Tampilkan postingan dengan label Horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horor. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juli 2018

Cerpen: Perempuan Bermata Sayu di Pelabuhan Bajoe karya Justang Zealotous

Cerpen: Perempuan Bermata Sayu di Pelabuhan Bajoe karya Justang Zealotous
[Dimuat di FAJAR Makassar edisi Minggu, 8 Juli 2018]

Sudah sebelas tahun Erwing bekerja sebagai penjaga palang di gerbang Pelabuhan Bajoe, baru malam itu dia merasa bulu kuduknya berdiri tak karuan. Bukan karena cuaca yang memang sangat dingin ditambah sapuan angin dari laut, tapi karena ada sesuatu yang mengalihkan pandangannya.

Seorang perempuan bermata sayu berkali-kali dilihatnya sedang berdiri di dekat pembatas jalan. Perempuan itu berambut panjang dan cukup manis kalau dilihat sekilas. Air muka perempuan itu datar dengan bibir putih memucat. Setiap kali Erwing memandanginya, perempuan itu seakan-akan memanggilnya.

Erwing langsung berasa ingin pulang. Tapi bagaimana caranya? Dia sendirian. Apalagi hari itu dia kena sif malam. Dia harus kerja mulai jam 8 malam sampai jam 8 pagi, sementara jam dinding yang menggantung di pos jaga masih menunjukkan pukul 11. Jika dia pulang saat itu juga, manager pasti akan langsung memecatnya karena pintu palang tidak mungkin ditinggalkan dalam keadaan tanpa penjagaan.

Lelaki berkepala plontos itu terpaksa menenangkan dirinya dan menganggap perempuan yang dilihatnya hanya ilusi belaka. Dia pun memutuskan untuk menuangkan kopi panas ke cangkirnya. “Mungkin kopi bisa membuatku tenang,” katanya.

Sebuah truk kemudian melaju ke arahnya, dan sontak berhenti tepat di dekat palang. Erwing segera memberikan karcis pada sang sopir truk, lalu dibalas dengan uang 12 ribu. Erwing menarik tukas dan membuat palang itu naik perlahan sehingga truk bisa masuk ke area pelabuhan.

Ketika truk berpaling, Erwing kembali dikagetkan dengan kehadiran perempuan bermata sayu. Perempuan itu menatapnya tanpa sedikit pun berkedip. Jantung Erwing hampir loncat dibuatnya. Dia kemudian memicingkan mata dan kembali memastikan kalau pandangannya tidak salah, nyatanya perempuan bermata sayu masih berdiri di tempatnya, di dekat pembatas jalan.

Erwin bergidik, tapi juga penasaran. Dia balik menatap perempuan itu dan mencoba meneriakinya, “Apa dikerja di situ, Ndi?” tanyanya.

Perempuan itu membeku. Dia tidak merespons dan tidak pula beranjak dari tempatnya. Erwing makin bingung. Entah apa yang benar-benar merasuk dalam dirinya, Erwing tiba-tiba mendekati perempuan itu. Langkahnya pelan dan sedikit ragu-ragu, tapi dia terus saja melangkah.

Semakin dekat. Namun sebuah avansa hitam membuat langkahnya harus terhenti. Dia berbalik dan mendekati si sopir. Seperti tadi, dia memberikan sopir itu secarik karcis yang kemudian dibalasnya juga dengan uang 12 ribu. Sang sopir tersenyum lantas melaju. Perginya avansa hitam membuat Erwing kembali menoleh ke perempuan itu. Sial. Perempuan bermata sayu sudah menghilang.

Erwing mencari-cari, tapi perempuan itu tidak juga terlihat
.
Erwing terpaksa kembali ke tempat duduknya, dekat dari pos jaga. Betapa terkejutnya Erwing, perempuan bermata sayu sudah berdiri tepat di sebelahnnya ketika dia duduk sembari menikmati secangkir kopi panas. Terang saja, lelaki itu langsung lari tunggang langgang. Tidak peduli lagi kalau manajer akan memecatnya sebab yang dipikirkannya saat itu bagaimana dia harus lari secepat mungkin, sejauh mungkin.

***

Sejak kejadian malam itu, Erwing meringkuk di kamarnya berhari-hari. Suhu badannya makin lama makin naik. Istirnya, Rahayu sudah mengobatinya dengan berbagai ramuan herbal tapi dia tidak juga membaik. Erwing pernah dilarikan ke rumah sakit, bermalam tiga hari, setelah itu dia kembali dipulangkan karena Rahayu tidak sanggup membayar iuran yang kian membengkak.

“Apa mi yang mau kita lakukan, Daeng? Hampir habis mi juga uang,” keluh Rahayu di samping suaminya yang menggigil hebat meskipun sudah berselimut sarung berlapis-lapis. Erwing tidak menjawab, bibirnya hanya terus menggelatuk.

“Nanti kupanggil La Dompe, Daeng. Semoga tidak nakasih bayar mahalki.” Rahayu mulai terisak. “Tinggal dia mi pilihan terakhirta.”

Malamnya, La Dompe benar-benar datang. Lelaki tua beruban dengan gigi hampir semua sudah tercabut itu untungnya cuma mau dibayar rokok dan sokko. Dia pun segera mengobati Erwing. Setelah menyentuh kening Erwing seraya mulutnya komat kamit, La Dompe menghampiri Rahayu. “Dari mana saja suamimu sebelum sakit begini?” tanyanya.

“Kerja di Pelabuhan Bajoe, Puang. Waktu itu pulang cepat karena lihat katanya perempuan yang panjang sekali rambutnnya. Sejak begitumi langsung sakit.” Rahayu menjelaskan.

La Dompe sejenak terdiam. Dia memandangi langit-langit. Sekejap dia kembali menatap Rahayu, lalu berucap. “Kalian pergi buang telur besok di sana. Bawa juga ayam untuk dilepaskan. Nanti saya temani.”

Rahayu menurut saja. Dia pun mengangguk lemah. Esoknya, mereka pergi ke Pelabuhan Bajoe. Erwing juga pergi meskipun badannya masih sangat loyo. Sesampainya mereka di sana, mereka mulai membuang telur dengan dibantu La Dompe. Lelaki tua itu berkomat kamit sebelum melemparkan telur itu ke laut. Selanjutnya, La Dompe berkomat kami lagi sebelum melepaskan seekor ayam jantan di area pelabuhan.

Ritual itu selesai tanpa hambatan. Mereka pulang ketika langit mulai menghitam.

Hari-hari setelahnya, Erwing sungguh-sungguh sembuh. Lelaki plontos itu terlihat bugar sebugar-bugarnya. Sayangnya, dia sudah tidak lagi bekerja sebagai penjaga palang di Pelabuhan Bajoe karena manajer ternyata benar-benar memecatnya.

