan Ambo. Tapi karena Dajange sudah mati, dan semua orang kadung percaya, Sirawu Sulo tetap dilaksanakan untuk menghindari karma dengan mengusung sanro baru yang merupakan cucu ketiga Dajange sendiri.

"Saya masih tidak percaya kalau Sirawu Sulo berlangsung tahun ini, Ndo. Saya takut kalau itu cuma akal-akalan Ambo biar bisa sekalian kampanye. Mumpung Pongka lagi ramai dan ada soto kuda di setiap rumah," kataku sehabis melayat dari rumah Supriadi. Lelaki bertubuh tambun itu tiba-tiba saja meninggal padahal kata anaknya, dia masih kuat pagi hari dan masih sempat memakan satu mangkuk soto kuda.

"Ushh, kau ini. Ambomu tidak mungkin seperti itu. Lebih baik kau bantu Indo membereskan rumah. Keluargamu dari Bone kota bakal datang. Jangan sampai rumah kita kotor pas mereka masuk."
Saya mengangguk dan segera melupakan pikiran yang mengganjal. Barangkali Dajange menginginkan agar silaturahmi warga semakin erat dengan berlangsungnya Sirawu Sulo yang lebih awal.

Semakin langit diselimuti malam, Pongka semakin meriah. Warga datang dari berbagai arah, baik warga kampung maupun luar kampung. Sanro beserta rombongan mulai mengarak ayam dengan berjalan dari berbagai tempat ke Lapangan Mabbaranie, tempat Sirawu Sulo berlangsung. Orang-orang sudah siap dengan daun kelapa yang sudah diikat untuk kemudian dibakar, terus dilempar-dilemparkan sehingga terjadi perang api. Tampak Pak Bupati duduk di dekat jalan masuk menuju lapangan demi menyambut Sanro nantinya.

Tiba-tiba saya mendapat panggilan telepon dari sepupu. Indo meninggal. Katanya, Indo meninggal setelah jatuh pingsan sehabis menyantap soto kuda, persis seperti kematian Supriadi, atau tiga kematian lainnya yang sebenarnya sempat saya dengarkan sepanjang hari ini. Kenapa kematian berturut-turut bisa terjadi? Saya langsung berlari mendekati Ambo yang berdiri di sebelah Kepala Desa dan Pak Bupati. Saya ingin memberitahu soal kematian Indo, dan karma yang mungkin datang karena Sirawu Sulo. (*)

Watampone, 4/2/18

Ambo: Bapak
Indo: Ibu
Adampengi’ka: Maafkan saya

JUSTANG ZEALOTOUS. Seorang guru Bahasa Indonesia dan instruktur Bahasa Inggris. Anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Cabang Bone.

Minggu, 31 Desember 2017

Cerpen: Kisah-kisah Miris di Jalan Raya karya Justang Zealotous

Cerpen: Kisah-kisah Miris di Jalan Raya karya Justang Zealotous

[Dimuat di Banjarmasin Post edisi Minggu, 31 Desember 2017]

