Rabu, 28 Maret 2018

Cerpen: Pemimpin Rakyat karya Justang Zealotous

Cerpen: Pemimpin Rakyat karya Justang Zealotous
[Dimuat di Banjarmasin Post edisi Minggu, 25 Maret 2018]

Tubuhnya lunglai. Lebam memenuhi hampir sekujur tubuh perempuan yang setengah telanjang akibat pakaian yang koyak itu. Ia berusaha bergerak, tapi sulit. Ia berusaha bersuara, tapi yang terdengar hanya serupa embusan angin dari napas yang semakin sesak. Ketika ia ditemukan, lelakinya hanya mampu menjerit, menggusar, dan mengutuk siapa saja yang tega membuat perempuan itu yang kini di ambang kematian.

***

Pagi datang mengelus lelaki itu ketika sebuah telepon mendarat di kupingnya yang mengharuskan ia berkunjung ke Pasar Rakyat. Ia pun meletakkan secangkir kopi yang baru saja ia tandaskan ke atas meja.

Perempuannya mengerling, "Pulang kemalaman lagi, Daeng?"

"Semoga tidak." Lelaki itu mendorong kursinya ke belakang, kemudian berdiri. Ia mengusap kaus putihnya yang berkerah dan meraih topi hitam bertuliskan NH di sisi depannya. "Kamu ikut kan, istriku?"

"Kurang enak badan, Daeng."

"Kalau begitu, istirahatlah, istriku. Kamu pasti capek. Lagi pula Pasar Rakyat itu becek dan bau. Kamu mungkin tidak akan tahan." Ia lantas beranjak bersama beberapa ajudannya yang berbadan tegap. Ia meninggalkan istrinya di rumah dengan beberapa pekerja yang menemaninya. Pembantu, tukang kebun, hingga satpam. Mereka punya anak, satu-satunya, tapi ia sedang kuliah di Bandung. Sehingga tidak ada alasan untuk lelaki itu merasakan khawatir yang berlebih.

***

Pak Nasir dengan semangat juang istrinya, Bu Faridah, mencalonkan diri sebagai bupati dalam lima tahun mendatang. Ia berniat menggeser posisi bupati lama yang sudah duduk selama dua periode. Akibatnya, beberapa bulan sebelum pencalonan resmi, Pak Nasir mulai melakukan kampanye ke mana-mana, mendengungkan inisial NH dari nama lengkapnya Nasir Hasir ke berbagai penjuru kampung. Target utama Pak Nasir memang kalangan bawah, sebab kemenangan itu lebih mudah diperoleh dari bawah.

Selama kampanye, Pak Nasir berusaha membangun jati diri sebagai pemimpin yang merakyat. Ia rajin berkunjung ke tempat-tempat kumuh, menghadiri acara-acara rakyat, menggelar perjamuan dengan mengundang para warga, juga mengunjungi berbagai acara keagamaan. Ketika maulid, ia datang. Ketika natalan, ia pun tak sungkan. Pak Nasir juga bertandang ke panti asuhan. Bertemu dengan orang-orang yang ditinggalkan keluarganya. Kemudian, dia akan bersorai di depan anak-anak panti dan tentu saja para orang dewasa yang hadir di situ, kalau ia akan menyejahterakan nasib mereka. Orang-orang lalu bertepuk tangan dan berteriak menyebut inisial NH. Sebelum pulang, Pak Nasir membagikan kaus berwarna kuning yang memajang fotonya di bagian depan besar-besar.

"Orang-orang makin mencintaimu, Daeng. Aku yakin bupati lama itu akan segera lengser," kata Bu Faridah saat menjelang tidur.

Pak Nasir tertawa. Tawa yang cukup nyaring. "Hahah aku harap kamu tidak cemburu, istriku."

"Untuk apa cemburu sama cinta yang ada maunya, haha." Keduanya tertawa, kemudian saling berpelukan, saling memagut, dan tertidur.

***

Pak Nasir tiba di Pasar Minggu dengan sambutan dari orang-orang yang berkerumun. Mereka ingin menjabat tangan calon bupati baru yang dikenal merakyat, atau sekadar menyentuh kaus putihnya yang berkerah. Orang-orang yang histeris itu dibatasi oleh para ajudan Pak Nasir yang menjaga dari sisi kanan, kiri, dan belakang.

Seperti selalu, senyum tak pernah ketinggalan di bibir Pak Nasir. Ia bersorai dan sesekali menyapa para penjual dan pembeli yang dilewatinya.

