Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Maret 2019
[Dimuat harian FAJAR Makassar, edisi Minggu, 24 Maret 2019]
Malam ini aku diundang menghadiri sebuah peresmian kafe yang mengharuskan seluruh tamunya mengenakan batik. Tapi bodohnya, aku tidak paham batik mana yang paling cocok yang mesti kupakai. Andai saja dia masih ada, sebagai istriku. Andai pagi itu aku tidak mengatakan kalimat paling bodoh, “Aku ingin cerai.”
Anjani terdiam, menatapku tajam dengan matanya yang merah berkaca-kaca tapi tak sebening pun yang akhirnya jatuh, lalu mulai bersuara, lirih sekali. “Jika itu maumu, baiklah.”
Aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar dengan menggadaikan cintaku untuk seorang perempuan yang kutemui di kantor. Saat itu, aku berpikir kalau istriku, tepatnya mantan istriku, sudah tidak mencintaiku lagi sehingga aku memilih untuk berpisah dengannya. Dugaan itu mulai membuncah ketika dia lebih sibuk mengurusi butik batiknya daripada aku sendiri.
“Aku tidak ingin menyelingkuhimu, jadi baiknya kita berpisah saja.”
Lagi-lagi Anjani terdiam. Benar-benar terdiam. Dia pun enggan menatapku hingga aku merangkak pergi menjauhinya. Malamnya, kubawakan surat cerai, dan dia tanda tangan tanpa berkata-kata. Tidak cukup lama, kami resmi bercerai. Dia pergi dan aku tak tahu ke mana.
Setelah enam tahun, setelah aku merasakan sakitnya ditinggalkan oleh perempuan kantor sundal itu, perempuan yang diam-diam mencuri waktu untuk menemui kekasih lamanya, aku baru menyadari kalau keputusan cerai enam tahun lalu itu ialah keputusan terbodoh.
Aku baru sadar kalau aku mencintai Anjani lebih dari apa pun. Jika Tuhan mengizinkan kami bertemu kembali, dan bilamana dia belum bersuami lagi, ingin rasanya aku rujuk dengannya. Betapa pun selama kami menikah, aku belum banyak memberikan yang terbaik buatnya. Aku teramat egois memikirkan diriku sendiri ketimbang memikirkan kemungkinan kenapa dia lebih sibuk di butik daripada melayani suaminya.
Dialah perempuanku, pembatik dari Jogja. Aku mengenalnya saat kegiatan studi tur kampus yang membawa kami ke keraton untuk melihat orang-orang membatik. Jujur, aku bukanlah tipe orang yang punya jiwa nasionalisme tinggi. Batik, bukanlah sesuatu yang indah buatku. Tapi melihat tangan perempuan itu yang lihai memegang canting dan membentuk motif-motif ke dalam sebuah kain, aku mulai tertarik.
Anjani juga senang menjelaskan makna setiap motif yang dia buat. Penjelasan yang makin membuat cintaku pertama kali jatuh pada batik, juga padanya. Seperti motif parang yang dipakai kalangan bangsawan, motif yang katanya dikenal sebagai motif tertua di Jawa. Atau motif batik yang mirip biji pinang yang menyimbolkan rezeki melimpah.
“Menarik,” kataku. “Kira-kira menurutmu motif batik apa yang cocok buatku?”
Anjani semringah. “Mungkin yang ini.” Dia menunjukkan motif batik yang berupa bentuk geometris dengan ukuran besar. Sekilas motifnya mirip kelopak bunga dengan titik-titik di sekitarnya yang menambah cantik batik itu. “Batik grompol. Batik ini memiliki makna bersatu, artinya sebuah harapan agar orang yang mengenakannya hidup cerah di masa depan serta rukun dengan keluarga.”
Aku tidak menyangka maksud perempuan itu mengenai makna yang disampaikannya menjadi benar-benar kenyataan. Aku melamarnya setelah lulus dari kampus dan kami tuntas menikah. Kami seolah-olah—pada saat itu—merasakan masa depan yang begitu cerah. Sayangnya, aku merusak makna itu, makna rukun itu, dengan menceraikannya setelah pernikahan kami bahkan belum diisi tangisan bayi.
Sudah hampir jam 7, aku belum memilih satu batik pun untuk kukenakan. Aku bingung. Aku memang bukan pemilih yang baik. Lagian di rumah perantauan ini, setelah tidak lagi beristri, aku hidup sendirian jadi tak seorang pun bisa kutanyakan.
Dan di tengah kebingungan itu, aku mendapati sebuah batik yang berada di antara tumpukan baju usang. Paling bawah. Baunya sedikit apak. Aku ingat batik ini. Batik truntum. Batik terakhir yang perempuan itu buatkan untukku saat hari-hari paling akhir sebelum perceraian kami. Entah apa maknanya, dia belum sempat menjelaskan. Dia hanya bilang, “Batik truntum ini untukmu. Semoga kamu bahagia bersamanya.”
Mungkin, ini saatnya aku mengenakan batik itu. Sekalian mengobati rindu dan penyesalanku. Untuk membuang baunya, beberapa semprotan parfum dirasa cukup. Dan malam ini aku pergi juga dengan batik bermotif taburan bunga-bunga kecil atau seperti kuntum bunga melati.
Dalam perjalanan, aku sengaja browsing makna batik truntum pemberiannya. Tercengang dan membuat tanganku lumayan bergetar. Batik truntum ternyata memiliki kisah yang apik bahwasanya Raja Pangkubuwono III kembali jatuh cinta di ujung tombak pernikahan pada Ratu Beruk karena sang ratu menghadiahi batik tersebut. Mungkinkah ini yang diinginkan Anjani? Dia juga masih berharap aku tidak meninggalkannya dengan memberikan batik itu. Maafkan aku, Anjani.
Tanganku masih bergetar setiba di kafe. Seperti namanya, Batik Cafe, gedungnya dihiasi batik di mana-mana. Dinding, tiang penyangga, hingga kursi dan meja. Semua bermotif batik. Di gedung itu pula, sudah ada banyak tamu yang hadir. Dan beberapa tamu itu, aku betul-betul dikejutkan dengan salah seorang perempuan yang tak asing. Mengenakan batik sama yang kukenakan. Batik truntum. Perempuan yang sudah kusia-siakan cintanya.
“Anjani?” Aku menyapanya duluan. “Kamu juga datang ke sini?”
Anjani tampak heran melihatku tapi kemudian bersikap seolah biasa saja. “Tentu. Aku ikut merancang kafe ini.”
Dia tersenyum. Hangat sekali. Tiba-tiba seorang anak kecil perempuan yang mengenakan batik serupa berlari ke arahnya. Dia segera menyambutnya sambil sesekali menggunakan sapaan Nak. Batik boleh sama. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dia mungkin telah bersuami lagi. Pupus sudah harapanku.
“Maaf. Aku pergi dulu. Istriku menunggu.” Dan aku terpaksa berbohong.(*)
Watampone, 30/11/18
Malam ini aku diundang menghadiri sebuah peresmian kafe yang mengharuskan seluruh tamunya mengenakan batik. Tapi bodohnya, aku tidak paham batik mana yang paling cocok yang mesti kupakai. Andai saja dia masih ada, sebagai istriku. Andai pagi itu aku tidak mengatakan kalimat paling bodoh, “Aku ingin cerai.”
Anjani terdiam, menatapku tajam dengan matanya yang merah berkaca-kaca tapi tak sebening pun yang akhirnya jatuh, lalu mulai bersuara, lirih sekali. “Jika itu maumu, baiklah.”
Aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar dengan menggadaikan cintaku untuk seorang perempuan yang kutemui di kantor. Saat itu, aku berpikir kalau istriku, tepatnya mantan istriku, sudah tidak mencintaiku lagi sehingga aku memilih untuk berpisah dengannya. Dugaan itu mulai membuncah ketika dia lebih sibuk mengurusi butik batiknya daripada aku sendiri.
“Aku tidak ingin menyelingkuhimu, jadi baiknya kita berpisah saja.”
Lagi-lagi Anjani terdiam. Benar-benar terdiam. Dia pun enggan menatapku hingga aku merangkak pergi menjauhinya. Malamnya, kubawakan surat cerai, dan dia tanda tangan tanpa berkata-kata. Tidak cukup lama, kami resmi bercerai. Dia pergi dan aku tak tahu ke mana.
Setelah enam tahun, setelah aku merasakan sakitnya ditinggalkan oleh perempuan kantor sundal itu, perempuan yang diam-diam mencuri waktu untuk menemui kekasih lamanya, aku baru menyadari kalau keputusan cerai enam tahun lalu itu ialah keputusan terbodoh.
Aku baru sadar kalau aku mencintai Anjani lebih dari apa pun. Jika Tuhan mengizinkan kami bertemu kembali, dan bilamana dia belum bersuami lagi, ingin rasanya aku rujuk dengannya. Betapa pun selama kami menikah, aku belum banyak memberikan yang terbaik buatnya. Aku teramat egois memikirkan diriku sendiri ketimbang memikirkan kemungkinan kenapa dia lebih sibuk di butik daripada melayani suaminya.
Dialah perempuanku, pembatik dari Jogja. Aku mengenalnya saat kegiatan studi tur kampus yang membawa kami ke keraton untuk melihat orang-orang membatik. Jujur, aku bukanlah tipe orang yang punya jiwa nasionalisme tinggi. Batik, bukanlah sesuatu yang indah buatku. Tapi melihat tangan perempuan itu yang lihai memegang canting dan membentuk motif-motif ke dalam sebuah kain, aku mulai tertarik.
Anjani juga senang menjelaskan makna setiap motif yang dia buat. Penjelasan yang makin membuat cintaku pertama kali jatuh pada batik, juga padanya. Seperti motif parang yang dipakai kalangan bangsawan, motif yang katanya dikenal sebagai motif tertua di Jawa. Atau motif batik yang mirip biji pinang yang menyimbolkan rezeki melimpah.
“Menarik,” kataku. “Kira-kira menurutmu motif batik apa yang cocok buatku?”
Anjani semringah. “Mungkin yang ini.” Dia menunjukkan motif batik yang berupa bentuk geometris dengan ukuran besar. Sekilas motifnya mirip kelopak bunga dengan titik-titik di sekitarnya yang menambah cantik batik itu. “Batik grompol. Batik ini memiliki makna bersatu, artinya sebuah harapan agar orang yang mengenakannya hidup cerah di masa depan serta rukun dengan keluarga.”
Aku tidak menyangka maksud perempuan itu mengenai makna yang disampaikannya menjadi benar-benar kenyataan. Aku melamarnya setelah lulus dari kampus dan kami tuntas menikah. Kami seolah-olah—pada saat itu—merasakan masa depan yang begitu cerah. Sayangnya, aku merusak makna itu, makna rukun itu, dengan menceraikannya setelah pernikahan kami bahkan belum diisi tangisan bayi.
Sudah hampir jam 7, aku belum memilih satu batik pun untuk kukenakan. Aku bingung. Aku memang bukan pemilih yang baik. Lagian di rumah perantauan ini, setelah tidak lagi beristri, aku hidup sendirian jadi tak seorang pun bisa kutanyakan.
Dan di tengah kebingungan itu, aku mendapati sebuah batik yang berada di antara tumpukan baju usang. Paling bawah. Baunya sedikit apak. Aku ingat batik ini. Batik truntum. Batik terakhir yang perempuan itu buatkan untukku saat hari-hari paling akhir sebelum perceraian kami. Entah apa maknanya, dia belum sempat menjelaskan. Dia hanya bilang, “Batik truntum ini untukmu. Semoga kamu bahagia bersamanya.”