“Tidak masalah, Daeng. Banyak ji pekerjaan yang lebih baik. Rezeki juga sudah diatur Tuhan.” Rahayu menguatkan suaminya. Dan Erwing semringah.

Erwing lalu pergi. Dia mengambil sepeda motornya, lantas melaju dengan sangat kencang. Erwin kemudian berhenti tepat di dekat palang pelabuhan. Selepas memarkirkan motornya, dia pun berjalan tanpa mengindahkan mantan rekannya yang menatapnya bingung. Lelaki itu menuju pembatas jalan, dan mencoba naik.

“Mauki apa, Wing?” tanya mantan rekannya heran.

Sebelum terjun ke laut, Erwing berteriak, “Mauka ketemu istriku.” (*)

Watampone, 5/7/18

Sabtu, 08 Maret 2014

Cerpen Horor - Ekspedisi Arwah

EKSPEDISI ARWAH
Oleh: Justang Zealotous

Napasku terengah, aku berlari dan terus berlari di tengah hutan yang begitu lebat. Aku berusaha teriak untuk memohon pertolongan, tapi setiap tarikan napasku yang semakin meninggi seakan menyesak tenggorokan untuk bersuara. Tak ada suara keluar hanya embusan napas yang pendek-pendek.
Detakan jantungku kian berdebar. Aku semakin ketakutan ketika batang-batang pohon di depanku kian lebat. Aku hanya berdoa bisa menemukan jalan pulang dan keluar dari hutan ini. Aku tahu, ini kesalahanku. Aku terlalu ceroboh hingga asap itu semakin keluar berkepul-kepul. Menimbulkan titik api yang kian membesar. Tapi, yakin ini bukan kesalahanku sepenuhnya. Setidaknya kini, aku bisa mendapatkan pertolongan itu.
Aku lelah tapi perasaanku masih ketakutan. Titik fokusku adalah jalan keluar dari hutan. Aku harus bisa menemukannya. Langkah kakiku semakin dipercepat. Tak ada waktu untuk mengistirahatkan tubuhku. Aku tak peduli pada lebatnya hutan ini.
Sesekali membuatku harus melompat menghindari tumbuhan berduri di tanah. Menunduk menghindari dahan besar yang mencuat ke samping. Inilah perjuangan terbesarku meski tak yakin beberapa menit kemudian aku masih hidup atau tidak lagi, yang jelas aku telah berusaha.
Akhirnya, jalan beraspal itu kutemukan. Ada perasaan lega menghampiri. Tanpa pikir panjang aku berlari ke jalan beraspal itu. Tanpa sadar, sebuah mobil tak terkendali yang melaju kencang datang ke arahku. Dan.
***
Malam itu malam yang paling mencekam daripada biasanya. Malam Jumat yang memang identik dengan sifat mistisnya membuat perasaan kian diisi dengan ketakutan. Tapi, itu tak membuatku, Reno, Delon, dan Angga, tiga sahabat yang kumiliki untuk melakukan ekspedisi di malam gelap.
Setiap malam Jumat, kami memang suka mendatangi tempat-tempat sepi di kota Watampone, kota sedang di Sulawesi Selatan. Kebiasaan ini muncul setelah kejemuan melanda kami hidup di hirup pikuk kota yang datar saja. Kami ingin berbeda, sesuatu hal yang menantang jiwa kelelakian kami.
Pada setiap ekspedisi, kami selalu saja menemukan hal aneh tapi itu memang lebih mengasyikkan daripada harus menatap rembulan bersama kekasih, menurutku. Itu lebih menantang dan membuat kami tampak lebih berani.
Setelah berembuk, lokasi pilihan kami adalah sebuah rumah yang hampir dua tahun dibiarkan kosong dan berlantai dua yang tak jauh dari rumah Delon. Lokasi rumah di tepi persawahan, menambah kesepian rumah itu. Rumah yang bercorak tua dengan relief kuno dan cat putih menutupi beton-beton, serta pohon besar yang menggugurkan dedaunan kering di pekarangan rumah. Entah berapa makhluk halus yang menghuni rumah itu. Yang jelas tampak begitu angker.
Kami berdiri di depan rumah itu, menatapnya dengan gagah. Sebuah senter yang kami pegangi menyorot seluruh sisi depan rumah. Membuat kegelapan agak berkurang, meski sisi angker masih begitu terasa. Memperhatikan jelas lekukan-lekukan rumah batu yang mulai rapuh bagai kayu dimakan rayap. Coraknya memang masih terlihat utuh, cat putih yang mulai terlihat hitam kusam. Sesekali hawa dingin yang berembus membuat tubuhku bergidik.
“Serius, kita akan melakukan ekspedisi di rumah ini?” ucapku agak sedikit ragu.
“Ah, kamu itu penakut banget sih,” tukas Delon tampak berani.
“Kamu takut hantu, ya?” tambah Angga.
“Bagaimana sih, kita kan sudah biasa menginap di tempat yang sepi. Kok sekarang malah keberanianmu menciut gitu, San.” Delon menatapku tajam, sebuah senyuman tersungging dari bibirnya bermakna aku harus berani. Dia memang sahabatku paling pemberani. Bahkan ide awal untuk melakukan aksi ini adalah darinya.
Sebenarnya memang sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Tapi, entah kenapa hawa dingin yang menusuk dari rumah telah membuatku semakin merinding. Seakan ada sentuhan halus pada pundakku di setiap pergerakan. Akhirnya aku terdiam pasrah meski rasanya ingin pergi dari rumah itu. Tapi, kalau sampai kuturuti rasa takutku, mereka tak akan menganggap aku sahabat lagi. Jalan terbaik adalah diam dan mengikuti semua langkah yang ada.
Delon berjalan paling depan memimpin aksi kami. Mengendap-endap dan berjalan pelan. Kami berusaha tenang, tapi setiap patahan dahang dari daun yang kami injak kian meriuhkan suasana. Hingga membuat kami terpaksa harus berjalan lebih cepat.
Saat tiba di depan pintu, aku mendapat tugas untuk membukanya. Sedikit tarikan napas, aku menjulurkan tanganku dari gagang besi. Kusentuh dan dinginnya besi seakan menjalar ke tulang-tulang tapi aku tahan dan memutarnya perlahan. Terbuka, suara decitan terdengar menggema. Pintu itu memang tak pernah dikunci tapi juga tak pernah terbuka lebar. Selalu tertutup, entah kenapa.
Langkah kaki kami perlahan menapaki lantai berlapis marmer putih. Suasana di dalam  rumah memang telah tergambar sedari tadi di pikiranku, hitam gelap pekat. Wajarlah tak ada lampu, kalau pun ada lampu. Listrik telah lama mati.
***
“Ini akan menjadi tempat penginapan terbaik yang pernah kita rasakan. Meski gelap tapi rumah ini tetap terlihat bagus kok,” tegas Reno. Dia tampak lebih berani dari biasanya, padahal dari kami berempat, dia terkenal sebagai makhluk penakut tapi entah apa yang merasuki jiwanya kini. Dia bahkan lebih berani daripada aku.
“Tumben banget kamu seberani itu, No.” Aku menatapnya agak keheranan.
“Ahh, rumah ini telah disediakan untuk kita. Jadi, kenapa harus takut,” sanggahnya.
Aku masih tidak mengerti dengan pikiran 3 sahabatku ini. Rumah itu seakan menjadi tempat bernaung yang telah lama bagi mereka atau mungkin karena mereka sudah biasa dengan rumah ini. Apalagi di antara kami, sepertinya hanya aku yang baru berkunjung. Aku tak pernah berpikir akan sampai ke sini, melihatnya saja aku sudah bergetar. Rumah ini kan tak jauh dari rumah Delon.
Ekspedisi itu dilakukan bukan hanya sekadar melakukan penginapan tapi kami juga ditempatkan di posisi berbeda. Kali ini aku ditugaskan di ruang tengah lantai dasar, tepatnya di ruang keluarga. Reno di bagian dapur lantai dasar juga. Angga dan Delon bersama di lantai dua. Itu dilakukan agar lebih memudahkan kita melakukan ekspedisi ini meski sebenarnya malah membuatku lebih ketakutan. Tapi, ya sudah. Aku terima.
***
Malam semakin larut, kuarahkan sorotan senterku ke jam tangan dan telah menunjukkan pukul sepuluh kurang tujuh menit. Pikiranku masih tak tenang tentang sosok makhluk halus yang menghuni rumah ini. Bagaimana pun juga hal-hal yang bersifat gaib itu pasti ada. Aku yakin.
Sejenak aku berpikir yang aneh-aneh, tiba-tiba terdengar bunyi jatuhan panci gedebar-gedebur di dapur. Hal itu sempat membuyarkan seluruh pikiran anehku dan mencari tahu maksud dari suara itu. Aku yakin itu berasal dari Reno. Tapi, entah apa yang telah ia lakukan.