Ketika berkeliling, seorang penjual baju tiba-tiba bercerita padanya, "Sepi nih, Pak. Sehari bahkan tidak ada pembeli sama sekali."

Senyum Pak Nasir belum hilang, lalu ia berkata, "Sepertinya kita perlu meremajakan pasar ini biar lebih ramai pengunjung." Pak Nasir memperhatikan celana hitamnya yang di bagian bawah sudah dipenuhi lumpur. Orang-orang pun mengiringi pernyataan Pak Nasir dengan berteriak hore dan inisial nama Pak Nasir. NH. NH. NH.

Di tengah kampanye, Pak Nasir mendadak mendapat telepon dari rumah. Ia pun mengangkatnya, barangkali dari istrinya. Ketika tersambung, suara yang terdengar malah suara pembantu. Suara yang timbul tenggelam. Pak Nasir jadi bingung. Ia berusaha bertanya, apa yang sedang terjadi, suara tangis yang malah ia dengar.

"Kita harus pulang," kata Pak Nasir pada ajudannya dengan sedikit berbisik. Sesekali ia melempar senyum pada orang-orang agar semuanya terlihat baik-baik saja. Lalu, ia pamit pergi.

Buru-buru Pak Nasir meninggalkan Pasar Minggu. Ia khawatir dengan kondisi istrinya. Setelah menempuh jarak tempuh yang hanya lima belas menit, ia pun berlari masuk setelah satpam tidak terlihat dan suara jeritan yang langsung menyambutnya. Saat di dalam, rumah tampak kosong. Dia berlari ke kamar, istrinya tidak di sana. Suara jeritan terdengar lagi, sepertinya di halaman belakang. Pak Nasir pun mengambil langkah seribu. Tepat. Istrinya sudah terbaring di sana dengan tubuh setengah telanjang dan lebam di mana-mana.

"Siapa yang melakukan ini?"

Bibir Bu Faridah berusaha bergerak, tapi yang terdengar hanya embusan angin. Pak Nasir lantas memeluk istrinya sambil terisak. Lama sekali. Barulah ia sadar istrinya sudah meregang nyawa.

Pak Nasir masih tersedu-sedu ketika salah satu ajudannya menyeret seseorang ke hadapannya yang ditengarai sebagai tersangka, berdasarkan kesaksian pembantu, sementara satpam juga sudah ia bunuh. Orang itu ternyata tukang kebun Pak Nasir. Pak Nasir sontak murka. Ia berdiri dan menghajar bapak tua itu.

"Kenapa kau melakukan ini pada istriku?" geram Pak Nasir.

Dengan napas tersendat-sendat, tukang kebun itu menjawab, "Aku bahkan bisa melakukan ini padamu, tapi aku cukup menikmati istrimu, Pak Nasir." Mata Pak Nasir memelotot mendengar pernyataan tukang kebunnya, dan ia hajar lagi. Sedetik kemudian, tukang kebun itu kembali berbicara, "Aku muak dengan tingkahmu sama kami, Pak Nasir. Kamu lembut di luar sana, tapi kamu kasari kami di sini. Aku bahkan belum kau gaji dua bulan, Pak."

Pak Nasir tertegun. Ia menatap tukang kebun yang dari mulutnya meleleh darah yang anyir. Usai itu, ia tiba-tiba merasakan tubuhnya seringan kapas. Dan ia tumbang. Tidak ada yang tahu kemudian, Pak Nasir masih mencalonkan atau tidak setelah kejadian itu. (*)

Watampone, 7/1/18

Sabtu, 10 Februari 2018

Cerpen: Karma Sirawu Sulo karya Justang Zealotous

Cerpen: Karma Sirawu Sulo karya Justang Zealotous
[Dimuat di Harian FAJAR Makassar edisi Minggu, 11 Februari 2018]

Saya tidak pernah menyangka akan berdebat dengan Ambo. Diiringi tangisan yang datang dari langit yang menurunkan air serupa jarum-jarum sehingga genting rumah seolah ditusuk-tusuk. Setelah sejak lama hingga usia saya mencapai dua puluh empat tahun, rumah kami selalu diramaikan dengan suara bernada rendah, kalau pun bernada tinggi hanya saat Ambo berteriak karena tulang betisnya bergeser sebab terjatuh dari pohon kelapa atau Indo yang berteriak ketika melihat kecoa membuntutinya di kamar mandi, lalu hari ini tiba-tiba saja rumah sudah berubah menjadi medan peperangan.