Mungkin, ini saatnya aku mengenakan batik itu. Sekalian mengobati rindu dan penyesalanku. Untuk membuang baunya, beberapa semprotan parfum dirasa cukup. Dan malam ini aku pergi juga dengan batik bermotif taburan bunga-bunga kecil atau seperti kuntum bunga melati.
Dalam perjalanan, aku sengaja browsing makna batik truntum pemberiannya. Tercengang dan membuat tanganku lumayan bergetar. Batik truntum ternyata memiliki kisah yang apik bahwasanya Raja Pangkubuwono III kembali jatuh cinta di ujung tombak pernikahan pada Ratu Beruk karena sang ratu menghadiahi batik tersebut. Mungkinkah ini yang diinginkan Anjani? Dia juga masih berharap aku tidak meninggalkannya dengan memberikan batik itu. Maafkan aku, Anjani.
Tanganku masih bergetar setiba di kafe. Seperti namanya, Batik Cafe, gedungnya dihiasi batik di mana-mana. Dinding, tiang penyangga, hingga kursi dan meja. Semua bermotif batik. Di gedung itu pula, sudah ada banyak tamu yang hadir. Dan beberapa tamu itu, aku betul-betul dikejutkan dengan salah seorang perempuan yang tak asing. Mengenakan batik sama yang kukenakan. Batik truntum. Perempuan yang sudah kusia-siakan cintanya.
“Anjani?” Aku menyapanya duluan. “Kamu juga datang ke sini?”
Anjani tampak heran melihatku tapi kemudian bersikap seolah biasa saja. “Tentu. Aku ikut merancang kafe ini.”
Dia tersenyum. Hangat sekali. Tiba-tiba seorang anak kecil perempuan yang mengenakan batik serupa berlari ke arahnya. Dia segera menyambutnya sambil sesekali menggunakan sapaan Nak. Batik boleh sama. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dia mungkin telah bersuami lagi. Pupus sudah harapanku.
“Maaf. Aku pergi dulu. Istriku menunggu.” Dan aku terpaksa berbohong.(*)
Watampone, 30/11/18
Minggu, 24 Desember 2017
[Dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu, 24 Desember 2017]
Aku hanya perempuan biasa, Rustam. Perempuan yang masih punya hati yang rapuh serapuh ranting kering jatuh meninggalkan pohon yang ketika terinjak kaki-kaki manusia akan patah sendirinya. Jujur, Rustam, aku tak bisa pura-pura kuat ketika dadaku sudah semakin sesak karena luka yang kauberikan padaku. Aku, perempuan yang telah menerima pinanganmu ingin menikah denganmu, bukan menikah dengan luka.
Sudah terbilang empat pekan kau pergi, Rustam. Sudah banyak kerinduan dan kehilangan dan kerterpurukan yang menjeratku. Aku seakan berada di ambang keinginan untuk lepas darimu atau tetap menunggumu di sini sampai kau pulang. Tapi aku tidak tahu seberapa lama aku bertahan sementara aku benar-benar hanya perempuan biasa yang bisa jatuh hati dengan siapa saja. Jika begitu, pulanglah, Rustam. Jangan biarkan aku mencinta selain dirimu.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau datang di rumahku bersama ibu dan bapakmu menemui ibu dan bapakku tanpa kabar sebelumnya hingga kami serumah kaget setengah mati. Kami kira kau bercanda tapi matamu yang berbinar, senyummu yang merekah lebar sekali hingga pipi bakpaumu jadi terkikis, menyiratkan kesungguhan yang nyata.
"Saya sudah sangat mencintai anak Om. Saya mohon restui hubungan kami," katamu jantan, lebih jantan dari kata-kata para lelaki yang pernah datang ke rumahku hanya dengan modal cengengesan.
"Kami pasti merestui niat baikmu, Nak." Ayahku membalas ucapanmu dengan bijak pula. Kau tahu, Rustam? Bahagia yang datang ke hatiku ketika mendengar itu lebih besar daripada bahagia yang pernah menghampiriku ketika wisuda S1 dua tahun lalu.
"Kapan acara naik uangnya?" tanya ibumu. Dia tampak lebih bersemangat dari yang aku kira.
"Secepatnya," sambut ayahku.
Semua tanggal penting sudah tercatat. Segala rangkaian adat sudah dilaksanakan. Tersisa kalimat sakral yang mesti kauucapkan di hadapan penghulu demi mengikat janji kita untuk hidup bahagia selamanya. Namun tiba-tiba kaukirimkan guntur tepat di hari-hari bahagiaku. "Aku harus berangkat sekarang, Halimah. Negara membutuhkanku."
Apa kau pikir aku tidak membutuhkanmu sama sekali, Rustam? Apa kau pikir aku tidak akan tersiksa dengan kepergianmu yang entah kembali atau tidak, Rustam? Aku sakit, Rustam. Aku bahkan menangis berhari-hari setelah melihat punggungmu yang lebar dan tegap itu menghilang perlahan demi perlahan.
Kukatakan memang, "Pergilah, Rustam, jika itu benar tugas negara yang harus kaupenuhi. Aku tahu banyak orang yang membutuhkan dan mengharapkanmu di sana. Aku hanya akan mengirimkan doa-doa untuk mengiringi langkahmu." Tapi itu tidak lebih dari caraku untuk membuat kau tidak merasa cemas sama sekali. Padahal kalimatku telah menusuk jantungku sendiri.
"Terima kasih, Halimah, aku janji akan kembali secepat yang aku bisa."
"Janji?"
"Janjiku itu janji seorang kesatria, Halimah. Aku lebih baik mati tertusuk panah ketimbang mengingkari janjiku sendiri."
Kau cium keningku kemudian berbalik. Kau pergi lalu tak kembali lagi. Ke mana janji kesatriamu itu, Rustam? Ini sudah cukup lama kaubiarkan aku dirundung pilu dan hidup dengan luka.
Kenapa juga harus kau yang pergi membela negara, Rustam? Maksudku, kenapa tidak kaucari saja pekerjaan lain yang tak perlu membuat aku merasakan kerinduan dan kehilangan dan keterpurukan yang tiada terkira?
Terlalu pahit rasanya melihat kau mencumbui senjata-senjata, sementara aku di sini hanya mampu menyandarkan wajahku ke jendela kaca sembari melihat angin menerbangkan daun-daun. Terlalu perih rasanya membayangkan kau berada di tengah-tengah kebengisan orang-orang yang bermain-main dengan desing peluru yang ditembakkan berkali-kali, sementara aku di sini hanya mampu tertidur dengan malam-malamku yang penuh dengan suara tembakan dan lelehan darah serta napas kematian.
"Kenapa kau memilih untuk jadi tentara?"
"Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang melindungi negara? Apa kau tidak bangga calon suamimu menjadi orang yang berjasa untuk negaranya?"
"Tapi aku takut kau terluka. Dan aku takut kau mati."
"Mati itu teman dari sebuah peperangan. Jika Tuhan membiarkan aku mati di medan perang, itu berarti Tuhan mengizinkan aku hidup di surganya."
"Kau bisa hidup di surga dengan cara lain."
"Mendapatkan surga dengan cara jantan itu pilihan terbaik, Halimah."
Kau memang egois, Rustam. Kau hanya memikirkan bagaimana seharusnya kau mati, tapi tidak pernah sekalipun kau berpikir bagaimana seharusnya kau hidup denganku.
Kau ingat, Rustam, kita bertemu saat aksi demonstrasi yang mengakibatkan dua teman kita direset ke kantor polisi. Mereka dituduh sebagai provokator. Saat itu, aku belum benar-benar mengenalmu tapi ketidakbecusan pemerintah saat itu membuat aku harus kenal dengan orang-orang sepertimu. Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang haknya dicabut. Aku ingin membela rakyat yang diperbudak pemerintah. Kau pun demikian.
Saat malam, setelah kita mengadakan pertemuan di rumah Suardi, rumah yang cukup luas untuk kita jadikan sebagai sekretariat, kau tiba-tiba menawariku jemputan untuk pulang.
"Tidak baik perempuan pulang sendirian," katamu saat itu.
"Aku sudah terbiasa."
"Kalau begitu kau harus mulai terbiasa diantar pulang."
Sejak dulu, kau memang sudah sangat egois, Rustam. Tapi karena malam itu memang sudah sangat larut, aku mau tak mau menerima tawaranmu. Lagi pula aku sebenarnya senang seorang lelaki bergaya mahasiswa organisator dengan rambut keriting yang ditata acak-acakan, jaket kulit yang membungkus kaos bertuliskan Merdeka Tanpa Kata-Kata yang kemudian dilengkapi jins panjang yang sudah disobek bagian lututnya. Aku diam-diam memperhatikanmu karena caramu untuk tetap terlihat berantakan.
Motormu sampai di depan pagar rumahku dalam waktu kurang lima belas menit. Jarak tempuh yang cukup dekat seharusnya..
"Apa kamu yakin akan ikut besok, Halimah?" tanyamu. Ada cemas yang muncul dari sosok berantakanmu.
"Kenapa kau bertanya begitu, Rustam? Aku tentu saja akan ikut. Itu sudah jadi sebuah prinsip."
"Tapi besok akan sangat bahaya untukmu, Halimah. Anak-anak pasti akan lebih agresif dari kemarin. Ini bukan lagi soal pembelaan hak-hak tapi juga tuntutan pembebasan untuk Adi dan Dono."
"Kamu santai saja, Rustam. Aku bisa jaga diri," kataku enteng. Kau tetap menatapku dengan tatapan paling khawatir. Sekarang aku merasakan kecemasanmu. Aku juga takut seperti kau dulu takut aku terluka. Ini seperti upaya balas dendam yang tak pernah tuntas.
Hari itu kita memang sama-sama berjuang, sama-sama membela hak-hak rakyat. Aku bahkan bahagia bisa berada di tengah teriakan-teriakan para demonstran yang haus keadilan. Mendengar letupan senjata para anggota brimob yang dilecutkan ke langit membuat semangatku semakit memburu. Gas air mata yang sengaja ditembakkan. Batu-batu kerikil yang melayang-melayang di udara. Semua itu benar-benar menyulut darahku. Hari itu kita sama-sama tertangkap, juga beberapa mahasiswa lain yang ikut digiring ke kantor polisi. Meskipun beberapa hari kemudian, kita dikembalikan ke orang tua masing-masing.
"Aku pernah berpikir apa sih yang sebenarnya kita lakukan ini?"
"Maksud kamu, Halimah?"
"Kita membela hak-hak rakyat dengan cara berteriak-teriak dan sekali adu pukul, sedangkan mereka di gedung sana malah menyeruput kopi sambil menonton televisi. Maksud aku, kenapa kita tidak membela hak-hak rakyat dengan cara lain tanpa harus anarkis?"
"Kita tidak anarkis, Halimah. Namun untuk didengar, kadang kita harus cari perhatian."
Sekarang, aku benar-benar ingin didengar olehmu, Rustam. Pahamkah kau itu? Aku seperti kembali menjadi seorang demonstran yang menuntut keadilan dalam dirinya. Keadilan yang telah kau renggut karena meninggalkanku di hari-hari seharusnya aku bahagia. Sesungguhnya aku pun patut bahagia, dengan atau tanpamu, tapi aku tak sanggup dan masih berharap kau segera kembali.
"Aku dengar kamu akan mendaftar jadi anggota tentara setelah lulus nanti. Apa itu benar, Rustam?"
"Aku memang memikirkan hal itu."
"Kenapa?"
"Aku berasal dari keluarga tentara, Halimah. Bapak dan kakekku seorang tentara."