“Reno, apakah kau baik-baik saja,” teriakku masih di ruangan keluarga. Tak ada jawaban, aku semakin cemas. Aku perlahan memberanikan diri untuk memeriksa keadaan di dapur. Rupanya tak seorang pun di sana hanya beberapa peralatan dapur yang tergeletak di bawah lantai. Lantas ke mana Reno pergi? Siapa pula yang menjatuhkan panci-panci itu? Pikiranku semakin diputar oleh pertanyaan.
“Reno!” Aku meninggikan suara berharap ia menyahut panggilanku. Masih tak ada jawaban darinya.  
Jantungku berdegup kencang. Entah kenapa ini memacu ketakutanku. Aku balik ke ruang tengah berharap ia ada di sana. Nihil. Ia masih tak menampakkan wajahnya. Apakah dia keluar? Atau dia naik ke lantai dua? Aku bingung.
Kusorot semua di sekeliling, berharap wajah sembap di pipi Reno tersorot oleh senterku. Syytt! Bayangan hitam melesat di lorong gelap menuju ke dapur. Aku berusaha berpikir jernih, itu adalah bayangan Reno. Aku mengatur napas. Berusaha tenang dan menanggalkan pikiran aneh.
Gerakan selanjutnya, ketika aku berbalik menuju ke sebuah sofa, sesuatu seakan menyentuh pundakku, terusap perlahan hingga bulu kudukku perlahan berdiri. Aku membalikkan badan dan menyorot ke segala arah. Tak seorang pun.
Kurasakan tubuhku mulai bergetar. Napasku mendesah tak lagi beraturan. Kembali kusorot jam tanganku dan telah menunjukkan pukul sebelas lewat. Puncak malam segera datang. Aku berjalan kembali ke dapur karena yakin Reno telah berada di sana. Bayangan sebelumnya yang meyakinkanku.
“Reno, apakah kau sudah kembali? Aku takut,” pekikku lagi. Langkah kakiku perlahan semakin cepat. Aku ingin segera melihat Reno di dapur.
Saat tiba, kuarahkan kembali sorotan senterku ke segala arah di dapur. Aku mendesah, rupanya Reno telah kembali—entah dari mana, aku tak tahu—yang penting, itu membuatku kembali lega. Dia sedang berdiri membelakang menghadap kulkas yang terbuka.
“Oh, rupanya kamu lapar toh. Sebenarnya, kamu dari mana saja sih, dari tadi aku bingung nyariin kamu,” ucapku.
Dia tetap terdiam. Sepertinya terlalu sibuk menjarah sesuatu di dalam kulkas hingga tak menyadari kehadiranku. Aku pun mencoba untuk mengerjainya. Aku berjalan perlahan mendekat dan memukul pundaknya agar dia terkejut.
“Byarrr!” kagetku. Akhirnya dia berbalik tapi kini agar berbeda. Terlihat jelas saat senterku menyorot wajahnya yang berlumuran darah, matanya memerah membelalak, mulutnya sedang mengoyak hewan mentah, terbukti masih ada ekornya yang memanjang keluar dari bibirnya.
Aku sadar, dia bukan Reno meski wajahnya sangat mirip dengan Reno. Apakah ini sejenis hantu yang menyerupai Reno? Entahlah, tapi tak ada waktu untuk memikirkan itu. Aku melangkah perlahan ke belakang dan memutuskan untuk lari sambil berteriak minta tolong.
Sambil membawa senter yang masih kupegang, aku berlari dan terus berlari tanpa mencoba untuk memalingkan wajah ke belakang. Aku tak ingin melihat sosok Reno yang mengerikan itu lagi. Aku pun menuju ke tangga di ruang tengah. Berpikir untuk memberitahukan kepada Angga dan Delon tentang ini, agar aku tak sendiri menghadapi ketakutanku.
Satu per satu tumpuan tanga berhasil kulalui tanpa tersendak dan tanpa keberanian untuk menatap ke belakang. Aku tak peduli, sosok itu masih mengejar atau tidak. Aku harus menemui Angga dan Delon di lantai dua.
“Angga, Delon. Tolong aku!” Aku berteriak begitu ramai.
Kuseret ruangan pertama di lantai dua, tampak Angga sedang berbaring di sofa. Apakah dia mengantuk hingga tertidur pulas begitu? Aku berlari mendekat dan mencoba untuk membangunkannya. Kutarik-kutarik pergelangan tangannya dan matanya terbuka perlahan. Dia bangun.
“Angga, tolong aku! Ada sosok Reno yang mengerikan di lantai dua. Aku sangat takut,” keluhku. Tiba-tiba, aku tersadar ketika menatap wajah Angga yang juga tampak berbeda. Meski ada rasa khawatir, aku menyorot wajahnya sambil menjauh ke belakang perlahan. Mendadak terlintas di benakku kalau dia juga bukan Angga yang sesungguhnya.
Rupanya betul. Angga kali ini lebih mengerikan. Lebih pucat dengan mata kiri yang mencuat ke luar. Dia mengangga dengan dua taring menjulur ke depan. Aku semakin bergetar ketakutan. Apa yang terjadi dengan sahabatku? Aku kembali memacu lariku sambil masih berteriak tolong.
Sejenak aku berpikir untuk mencari Delon tapi apakah Delon yang kutemukan akan sama mengerikan seperti Reno dan Angga. Jika benar begitu, sepertinya aku telah terperangkap sendirian di rumah ini. Bersama makhluk halus yang siap mengintai nyawaku.
“Delon, di mana kamu berada? Aku tak tahu harus berbuat apa lagi.” Aku berteriak-teriak berharap Delon datang dan menemaniku menghadapi ketakutan ini.
“Sandi!” Tiba-tiba terdengar suara memanggilku. Jelas sekali. Suara yang lebih dingin dan lembut. Anehnya, ini suara wanita. Aku menatap sekeliling dengan masih bantuan dari senterku.
“Sandi, itu hanya suara halusinasi. Tak seorang pun wanita memanggilmu.” Suara Delon mendadak terdengar dari belakang. Aku membalikkan badan dan dia ada di sana. Berdiri sambil menyorotkan senter ke wajahku. “Kamu itu kejam, kamu telah membunuh kami.”
“Maksud kamu? Aku tak membunuh siapapun,” tukasku.
“Bullshit, kami terpanggang di rumah dan kamu berlari meninggalkan kami. Aku yakin, kebakaran itu pun juga datang dari kamu. Kamu yang membakar kami, kan?” ucap sinis Delon, senyuman angkuhnya tersungging jelas. Wajahnya sama seperti yang lain, pucat dan penuh darah.
Sedetik kemudian, Angga dan Reno juga datang. Mereka semua mengeluarkan taring yang tajam kini. Berusaha untuk membunuhku.
“Bunuh!” teriak mereka serempak.
“Jangan bunuh aku. Saat itu, aku cuma ingin memasak untuk kalian tapi entah kenapa gasnya tiba-tiba bocor dan aku berlari menghindar. Hitungan menit, meledak dan membakar.” Aku berusaha menjelaskan dan mencoba untuk berlari tapi aku terperangkap, tak ada jalan lain karena sekarang berada di lantai dua. Salah satunya adalah lompat dari lantai dua ke lantai satu, tapi itu sama saja—membunuhku.
“Sandi.” Suara wanita itu datang lagi. Kini diikuti sebuah rentetan doa. Kalimat-kalimat panjang yang terus menyebut nama Allah. Pada setiap ketukan doa itu perlahan memberikan cahaya di hadapanku. Sosok yang mengerikan itu perlahan menghentikan langkah pula. Cahaya itu akhirnya melindungiku.
***
“Sandi, syukurlah. Akhirnya kamu sadar juga.”
Dengan kondisi yang masih lemah, aku perlahan menggerakan tubuh dan membuka mata. Kulihat ibuku sedang menatapku sayu, juga ada ayah dan kedua kakakku. Aku agak heran.
“Nak, kami sudah sangat khawatir padamu. Kamu tak sadarkan diri hampir seminggu sejak ditemukan di pinggir hutan dengan kondisi yang sangat parah karena kecelakaan mobil. Orang yang menabrakmu pun telah minta maaf dan kami tak berniat untuk membawanya ke ranah hukum. Kesembuhan lebih utama,” jelasnya tapi agak memberikan sedikit kebingungan bagiku.
“Mana Reno, Angga, dan Delon?” tanyaku khawatir tapi dengan suara yang masih melemah. Kulihat tubuhku yang berbalut perban di sana sini.
“Jangan terlalu bergerak lebih, Nak. Tiga sahabatmu itu telah meninggal seminggu yang lalu. Bersamaan dengan hari ditemukanmu. Awalnya mereka sulit diidentifikasi karena tubuh mereka yang telah gosong terbakar bersama rumah di tengah hutan. Tapi, hasil DNA dari keluarga mereka dan juga rencana yang kaukabari sebelum berangkat ke sana mengungkap hal itu. Ekspedisi malam Jumat yang sangat berbahaya.” Kini ayahku yang angkat bicara.
Meninggal? Perasaan beberapa menit yang lalu aku sempat bersama mereka walau itu dalam keadaan yang sangat mengerikan. Apakah itu yang dinamakan perjalan arwah saat koma? Entahlah.