Adakah yang lebih tabah dari aku? Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Seharian ini, aku memang dirundung hujan, dan aku tidak berlari. Aku mematung di tempatku berdiri.
Aku sudah terbiasa seperti ini. Ketika hujan datang, aku membasah. Ketika matahari bersinar, aku menggosong. Tapi seperti yang aku katakan, aku tetap bertahan pada tempatku berdiri.
Jika hujan, tidak ada yang lebih indah selain melihat orang-orang berpayung, melompati genangan air hingga terciprat dan sesekali mengenai pakaian mereka, lalu tiba-tiba ada suara tawa di bawah payung-payung itu. Atau seorang lelaki berjaket jins yang memayungi seorang perempuan yang jelas-jelas memakai jas hujan. Polos sekali.
"Kamu tidak perlu melakukan itu."
"Aku tidak ingin kamu sakit."
"Aku sudah pakai jas hujan."
"Itu tidak cukup."
Lalu, sebuah mobil di seberang jalan membukakan pintu. Perempuan yang mengenakan jas hujan itu masuk, meninggalkan lelaki yang tadi. Dari balik kaca mobil, seorang lelaki melemparkan jari tengahnya ke arah lelaki berjaket jins.
Orang-orang di jalan raya memang selalu lucu. Oleh karenanya, aku betah berdiri berlama-lama di sini. Meskipun hujan membuatku gigil, atau panas yang datang tak tanggung-tanggung. Tapi tidak semua orang di jalan raya itu lucu. Beberapa di antara mereka malah lebih menakutkan daripada hantu-hantu yang bergentayangan di rumah-rumah tua. Aku serius soal ini.
Pernah suatu malam, aku melihat kejadian paling miris yang membuat aku sempat berdoa agar segera dicabut Tuhan.
Seperti biasa, aku berdiri di tempat ini, di dekat tiang nama jalan yang bertuliskan Jalan Merdeka Raya. Malam itu tidak hujan tapi bau aspal basah karena hujan tadi sore masih menguar. Aku yang bisa dikatakan sedikit menggigil memperhatikan mobil, motor, becak, andong, bajaj, hingga truk lalu lalang. Aku selalu senang memperhatikan mesin-mesin yang berjalan angkuh itu.
Di dekat tiang lampu merah, sekitar beberapa meter dari tempatku berdiri, ada seorang anak laki-laki berambut kusut berpakaian kusut menenteng kantong-kantong plastik hitam yang juga kusut. Dia menjajakan kantong-kantong plastik hitam itu ke setiap pengendara yang singgah karena lampu merah.
Ada sedikit rasa kagum melihat anak itu. Dia menjual, bukan mengemis. Dia punya usaha untuk hidup. Aku tidak menyalahkan pengemis-pengemis yang mencari rezeki dengan mengemis, tapi sekali lagi, aku lebih kagum pada anak itu.
"Beli ini, Pak, beli ini, Bu," kata anak laki-laki itu. Tiap kali dia berkata begitu, dia selalu menyertakannya dengan merendahkan bahu. Aku tahu anak itu pasti bekerja di malam begini karena suatu keperluan yang mendesak, atau itu memang pekerjaannya demi membantu biaya sekolah. Itu cuma dugaanku.
Dua jam berlalu, baru satu pengendara yang berhasil membeli kantong plastiknya. Itu karena anak perempuan dalam mobil sedan itu terlihat ingin muntah, jadi dia membutuhkan kantong plastik hitam demi memuntahkan semua isi perutnya.
"Terima kasih banyak, Pak. Semoga berkah," ucap anak laki-laki itu sambil menunduk-nundukkan badannya. Dia terlihat girang sekali memperoleh uang seribuan. Aku yakin sekali, orang tuanya sudah berhasil mendidiknya dengan ajaran agama.
Malam semakin larut. Dingin kota ini makin terasa. Aku tetap bertahan di tempatku berdiri, tetap menyaksikan anak laki-laki penjual kantong plastik di dekat tiang lampu merah yang juga masih berjualan. Dia benar-benat ulet.
Hingga beberapa gerombolan anak datang menghampiri anak laki-laki itu. Pikiranku mendadak kacau. Apa yang ingin mereka lakukan?
"Woi!" teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar.
Anak laki-laki yang berjualan itu malah tersenyum. Tidak tampak rasa takut dalam dirinya. Aku kini mulai bingung.
"Sudah dapat banyak?"
"Belum. Baru satu orang yang beli."
"Ya sudah. Kita ke sana!" Salah satu anak berambut keriting mengajak anak laki-laki itu ke suatu tempat. Anak laki-laki itu mengangguk saja. Mereka kemudian pergi ke tempat yang dituju. Di dekat semak-semak, tak terlalu jauh dari tepi jalan, di tempat yang agak gelap.
Di tengah keremangan, aku menyaksikan anak laki-laki itu bersama dengan gerombolan anak yang tadi. Gila. Mereka mengeluarkan beberapa barang berupa bubuk yang lumayan kecil, menghirupnya sedikit, lalu tertawa-tawa. Mereka juga mengeluarkan sebatang rokok. Astaga. Anak laki-laki itu juga ikutan merokok.
Aku langsung ingin mengutuk diri. Aku tidak tahu tapi aku teramat jengkel dengan diriku sendiri.
Sehabis menikmati dunia, anak-anak itu berpencar lagi, termasuk anak laki-laki yang kembali ke dekat tiang lampu merah. Anak itu kembali menyodorkan jualannya, tapi kini cara berdirinya kurang stabil. Sedikit-sedikit oleng ke kiri, atau oleng ke kanan.
Akibatnya sebuah mobil berwarna putih yang hilang kendali menabrak anak laki-laki itu. Dia terpelanting. Kepalanya jatuh tepat di sisi trotoar. Darah seketika muncrat ke mana-mana. Tidak cukup lama, orang-orang sudah berkerumun ke arah anak itu. Beberapa orang lainnya menghakimi supir mobil, menghajarnya hingga biru-biru, termasuk mobilnya yang dibikin tambah penyok.
Kisah-kisah miris semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari. Aku memang tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Aku tidak mempermasalahkan orang-orang yang sering berjalan dengan lagak, atau orang yang kadang singgah mengencingiku, atau ketika aku jadi bahan lelucon karena sebuah mobil milik pejabat menabrakku. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya. (*)
Watampone, 19 November 2017