"Kamu lucu, Rustam."
Kau menatapku heran.
"Kamu melawan negara dan sekarang kamu berpikir untuk membela negara."
"Aku tidak pernah melawan negara, Halimah. Hal ini bahkan tidak kusebut sebagai melawan negara. Kita hanya ingin negara ini berjalan dengan seharusnya tanpa ketidakadilan dari oknum-oknum pemerintah."
"Aku senang mendengarnya. Tapi aku minta satu hal, ketika kamu benar-benar jadi tentara, Rustam, jangan pernah lupakan orang-orang yang pernah ikut berjuang bersamamu."
Kau memang tidak melupakanku, Rustam, kau malah akan segera meresmikan hubungan kita, tapi kau sudah membuat aku tersiksa. Aku benar-benar disiksa rindu. Maka jangan salahkan aku ketika kau pulang, Rustam, kau hanya akan menemukan seorang perempuan yang membenamkan dirinya dengan sebuah luka dan darah hasil tembakan di kepalanya. (*)
Aku hanya perempuan biasa, Rustam. Perempuan yang masih punya hati yang rapuh serapuh ranting kering jatuh meninggalkan pohon yang ketika terinjak kaki-kaki manusia akan patah sendirinya. Jujur, Rustam, aku tak bisa pura-pura kuat ketika dadaku sudah semakin sesak karena luka yang kauberikan padaku. Aku, perempuan yang telah menerima pinanganmu ingin menikah denganmu, bukan menikah dengan luka.
Sudah terbilang empat pekan kau pergi, Rustam. Sudah banyak kerinduan dan kehilangan dan kerterpurukan yang menjeratku. Aku seakan berada di ambang keinginan untuk lepas darimu atau tetap menunggumu di sini sampai kau pulang. Tapi aku tidak tahu seberapa lama aku bertahan sementara aku benar-benar hanya perempuan biasa yang bisa jatuh hati dengan siapa saja. Jika begitu, pulanglah, Rustam. Jangan biarkan aku mencinta selain dirimu.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau datang di rumahku bersama ibu dan bapakmu menemui ibu dan bapakku tanpa kabar sebelumnya hingga kami serumah kaget setengah mati. Kami kira kau bercanda tapi matamu yang berbinar, senyummu yang merekah lebar sekali hingga pipi bakpaumu jadi terkikis, menyiratkan kesungguhan yang nyata.
"Saya sudah sangat mencintai anak Om. Saya mohon restui hubungan kami," katamu jantan, lebih jantan dari kata-kata para lelaki yang pernah datang ke rumahku hanya dengan modal cengengesan.
"Kami pasti merestui niat baikmu, Nak." Ayahku membalas ucapanmu dengan bijak pula. Kau tahu, Rustam? Bahagia yang datang ke hatiku ketika mendengar itu lebih besar daripada bahagia yang pernah menghampiriku ketika wisuda S1 dua tahun lalu.
"Kapan acara naik uangnya?" tanya ibumu. Dia tampak lebih bersemangat dari yang aku kira.
"Secepatnya," sambut ayahku.
Semua tanggal penting sudah tercatat. Segala rangkaian adat sudah dilaksanakan. Tersisa kalimat sakral yang mesti kauucapkan di hadapan penghulu demi mengikat janji kita untuk hidup bahagia selamanya. Namun tiba-tiba kaukirimkan guntur tepat di hari-hari bahagiaku. "Aku harus berangkat sekarang, Halimah. Negara membutuhkanku."
Apa kau pikir aku tidak membutuhkanmu sama sekali, Rustam? Apa kau pikir aku tidak akan tersiksa dengan kepergianmu yang entah kembali atau tidak, Rustam? Aku sakit, Rustam. Aku bahkan menangis berhari-hari setelah melihat punggungmu yang lebar dan tegap itu menghilang perlahan demi perlahan.
Kukatakan memang, "Pergilah, Rustam, jika itu benar tugas negara yang harus kaupenuhi. Aku tahu banyak orang yang membutuhkan dan mengharapkanmu di sana. Aku hanya akan mengirimkan doa-doa untuk mengiringi langkahmu." Tapi itu tidak lebih dari caraku untuk membuat kau tidak merasa cemas sama sekali. Padahal kalimatku telah menusuk jantungku sendiri.
"Terima kasih, Halimah, aku janji akan kembali secepat yang aku bisa."
"Janji?"
"Janjiku itu janji seorang kesatria, Halimah. Aku lebih baik mati tertusuk panah ketimbang mengingkari janjiku sendiri."
Kau cium keningku kemudian berbalik. Kau pergi lalu tak kembali lagi. Ke mana janji kesatriamu itu, Rustam? Ini sudah cukup lama kaubiarkan aku dirundung pilu dan hidup dengan luka.
Kenapa juga harus kau yang pergi membela negara, Rustam? Maksudku, kenapa tidak kaucari saja pekerjaan lain yang tak perlu membuat aku merasakan kerinduan dan kehilangan dan keterpurukan yang tiada terkira?
Terlalu pahit rasanya melihat kau mencumbui senjata-senjata, sementara aku di sini hanya mampu menyandarkan wajahku ke jendela kaca sembari melihat angin menerbangkan daun-daun. Terlalu perih rasanya membayangkan kau berada di tengah-tengah kebengisan orang-orang yang bermain-main dengan desing peluru yang ditembakkan berkali-kali, sementara aku di sini hanya mampu tertidur dengan malam-malamku yang penuh dengan suara tembakan dan lelehan darah serta napas kematian.
"Kenapa kau memilih untuk jadi tentara?"
"Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang melindungi negara? Apa kau tidak bangga calon suamimu menjadi orang yang berjasa untuk negaranya?"
"Tapi aku takut kau terluka. Dan aku takut kau mati."
"Mati itu teman dari sebuah peperangan. Jika Tuhan membiarkan aku mati di medan perang, itu berarti Tuhan mengizinkan aku hidup di surganya."
"Kau bisa hidup di surga dengan cara lain."
"Mendapatkan surga dengan cara jantan itu pilihan terbaik, Halimah."
Kau memang egois, Rustam. Kau hanya memikirkan bagaimana seharusnya kau mati, tapi tidak pernah sekalipun kau berpikir bagaimana seharusnya kau hidup denganku.
Kau ingat, Rustam, kita bertemu saat aksi demonstrasi yang mengakibatkan dua teman kita direset ke kantor polisi. Mereka dituduh sebagai provokator. Saat itu, aku belum benar-benar mengenalmu tapi ketidakbecusan pemerintah saat itu membuat aku harus kenal dengan orang-orang sepertimu. Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang haknya dicabut. Aku ingin membela rakyat yang diperbudak pemerintah. Kau pun demikian.
Saat malam, setelah kita mengadakan pertemuan di rumah Suardi, rumah yang cukup luas untuk kita jadikan sebagai sekretariat, kau tiba-tiba menawariku jemputan untuk pulang.
"Tidak baik perempuan pulang sendirian," katamu saat itu.
"Aku sudah terbiasa."
"Kalau begitu kau harus mulai terbiasa diantar pulang."
Sejak dulu, kau memang sudah sangat egois, Rustam. Tapi karena malam itu memang sudah sangat larut, aku mau tak mau menerima tawaranmu. Lagi pula aku sebenarnya senang seorang lelaki bergaya mahasiswa organisator dengan rambut keriting yang ditata acak-acakan, jaket kulit yang membungkus kaos bertuliskan Merdeka Tanpa Kata-Kata yang kemudian dilengkapi jins panjang yang sudah disobek bagian lututnya. Aku diam-diam memperhatikanmu karena caramu untuk tetap terlihat berantakan.
Motormu sampai di depan pagar rumahku dalam waktu kurang lima belas menit. Jarak tempuh yang cukup dekat seharusnya..
"Apa kamu yakin akan ikut besok, Halimah?" tanyamu. Ada cemas yang muncul dari sosok berantakanmu.
"Kenapa kau bertanya begitu, Rustam? Aku tentu saja akan ikut. Itu sudah jadi sebuah prinsip."
"Tapi besok akan sangat bahaya untukmu, Halimah. Anak-anak pasti akan lebih agresif dari kemarin. Ini bukan lagi soal pembelaan hak-hak tapi juga tuntutan pembebasan untuk Adi dan Dono."
"Kamu santai saja, Rustam. Aku bisa jaga diri," kataku enteng. Kau tetap menatapku dengan tatapan paling khawatir. Sekarang aku merasakan kecemasanmu. Aku juga takut seperti kau dulu takut aku terluka. Ini seperti upaya balas dendam yang tak pernah tuntas.
Hari itu kita memang sama-sama berjuang, sama-sama membela hak-hak rakyat. Aku bahkan bahagia bisa berada di tengah teriakan-teriakan para demonstran yang haus keadilan. Mendengar letupan senjata para anggota brimob yang dilecutkan ke langit membuat semangatku semakit memburu. Gas air mata yang sengaja ditembakkan. Batu-batu kerikil yang melayang-melayang di udara. Semua itu benar-benar menyulut darahku. Hari itu kita sama-sama tertangkap, juga beberapa mahasiswa lain yang ikut digiring ke kantor polisi. Meskipun beberapa hari kemudian, kita dikembalikan ke orang tua masing-masing.
"Aku pernah berpikir apa sih yang sebenarnya kita lakukan ini?"
"Maksud kamu, Halimah?"
"Kita membela hak-hak rakyat dengan cara berteriak-teriak dan sekali adu pukul, sedangkan mereka di gedung sana malah menyeruput kopi sambil menonton televisi. Maksud aku, kenapa kita tidak membela hak-hak rakyat dengan cara lain tanpa harus anarkis?"
"Kita tidak anarkis, Halimah. Namun untuk didengar, kadang kita harus cari perhatian."
Sekarang, aku benar-benar ingin didengar olehmu, Rustam. Pahamkah kau itu? Aku seperti kembali menjadi seorang demonstran yang menuntut keadilan dalam dirinya. Keadilan yang telah kau renggut karena meninggalkanku di hari-hari seharusnya aku bahagia. Sesungguhnya aku pun patut bahagia, dengan atau tanpamu, tapi aku tak sanggup dan masih berharap kau segera kembali.
"Aku dengar kamu akan mendaftar jadi anggota tentara setelah lulus nanti. Apa itu benar, Rustam?"
"Aku memang memikirkan hal itu."
"Kenapa?"
"Aku berasal dari keluarga tentara, Halimah. Bapak dan kakekku seorang tentara."
"Kamu lucu, Rustam."
Kau menatapku heran.
"Kamu melawan negara dan sekarang kamu berpikir untuk membela negara."
"Aku tidak pernah melawan negara, Halimah. Hal ini bahkan tidak kusebut sebagai melawan negara. Kita hanya ingin negara ini berjalan dengan seharusnya tanpa ketidakadilan dari oknum-oknum pemerintah."
"Aku senang mendengarnya. Tapi aku minta satu hal, ketika kamu benar-benar jadi tentara, Rustam, jangan pernah lupakan orang-orang yang pernah ikut berjuang bersamamu."
Kau memang tidak melupakanku, Rustam, kau malah akan segera meresmikan hubungan kita, tapi kau sudah membuat aku tersiksa. Aku benar-benar disiksa rindu. Maka jangan salahkan aku ketika kau pulang, Rustam, kau hanya akan menemukan seorang perempuan yang membenamkan dirinya dengan sebuah luka dan darah hasil tembakan di kepalanya. (*)
Jumat, 03 Juli 2015
Pria dan Bunga Mawar dalam Genggaman
Oleh: Justang Zealotous
Bunga yang terus kugenggam sedari tadi terjatuh. Kelopaknya berhamburan, bentuknya tak lagi sempurna. Setitik senyum pada pita menghilang, dipudarkan kegelisahan.