Perdebatan saya dengan Ambo dimulai sepulang Ambo dari rumah Sanro, ketua adat yang rambutnya beruban dan matanya mulai rabun dengan ingatan yang tak lagi jernih, kemudian membisiki Indo  kalau Sirawu Sulo akan dilaksanakan tahun ini. Saya yang tentu mendengarnya karena duduk tepat di belakang Indo angkat bicara.

"Serius, Ambo? Baru dua tahun kemarin dilaksanakan, tahun ini dilaksanakan lagi?" heran saya. Ambo sontak menatap saya tajam. Matanya seperti panah yang bersiap menembus mata saya.

"Tahu apa? Ambo sudah berkunjung ke rumah Sanro, dan dia sendiri bilang begitu."

Saya masih tidak percaya. Sirawu Sulo selalu dilaksanakan tiga tahun sekali, meski dulu lima tahun sekali tapi politik merembesi kampung diubahlah jadi tiga tahun sekali agar sekalian bahan promosi untuk Pongka, tapi kini malah diubah lagi. Mentang-mentang Ambo calon wakil rakyat. Ini pelanggaran adat.

Saya tahu Ambolah yang senantiasa berhubungan dengan Sanro untuk diinformasikan pada Kepala Desa, kemudian diturunkan ke masyarakat mengenai tanggal baik Sirawu Sulo dilaksanakan. Ketika tadi pagi, dia tiba-tiba bertandang ke rumah Sanro, dan pulangnya malah mengabarkan hal yang tak masuk akal.

"Adampengi'ka, Ambo, betulji Sanro bilang begitu? Bukannya tahun depan baru dilaksanakan?"

"Kurang ajar. Kaukira Ambo berbohong?" Suara Ambo meninggi, kemudian tampaklah hujan turun seperti jarum-jarum dari balik jendela yang selalu terbuka. "Ini sudah perintah adat. Jika kita tidak laksanakan, kampung bisa kena karma."

Kami memang percaya semua yang keluar dari bibir Sanro merupakan kalimat yang datang dari Tuhan. Kami harus meyakini. Bilamana ada yang mengingkar dan tidak melaksanakannya, kampung kami akan mendapatkan musibah berupa kematian berturut-turut, seolah diracuni alam dan kekuasaan.

"Apa seharusnya Ambo konfirmasi ulang sama Sanro? Jangan sampai Sanro salah ingat. Dia sudah pikun, Ambo." Saya membalas Ambo dengan nada sehalus mungkin. Bagaimanapun, saya seorang anak dan dia seorang bapak. Lancang saya meninggikan suara di hadapan beliau.

Tapi Ambo tak terima. Dia menganggap saya sudah melawan orang tua.

Ambo pun meninggalkan saya setelah gemuruh yang terus dia lontarkan, seperti gemuruh yang enggan berhenti meronta di langit sana. Hujan masih turun. Jalan yang batu dan tanah semakin basah.

***

Indo tampak sibuk menyiapkan nasi ketan dan telur. Itu sesajen untuk ritual Mabbule Manu. Setelah segala rangkaian adat dilaksanakan seperti Mabbepa Pitu atau membuat tujuh jenis kue sebagai syarat wajib yang harus dilakukan semua masyarakat Pongka, memainkan permainan rakyat yang sudah diganti dengan pertandingan sepak bola sebagai wujud perkembangan zaman yang dilangsungkan seminggu penuh dan finalnya dilakukan tadi sore, kini puncak Sirawu Sulo akan dilaksanakan dengan diawali Mabbule Manu, mengarak ayam dari rumah Sudirman Mappangara, sanro baru setelah kematian Dajange, sanro lama yang kata Ambo sudah mengatakan kalau Sirawu Sulo harus dilaksanakan tahun ini.

Dajange mati dua hari setelah gemuruh datang di rumah saya kala itu. Banyak menduga kalau dia mati karena usianya memang sudah sangat lapuk. Beberapa orang sedikit menyayangkan, termasuk saya, sebab kami belum sempat menanyakan kebenaran perihal ucapan Ambo. Tapi karena Dajange sudah mati, dan semua orang kadung percaya, Sirawu Sulo tetap dilaksanakan untuk menghindari karma dengan mengusung sanro baru yang merupakan cucu ketiga Dajange sendiri.