Minggu, 24 Desember 2017

Cerpen: Perempuan yang Menikah dengan Luka karya Justang Zealotous

Cerpen : Perempuan yang Menikah dengan Luka karya Justang Zealotous
[Dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu, 24 Desember 2017]


Aku hanya perempuan biasa, Rustam. Perempuan yang masih punya hati yang rapuh serapuh ranting kering jatuh meninggalkan pohon yang ketika terinjak kaki-kaki manusia akan patah sendirinya. Jujur, Rustam, aku tak bisa pura-pura kuat ketika dadaku sudah semakin sesak karena luka yang kauberikan padaku. Aku, perempuan yang telah menerima pinanganmu ingin menikah denganmu, bukan menikah dengan luka.
Sudah terbilang empat pekan kau pergi, Rustam. Sudah banyak kerinduan dan kehilangan dan kerterpurukan yang menjeratku. Aku seakan berada di ambang keinginan untuk lepas darimu atau tetap menunggumu di sini sampai kau pulang. Tapi aku tidak tahu seberapa lama aku bertahan sementara aku benar-benar hanya perempuan biasa yang bisa jatuh hati dengan siapa saja. Jika begitu, pulanglah, Rustam. Jangan biarkan aku mencinta selain dirimu.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau datang di rumahku bersama ibu dan bapakmu menemui ibu dan bapakku tanpa kabar sebelumnya hingga kami serumah kaget setengah mati. Kami kira kau bercanda tapi matamu yang berbinar, senyummu yang merekah lebar sekali hingga pipi bakpaumu jadi terkikis, menyiratkan kesungguhan yang nyata.
"Saya sudah sangat mencintai anak Om. Saya mohon restui hubungan kami," katamu jantan, lebih jantan dari kata-kata para lelaki yang pernah datang ke rumahku hanya dengan modal cengengesan.
"Kami pasti merestui niat baikmu, Nak." Ayahku membalas ucapanmu dengan bijak pula. Kau tahu, Rustam? Bahagia yang datang ke hatiku ketika mendengar itu lebih besar daripada bahagia yang pernah menghampiriku ketika wisuda S1 dua tahun lalu.
"Kapan acara naik uangnya?" tanya ibumu. Dia tampak lebih bersemangat dari yang aku kira.
"Secepatnya," sambut ayahku.
Semua tanggal penting sudah tercatat. Segala rangkaian adat sudah dilaksanakan. Tersisa kalimat sakral yang mesti kauucapkan di hadapan penghulu demi mengikat janji kita untuk hidup bahagia selamanya. Namun tiba-tiba kaukirimkan guntur tepat di hari-hari bahagiaku. "Aku harus berangkat sekarang, Halimah. Negara membutuhkanku."
Apa kau pikir aku tidak membutuhkanmu sama sekali, Rustam? Apa kau pikir aku tidak akan tersiksa dengan kepergianmu yang entah kembali atau tidak, Rustam? Aku sakit, Rustam. Aku bahkan menangis berhari-hari setelah melihat punggungmu yang lebar dan tegap itu menghilang perlahan demi perlahan.
Kukatakan memang, "Pergilah, Rustam, jika itu benar tugas negara yang harus kaupenuhi. Aku tahu banyak orang yang membutuhkan dan mengharapkanmu di sana. Aku hanya akan mengirimkan doa-doa untuk mengiringi langkahmu." Tapi itu tidak lebih dari caraku untuk membuat kau tidak merasa cemas sama sekali. Padahal kalimatku telah menusuk jantungku sendiri.
"Terima kasih, Halimah, aku janji akan kembali secepat yang aku bisa."
"Janji?"