Jumat, 15 November 2013

KPK Jadi Hantu - Part 7 / END (Kisah Komedi Horor)

Sebuah cinta yang indah adalah adanya waktu, perhatian dan rasa kasih sayang yang diberikan. Tanpa itu, cinta akan menjadi lemah dan bisa jadi berakhir dengan cara yang tak kita inginkan. Siapa yang salah? Orang yang mengabaikan cinta itu.

Hari ini, aku tak akan membiarkan pria bulus itu pergi begitu saja. Dia harus jera dengan tingkahnya yang berbuat sewenang-wenang kepada istriku. Aku memang sudah menjadi hantu, tapi cintaku tak akan pernah mati untuknya.

“Kugal, cepat ke sini!” panggilku pada Kugal yang masih asyik menghitung bintang. Ya ampun, itu tak penting banget, deh.

Dia tidak membalas, hanya sebuah anggukan dan segera menghampiriku. Kami pun masuk ke dalam rumah istriku, mengikuti pria bulus itu yang terus menggandengnya. Dia tidak mengerti, ya? Istriku masih muda, bukan nenek-nenek yang harus digandeng masuk ke dalam rumah.

Ketika berada di ruang tamu. Pria itu makin berbuat yang keterlaluan. Dia lansung membuka kemeja yang dikenakannya dan segera menarik pakaian istriku. Hal yang aku tak mengerti adalah, istriku malah pasrah pakaiannya ditarik. Bukannya menolak atau mengatakan: Sweeper jangan begitu, Sweeper jangan begitu. Loh, ini film kartun Dora, yah?

Adegan panas mereka seperti dalam cerita horor Indonesia terus berlanjut. Pria yang masih tak kuketahui namanya itu terus merayu, membujuk, dan memaksa untuk istriku berbuat cabul begitu. 

“Berhenti! Berhenti! Berhenti!” teriakku sekuat tenaga dengan gaya cheerleaders sedang beraksi di atas tali sirkus agar membuatnya berhenti. Tapi, betapa bodohnya aku. Mereka tak mungkin mendengarku.

Sementara aku terus teriak menghentikan adegan panas mereka hingga rasanya wajahku telah berubah merah gemas. Kugal malah tertawa terbahak-bahak seperti sedang menonton acara komedi. Dia itu nggak ngerti banget perasaanku.