"Saya masih tidak percaya kalau Sirawu Sulo berlangsung tahun ini, Ndo. Saya takut kalau itu cuma akal-akalan Ambo biar bisa sekalian kampanye. Mumpung Pongka lagi ramai dan ada soto kuda di setiap rumah," kataku sehabis melayat dari rumah Supriadi. Lelaki bertubuh tambun itu tiba-tiba saja meninggal padahal kata anaknya, dia masih kuat pagi hari dan masih sempat memakan satu mangkuk soto kuda.

"Ushh, kau ini. Ambomu tidak mungkin seperti itu. Lebih baik kau bantu Indo membereskan rumah. Keluargamu dari Bone kota bakal datang. Jangan sampai rumah kita kotor pas mereka masuk."
Saya mengangguk dan segera melupakan pikiran yang mengganjal. Barangkali Dajange menginginkan agar silaturahmi warga semakin erat dengan berlangsungnya Sirawu Sulo yang lebih awal.

Semakin langit diselimuti malam, Pongka semakin meriah. Warga datang dari berbagai arah, baik warga kampung maupun luar kampung. Sanro beserta rombongan mulai mengarak ayam dengan berjalan dari berbagai tempat ke Lapangan Mabbaranie, tempat Sirawu Sulo berlangsung. Orang-orang sudah siap dengan daun kelapa yang sudah diikat untuk kemudian dibakar, terus dilempar-dilemparkan sehingga terjadi perang api. Tampak Pak Bupati duduk di dekat jalan masuk menuju lapangan demi menyambut Sanro nantinya.

Tiba-tiba saya mendapat panggilan telepon dari sepupu. Indo meninggal. Katanya, Indo meninggal setelah jatuh pingsan sehabis menyantap soto kuda, persis seperti kematian Supriadi, atau tiga kematian lainnya yang sebenarnya sempat saya dengarkan sepanjang hari ini. Kenapa kematian berturut-turut bisa terjadi? Saya langsung berlari mendekati Ambo yang berdiri di sebelah Kepala Desa dan Pak Bupati. Saya ingin memberitahu soal kematian Indo, dan karma yang mungkin datang karena Sirawu Sulo. (*)

Watampone, 4/2/18

Ambo: Bapak
Indo: Ibu
Adampengi’ka: Maafkan saya

JUSTANG ZEALOTOUS. Seorang guru Bahasa Indonesia dan instruktur Bahasa Inggris. Anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Cabang Bone.

Minggu, 31 Desember 2017

Cerpen: Kisah-kisah Miris di Jalan Raya karya Justang Zealotous

Cerpen: Kisah-kisah Miris di Jalan Raya karya Justang Zealotous

[Dimuat di Banjarmasin Post edisi Minggu, 31 Desember 2017]