"Janjiku itu janji seorang kesatria, Halimah. Aku lebih baik mati tertusuk panah ketimbang mengingkari janjiku sendiri."
Kau cium keningku kemudian berbalik. Kau pergi lalu tak kembali lagi. Ke mana janji kesatriamu itu, Rustam? Ini sudah cukup lama kaubiarkan aku dirundung pilu dan hidup dengan luka.
Kenapa juga harus kau yang pergi membela negara, Rustam? Maksudku, kenapa tidak kaucari saja pekerjaan lain yang tak perlu membuat aku merasakan kerinduan dan kehilangan dan keterpurukan yang tiada terkira?
Terlalu pahit rasanya melihat kau mencumbui senjata-senjata, sementara aku di sini hanya mampu menyandarkan wajahku ke jendela kaca sembari melihat angin menerbangkan daun-daun. Terlalu perih rasanya membayangkan kau berada di tengah-tengah kebengisan orang-orang yang bermain-main dengan desing peluru yang ditembakkan berkali-kali, sementara aku di sini hanya mampu tertidur dengan malam-malamku yang penuh dengan suara tembakan dan lelehan darah serta napas kematian.
"Kenapa kau memilih untuk jadi tentara?"
"Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang melindungi negara? Apa kau tidak bangga calon suamimu menjadi orang yang berjasa untuk negaranya?"
"Tapi aku takut kau terluka. Dan aku takut kau mati."
"Mati itu teman dari sebuah peperangan. Jika Tuhan membiarkan aku mati di medan perang, itu berarti Tuhan mengizinkan aku hidup di surganya."
"Kau bisa hidup di surga dengan cara lain."
"Mendapatkan surga dengan cara jantan itu pilihan terbaik, Halimah."
Kau memang egois, Rustam. Kau hanya memikirkan bagaimana seharusnya kau mati, tapi tidak pernah sekalipun kau berpikir bagaimana seharusnya kau hidup denganku.
Kau ingat, Rustam, kita bertemu saat aksi demonstrasi yang mengakibatkan dua teman kita direset ke kantor polisi. Mereka dituduh sebagai provokator. Saat itu, aku belum benar-benar mengenalmu tapi ketidakbecusan pemerintah saat itu membuat aku harus kenal dengan orang-orang sepertimu. Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang haknya dicabut. Aku ingin membela rakyat yang diperbudak pemerintah. Kau pun demikian.
Saat malam, setelah kita mengadakan pertemuan di rumah Suardi, rumah yang cukup luas untuk kita jadikan sebagai sekretariat, kau tiba-tiba menawariku jemputan untuk pulang.
"Tidak baik perempuan pulang sendirian," katamu saat itu.
"Aku sudah terbiasa."
"Kalau begitu kau harus mulai terbiasa diantar pulang."
Sejak dulu, kau memang sudah sangat egois, Rustam. Tapi karena malam itu memang sudah sangat larut, aku mau tak mau menerima tawaranmu. Lagi pula aku sebenarnya senang seorang lelaki bergaya mahasiswa organisator dengan rambut keriting yang ditata acak-acakan, jaket kulit yang membungkus kaos bertuliskan Merdeka Tanpa Kata-Kata yang kemudian dilengkapi jins panjang yang sudah disobek bagian lututnya. Aku diam-diam memperhatikanmu karena caramu untuk tetap terlihat berantakan.
Motormu sampai di depan pagar rumahku dalam waktu kurang lima belas menit. Jarak tempuh yang cukup dekat seharusnya..