“Ayo, buka terus, goyangkan pinggulmu, raba pahanya, kuliti pakaiannya dan arahkan jarumku ke sekitar celananya,” sorak Kugal memberikan semangat bagai suporter sepakbola.

Aku sudah tidak habis pikir. Sepertinya Kugal malah memancing emosiku. Akhirnya membuatku naik darah, mataku membelalak tajam, taringku telah keluar serentak, cakar-cakarku mulai tajam untuk ditusukkan ke pantat orang lain, yaitu pria busuk itu.

“BERHENTI!!!!!” teriakku super kencang dan membuat angin topan yang sangat besar, hingga membuat benda-benda di depanku beterbangan, termasuk pria itu dan istriku yang sedang berbuat mesum. Mereka tampak ketakutan.

“Apa yang terjadi? Tak ada hujan, tak ada ojek, kok ada angin topan?” tanya istriku dengan wajahnya yang super kebingungan.
“Aku juga tidak tahu. Tapi, aku mau nyampain sesuatu. Penting banget.”
“Apa Mas?”
“Jawab dulu password-nya. Kalau aku bilang ‘penting banget’, maka kamu harus bilang ‘yang bener’,” ucapnya sok menjelaskan.
“Aduh, ini bukan acara kuis. Buruan, sebelum kutabok dengan pensil warna.”
“Baiklah, cepat tanda tangan surat ini,” ungkapnya lalu memberikan surat yang dimaksud. “Setelah kautanda tangan. Mari kita pergi dari tempat ini, sepertinya ada yang aneh.”

Surat? Surat apa itu? Aku yakin, itu adalah surat yang akan menghancurkan istriku. Aku segera berlari menghampiri mereka. Melemparkan semua barang yang menghalangi pergerakanku. Mereka makin ketakutan ketika barang yang dilihatnya melayang-layang.

“Jangan tanda tangan!” Segera kuraih leher pria itu. Mencekiknya dan berusaha membunuhnya. Dia gemetaran, keringatnya bercucur hebat. Sementara istriku menggigil ketakutan.
“Lepaskan aku! Lepaskan!” Dia terus meronta-ronta di genggamanku.
“Lepaskan? Setelah yang kaulakukan pada istriku. Kamu juga mau korupsi, kan?”

Aku lalu mengangkat tubuhnya dengan mencekik lehernya. Dia terus meronta-ronta dan ingin berkata sesuatu tapi tak jelas sama sekali karena cekikan yang kuberikan. Matanya memerah, mukanya mulai pucat pasi.

Lanjut kuhempaskan tubuhnya hingga menabrak lemari kaca. Tubuhnya bersimbah darah, kulitnya tergores luka. Aku masih tak puas, segera aku mendekatinya untuk memberikan pelajaran (Tenang, bukan pelajaran Matematika). Istriku masih tak berkutip, dia terus memojok di pojokan.

Beberapa langkah. Tiba-tiba sesosok menarikku dari belakang hingga aku jatuh terhempas karenanya. Kulihat dan dia adalah Kugal.

“Kugal, apa yang kamu lakukan?” tanyaku kaget.
“Aku tak membiarkan seseorang melukai orang yang kucintai,” ucapnya tajam seperti orang yang ingin memnghukum mati seseorang.
“Maksud kamu?”
“Sejak aku ketemu dia, aku lansung jatuh hati padanya. Makanya dari awal, aku sangat ingin mencicipi darahnya agar dia bisa bersama denganku selamanya di dunia hantu.”

Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Tapi, itu memang nyata, ini bukan sinetron atau semacamnya. Dia ternyata mencintai pria busuk itu. Baguslah, wanita menyebalkan bersama pria busuk memang serasi.

“Oh, begitukah Kugal? Cepat kausingkirkan pria busuk itu dari sini atau aku yang akan menghabisinya.”
“Apa? Aku tak akan membiarkan kau melukainya lagi. Aku tadi malah senang ketika dia memperkosa istrimu karena aku bisa tahu bagaimana dia melakukan kepada orang di dunia nyata. Agar hubungan kami lebih baik di dunia hantu.”

Di tengah perdebatanku dengan Kugal, sesosok muncul dengan gaya anehnya. Congsot. Si Pocong Ngesot itu datang lagi. Aku senang tak karuan. Sahabatku itu ternyata datang untuk melihatku lagi.

“Cong…soottt!” teriakku sambil berlari menghampirinya dengan gaya slow motion seperti dalam sinetron yang baru pertama kali bertemu dengan orang yang telah lama dinantikannya bertahun-tahun. Ketika di dekatnya, aku lansung memeluknya erat sebagai rasa rinduku padanya.

Dia melepas pelukanku. “Ah, biasa aja. Apa yang terjadi?” tanyanya sok sinis.
“Tahukah kau? Kugal ternyata mencintai pria yang telah menyelingkuhi istriku dan dia tidak terima dengan perlakuan kasarku pada pria itu.”
“Kugal? Ah, cewek hantu sok cantik ini memang suka berbuat yang menyebalkan,” ungkapnya seperti telah mengenal dekat sebelumnya. “Woi, jika kamu memang suka dengan pria itu. Bawa dia! Jangan biarkan dia mengganggu istri Pak KPK.”
“Oke, aku akan membawanya pergi dari sini,” kata Kugal dan segera menghampiri pria itu. Lalu, dia menarik tubuhnya dan menggigit lehernya untuk dibunuh segera. Ih, aku yang menyaksikannya lansung muntah-muntah. Saking jijiknya. Sementara Congsot menatapku jengkel karena aku terlihat kampungan baginya. 

Akhirnya pria busuk itu mati seketika. Hal itu jelas ketika arwahnya lansung muncul menjadi sesosok hantu.

“Ahhh, apa yang terjadi? Kenapa aku tertidur lebay begitu?” tanya pria itu kebingungan sambil terus memperhatikan mayatnya yang terkapar di lantai.
“Bodoh! Kamu itu sudah mati dan sekarang kamu jadi milikku. Mari kita pergi!” ucap Kugal dan segera menarik tangan pria itu untuk membawanya pergi. Pria itu tampak tak rela dibawa Kugal.

Kugal dan pria itu pun pergi entah kemana. Aku menghampiri istriku yang sedari tadi terus meratap ketakutan.

“Istriku, aku sangat merindukanmu.”
“Kurnia, sayangku. Apa itu kamu? Aku juga merindukanmu. Aku harap kamu tak marah padaku karena telah menyelingkuhimu,” balasnya ketika sadar telah mendengar suara ala Justin Bieber yang keluar dari mulutku.
“Aku tak pernah marah padamu karena aku sudah tahu kamu melakukan ini karena ingin menyejahterakan hidupmu. Itu wajar. Aku sungguh senang bisa menatap wajahmu lagi. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Tolong, pakai bajumu,” suruhku dan ia segera mencari bajunya dan mengenakannya.