Bulir air mata tak tahan basahi pipi. Tak lagi terseka pada gerangan tangan yang rela. Semua hilang, rasa dan cinta itu. Semua yang telah lama kusimpan sejak pertama lihat dia di lantai dansa.
***
“Aku suka bunga tapi kau tak akan menemukannya di sini. Cepat datang, ya!” ucap wanita itu lewat telepon.
“Aku pasti ke sana dengan bunga mawar dalam genggaman dan tak mungkin kulewatkan momen kedua ini. Masih Kafe Armenda, kan? Tunggu aku!” Telepon itu segera kumatikan tanpa basa basi. Aku terlalu senang.
Pakaian nuansa biru abu-abu dengan manik-manik berkilauan telah terpasang. Celana jin tebal tak terlalu ketat jua kupasang. Minyak rambut dan semprotan parfum sana sini. Aku tak bisa menjadi makhluk biasa untuk malam luar biasa.
Kendaraan butut, setidaknya hampir mirip Lamborgini zaman batu, segera kuhampiri yang tepat terparkir di tepi jalan. Kukendarai dengan super hati-hati, namun tak begitu lamban juga.
Aku tak sabar untuk bertemu kedua kalinya di lantai dansa. Bukan karena apa, cuma dia yang kukenal sebagai pedansa terbaik di kota seribu kafe. Dan, aku bakal berdansa dengannya. Suatu kebahagiaan terbesar yang pernah ada dalam hidupku. Selain itu, aku diam-diam menaruh hati padanya.
Setelah tiba, rupanya ada penjual bunga di depan kafe. Bunga mawar dengan kelopak merah menyala dan semerbak harumnya yang mewangi. Tepat sekali seperti janji akan membawakannya.
Kubuka pintu kafe dengan perasaan yang beradu, senang juga gelisah. Aku senang karena bakal dansa lagi dengannya. Gelisah, ya, aku belum bisa menjelaskan mengenai kata ini, mungkin cukup gelisah tak bisa maksimal untuknya.
Setelah pintu kafe terbuka dan suara musik nostalgia ala tahun 90-an langsung memburu telinga, sudah ada puluhan orang yang meramaikan tempat itu. Kuarahkan ke pandangan segala arah, wanita itu tak terlihat. Apa dia sungguh datang? Aku sangat gelisah kini.
Tiba-tiba seorang wanita dengan topeng muka di wajahnya langsung maju ke lantai dansa. Dari postur tubuh yang lentik, jelas sekali dia yang ingin kutemui. Senyumannya mengembang dan menunjuk ke salah satu arah, kepadaku. Aku membunga.
“Kau!” teriaknya.
“Aku?” tanyaku dengan perasaan sangat gugup. Dia menggerakkan jemarinya memanggil.
Lalu, aku segera melangkah. Satu dua langkah, segera terhenti. Bukan aku. Dia tak menunjuk ke arahku, ada seorang pria gagah dari belakang yang melewati langkahku. Pria itu bergegas ke lantai dansa.
“Hentikan musiknya!” pinta lelaki itu sembari sebuah kain dari balik panggung
mengiringinya turun. Ada tulisan di sana, ‘Will you marry me?’.
***
Aku tak sanggup melihat ini semua. Air mataku masih berlinang. Bunga tadi barangkali sudah terinjak di sana. Aku tak peduli dan akan segera pulang. Cukup buat aku terluka lebih dalam.
Segera kucari ponsel di saku celana untuk menelepon teman agar dia menjemputku. Setidaknya menenangkan diri bersamanya. Ternyata ada pesan singkat yang dari tadi masuk. Aku membukanya. ‘Bukan Kafe Armenda. Tapi, Kafe Armenia. Segera datang dan dansa bersamaku.’
Jumat, 02 Januari 2015
-saat tawa dan tangis adalah hal yang sama-
[Bagian 3]
Setelah di depan gerobak penjual bunga, mata Ewin langsung tertuju pada dua tangkai mawar. Ia pun mengambilnya dan meletakkan masing-masing di kedua tangannya. Setangkai mawar oranye di tangan kanan dan setangkai mawar kuning lagi di tangan kiri.
“Oranye atau kuning? Cinta atau persahabatan?” tanya Ewin bingung, sekaligus gundah teramat dalam.
***
“Mas, mau beli, tak?” tanya penjual bunga cemberut, ia sudah terlalu penat menunggu sekitar dua puluh menit, Ewin masih saja menatap dua tangkai bunga di tangannya.
“Sabar, Mas! Aku pasti beli, hanya saja belum tahu mau pilih oranye atau kuning.” Ewin memelas.
Jam berdetak, semenit dua menit berlalu begitu saja. Semuanya semakin jenuh menunggu. Fahmi malah berkali-kali menguap karena kantuk yang tak tertahan, dan ia mulai bersandar pada bahu Ryan. Sementara si penjual bunga memasang muka sinis lantas Ewin masih belum menjatuhkan pilihan.
Ewin benar-benar bingung. Ia seakan kehilangan akal tentang kedua tangkai yang sudah hampir layu tersebut. Baginya, ini pilihan tersulit. Bagai memilih dicabik hewan buas atau dibakar api yang berkobar.
Ia memang sungguh mencintai Ayu bahkan ia sangat ingin memilikinya tapi bagaimana jika pilihan oranye tersebut membuatnya buruk di mata Ayu. Ia dianggap terlalu ambisius dan pencuri hati orang lain. Atau, malah pilihan kuning tersebut yang akan semakin membuatnya jauh dari Ayu. Ah, bingungnya tuh kebangetan!
“Pilih saja, saudara! Ikuti kata hati. Kata orang sih kata hati tak bakal bohong karena itu langsung dari-Nya. Dan, kau yang lebih pantas menentukan jalan hidupmu sendiri. Pun aku juga tahu kalau pilihanmu adalah kebahagiaanmu,” usul Ryan. Ia seperti motivator di acara tipi.
Fahmi kembali menguap, lalu ditutupnya mulut dengan tangan. “Sudah selesai ceramah, Bro?” sindir Fahmi. “Ewin, cepat pilih! Ini sudah setengah jam dan lu masih belum membeli setangkai pun. Atau begini, lu beli keduanya saja. Kalau ia anggap itu sebagai cinta dan ia senang, syukur. Kalau ia anggap itu sebagai persahabatan, itu berarti sahabat dengan kasih sayang luar biasa.” Fahmi menghentikan omelannya dengan terengah-engah.
Ryan dan Ewin langsung melongo tak percaya mendengar Fahmi berbicara panjang lebar, termasuk si penjual bunga yang ikutan mendesah lega.
“Wah! Hebat banget kau, Fahmi. Aku setuju dua ratu persen dengan usulan saudara kita ini.” Ryan terus memuji Fahmi sambil memukul-mukul pundaknya.
“Iya, itu ide luar biasa bagus.” Si penjual bunga ikut membenarkan. Ia bahagia karena akhirnya mau dibeli juga yang sedari tadi ditunggunya dengan kesal.
Ewin tersenyum lebar. “Oke! Mas, berapa harganya?”
“Tunggu!” Ryan tiba-tiba berteriak dan membuat semuanya terkejut. “Aku pernah baca diCatatan Legawa, perpaduan oranye dan kuning bermakna antusiasme, hasrat, dan hal-hal yang memberikan semangat pada sebuah hubungan. Bagus, kan? Selain itu, jumlah mawar juga bisa memiliki makna berbeda, misalnya untuk dua tangkai mawar mengucapkan rasa terima kasih, dua belas tangkai untuk cinta yang tak terbantahkan, dua puluh lima tangkai untuk ucapan selamat, dan lima puluh tangkai untuk cinta yang tak bersayarat. Nah, mau pilih mana?” jelas Ryan.
“Ryaaan! Jika lu terus memberinya pilihan, kita bakal nunggu lagi. Dan, gue udah capek menunggu. Ambil dua tangkai saja, terserah itu maksudnya terima kasih untuk apaan,” gerutu Fahmi. Ia segera menarik tangan Ewin untuk pergi.
“Eh, tunggu dulu! Aku belum bayar, nih,” tegur Ewin.
Si penjual bunga masih memasang muka masam. “Nggak perlu dibayar. Gratis saja asal bisa membuat kalian pergi dari sini.”
“Maaf, maaf!” ucap Ewin merasa sangat bersalah.
“Alaaah! Jangan marah, Mas. Cepat tua nanti,” goda Fahmi.
“Pergiii!!!” pekik si penjual bunga tersebut dan langsung membuat Ewin serta kedua sahabatnya berlari terbirit-birit.
***
Ewin berkali-kali menatap arloji di tangan kanannya. Pukul empat lima puluh sore, sebentar lagi sinar redup berwarna ungu bakal muncul di langit cerah sebelah barat. Itu waktu yang indah untuk memberikan kado terhebat buat Ayu.
Waktu tersebut dipilih Ewin juga berdasarkan usulan dari kedua sahabatnya. Ayu kan minta sepucuk senja, jadi kado yang tepat untuknya sepucuk mawar di tengah senja. Meskipun begitu, ia datang lebih awal karena takut terlambat. Ia tahu betul Ayu tak suka cowok yang kerjaannya buat orang menunggu.
Sekali lagi, arlojinya kembali ditatap. Ia sungguh tak sabar memberikan dua tangkai mawar itu padanya. Apalagi hari ini ia sama sekali tak bertemu dengan Ayu karena libur sekolah. Ia hanya memberinya pesan singkat untuk bertemu di tepi telaga pada waktu senja.
Ewin lalu menggenggam dua tangkai mawar tersebut dan menatapnya. “Ayu, mengapa sulit sekali mendapatkan dirimu? Kau tahu, aku seperti kayu lapuk yang dimakan rayap jika kau tak di sisiku. Ya, aku juga tidak mengerti mengapa hati ini seakan lemah tanpamu.” Ewin membuang napas berat.
Tiba-tiba matanya langsung beralih di ujung langit bagian barat. Sebuah warna merah kekuning-kuningan perlahan muncul lalu membuat pantulan ke telaga dan itu semakin indah terlihat. Ia pun mulai tampak resah karena seharusnya Ayu telah berada di sampingnya sekarang. Nyatanya, suara bak lantunan biola Ayu bahkan belum terdengar.
Ia periksa kembali arlojinya untuk memastikan waktu tak habis membuntutinya. Pukul lima tiga puluh lima, sinar redup keunguan itu bakal segera menghilang, Ayu belum juga datang. Lalu, dihubunginya nomor Ayu agar bisa tahu keberadaan wanita yang paling dicintainya dengan diam itu.
Tut, tut, tut! Malah sibuk. Ewin semakin cemas hati. Tak biasanya cewek paling anti telat malah setelah ini dan tak mungkin juga sih ia tiba-tiba membatalkan janji tanpa pemberitahuan dahulu. Ayu bukan cewek segila itu.
Bahkan pernah sekali waktu ketika Ayu mengajak Ewin janjian ketemu di tepi telaga yang sama saat awal-awal persahabatan mereka, untuk memperkenalkan betapa cintanya ia pada senja. Saat itu, Ayu terlambat datang walau hanya sekitar dua menit. Ia langsung meminta maaf berkali-kali dengan penuh penyesalan, bahkan air matanya sempat menetes.
“Mengapa kau menangis?” kata Ewin kala itu.
“Aku telat! Aku telat!” rintih Ayu.
“Tak masalah. Kau kan cuma telat sekitar dua menit.”