"Apa kamu yakin akan ikut besok, Halimah?" tanyamu. Ada cemas yang muncul dari sosok berantakanmu.
"Kenapa kau bertanya begitu, Rustam? Aku tentu saja akan ikut. Itu sudah jadi sebuah prinsip."
"Tapi besok akan sangat bahaya untukmu, Halimah. Anak-anak pasti akan lebih agresif dari kemarin. Ini bukan lagi soal pembelaan hak-hak tapi juga tuntutan pembebasan untuk Adi dan Dono."
"Kamu santai saja, Rustam. Aku bisa jaga diri," kataku enteng. Kau tetap menatapku dengan tatapan paling khawatir. Sekarang aku merasakan kecemasanmu. Aku juga takut seperti kau dulu takut aku terluka. Ini seperti upaya balas dendam yang tak pernah tuntas.
Hari itu kita memang sama-sama berjuang, sama-sama membela hak-hak rakyat. Aku bahkan bahagia bisa berada di tengah teriakan-teriakan para demonstran yang haus keadilan. Mendengar letupan senjata para anggota brimob yang dilecutkan ke langit membuat semangatku semakit memburu. Gas air mata yang sengaja ditembakkan. Batu-batu kerikil yang melayang-melayang di udara. Semua itu benar-benar menyulut darahku. Hari itu kita sama-sama tertangkap, juga beberapa mahasiswa lain yang ikut digiring ke kantor polisi. Meskipun beberapa hari kemudian, kita dikembalikan ke orang tua masing-masing.
"Aku pernah berpikir apa sih yang sebenarnya kita lakukan ini?"
"Maksud kamu, Halimah?"
"Kita membela hak-hak rakyat dengan cara berteriak-teriak dan sekali adu pukul, sedangkan mereka di gedung sana malah menyeruput kopi sambil menonton televisi. Maksud aku, kenapa kita tidak membela hak-hak rakyat dengan cara lain tanpa harus anarkis?"
"Kita tidak anarkis, Halimah. Namun untuk didengar, kadang kita harus cari perhatian."
Sekarang, aku benar-benar ingin didengar olehmu, Rustam. Pahamkah kau itu? Aku seperti kembali menjadi seorang demonstran yang menuntut keadilan dalam dirinya. Keadilan yang telah kau renggut karena meninggalkanku di hari-hari seharusnya aku bahagia. Sesungguhnya aku pun patut bahagia, dengan atau tanpamu, tapi aku tak sanggup dan masih berharap kau segera kembali.
"Aku dengar kamu akan mendaftar jadi anggota tentara setelah lulus nanti. Apa itu benar, Rustam?"
"Aku memang memikirkan hal itu."
"Kenapa?"
"Aku berasal dari keluarga tentara, Halimah. Bapak dan kakekku seorang tentara."
"Kamu lucu, Rustam."
Kau menatapku heran.
"Kamu melawan negara dan sekarang kamu berpikir untuk membela negara."
"Aku tidak pernah melawan negara, Halimah. Hal ini bahkan tidak kusebut sebagai melawan negara. Kita hanya ingin negara ini berjalan dengan seharusnya tanpa ketidakadilan dari oknum-oknum pemerintah."
"Aku senang mendengarnya. Tapi aku minta satu hal, ketika kamu benar-benar jadi tentara, Rustam, jangan pernah lupakan orang-orang yang pernah ikut berjuang bersamamu."
Kau memang tidak melupakanku, Rustam, kau malah akan segera meresmikan hubungan kita, tapi kau sudah membuat aku tersiksa. Aku benar-benar disiksa rindu. Maka jangan salahkan aku ketika kau pulang, Rustam, kau hanya akan menemukan seorang perempuan yang membenamkan dirinya dengan sebuah luka dan darah hasil tembakan di kepalanya. (*)