Cintaku kembali bersemi ketika akhirnya pengusik hidup kami telah dibawa pergi Kugal. Congsot menatapku cemburu. Loh, bukan karena dia juga mencintaiku tapi karena dia cemburu tak mendapatkan pasangan seperti aku. Wajarlah, selain suka ngesot, dia juga jomblo ngenes.

“Gelena, aku mencintaimu tapi aku tak bisa bersamamu lagi,” ucapku sedih.
“Kenapa begitu? Tolong, kamu di mana? Aku tak bisa meihat kamu.”
“Aduh, aku di hadapanmu dan sedang mengelus wajahmu,” ucapku dan ia memegang wajahnya juga. “Kita tak bisa bersama karena kita punya dunia yang berbeda. Aku sudah jadi hantu.”
“Aku tak mau. Pokonya aku masih ingin bersamamu, selamanya.” Dia terus memaksa untuk tetap bersamaku, bahkan dia terus menghentakkan kakinya. Tidak penting!
“Tidak bisa.”
“Bisa.”
“Tidak bisa.”
“Bisa.”
“BERHENTIIII!!!” teriak Congsot menghentikan perdebatan kami dan jelas kami lansung diam seperti patung. “Kalian berdua sama egoisnya. Hmmhm, istri Pak KPK yang terhormat, cantik, memesona, dan WOW, kalian itu tidak bisa bersama lagi karena dunia kalian berbeda.”
“Tapi, aku tak rela harus berpisah dengannya,” ucapnya sembari air mata mulai mengalir deras. Aku sungguh kasihan melihatnya.
“Kamu ini sama saja dengan Pak KPK, egois. Kalau dibilang tidak bisa, yah, tidak bisa,” bentak Congsot dan kemudian menarik tanganku pergi meninggalkan istriku.

Aku hanya bisa pasrah. Aku juga tidak rela untuk berpisah dengannya tapi mau bagaimana lagi.

“Tunggu!” Istriku berteriak dan menepuk pundakku dari belakang. Aku berbalik dan betapa terperanjatnya ketika kulihat dia telah menjadi sesosok hantu. Rupanya dia telah melakukan aksi gila dengan menusuk perutnya sendiri dengan pisau berkali-kali hingga tewas.

“Ya ampun, kamu bodoh atau emang bodoh banget. Jika kamu mau mati, kan bisa bilang ke aku. Biar aku yang membunuhmu dengan cara lembut dan tak sekejam itu.”
“Tapi, kita bisa bersama lagi, kan?” ucapnya menggoda.
“Hehhehe, iya,” ucapku dan ia segera memeluk erat dan menyosor bibirku. Ah, sepertinya dia benar-benar kangen dengan tubuhku gembrotku. Heheheh.

Setelah lika-liku kehidupan telah kami jalani. Setelah kematian memisahkan kami. Akhirnya, aku dan istriku kembali bersama selamanya di dunia hantu. Congsot yang menatap kemesraan kami pergi mengesot dengan irinya. Aku harap, dia mendapatkan kekasih yang setia padanya.


TAMAT

Minggu, 13 Oktober 2013

KPK Jadi Hantu - Part 6 (Kisah Komedi Horor)

Ketika uang berbicara. Mata terasa buta, mulut membisu, telinga menjadi tuli. Semua seakan digelapkan oleh uang. Siapa yang akan menderita? Mereka yang memilih kegelapan.

Lelaki jahanam itu ternyata korupsi. Ia berhasil menggelapkan uang negara demi kepentingan pribadi. Tipu muslihat yang ia umbar ternyata juga ditujukan kepada istriku. Ya, karena jabatan istriku begitu penting pada sebuah perusahaan (maaf nama perusahaan disensor), maka lelaki itu menipu istriku dengan menidurinya agar ia bisa meraih cintanya, juga uangnya.

Aku bingung dan merasa bersalah. Sepertinya, istriku tak sepenuhnya salah. Ia melakukan itu karena ditipu, tapi tetap saja dia telah menyelingkuhiku. Aku masih pusing harus memikirkan ini. Kutatap wajah Kugal diam-diam, gigi taringnya telah keluar dua.

“Woles gal, woles. Jika kamu terburu-buru melakukan ini, semuanya bisa hancur. Istriku akan menderita karena telah ditipu. Jadi, tenangkan dirimu.”
“Aku tidak bisa, aku tak sanggup untuk tak mencicipi darah satu orang hari ini.” Kugal terus meronta-ronta untuk segera mencicipi darah lelaki itu, tapi aku tetap berusaha keras menahan tindakannya. Hingga di ujung kesabaran menahannya.
“Maaf, aku terpaksa.”

Plakk! Tanganku berhasil menampar pipinya. Dia tertegun sejenak. Beberapa detik kemudian, aliran air begitu deras keluar dari matanya. Dia menangis menjerit-jerit bagai anak kecil yang tidak diberi uang jajan sebulan. Ingin mereda suasana, malah membuat tambah kewalahan. Dia terus menangis tanpa jeda. Ingin rasanya menekan tombol pause agar dia berhenti, setidaknya sejenak, tapi sangat susah.

“Nang ning nung, ning nung, ning nung. Ayo, berhenti nangis, ya! Kalau tidak, nanti dicubit gajah, loh! Mau?” rayuku tapi tak jua membuat dia berhenti menangis, malah kini tangisannya semakin kencang. Beberapa hantu yang mendengarnya bahkan pinsang karena tak tahan lagi.

“Ya udah, kalau kamu tidak mau berhenti, kita putus!” Memang kami tidak pernah pacaran, tapi semoga membuat tangisannya berhenti dan akhirnya dia berhenti juga menangis. Dasar hantu paling cengeng. Jika bukan karena ingin melepas benak dengan kesendirian di dunia hantu, sudah kubuang kau jauh-jauh. Aku membatin.

‘Mas, aku sudah sangat lelah. Aku butuh darah untuk membangkitkan staminaku,” mohonnya dengan wajah yang semakin pucat dari kepucatan sebelumnya.
“Baiklah, kamu boleh mencicipi darah orang tapi jangan lelaki itu karena dia sangat penting bagiku. Dia satu-satunya kunci utama agar istriku dan aku tak merasa tertipu,” ucapku dengan gagah bagai Presiden Soekarno membawakan pidatonya.

Kemudian, kuajak Kugal ke luar untuk mencari orang yang akan dicicipi darahnya. Dia sangat senang dan terus menggandeng tanganku erat. Setelah berada di luar rumah mewah itu, ternyata terdapat satu orang pria sedang lewat membawa gerobaknya. Dia penjual sate keliling.

“Sateeee! Sateee!” teriak ramai penjual itu, meskipun hanya dia seorang.
“Kugal, tuh ada orang. Silahkan dekati dia dan cicipi darahnya terus bawakan aku 1000 tusuk sate, lagi lapar banget. Meskipun jadi hantu, ternyata aku lapar juga,” ucapku sembari terus menunjuk-nunjuk ke arah pedagang sate.