“Dua menit? Menurut aku, waktu adalah salah satu hal paling berharga di dunia. Membuang-buang waktu walau hanya semenit atau dua menit, sama saja telah membuang banyak kesempatan untuk bahagia.” Kala itu, Ayu memelototi Ewin dalam-dalam karena dianggap merendahkan waktu.
Namun sekarang, Ayu malah sangat telat. Meskipun begitu, Ewin terus berpikir positif. Boleh jadi, ia punya urusan mendadak atau lagi ketemuan dulu dengan Sofyan. Tidak mungkin kan cowok yang paling dicintai Ayu dengan dalam itu tak memberikan kejutan teristimewa.
Sekian kalinya, Ewin menatap arloji lagi. Pukul lima lima puluh empat, merah kekuning-kuningan di ujung barat sana semakin menyala. Mentari yang menggantung sudah ingin tenggelam. Lalu, diletakannya bunga mawar yang sudah hampir mengering di sebelah kanannya. Ia masih setia menunggu.
“Ewin!” Suara yang tak asing terdengar di ujung kiri berteriak memanggilnya. Lantas, wajah Ewin segera dipalingkan ke kiri.
Perlahan, suara desahan yang memburu terdengar megap-megap. Langkah kaki jenjang itu pun juga mulai semakin mendekat. Akhirnya cewek yang sedari tadi ditunggunya datang. Rambutnya yang panjang dikucir.
Ayu langsung menunduk sesal melihat Ewin, ia tahu kalau telah datang terlambat. “Ewin, maafkan aku karena sudah telat! Aku memang bukan sa---“
“Cukup, Ayu!” Ewin meletakkan dua jarinya ke bibir Ayu. “Kau tak perlu minta maaf lagi. Waktu memang tak boleh dibuang percuma, namun ada kalanya waktu harus terbuang untuk memastikan orang lain bahagia.”
Ayu masih menunduk, memang karena menyesal tapi kalimat Ewin membuatnya malah tak mengerti. Membuat orang lain bahagia? Siapa? Sofyan? Entahlah!
“Pasti kau telah menunggu begitu lama, bukan?” tanya Ayu masih terus menyalahkan diri.
“Ah, tidak! Aku baru sebentar di sini. Hanya saja, mungkin aku yang terlalu cepat sampai kau keduluan deh.” Ewin berusaha membuat Ayu tersenyum, tapi entah kenapa senyumannya masih belum tampak. “Ya sudah, duduk di samping aku, yuk!” Ewin mempersilahkan dan Ayu mengikuti.
“Maaf, ya!” Ayu mengiba. “Sebenarnya tadi teman-temanku tiba-tiba datang ke rumah dan memberikan kejutan ulang tahun. Aku tidak mungkin kan meninggalkan mereka. Terus, aku coba hubungi kau malah sibuk, mau di-sms malah gagal terus.”
“Tak perlu menyesal begitu. Aku kan sudah bilang kalau baru datang juga. Eh, sampai lupa. Selamat ulang tahun, ya!”
“Kau memang benar-benar baik sama aku.”
“Biasa saja, tuh!” Ewin merendah.
‘Eh, kau tahu nggak?”
“Yah, enggak! Kau kan belum cerita.”
“Ihh, kau ini!” Ayu langsung memukul jidat Ewin, seperti kebiasaannya tiap kali sebal. Namun setelah itu, senyumannya kembali mengembang. “Tengah malam tadi saat pukul dua belas tepat, Sofyan datang ke rumah dan memberiku kejutan paling hebat. Aku senang sekali saat dia mencium keningku dan memelukku erat.”
“Terus?” tanya Ewin dengan muka datar setelah mendengar kalimat terburuk sepanjang masa.
“Yah, dia sih belum memberiku hadiah. Katanya hari ini, tapi sampai sekarang juga belum datang. Namun, aku yakin pasti hadiahnya jauh lebih hebat,” ucap Ayu berbangga diri.
“Wah, selamat ya! Aku turut senang mendengarnya. Pasti kau sangat beruntung mendapatkan dia, bukan?”
“Ah, seharusnya dia yang beruntung mendapatkan aku, habisnya aku cantik sih. Heheh!” Ayu terkikih. “Oh iya, mana sepucuk senjaku? Kau janji kan ingin memberikannya sebagai hadiah ulang tahun?”
Ewin terkejut. Ia hampir lupa keberadaan dua tangkai mawar yang ada disebelah kanannya itu. Lalu, diliriknya dan ternyata sudah sangat mengering. Waduh, bisa jadi hadiah paling buruk selama abad ke-21, nih. Ewin membatin.
“Tentu saja! Aku tidak mungkin lupa.” Ewin tersenyum kecut sambil perlahan mengangkat dua tangkai mawarnya. Ayu ikut tersenyum menanti hadiahnya.
Namun tiba-tiba telepon seluler Ayu berdering. Ia segera meraih telepon selulernya di saku. Ternyata nama Sofyan terlihat menelepon. “Tunggu! Aku mau angkat telepon dulu.”
Setelah diangkat dan suara di ujung telepon mulai terdengar luruh, Ayu terlihat kaku dan ada segores senyum di bibirnya namun setetes bening juga sontak membasahi pipinya. Ewin pun langsung meletakkan kembali dua tangkai mawar itu karena kaget melihat Ayu yang mendadak menangis.
“Ada apa, Ayu?” tanya Ewin bingung.
Bersambung!
Jumat, 26 Desember 2014
-saat tawa dan tangis adalah hal yang sama-
[Bagian 2]
“Mana mungkin aku tanya. Gengsi kali. Oh, iya. Mr. Google kan tahu segalanya. Ayo apa?” tanya Ewin.
Ryan langsung menyambut pertanyaannya dengan muka dungu. Ia menempelkan jari telunjuknya ke jidat, dengan maksud berpikir. “Sepucuk senja?”
***
“Ah, lama sekali lu mikir, Bro. Jamuran nih gue!” Fahmi menepuk pundak Ryan hingga seakan-akan alinea dalam otaknya yang cemerlang menghilang.
“Sabar kali. Jaringan di otakku kan nggak pakai speedy, dimaklumi lah!” keluh Ryan. Jarinya masih terlekat di jidat.
Sepucuk senja? Dua kata yang terangkai dari bibir tipis Ayu berhasil membuat tiga sahabat itu memutar otak, bahkan Mr. Google super kelayapan. Betapa tidak, kekata sederhana tersebut diyakini memiliki makna lebih bagi Ayu. Jadi, tak ada alasan Ewin untuk abai.
Sebenarnya bukan cuma kata ‘sepucuk senja’ yang keluar meruak dari otak Ayu, yang memang putrinya kata-kata hingga Ewin jadi linglung. Pernah sekali waktu, wanita pencinta senja ini juga mengucap sebaris kalimat penuh misteri, saat Ewin pertama kali berkenalan dengannya.
“Aku terlahir dalam pangkuan rembulan saat cahaya lembayung datang, tapi jika kau ingin mengenalku, jangan tatap aku seperti lembayung. Lihatlah segaris kuning di tepinya!” katanya saat itu.
Mata Ewin berputar, tak mengerti. Ingin berkenalan dengan seorang wanita saja harus belajar dulu. Lantas, segera ia tersenyum cerah dan mengadu ke Mr. Google.
Saat itu, otak Ryan lagi encer hingga sekali pikir kalimat tersebut langsung tertebak. Maknanya begitu sederhana. Ayu lahir saat langit di sebelah barat berwarna ungu setelah matahari terbenam. Walaupun begitu, ia tak ingin dianggap bunga ungu pada perkenalan pertama karena maknanya cinta kasih. Melainkan ia ingin dijadikan seperti bunga kuning yang bermakna suatu awal indah dalam persahabatan.
Setelah tertebak, Ewin mendalami makna tersebut hingga persahabatan mereka tercipta hari demi hari. Ia selalu ada ketika Ayu dalam suka dan duka, bahkan jadi pendengar setia segala curahan yang keluar dari dasar hati wanita lemah lembut itu, termasuk hubungan Ayu dengan Sofyan, kekasihnya.
Berat. Sangat berat. Tiap kali Ayu melayangkan sosok Sofyan yang begitu dicintainya langsung menghunjam hati Ewin, membuatnya seperti kertas lusuh yang telah dicabik-cabik. Tapi, ia berusaha tegar menghadapinya apalagi senyum selalu tersungging di bibir Ayu yang semakin membuat ia terkulai. “Tak masalah yang dikagumi orang lain, asal senyumannya senantiasa terlukis untukku,” pikirnya kala itu.
Hari pun terus berganti, perasaan Ewin pada Ayu kian bertambah. Setiap kata cinta yang dikeluarkan Ayu untuk Sofyan menjadi momok baginya. Setiap kali juga ia berharap kata cinta itu dimaksudkan untuknya. Namun kapan? KAPAN? Ia tak pernah mampu mendatangkan hari itu.
“Cewek memang aneh, tak pernah mulus jalan pikirannya. Apa sih yang ada dalam otak mereka?” Fahmi mendengus. Ia sepertinya sudah capek memikirkan makna dibalik ‘sepucuk senja’.
“Mereka tidak aneh, hanya saja kita yang belum paham akan maksudnya.” Ewin memelas.
“Ahaaah!” Ryan berteriak heboh seperti kerasukan ilmuwan hebat. Matanya berbinar-binar dengan bibir tersenyum sempurna. Tampaknya baru saja ia kejatuhan jawaban terbaik mengenai ‘sepucuk senja’.
Ewin mengangkat dagunya karena kaget dan langsung menatap Ryan penuh selidik. Sementara Fahmi lebih terkejut, sehelai rambutnya pun berayun jatuh. Lalu, segera dikibaskan jambulnya sedikit ke kanan.
“Lu udah dapat jawabannya, Bro?” tanya Fahmi, ditarik-tariknya sweter Ryan.
“Iya, nih. Kau sudah paham makna dibalik sepucuk senja itu? Cepat berita tahu aku!” paksa Ewin. Ia ikut menarik-narik sweter Ryan.
Melihat dua sahabatnya kian agresif, Ryan pun menggenggam tangan mereka dan menjauhkan dari sweternya. “Kalian kok jadi ganas begini? Tenang!” ucap Ryan sambil tersenyum angkuh.
“Cepetan kali, Bro! Sumpah, gue udah hampir mati penasaran,” desak Fahmi.
“Masih hampir, kan?” canda Ryan.
Fahmi kembali meninju bahu Ryan, ia sudah terlalu geram.
“Baiklah!” Ryan melempar senyum yang kesekian kalinya. Lalu, ia menunjuk ke salah satu arah, di tepi jalan dekat dua pohon besar yang mengapit sebuah warung kecil.
Ewin dan Fahmi sontak memalingkan wajah ke arah tersebut. Alis mereka terangkat bersamaan.
“Warung? Lu lapar, Bro?” tanya Fahmi agak heran.
“Oh iya, tubuh kau kan besar jadi nggak bisa mikir kalau lagi lapar, ya? Baiklah, aku traktir.” Ewin mendesah lemah.
“Iya, sih, aku memang lapar.” Ryan menggaruk kepalanya, malu. “Tapi bukan warung itu yang kutunjuk. Melainkan gerobak penjual bunga yang di sebelahnya.”
“Bunga? Untuk apa?” tanya Ewin.
“Senja itu warnanya apa?” Ryan balik bertanya.
“Merah kekuning-kuningan,” jawab Ewin segera.
“Oranye. Sementara sepucuk juga berarti setangkai. Jadi, sepucuk senja artinya setangkai bunga berwarna oranye. Nah, berikan saja bunga mawar oranye!” terka Ryan.
