Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 Desember 2015
Ingat, kita "memperingati", bukan "merayakan". Hal ini banyak yang membuat kesalahapahaman di masyarakat. Hmhm, hari lahir Nabi saja dirayakan, masa kita nggak. Pertanyaannya? Emang kamu nabi? Permasalahnnya, sekali lagi kita tidak merayakan tapi memperingati.
Emang beda? Ya tentu beda.
Pada kata dasar saja sudah sangat beda.
"Merayakan", dari kata dasar "raya". Sementara "memperingati", dari kata dasar "ingat". Jadi sebenarnya, saat ini kita sedang diminta untuk mengingat bahwa pada hari ini berabad-abad lalu telah dilahirkan sesosok AL-AMIN (yang dipercaya), yang patut kita teladani.
Pada kata dasar saja sudah sangat beda.
"Merayakan", dari kata dasar "raya". Sementara "memperingati", dari kata dasar "ingat". Jadi sebenarnya, saat ini kita sedang diminta untuk mengingat bahwa pada hari ini berabad-abad lalu telah dilahirkan sesosok AL-AMIN (yang dipercaya), yang patut kita teladani.
Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد النبي, mawlid an-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arabberarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. (Wikipedia, 2015)
Jadi, dengan adanya peringatan ini, se'enggak'nya kita telah mengingat kembali hari lahir Nabi, berikut keteladanannya. Kalau tidak ada macam ini, toh mungkin kalian sudah lupa, masa lalu bareng mantan kalian saja cepat gitu dilupain, eh.
Kalau di daerah saya, setiap masjid biasanya yang memperingati Maulid Nabi dengan meminta masyarakat untuk membawa makanan yang disebut "male" dengan berisi telur rebus, nasi ketan, bawang goreng, dan dihias dengan bunga kertas. Tujuan utamanya selain membangun silaturahim, juga untuk saling berbagi.
Bagaimana dengan daerah kalian?
Senin, 23 Februari 2015
Lelaki
untuk Wanita Pendiam
Oleh:
Justang Zealotous
LELAKI
itu terus mematut diri di depan cermin. Dirapikan rambutnya dan dikenakan baju
terbaiknya. Ia ingin penampilan sesempurna mungkin, saat menghadap ke bapak ibu
wanita yang telah lama ia sanjung.
Wanita pendiam, juga pemalu yang ia kenal melalui teman
sekosnya. Wanita yang jarang bersentuhan dengan lelaki bukan muhrim karena
sangat menjaga kehormatan. Itulah yang ia suka dari calon wanitanya itu. Pun,
setelah beristikharah padaNya.
“Apa yang kaubawa untuk anakku? Harta? Tahta? Atau hanya
cinta?” Pertanyaan calon mertuanya yang membuat hampir tercekat.
“Aku tidak membawa apapun. Sementara cinta telah kusematkan
lama padanya. Aku hanya datang untuk mengikat hati kami berdua, di bahtera
pernikahan.”
“Tidak takutkah terombang-ambing jika tanpa harta?”
Jika aku dan dia telah bersatu dalam kesucian batin. Lautan
luas pun kami seberangi, walau hanya dengan rakit.”
“Mustahil!” Mata Ayah wanita itu melotot.
“Tidak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak. Aku telah
bertanya padaNya dan Dia membawaku ke sini.”
“Sungguh berani dirimu, bocah. Pinanglah anakku, jika kau
memang bisa menanggung yang di dalam perut buncitnya.”
Lelaki itu telah bertanya padaNya dan Dia membawanya ke rumah
wanita itu. “Baiklah. Tuhan tahu apa yang aku tak tahu. Aku akan menanggungnya,
seakan ia darah yang mengalir dalam ragaku.”
Watampone,
15 Januari 2015
Justang Zealotous
Senin, 10 Maret 2014
Raih
Cahaya karena Cinta
Aku pernah mencari kata “jomlo” dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Rupanya kata tersebut berarti “gadis tua”. Buat pria berbesar hati?