Adakah yang lebih tabah dari aku? Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Seharian ini, aku memang dirundung hujan, dan aku tidak berlari. Aku mematung di tempatku berdiri.
Aku sudah terbiasa seperti ini. Ketika hujan datang, aku membasah. Ketika matahari bersinar, aku menggosong. Tapi seperti yang aku katakan, aku tetap bertahan pada tempatku berdiri.
Jika hujan, tidak ada yang lebih indah selain melihat orang-orang berpayung, melompati genangan air hingga terciprat dan sesekali mengenai pakaian mereka, lalu tiba-tiba ada suara tawa di bawah payung-payung itu. Atau seorang lelaki berjaket jins yang memayungi seorang perempuan yang jelas-jelas memakai jas hujan. Polos sekali.
"Kamu tidak perlu melakukan itu."
"Aku tidak ingin kamu sakit."
"Aku sudah pakai jas hujan."
"Itu tidak cukup."
Lalu, sebuah mobil di seberang jalan membukakan pintu. Perempuan yang mengenakan jas hujan itu masuk, meninggalkan lelaki yang tadi. Dari balik kaca mobil, seorang lelaki melemparkan jari tengahnya ke arah lelaki berjaket jins.
Orang-orang di jalan raya memang selalu lucu. Oleh karenanya, aku betah berdiri berlama-lama di sini. Meskipun hujan membuatku gigil, atau panas yang datang tak tanggung-tanggung. Tapi tidak semua orang di jalan raya itu lucu. Beberapa di antara mereka malah lebih menakutkan daripada hantu-hantu yang bergentayangan di rumah-rumah tua. Aku serius soal ini.
Pernah suatu malam, aku melihat kejadian paling miris yang membuat aku sempat berdoa agar segera dicabut Tuhan.
Seperti biasa, aku berdiri di tempat ini, di dekat tiang nama jalan yang bertuliskan Jalan Merdeka Raya. Malam itu tidak hujan tapi bau aspal basah karena hujan tadi sore masih menguar. Aku yang bisa dikatakan sedikit menggigil memperhatikan mobil, motor, becak, andong, bajaj, hingga truk lalu lalang. Aku selalu senang memperhatikan mesin-mesin yang berjalan angkuh itu.
Di dekat tiang lampu merah, sekitar beberapa meter dari tempatku berdiri, ada seorang anak laki-laki berambut kusut berpakaian kusut menenteng kantong-kantong plastik hitam yang juga kusut. Dia menjajakan kantong-kantong plastik hitam itu ke setiap pengendara yang singgah karena lampu merah.
Ada sedikit rasa kagum melihat anak itu. Dia menjual, bukan mengemis. Dia punya usaha untuk hidup. Aku tidak menyalahkan pengemis-pengemis yang mencari rezeki dengan mengemis, tapi sekali lagi, aku lebih kagum pada anak itu.
"Beli ini, Pak, beli ini, Bu," kata anak laki-laki itu. Tiap kali dia berkata begitu, dia selalu menyertakannya dengan merendahkan bahu. Aku tahu anak itu pasti bekerja di malam begini karena suatu keperluan yang mendesak, atau itu memang pekerjaannya demi membantu biaya sekolah. Itu cuma dugaanku.
Dua jam berlalu, baru satu pengendara yang berhasil membeli kantong plastiknya. Itu karena anak perempuan dalam mobil sedan itu terlihat ingin muntah, jadi dia membutuhkan kantong plastik hitam demi memuntahkan semua isi perutnya.
"Terima kasih banyak, Pak. Semoga berkah," ucap anak laki-laki itu sambil menunduk-nundukkan badannya. Dia terlihat girang sekali memperoleh uang seribuan. Aku yakin sekali, orang tuanya sudah berhasil mendidiknya dengan ajaran agama.
Malam semakin larut. Dingin kota ini makin terasa. Aku tetap bertahan di tempatku berdiri, tetap menyaksikan anak laki-laki penjual kantong plastik di dekat tiang lampu merah yang juga masih berjualan. Dia benar-benat ulet.
Hingga beberapa gerombolan anak datang menghampiri anak laki-laki itu. Pikiranku mendadak kacau. Apa yang ingin mereka lakukan?
"Woi!" teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar.
Anak laki-laki yang berjualan itu malah tersenyum. Tidak tampak rasa takut dalam dirinya. Aku kini mulai bingung.
"Sudah dapat banyak?"
"Belum. Baru satu orang yang beli."
"Ya sudah. Kita ke sana!" Salah satu anak berambut keriting mengajak anak laki-laki itu ke suatu tempat. Anak laki-laki itu mengangguk saja. Mereka kemudian pergi ke tempat yang dituju. Di dekat semak-semak, tak terlalu jauh dari tepi jalan, di tempat yang agak gelap.
Di tengah keremangan, aku menyaksikan anak laki-laki itu bersama dengan gerombolan anak yang tadi. Gila. Mereka mengeluarkan beberapa barang berupa bubuk yang lumayan kecil, menghirupnya sedikit, lalu tertawa-tawa. Mereka juga mengeluarkan sebatang rokok. Astaga. Anak laki-laki itu juga ikutan merokok.
Aku langsung ingin mengutuk diri. Aku tidak tahu tapi aku teramat jengkel dengan diriku sendiri.
Sehabis menikmati dunia, anak-anak itu berpencar lagi, termasuk anak laki-laki yang kembali ke dekat tiang lampu merah. Anak itu kembali menyodorkan jualannya, tapi kini cara berdirinya kurang stabil. Sedikit-sedikit oleng ke kiri, atau oleng ke kanan.
Akibatnya sebuah mobil berwarna putih yang hilang kendali menabrak anak laki-laki itu. Dia terpelanting. Kepalanya jatuh tepat di sisi trotoar. Darah seketika muncrat ke mana-mana. Tidak cukup lama, orang-orang sudah berkerumun ke arah anak itu. Beberapa orang lainnya menghakimi supir mobil, menghajarnya hingga biru-biru, termasuk mobilnya yang dibikin tambah penyok.
Kisah-kisah miris semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari. Aku memang tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Aku tidak mempermasalahkan orang-orang yang sering berjalan dengan lagak, atau orang yang kadang singgah mengencingiku, atau ketika aku jadi bahan lelucon karena sebuah mobil milik pejabat menabrakku. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya. (*)
Watampone, 19 November 2017