“Tidak sia-sia lu jadi Mr. Google. Mengatasi masalah tanpa celah,” puji Fahmi. Ia berkali-kali mendorong tubuh Ryan karena kagum.
“Tapi---” Suara Ryan meninggi.
“Tapi apa?” Ewin terkesiap, begitu pula dengan Fahmi.
“Dari yang aku baca di Tempo, mawar oranye memang tidak populer tapi mempunyai makna paling dalam. Warna oranye tersebut sebagai simbol gelora cinta yang menggebu serta kekaguman yang luar biasa. Nah, bisa jadi sebagai tanda kalau ia mulai menaruh hati untukmu.” Mata Ryan langsung berkilat.
“Wah, selamat, Bro! Tak sia-sia lu bersabar.” Fahmi menarik tangan Ewin dan menyalaminya.
Sementara itu, tampang Ewin masih terlihat linglung. Ia belum bisa percaya, Ayu juga telah diam-diam mencintainya. Yang ia yakini, Ayu sangat mencintai Sofyan seperti cintanya pada Ayu yang tak kan berhenti. Kalau itu memang benar. Yang ia tak paham, apa maksud semua itu?
“Ada apa, Bro?” Fahmi menatap wajah Ewin bingung.
“Apa benar dia juga mencintaiku? Terus, maksudnya apa dengan Sofyan? Atau, barangkali yang dimaksud di sini bukan mawar oranye tapi mawar kuning yang berarti persahabatan yang indah.” Ewin masih mengelak makna yang diberikan Ryan. Bukannya ia tak senang, melainkan bisa jadi kesempatan besar baginya memiliki Ayu. Tapi, ia tak ingin cinta yang palsu.
“Itu sih terserah kau, saudaraku. Aku kan cuma kasih penjelasan akan makna sepucuk senja,” ucap Ryan pasrah. Ia tak bisa berbuat banyak, soalnya itu masalah prinsip.
“Ah, kalian berdua lama sekali. Kita ke penjual bunga dulu. Liat tuh udah mau bye, kan?” seru Fahmi. Ia menarik kedua tangan sahabatnya itu.
Setelah di depan gerobak penjual bunga, mata Ewin langsung tertuju pada dua tangkai mawar. Ia pun mengambilnya dan meletakkan masing-masing di kedua tangannya. Setangkai mawar oranye di tangan kanan dan setangkai mawar kuning lagi di tangan kiri.
“Oranye atau kuning? Cinta atau persahabatan?” tanya Ewin bingung, sekaligus gundah teramat dalam.
Bersambung!
Terima kasih sudah berkenan untuk membaca CERBUNG ini :) Oh iya, menurut kalian Ewin bakal pilih mawar oranye atau kuning? Penasaran! Saksikan terus kelanjutan cerita ini: TAYANG SETIAP HARI SABTU :D
Sabtu, 20 Desember 2014
-saat tawa dan tangis adalah hal yang sama-
[Bagian 1]
Jangan pernah bermain cinta, jika tak ingin dipermainkan oleh cinta! – NN.
Kalimat tersebut sama halnya jika tak ingin terbakar, maka jangan main api. Yah, cinta itu memang seperti api. Saat ia masih kecil, semua memuja bahkan memanfaatkannya. Tapi, ketika ia membesar dan tak dikendalikan dengan baik, ia bisa saja membakar. Membuat sakit dan meninggalkan luka.
Barangkali itu yang kini dialami Ewin, lelaki jangkung dan kurang berdaging, yang memiliki nasib cinta paling pedih seantero kota. Setelah menjatuhkan tambatan hati pada Ayu, seorang cewek yang ditaksirnya sejak sekelas di bangku SMA yang rupanya telah punya kekasih, membuat ia harus memendam cinta dalam-dalam. Ia tak berani mengungkapkannya, juga tak ingin meninggalkannya. Jatuhlah ia pada jomblo tak kunjung usai.
Nasibnya sebagai jomblowan itu cukup lama, bahkan mungkin telah lupa kali terakhir berpacaran. Nggak perlu tepok jidat! Itu sudah biasa buatnya.
Ia betah menjomblo bukan tanpa sebab. Pertama, bukannya tak laku, malah kalau dihitung sudah ada puluhan cewek yang bisa ia dapatkan. Apalagi dengan wajah tampan melankolisnya serta otak brilian. Tapi, kemunafikan atas cinta yang ia pikir hanya membuang waktu dan mengganggu aktivitas sekolah. Semua cinta yang datang pun berlalu pergi. Kedua, alasan paling klise, belum ada yang bisa menggantikan sosok Ayu di hatinya.
Bagi Ewin, Ayu memang bukan bidadari yang turun dari kayangan atau seorang putri yang ditakdirkan untuk sang pangeran. Tapi, Ayu serupa cahaya di kegelapan malam yang mengalahkan terang kemerahan pada penghujung hari. Ayu juga laksana kelopak bunga yang merekah pada puncak getirnya hati. Dan, Ayu bagaikan napas penyejuk jiwa.
Sejauh ini, Ewin belum mampu melumpuhkan Ayu di hati terdalam. Memang bodoh, bahkan terlalu bodoh, ia tetap menyimpan rasa itu seperti lelaki angkuh yang menyembunyikan harta karunnya. Namun, mungkin rasa itu tak akan tersimpan cukup lama. Besok, saat usia Ayu genap tujuh belas, ia berniat mengungkapkannya.
Salahkah? Menurut ia, itu sama sekali tak salah. Hatinya bukan gudang yang mampu menyimpan benda hingga berkarat bahkan berdebu, ia juga ingin wanita bertubuh ramping dan tinggi, serta rambut khasnya yang panjang tergerai dengan pita merah jambu tahu apa yang ia rasa. Walau ia tahu benar, Ayu adalah milik orang lain.
“Bro, Lamunin apa? Galau, ya?” tegur Ryan, sahabat karibnya yang tiba-tiba datang bersama Fahmi. Mereka lantas merusak bayang-bayang Ayu di pikiran Ewin.
“Iya nih, muka lu kayak kaos kusut saja yang dari tadi belum disetrika. Apa, yo? Cerita! Kita kan flend,” tambah Fahmi. Muka Ewin semakin ditekuk.
“Friend!” protes Ryan, lalu digetoknya kepala Fahmi.
“Iya, Mr. Google!” jungur Fahmi.
“Begini, loh, fend!” Ewin mulai bersuara.
“Friend!” protes Ryan, lagi.
“Iya! Mau dengar cerita aku, nggak?” keluh Ewin. Muka yang ditekuk, semakin tertekuk.
“Ah, abaikan saudara kita yang mirip Google ini. Apa-apa, ngasih info. Ayo mulai cerita!” Fahmi balik menggetok Ryan, hingga membuatnya mendengus kesal.
“Kalian kan tahu, telah lama kusimpan rasa untuk Ayu. Sungguh! Aku sudah penat dengan semua ini. Kuingin ia segera tahu aku padanya. Aku tak peduli dianggap apa nanti karena mengungkapkan cinta pada kekasih orang.”
“Lu juga sih, bro. Mencintai cewek yang punya kekasih. Lihat gue, dong, kalau nyari cewek!” tukas Fahmi. Sahabat Ewin yang satu ini, yang merupakan ketua voli sekolah memang paling mudah mencari cinta. Didukung dengan tubuh kekar dan stylish, sekali lirik mampu menghasilkan cinta yang baru. Meski ia juga tipe cowok setia, tapi cepat sekali bosan dengan seorang cewek. Hanya berkisar sebulan atau paling lama dua bulan, ia putus dengan pacarnya. Katanya, sih, lebih baik diputusin daripada diselingkuhin. Jadi, ia butuh kekasih yang mampu meluluhlantakkan hatinya. Membuat ia tak mampu lagi berpaling.
“Seperti yang aku baca di Wolipop, salah satu tips jika mencintai kekasih orang, ya, hargai hubungannya. Memang pedih harus menyembunyikan perasaan pada orang yang kita suka. Tapi, jangan maju dulu apalagi ia masih berstatus punya orang! Nanti dicap perusak hubungan, loh. Kalau memang ia takdirmu, ia tak kan lari ke mana seperti burung merpati yang akan kembali pada majikannya.”
Seperti kebiasaannya, Ryan menjelaskan panjang lebar. Ia memang sering dijuluki Mr. Google karena kebiasaan tersebut. Ia yang juga ketua Komunitas Baca yang ada di sekolah, bertubuh tinggi tegap berotot dengan kacamata bening khas miliknya. Lelaki kutu buku dan paling pemalu ini juga memiliki kisah paling pedih akan cinta. Setiap kali ada cewek yang dekat dengannya, apalagi kalau cantik dan mungkin tipenya banget, ia kikuk duluan dan bahkan bisa kencing berdiri. Padahal, wajahnya itu cukup lumayan jadi pajangan toko. Eh?!
“Ah, kalian tambah bikin aku gagana!” sebal Ewin.
“Gagana?” tanya Ryan dan Fahmi kompak.
“Tumben lu kagak tau. Lagi eror google-nya?” sindir Fahmi. Ia mengarahkan tinjunya ke bahu Ryan.
Ewin terkikih sekejap, lalu kembali memasam. “Gundah gulana merana. Tapi, sebenarnya bukan cuma itu yang bikin aku galau.”
“Terus apa?” tanya Ryan penasaran. Matanya melotot ke arah Ewin.
“Kemarin kan tanya sama Ayu. ‘Mau hadiah apa di ultahnya besok?’ Eh, ia cuma bilang, ‘Aku sudah anggap kamu sebagai kakak paling istimewa. Jadi, aku cuma butuh sepucuk senja darimu.’ Lah, mana aku tahu sepucuk senja itu maksudnya apa?” jelas Ewin sambil menirukan gaya Ayu saat mengucapkannya.
“Ngapain lu gak tanya sama dia maksudnya apaan? Barangkali semacam kode lagi,” ucap Fahmi sok menerka.
“Mana mungkin aku tanya. Gengsi kali. Oh, iya. Mr. Google kan tahu segalanya. Ayo apa?” tanya Ewin.
Ryan langsung menyambut pertanyaannya dengan muka dungu. Ia menempelkan jari telunjuknya ke jidat, dengan maksud berpikir. “Sepucuk senja?”
Bersambung!
Jumat, 16 Mei 2014
PANGERAN JAS
HUJAN
By. Justang Zealotous
Rupaku
bukan bidadari
Aku
tak manis, tak juga rupawan
Aku
tak menawan, cuma hati seputih awan
Gayaku
bukan permaisuri, cuma cinta selalu tulus
Sajak itu selalu
terukir dalam coretan hati. Terkadang tersimpul dalam secarik kertas. Berharap
suatu hari nanti, akan ada seorang pangeran yang entah siapa kan membacanya dan
paham tentang aku. Paham tentang perasaanku. Paham tentang adanya cinta yang
selalu tulus untuk sang idaman.
Namaku Tina. Pengalamanku
tentang cinta, bisa dikatakan sangat langka. Terlahir dengan wajah tak karuan
begini, siapa mau? Meski yakin, Tuhan telah menyiapkan sosok yang pantas
untukku.
Gadis
kacamata. Rambut kepang. Riasan tebal. Mulut yang menjorok ke depan. Rahang
yang moncong. Hidung yang setengah habis. Hantu sendiri bahkan muak jika
melihatku. Ingin operasi plastik, biaya super mahal. Menghabiskan hartaku tujuh
turunan. Tuhan pernah bilang, manusia diciptakan berpasangan-pasangan. Apa iya,
aku punya pasangan juga?