Dari jarak beberapa centimeter, kudengar pembicaraan mereka ketika Kugal telah mendekati pedagang sate tersebut. “Mas, minta satenya dong. 1000 tusuk yah,” ucap dingin Kugal dengan nada menggoda.
Pedagang sate itu berpeluh-peluh, keringatnya terus berpancar keluar. Seluruh tubuhnya gemetar takut ketika sadar tak satupun orang sedang mengajaknya bicara. “Please deh! Ini sudah tahun 2013, masih saja ada Susana, tapi siapa itu? Ahhh….!” ungkapnya, lalu lari terbirit-birit meninggalkan gerobaknya sendiri.
“Ah, bagaimana mau dicicipi darahnya? Kalau begitu saja sudah kabur duluan.”

Busyet dah! Aku pikir dia akan dengan mudahnya mencicipi darah manusia. Tapi, ribetnya minta ampun. Beberapa manusia yang setengah kantuk telah lewat, namun tak satupun ia cicipi. Alasannya sangat banyak, miskin lah, bukan darah ningrat lah, darahnya kotor lah, aduhhh, banyak alasan banget.

Hingga akhirnya seorang pria tampan nan gagah, tubuh atletis, lesung pipi kanan kirinya, kulit putih bersih, mulus lagi, rambut ala boyband korea dan dia sepertinya kloningan Aming. Lelaki yang satu ini tak akan kubiarkan lewat, kalau lewat lagi, maka aku akan bunuh diri. Meskipun aku sudah mati, pokoknya aku mau bunuh diri. Aku sudah sangat capek dan bosan menuruti omong kosong si Kugal.

“Ku..gal..gal.gall,” panggilku dengan suara menggema bagai sinetron yang slow motion. “Cepat habisi dia, cicipi darahnya dan kita kembali ke orang tadi. Cepatlah!”

Dia terperanjat mendengar panggilanku. Dia berbalik dengan lambat bagai seorang yang baru pertama kali ketemu dengan yang dicintainya dalam sebuah sinetron.  “Apa? Baiklah, kali ini dengan terpaksa aku lakukan, hahahaha.”

Kugal pun menghampiri lelaki itu, lelaki yang sementara berjalan dengan pinggul yang bergeser ke kanan ke kiri. Dikeluarkannya jurus andalan: kentut. Meskipun hantu, kentut Kugal lebih buas dari kentut lainnya. Yah, dengan sekejap mata, lelaki itu pingsan dengan elegannya. Pada detik selanjutnya, segera kututup mataku dengan telapak tangan, bermaksud untuk menutupi agar aku tak melihat kejijikan Kugal mencicipi darah lelaki itu. Aku sangat yakin, itu lebih dari sangat menjijikkan.

“Kugal, udah selesai?” teriakku.
“Aduh, hantu macam apa kau ini? Begini saja kau tak mau lihat? Tapi, tak apalah karena kau masih baru. Tenang, beberapa meter lagi sayatanku akan selesai.”
“Sayatan? Ya udah, lanjutkan tapi lebih cepat lebih baik.”

Beberapa menit kemudian, Kugal berteriak lagi. “Pak, sudah selesai.”

Aku pun membuka tutupan tanganku dan sudah tak melihat lekaki itu. “Kemana perginya lelaki itu? Jangan bilang kamu menghabisi seluruhnya.”
“Oh, setelah aku cicipi darahnya sedikit dan ketika dia sadar, dia lansung lari bagai melihat hantu. Ya, itu aku, hantunya.”

Sesaat kemudian, pria yang telah selingkuh dengan istriku pun keluar dari rumah mewah itu dan sudah tak membawa tas besar itu lagi. Dia menghampiri mobilnya, naik dan kemudian dikendarai dengan kencangnya.

“Kugaaaallll! Cepat, pria itu telah pergi dengan mobilnya,” pekikku kencang dan Kugal segera menghampiriku. Ia lalu memegang tanganku erat dan kami segera melihat. Kami muncul di dalam mobil lelaki itu.

“Hahaha, setelah ini, aku harus ke rumah Gelena Somay, melakukan aksi 18++ kami dan kembali menawarkan perjanjian agar dia setuju untuk menyerahkan seluruh harta perusahaan kepadaku,” ungkapnya sendirian di atas mobil. Meskipun ada aku dan Kugal tapi dia tetap sendiri sebagai manusia yang masih hidup.

Eh, tunggu dulu! Belum tahu, yah, Gelena Somay itu siapa? Itu nama istriku. Cantik banget, kan, namanya? Ya, seperti orangnya. Dia selalu jadi bidadariku meski dia telah selingkuh dan kita telah memiliki dunia berbeda. Oh, sayang!

Sudah beberapa kilometer mobil ini berjalan dan sepanjang jalan. Lelaki itu terus tertawa seringai. Uh, sudah gila kali yah ini orang? Gila uang!

Beberapa detik, ehhhh… si pria itu menginjak rem dengan tajamnya. Lantas, hal itu membuatku jumpalitan bersama Kugal ke badan depan mobil. Rupanya, mobil ini telah sampai di tempat tujuannya, rumahku, eh ralat, rumah istriku. 

Pria itu lalu turun dari mobilnya, berlari kecil menuju ke rumahku. Tonnggggg! (Ini sudah bunyi bel, nggak yah?) Suaranya mendenging dan beberapa saat kemudian. Pintu itu pun terbuka dan telah berada sosok cantik nan memesona, istriku (aku tak mau bilang mantan).

Ketika lelaki itu menatap lembut istriku, dia dengan cepat lansung menyosor bibir istriku dengan bibir monyongnya. Menciumi bagai tak pernah ketemu se-abad. Muka, hati, dan perasaanku bergejolak.

Bersambung

Rabu, 09 Oktober 2013

KPK Jadi Hantu - Part 5 (Kisah Komedi Horor)

Kata-kata cinta yang dulu telah terucap dari bibir kini terbungkus debu, usang dan tak pantas jadi kenangan. Saat berpaling dan selingkuh jadi wicara, cinta tak kan pernah abadi, kecuali cinta dari-Nya. Dari Tuhan yang maha menyayangi.

Saat akhirnya kuketahui sifat bulus dari istriku. Aku pun kembali ke kamarnya, menemui Congsot yang ketinggalan.

“Ya ampun, Cong! Dari tadi wajahmu kaututupi dengan jari-jarimu yang kotor itu. Adegannya sudah selesai. Please deh!” ucapku bosan dengan tingkah si congsot yang satu ini.
“Maaf Pak, aku bukan tipe yang suka nonton kayak gituan. Menurutku itu terlalu rendahan. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi tolong jangan panggil aku Cong. Nanti aku dikira Bencong. Panggil Congsot atau Sot aja,” ucapnya menggerutu.
“Whatever!”