Oh, tidak! mungkin maksudnya sama. Sama-sama tua dalam kesendirian, kehampaan,
kekosongan, dan kesepian akan belaian kasih seorang pujaan hati.
Jombloan itu memang sesak banget. Ketika muda mudi
sedang asyik menikmati malam Minggu bersama kekasih mereka. Kami terpaksa
mencari alasan nonton bola agar tak merasa jomblo sejati. Kami juga terpaksa
pasrah melihat status-status bertebaran di Facebook tentang hubungan yang
sedang berbunga-bunga. Sementara itu, kami hanya bisa menulis status tentang
kesendirian atau rasa galau tak berkesudahan.
Dahulu kala, pernah kutembak seorang cewek. Hasilnya
ditolak. Tembak lagi dan tetap sama, tolak. Apakah wajah tampan nan keren tak
cukup bagi seorang cewek untuk memantapkan hatinya bersama kita? Meskipun tebal
tipisnya dompet juga menjadi pertimbangan khusus. Tapi, wanita yang satu itu
beda adanya. Dia butuh seseorang yang kelak bisa menjadi imam. Jadi, orang yang
rajin salat menjadi dambaan.
Salat? Aku sadar, aku bukan pria yang terlalu dekat pada
sang khalik. Aku seakan buta dunia. Hingga wanita yang dipuja itu pun harus
menjadi sasaran yang mengharuskan aku salat. Memang harus seperti itu. Jika
kita ingin mendapatkan hati seseorang, lihat dulu diri kita. Sudah pantas atau
belum bersamanya? Maka dari itu, aku mulai memantaskan diri.
Aku mencoba salat setiap hari. Tak sedetik pun
terlewat untuk tak melaksanakan salat. Wanita itu memotivasi aku untuk
mengerjakannya. Aku tahu bahwa dengan cara seperti ini yang akan membuat dia
tertarik padaku.
Di akhir setiap salatku, aku selalu berdoa padaNya.
Memohon agar jomblo itu tak terlekat abadi di hidupku. Aku ingin wanita yang
cantik dengan rajutan kain menjadi jilbabnya itu berpaut pada cinta ini.
Sepanjang waktu, ketika dia melihat aku sedang
mengerjakan salat, rasa tak percaya atau penuh keheranan terpampang jelas di
wajah eloknya. Mungkin karena perubahan yang mendadak dan tak biasa dariku.
Wajar, biasanya ketika bunyi azan berkumandang, aku masih sibuk dengan dunia
sendiri.
Saat diperhatikan, bibirnya seakan ingin mengeluarkan
kalimat menyindir: “Tumben, biasanya tak
begitu.” Meskipun aku yakin kalimat itu tak akan keluar bahkan hingga ajal
menjelang. Dia adalah wanita baik hati yang teramat cantik.
Hingga pada akhirnya ketika merasa pantas untuk
bersamanya dengan memenuhi syarat yang tersirat dari caranya bersikap. Aku
kembali mendekatinya perlahan namun pasti.
Sekali lagi kuungkapkan yang dahulu telah menjadi
bumerang bagi hidupku. Kuungkapkan semua kekata untuk menjemput hatinya. Kekata
tentang rasa cintaku padanya.
Awalnya dia terdiam sejenak. Dia seakan berpikir
tentang kepantasan diriku untuk bersamanya. Namun rupanya, hal yang tak sesuai
rencana terjadi. Dia telah punya kekasih. Hatiku remuk seketika. Seperti kaca
yang pecah dan berserakan di mana-mana. Lalu, beling itu tak akan mudah untuk
bersatu lagi menjadi utuh. Hingga aku harus mengidap jomblo sekian kalinya.
Namun di balik semua itu, aku menemukan hal yang lebih
membuatku nyaman, dekat denganNya. Aku seakan menemukan cahaya yang selama ini
remang dalam hidupku. Mungkin aku memang tak bisa bersamanya tapi kenikmatan
salat yang kuterima lebih dari sekadar yang kuinginkan.
Langganan:
Postingan (Atom)