Pertanyaan yang membuatku
sempat putus asa itu memang selalu membelenggu hidupku. Namun, untungnya ada
sesosok pria di kampus yang selalu buat hatiku berbunga. Dia Henry. Cowok tampan, tinggi, kulit putih
bersih, rapi, fashionable dan dengan
tubuh atletisnya yang selalu kupandangi dari jauh. Mana berani aku mendekatinya.
Aku sadar diri. Dia pangeran sedangkan aku hanyalah budaknya bawahan.
Jujur. Henry yang
sering kujuluki sebagai pangeran kampus itu memang menjadi inspirasi
terbesarku. Demi dia, aku rela berubah jadi lebih cantik agar bisa dilirik.
Tiap hari perawatan. Tapi, sepertinya takdir tidak bisa dibohongi. Henry masih
saja ogah melirikku. Meski hasil perawatan itu memang hanya mengubah dari
terlalu jelek menjadi agak jelek. Setidaknya, menatapku bukan hal menjijikkan
untuknya, bukan?
***
Seperti biasa di
kampus, aku menjadi makhluk terasing. Segitu burukkah diriku hingga terkesan buangan.
Tapi, tak masalah. Dedikasiku dalam pendidikan dan sosok Henry membuatku tetap
bertahan. Dia sungguh hadiah terindah dari Tuhan untukku. Meskipun hadiahnya
hanya terbungkus dan terpajang di etalase kaca.
Aku berjalan sendirian.
Sangat tergesa-gesa karena hari ini harus mengikuti ujian praktikum. Tuhan
memang adil, walau aku dikaruniai wajah yang tak maksimal tapi otakku masih
brilian. Aku tak mungkin melewatkan ujian begitu saja.
Brak! Langkah yang
memburu terhenti saat menabrak seseorang. Buku-buku yang kubawa berjatuhan.
Sebelum kupungut semua, kutatap orang yang kutabrak. Aku terperanjat. Rupanya
orang itu Henry. Tubuhnya sangat dekat denganku, bahkan kulitnya yang mulus
sempat menyentuhku. Aku pasti akan selalu ingat momen ini.
Aku tersenyum. Dia
cemberut. Lalu, kugerakkan bibirku yang kaku perlahan, “Ma-af!”
Dia tak menjawab.
Tampaknya sangat kesal karena kacamata yang dikenakannya terjatuh dan pecah
karena saat melangkah, aku tak sengaja menginjaknya.. Wajahnya pun memerah dan
siap merutuk tapi aku menunduk dan segera mengambil kacamata itu untuknya. Belum
sempat kuserahkan, dia telah melangkah pergi tanpa menoleh. Kacamata itu pun
kusisipkan ke saku.
Wajar dia bertindak begitu
karena sepenuhnya salahku. Aku telah merusak kacamatanya. Aku sungguh merasa
bersalah. Ingin rasanya minta maaf walau tak cukup berani. Aku tak mau buat dia
kesal karena kebodohanku.
Kutarik napas
pelan-pelan, lalu memungut buku-buku yang sedari tadi berserakan di tanah.
Kemudian melanjutkan langkahku. Aku tak mau terlambat dan mendapat penyesalan
dua kali hari ini.
***
Ujian praktikum
selesai. Sementara kurapikan meja, mataku tiba-tiba berpaling ke kaca bening di
laboratorium, di sana ada Henry sedang berjalan. Jantungku berdegup. Sejauh ini
saja dia mampu membuat terlena, bagaimana kalau dekat. Aku harus segera
membereskan semuanya sebelum terlambat. Aku ingin minta maaf. Harus. Ini
kesalahanku.
Kuambil tas merah di
atas kursi dan menggantungnya ke pundak. Lalu mengambil langkah cepat menuju ke
luar. Saat di bahu pintu, kutatap sekeliling. Rupanya dia sudah ada di ujung
koridor, selangkah lagi langkahnya akan menghilang.
Aku tak akan
kehilangannya kali ini, kata maaf itu harus terucap. Entah dia terima atau
tidak, yang jelas tidak menyimpan beban. Kukejar dia dengan langkah seribu, sesekali
juga kuteriakkan namanya agar dia memalingkan wajah dan menyadari panggilanku.
Rupanya semua sia-sia,
napasku yang sudah sengal-sengal tak berhasil menggapainya. Dia lebih dahulu
menaiki mobil sporty merah miliknya
dan melaju kencang. Aku mengatur napas kembali dan meraih kacamatanya di saku. Aku pasti bisa minta maaf padamu.
Batinku.
Aku memang sudah
terlambat hari ini. Tapi, aku tetap yakin niatku yang baik untuk minta maaf
akan segera membawaku padanya, cepat atau lambat. Kumasukkan kembali kacamata
itu ke saku. Satu-satunya benda miliknya yang kini di tanganku. Sungguh
bahagia.
***
Sudah hampir gelap,
atau mungkin karena langit sedang mendung. Awan hitam bergerombol di atas sana.
Sepertinya akan hujan. Kuraih payung yang kusematkan di tas. Payung hijau
totol-totol yang memang selalu kubawa, apalagi musim hujan begini. Meski aku
pencinta hujan tapi beberapa buku kuliah harus diselamatkan. Daripada basah,
rusak, mending sedia payung sebelum hujan.
Segera kutarik benang
panjang pada payung dan seketika itu kain payung terbentang ke atas. Aku
melangkah menelusuri jalan pulang di bawah lindungan payung. Benar saja,
beberapa menit berjalan, angin sudah menderu. Dedaunan di pohon menari-nari.
Payungku ikut bergoyang tak terkendali. Kupegang erat-erat agar tak melayang.
Setengah perjalanan,
petir ikut bergemuruh. Bersahut-sahutan memecah angkasa. Titik-titik air yang
berjatuhan segera datang. Sementara payungku kian tak terkendali karena amukan
angin. Aku berusaha menggenggamnya dengan sekuat tenaga.
Tak berselang lama,
genggaman tanganku tak cukup erat hingga payungku melayang terseret angin. Aku
mencoba mengejar tapi angin kian menerbangkannya semakin jauh. Benar-benar tak
berguna, aku terlalu lemah hingga itu terjadi.
Aku cemas ketika hujan
datang dan membasahi seluruh tubuhku, juga tasku. Buku-buku yang kusimpan bisa
rusak. Itu akan semakin membuat aku menggundah. Tapi, aku tak mungkin berdiam
diri, berharap hujan menyurutkan niatnya untuk turun hari ini. Itu sungguh
mustahil dan benar-benar bodoh. Sebaiknya mencari tempat berteduh.
Kuedarkan pandangan ke
sekeliling. Hanya pepohonan yang rindang berjejer rapi di tepi jalan. Halte bis
mana? Tanda-tanda hujan semakin nyata.
Petir bergejolak. Angin menderu hebat. Awan menghitam. Aku masih saja seperti
orang tolol. Membisu.
Di tengah cemasnya
hati, sesosok dari kejauhan berjalan ke arahku. Langkahnya semakin mendekat.
Apakah dia malaikat yang diturunkan untuk melindungiku? Semakin dekat dan
semakin jelas. Dia agak tinggi, pakai jas hujan, dan membawa payung.
Tunggu! Payung itu tak
asing. Payung itu payungku. Apakah dia benar-benar malaikat? Bukan, dia seperti
pangeran. Pangeran yang membawa payungku. Aku ingin memperhatikan wajahnya tapi
tertutupi oleh masker penutup mulut dan hidung . Tak masalah yang penting
payungku telah kembali.
“Ini payungmu?”
tanyanya seraya menyerahkan payung itu.
Aku mengangguk sambil tersenyum
dan mengambil payung dari tangannya. “Terima kasih!”
“Tak masalah. Tadi tak
sengaja melihat payung itu terlepas dari tanganmu hingga melayang-layang.
Untungnya melayang dekat ke arahku, jadi mudah untuk mengambilnya,” jelasnya.
Aku cuma bisa tersenyum,
mulutku kaku. Dia sungguh baik. Aku tak pernah menemukan pria sebaik dia. Tuhan
memang tak pernah tidur, Dia mendatangkan seorang pangeran jas hujan ke bumi
untuk menolongku.
“Sebaiknya kamu pegang
payung itu erat biar tak terbang lagi. Hujan segera datang dan tak baik untuk
kesehatanmu,” sarannya dengan nada lembut. Tak ada kepalsuan pada setiap
ketukan kalimatnya.
Oh
Tuhan, pangeran yang Kau turunkan untukku ini sangat baik? Batinku.
Aku menatapnya sayup-sayup sambil tetap tersenyum. “Sekali lagi terima kasih.”
Dia mendesah. Desahan
napasnya terdengar jelas.
“Boleh tanya, tidak?”
pintaku.
“Tentu boleh!”
“Kenapa kau menolongku?
Apakah tidak malu dekat denganku? Selama ini tak pernah ada yang dekat denganku
karena wajah yang buruk.”
Dia tertawa kecil dan
kemudian menjawab, “Aku menolongmu karena wajib. Kenapa harus malu? Orang yang
tak mau dekat denganmu, berarti mereka buta.”
Aku terdiam membisu. Seakan
terhipnotis akan kalimatnya yang syahdu. Tak percaya ada orang yang mengucapkan
demikian. Hening beberapa saat hingga hujan datang memecah kesunyian.
“Hujan sudah datang.
Kita ke bawah pohon itu, yuk!” ajakku.
“Untuk apa?” tanyanya.
Keningku mengerut,
“Kalau di bawah pohon, kan, biar hujannya tak cukup deras.”
“Oh, baiklah. Kamu ke
sana dan biar aku di sini! Aku suka hujan.”
Dia suka hujan? Aku
juga. Apakah kita jodoh? Tidak, dia bukan jodohku. Jodohku pangeran kampus. Aku
tak mungkin berpaling hati. Cintaku sudah tulus untuknya. Jika aku mencintai pangeran
jas hujan, berarti tak punya cinta lagi. Hanyalah khianat.
Terpaksa kusurutkan
niatku ke bawah pohon. Tak mungkin membiarkan dia sendiri. Itu terlalu egois.
Saat dia membantuku, aku malah kabur tak tahu malu. “Aku juga suka hujan.
Baiklah, aku akan menemanimu di sini,” putusku akhirnya.
“Wah, kita sama dong.
Tapi, buku kamu bakal basah jika tetap bertahan di sini. Atau begini, kita
berjalan pulang saja. Rumahmu ke barat, kan?” sarannya lagi.
Aku mengangguk pelan.
Kami berjalan bersama
di bawah derasnya hujan. Aku di bawah lindungan payung, sementara dia dalam
lindungan jas hujan. Aku memintanya untuk sepayung berdua tapi ditolak karena menurutnya
tak baik, bisa menimbulkan fitnah.
***
Sepanjang perjalanan,
tak lupa saling mengenal. Dia Hasyim. Dia mahasiswa tapi tak bilang kampusnya
di mana. Dia suka hujan karena menurutnya sangat indah ketika setiap tetesan
itu berjatuhan dan memercik seperti lantunan lagu. Hujan juga membuatnya
bahagia karena terus mengingatkannya pada orang yang dicintai. Dia tak bilang
siapa orang itu.
Selama perjalanan itu
pula, kami mengobrol banyak hal. Aku sangat suka ngobrol dengannya. Nyambung
dan hangat. Aku juga sempat menceritakan ketertarikanku dengan Henry. Tapi
entah kenapa setiap aku bercerita tentang Henry, dia seperti tersedak,
batuk-batuk. Apa dia cemburu? Tak mungkin. Baru saja bertemu dan kenalan.