Aku dan Congsot kemudian pergi dari kamar itu. Meninggalkan istriku yang kini lebih kejam dari iblis di mataku. Tapi, aku tak akan menyerah karena aku akan mendatangi mereka lagi. Mencari tahu mengenai identitas si pria ganjen itu. Sekarang aneh, pria yang ganjen meskipun wanita lebih banyak ganjennya. Maaf yang tersinggung!

Tiba di pemakaman, aku menyandarkan bahuku ke batu nisanku sementara Congsot kembali ke alam kematian. Aku sedang melepas pedih bersama para kunti yang juga sekali-kali menjerit tak karuan. Bersama para sundel yang kini bolongnya telah diplester. Sekali aku juga ikut menangis meski kini air mataku tak terjatuh setetespun.

“Pak, apa yang membuatmu bersedih?” tanya manja si wanita tercantik sejagad hantu dengan rambutnya yang tergerai panjang selutut.
“Istriku selingkuh,” ucapku melemas.
“What?” kagetnya yang seakan dibuat-buat. Kayaknya nggak pernah ikut casting, kalaupun pernah pasti ditolak. Ekspresi kagetnya terlalu over.
“Biasa aja. Nggak usah sok Inggris. Nanti kena linggis loh!” ungkapku mulai menjemu.
“Aduh, kasian bener hidupmu.”
“Hidup? Aku udah mati bego!”
“Oh, maaf aku lupa. Jangan bersedih gitu dong. Move on! Kalau kamu mau, aku juga mau kok jadi penggantinya,” katanya mulai merayu.

Kupalingkan wajahku dari tatapannya yang perlahan membius. Aku tak mau seperti istriku. Meskipun kini dia berpaling padaku dan telah selingkuh dengan pria lain. Tapi, aku harus tetap tunjukkan bahwa akulah si pria paling setia yang kini jadi hantu tak jelas. Walaupun begitu, kalau dicoba bersamanya, boleh juga kali, yah? Aku pun mengajaknya berkenalan. Dia meraih tanganku dan saat dia menyentuh tanganku, sungguh tangannya lebih kasar dari tumpukan besi.

“Aku Kugal, Kunti Galau. Para hantu di sini memberiku julukan itu karena aku dianggap hantu paling galau sejagad hantu. Setiap hari kerjaanku cuma menangis, menjerit, berdiam diri. Meski aku tak tahu kenapa aku seperti itu,” jelasnya memperkenalkan diri sambil terus menggoyang-goyangkan rambutnya berputar-putar bak trio macan.

“Wow!” Aku tercengang kagum. Lalu, kuhentikan putaran rambutnya dengan menyentuh kepalanya yang agak berlendir. “Stop! Kalau aku Kurnia Putra Kosim atau yang disingkat KPK, aku belum punya julukan hantu. Tapi, aku mau bertanya, segalau itukah dirimu?”
“Tentu!” jawabnya lantang. “Kadang meski aku udah jadi hantu, aku masih aja mau coba bunuh diri dengan loncat dari jembatan.”
“Berhasil?” tanyaku segera.
“Tentu tidak dong! Kan aku udah jadi hantu. Bagaimana bisa mati lagi setelah mati,” jelasnya.

Setelah perkenalan singkat itu dengan Kugal. Aku mulai melanjutkan hubungan kami lebih dekat lagi dan pikiran mengenai perselingkuhan istriku agak tersingkir. Aku mengajaknya kencan pada suatu malam. Bukan malam minggu, tapi malam jumat pakai kliwon.

“Kugal, mau nggak makan malam bareng aku? Kita pergi ke suatu tempat di alam manusia dan nikmati malam di sana,” ajakku sambil memberinya bunga kamboja.
“Wah, mau banget! Tapi, tunggu di sini dulu, ya! Aku mau dandan,” ucapnya dan segera menghilang seketika.

Beberapa menit, dia pun datang dengan memakai pakaian yang masih sama, putih polos panjang. Hanya rambutnya yang kini diikat seperti ekor kuda dan diberi hiasan di rambutnya dengan bunga mawar layu. Selain itu, riasan mukanya kini lebih tebal, setebal buku ensiklopedia.

“Kamu terlihat paling cantik memesona. Ijinkan tanganku ini menggandeng tanganmu,” kataku rayu.
“Pangeranku, dengan senang hati. Meski wajahmu biasa banget, tapi kamu terlalu ganteng nyangkut di hatiku,” balasnya lebih merayu.

Aku dan Kugal pun saling bergandengan tangan dengan mesra. Kami keliling di alam manusia. Mencari tempat yang cukup romantis untuk kita berdua. Meski aku tahu, betapapun romantisnya tempat yang kami temukan, tak akan cukup romantis jika harus bersama dia. Sebenarnya cukup terpaksa aku mendekatinya, demi melupakan bulusnya sifat istriku dari pikiranku.

Saat kami sedang berkeliling mencari tempat. Aku menghentikan perjalanan sejenak. Aku bertanya pada Kugal mengenai makanan hantunya dan dia menjawab kalau dia suka banget sama darah, darah manusia. Meski minus cantik, tapi dia juga super kejam dan sadis.

Di saat itu juga, aku melihat seorang pria berkemeja setelan dengan dasi yang terlingkar di leher menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah super mewah serta membawa tas jinjing hitam besar. Pria itu tampak tak asing bagiku. Lalu, kutatap wajahnya dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Aha! Dia adalah pria yang sebelumnya telah meniduri istriku.

Aku terkaget seketika. Kemudian kuberitahukan pada Kugal mengenai pria itu bahwa dia yang telah selingkuh dengan istriku. Rupanya, wajahnya lebih dulu terangsang. Mukanya berubah merah ganas seakan mengintai korbannya. Aku yakin dia terpesona dengan pria itu dan ingin segera mencicipi darahnya. Tapi, kutahan pergerakannya, aku tak mau dia mematikan pria itu dan membuatku tak tahu mengenai identitasnya.

Lalu, segera kubuntuti pria itu dari belakang menuju ke rumah mewah itu, sementara terus kutahan aksi Kugal. Sesampainya di dalam rumah, sehabis dia mengetuk pintu dengan keras-keras meski nyatanya ada bel. Dia pun berbincang-bincang dengan seorang pria lain yang mengenakan baju tidur berwarna biru dan corak bunga melati.

Aku tak mengerti dengan apa yang mereka sedang perbincangkan. Tapi sekali-kali aku mendengar mengenai kerja sama, bisnis, proyek, uang negara dan rahasia. Di puncak pembicaraan mereka, si pria hidung super belang memberikan sebuah uang dalam sebuah tas jinjing hitam itu. Saat itu pula aku yakin mereka sedang korupsi. Apa?

Bersambung