Sudah hampir masuk gang
rumahku. Hujan perlahan mereda. Aku belum jua sempat melihat wajahnya. Dia
pamit duluan dan bergegas pergi. Namun sebelum beringsut meninggalkanku, dia
tak lupa meminta nomor handphone. Dia
berlindung sejenak di bawah payung dan mencatat nomorku ke handphone-nya. Dia janji akan menghubungiku malam ini.
***
Senja kemerahan baru
saja menghilang. Di bawah sinar bulan purnama, kubuka jendela lebar-lebar dan
menatap jutaan bintang di langit. Kubayangkan rupa Henry dan menyatukan setiap
rasi bintang, seakan dia sedang tersenyum manis ke arahku. Entah kapan dia mau
membuka hatinya untukku? Aku selalu menunggu hari itu tiba.
Terus kupandangi
bintang yang sesekali mengerling, juga lamunanku tentang Henry yang masih bertahan.
Tiba-tiba handphone berdering. Dengan
gesit langsung kuraih handphone yang
tergeletak di sampingku dan segera memencet tombol angkat.
“Henry?” terkaku.
Dia terdiam. Tak ada
suara di ujung sana. Aku langsung menepuk jidat. Betapa bodohnya aku. Dia tidak
mungkin Henry. Sejak kapan Henry tahu nomorku?
“Maaf, aku pikir
temanku. Ini siapa, ya?” tanyaku lagi.
Agak lama terdiam,
hingga jawaban dari sana terdengar jua, “Maaf Tina. Ini nomor aku, Hasyim.
Ganggu, ya?”
“Oh, kamu. Tidak kok.
Maaf, yah, soal tadi,” balasku.
“Ngga apa-apa. Kayaknya
kamu suka, ya, sama Henry? Dari kemarin sebut Henry terus.”
Aku tersenyum dan
kembali membayangkan Henry. Lalu, lanjut berucap, “Tapi kayaknya dia tidak suka
sama aku. Aku jelek, dia tampan.” Aku memasam. Kembali kudongakkan kepalaku,
bintang perlahan semakin sedikit. Hanya satu yang cerah, setia menemani bulan.
“Kenapa bilang begitu?
Tak pernah ada yang tahu takdir Tuhan seperti apa. Bisa saja kamu berjodoh
dengan dia. Jangan sedih, ya!” ucapnya menyemangati.
Dia begitu perhatian
padaku. Kami menelepon semalam suntuk. Membicarakan banyak hal. Memang tak
terasa waktu saat mengobrol dengannya. Mungkin terlalu asyik hingga jam yang
terpajang di dinding kamarku telah menunjukkan tengah malam. Kami masih saja
mengobrol.
Namun akhirnya kantuk
mengalahkanku. Mata tak lagi kuat menahan. Kuputuskan untuk mengakhiri
panggilan itu. Tapi hubunganku dengan Hasyim dalam sambungan telepon bukan cuma
malam itu. Tiap malam, kami selalu menelepon. Kadang dia dahulu, kadang pula
aku yang menelepon duluan.
Hasyim memang menjadi
temanku kini, tidak lebih. Aku tidak ingin mengkhianati perasaanku sendiri
kalau nyatanya hatiku masih untuk Henry, bukan dia. Aku juga memang tak pernah
bertemu dengan Hasyim. Hanya sekali, saat hujan kemarin.
***
Menghadap ke depan,
lebih jauh, atau ke arah esok fajar bakal semburat. Kini harus kuhadapi
semuanya. Henry tepat di hadapanku. Dia sedang berdiri, menyandarkan
punggungnya ke dinding bersama temannya yang lain. Siapkah aku? Beranikah aku? Itu
tak penting lagi harus dipikirkan. Hal yang sukses bukan apa yang dipikirkan
tapi apa yang akan dilakukan.
Aku berjalan mendekatinya
perlahan. Kuraih kacamatanya yang kusisipkan di saku. Meski bentuknya sudah tak
terlalu baik, tapi bagian pengaitnya telah kusambung dengan plester bening,
kacanya juga sudah kuganti. Aku memperbaikinya seminggu penuh. Aku melakukan
ini demi dia. Demi rasa bersalahku padanya. Demi cinta yang tak pernah
berkurang untuknya selalu.
Selangkah lagi, aku
menyapanya dengan rasa bersalah, “Henry, aku minta maaf!”
Dia berbalik. Jantungku
berdebar. Wajahnya kusam menatapku. Lalu, aku menjulurkan tangan dan
menyerahkan kacamata. Dia terdiam lama hingga akhirnya mengangkat tangan ke
atas dengan telapak tangan terbuka, kemudian mengibaskannya dan merebut
kacamata itu paksa. Belum sampai itu saja, dia lalu mengempaskan kacamata ke
lantai. Aku terkejut.
“Siapa tuh, Henry?”
tanya lelaki di belakangnya.
Henry tak menjawab dan
langsung merutuk ke arahku. “Masih berani dekat denganku? Enyah kau!” ucapnya
sinis dan segera mengempaskan tubuhku, lalu melangkah pergi.
Hatiku sakit. Seakan
diremuk dan dicabik-cabik. Air mataku masih tertahan, hanya ingin menjerit
sekencang-kencangnya. Aku tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Apakah ini
cinta yang sebenarnya saat cinta dibalas dengan pedih?
Aku tak tahan lagi. Aku
mengambil langkah tercepat. Berlari sejauh-jauhnya. Awan tampak hitam dan angin
perlahan mengencang. Hujan mungkin datang. Itu lebih baik. Biarkan hujan temani
aku yang sedih, biarkan hujan temani linangan air mata yang mulai menderai.
Saat hujan akhirnya
tumpah, kurentangkan tanganku dan
biarkan titik-titik air itu membasahiku. Segera kulepaskan semua rintihan hati.
Aku menjerit bersama jeritan petir yang menggejolak. Ini alasan mengapa aku
suka hujan, bisa menangis dan berteriak tanpa ada yang tahu.
Tak berselang lama,
seseorang datang membentangkan payungnya untuk melindungiku. Kutatap orang itu
dengan mata sembap.
“Tina? Apakah kamu baik-baik
saja?” tanyanya.
“Hasyim? Aku baik-baik
saja. Aku hanya terharu dengan hujan yang sangat indah hari ini,” sergahku.
Dia tertawa. “Memang
indah. Tapi, kalau kamu punya masalah, ceritalah!”
“Hmhm, aku tak punya
masalah. Aku boleh minta sesuatu?”
“Tentu saja!”
“Boleh aku lihat
wajahmu? Ah, agak aneh saat kita dekat malah tak pernah lihat wajahmu? Atau,
jangan-jangan—“
Dia terdiam tapi agak
aneh dan memalingkan wajahnya ke kiri. Seakan menyembunyikan sesuatu. Namun,
dengan jahil kutarik penutup kepala jas hujannya, begitupun masker yang
menutupi mukanya. Aku tertawa geli karena berhasil melakukannya. Tapi tiba-tiba
tawa itu terhenti saat melihat wajahnya. Sungguh di luar dugaan.
“Hasyim? Henry? Kau
Henry atau Hasyim? Atau Henry Hasyim itu satu?” tanyaku sangat tak percaya.
Wajahnya sungguh mirip dengan Henry. Jadi, selama ini aku dekat dengan dua
orang berbeda yang nyatanya sama. Aku benar-benar bodoh.
“Aku bisa jelaskan!”
pintanya.
“Apa lagi yang harus dijelaskan?
Kamu mau bilang lakuin ini semua karena mau mempermainkan aku. Biar semua orang
tahu kamu keren. Yah, kamu keren. Karena kamu keren, aku sangat mencintaimu.
Tapi, rupanya persepsi aku tentang cinta itu salah. Cinta yang benar itu apa
yang kita rasa, bukan yang kita lihat. Sukses!”
“Tina, dengarkan aku
dulu!” Dia mulai mengiba tapi wajahnya terlalu bulus untuk kuperhatikan kini.
Aku menjerit lagi. Aku
tak ingin mendengar suaranya. Tiap kali melihatnya, aku terus terluka lebih
dalam dan lebih sakit. Lalu, aku segera berlari menjauh. Meninggalkan dia yang
kini berlutut berharap aku mendengarkannya. Tapi itu tak mungkin, aku sudah
terlalu kesal. Rutukan barusan menyadarkan kebodohanku.
***
Petir masih bergemuruh
dan hujan terus menimpa bumi. Sesaat kemudian, sebuah mobil sporty merah datang dan berhenti dekat
dengan Hasyim. Saat kulihat wajahnya. Dia mirip dengan Hasyim atau Henry. Siapa
lagi dia? Apakah dia pangeran mobil? Pikiranku kacau. Sangat rumit untuk
memikirkan mereka semua.
Masih kugerakkan kakiku dan melangkah pergi.
Tak terduga, sebuah mobil melaju kencang ke arahku. Lajunya tak terkendali. Aku
pasrah dan tak akan menghindar. Aku lebih baik mati daripada terus ditipu oleh
kebodohan.
Kupejamkan mataku. Tuhan, maafkan aku! Aku membatin. Kutunggu
mobil menabrak namun tubuhku terlempar. Seseorang mendorongku dan membuat aku
terlempar ke tepi jalan. Kuarahkan pandangan ke jalanan dan sudah terkapar
seseorang di sana. Dia Hasyim? Hasyim atau Henry yang menolongku.
Aku segera berlari
menghampirinya. Berkali-kali dia memuntahkan darah. Aku berlutut dan menopang
tubuhnya. Air mataku masih berderai.
“Tina, maafkan aku yang
tak bisa jujur padamu!” ucapnya masih terbata-bata, agak tidak jelas tapi aku
masih mampu memaknainya.
“Jangan banyak bicara
dulu! Kita harus ke rumah sakit!” tuturku.
“Aku Hasyim, Tina.
Henry kembaranku. Aku sengaja merahasiakan identitasku karena ingin lebih dekat
denganmu, aku tahu kamu lebih menyukai Henry daripada aku,” jelasnya lagi.
Henry yang dimaksud segera datang.
Aku menatap Henry
lamat-lamat saat dia menggenggam tangan Hasyim penuh penyesalan. Air matanya
tak berderai tapi yakin hatinya menjerit.
“Aku tidak bermaksud
membohongimu. Tina, kamu baik. Aku banyak belajar darimu. Arti cinta yang
kaumaksud benar, aku merasakan cinta bersamamu bukan saat melihatmu.” Hasyim
terus berbicara, sementara darah yang keluar dari mulutnya semakin banyak. Aku
menyuruhnya berhenti karena tak tahan menatapnya terluka tapi dia tetap
melanjutkan, “Tiap hari aku menatapmu dari jauh. Aku tak berani mendekatimu
karena wajahku yang mirip dengan Henry. Aku takut kamu tak mau dekat denganku.”
Hasyim memaksa tubuhnya
bergerak. Dia meraih sesuatu dari dalam sakunya, yakni kacamata Henry. Dia
menunjukkan kacamata itu. “Henry, jaga Tina untukku! Dia sangat mencintaimu
lebih dari dirinya sendiri. Ada banyak hal yang dia lakukan demi kamu. Jangan
sia-siakan cinta yang dia miliki untukmu!”
Reflek aku memalingkan
wajahku ke arah Henry. Dia menatapku balik. Kami bertemu dalam satu mata. Entah
kenapa debaran jantung itu tak lagi kuat dari sebelumnya. Kembali kuarahkan
mataku pada Hasyim dan matanya telah terpejam. Nadinya pun tak terasa. Dia
telah tiada bersama cinta yang telah kami genggam.
Watampone, 16 Mei 2014
Justang Zealotous
Langganan:
Postingan (Atom)










