Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Maret 2019
[Dimuat harian FAJAR Makassar, edisi Minggu, 24 Maret 2019]
Malam ini aku diundang menghadiri sebuah peresmian kafe yang mengharuskan seluruh tamunya mengenakan batik. Tapi bodohnya, aku tidak paham batik mana yang paling cocok yang mesti kupakai. Andai saja dia masih ada, sebagai istriku. Andai pagi itu aku tidak mengatakan kalimat paling bodoh, “Aku ingin cerai.”
Anjani terdiam, menatapku tajam dengan matanya yang merah berkaca-kaca tapi tak sebening pun yang akhirnya jatuh, lalu mulai bersuara, lirih sekali. “Jika itu maumu, baiklah.”
Aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar dengan menggadaikan cintaku untuk seorang perempuan yang kutemui di kantor. Saat itu, aku berpikir kalau istriku, tepatnya mantan istriku, sudah tidak mencintaiku lagi sehingga aku memilih untuk berpisah dengannya. Dugaan itu mulai membuncah ketika dia lebih sibuk mengurusi butik batiknya daripada aku sendiri.
“Aku tidak ingin menyelingkuhimu, jadi baiknya kita berpisah saja.”
Lagi-lagi Anjani terdiam. Benar-benar terdiam. Dia pun enggan menatapku hingga aku merangkak pergi menjauhinya. Malamnya, kubawakan surat cerai, dan dia tanda tangan tanpa berkata-kata. Tidak cukup lama, kami resmi bercerai. Dia pergi dan aku tak tahu ke mana.
Setelah enam tahun, setelah aku merasakan sakitnya ditinggalkan oleh perempuan kantor sundal itu, perempuan yang diam-diam mencuri waktu untuk menemui kekasih lamanya, aku baru menyadari kalau keputusan cerai enam tahun lalu itu ialah keputusan terbodoh.
Aku baru sadar kalau aku mencintai Anjani lebih dari apa pun. Jika Tuhan mengizinkan kami bertemu kembali, dan bilamana dia belum bersuami lagi, ingin rasanya aku rujuk dengannya. Betapa pun selama kami menikah, aku belum banyak memberikan yang terbaik buatnya. Aku teramat egois memikirkan diriku sendiri ketimbang memikirkan kemungkinan kenapa dia lebih sibuk di butik daripada melayani suaminya.
Dialah perempuanku, pembatik dari Jogja. Aku mengenalnya saat kegiatan studi tur kampus yang membawa kami ke keraton untuk melihat orang-orang membatik. Jujur, aku bukanlah tipe orang yang punya jiwa nasionalisme tinggi. Batik, bukanlah sesuatu yang indah buatku. Tapi melihat tangan perempuan itu yang lihai memegang canting dan membentuk motif-motif ke dalam sebuah kain, aku mulai tertarik.
Anjani juga senang menjelaskan makna setiap motif yang dia buat. Penjelasan yang makin membuat cintaku pertama kali jatuh pada batik, juga padanya. Seperti motif parang yang dipakai kalangan bangsawan, motif yang katanya dikenal sebagai motif tertua di Jawa. Atau motif batik yang mirip biji pinang yang menyimbolkan rezeki melimpah.
“Menarik,” kataku. “Kira-kira menurutmu motif batik apa yang cocok buatku?”
Anjani semringah. “Mungkin yang ini.” Dia menunjukkan motif batik yang berupa bentuk geometris dengan ukuran besar. Sekilas motifnya mirip kelopak bunga dengan titik-titik di sekitarnya yang menambah cantik batik itu. “Batik grompol. Batik ini memiliki makna bersatu, artinya sebuah harapan agar orang yang mengenakannya hidup cerah di masa depan serta rukun dengan keluarga.”
Aku tidak menyangka maksud perempuan itu mengenai makna yang disampaikannya menjadi benar-benar kenyataan. Aku melamarnya setelah lulus dari kampus dan kami tuntas menikah. Kami seolah-olah—pada saat itu—merasakan masa depan yang begitu cerah. Sayangnya, aku merusak makna itu, makna rukun itu, dengan menceraikannya setelah pernikahan kami bahkan belum diisi tangisan bayi.
Sudah hampir jam 7, aku belum memilih satu batik pun untuk kukenakan. Aku bingung. Aku memang bukan pemilih yang baik. Lagian di rumah perantauan ini, setelah tidak lagi beristri, aku hidup sendirian jadi tak seorang pun bisa kutanyakan.
Dan di tengah kebingungan itu, aku mendapati sebuah batik yang berada di antara tumpukan baju usang. Paling bawah. Baunya sedikit apak. Aku ingat batik ini. Batik truntum. Batik terakhir yang perempuan itu buatkan untukku saat hari-hari paling akhir sebelum perceraian kami. Entah apa maknanya, dia belum sempat menjelaskan. Dia hanya bilang, “Batik truntum ini untukmu. Semoga kamu bahagia bersamanya.”
Mungkin, ini saatnya aku mengenakan batik itu. Sekalian mengobati rindu dan penyesalanku. Untuk membuang baunya, beberapa semprotan parfum dirasa cukup. Dan malam ini aku pergi juga dengan batik bermotif taburan bunga-bunga kecil atau seperti kuntum bunga melati.
Dalam perjalanan, aku sengaja browsing makna batik truntum pemberiannya. Tercengang dan membuat tanganku lumayan bergetar. Batik truntum ternyata memiliki kisah yang apik bahwasanya Raja Pangkubuwono III kembali jatuh cinta di ujung tombak pernikahan pada Ratu Beruk karena sang ratu menghadiahi batik tersebut. Mungkinkah ini yang diinginkan Anjani? Dia juga masih berharap aku tidak meninggalkannya dengan memberikan batik itu. Maafkan aku, Anjani.
Tanganku masih bergetar setiba di kafe. Seperti namanya, Batik Cafe, gedungnya dihiasi batik di mana-mana. Dinding, tiang penyangga, hingga kursi dan meja. Semua bermotif batik. Di gedung itu pula, sudah ada banyak tamu yang hadir. Dan beberapa tamu itu, aku betul-betul dikejutkan dengan salah seorang perempuan yang tak asing. Mengenakan batik sama yang kukenakan. Batik truntum. Perempuan yang sudah kusia-siakan cintanya.
“Anjani?” Aku menyapanya duluan. “Kamu juga datang ke sini?”
Anjani tampak heran melihatku tapi kemudian bersikap seolah biasa saja. “Tentu. Aku ikut merancang kafe ini.”
Dia tersenyum. Hangat sekali. Tiba-tiba seorang anak kecil perempuan yang mengenakan batik serupa berlari ke arahnya. Dia segera menyambutnya sambil sesekali menggunakan sapaan Nak. Batik boleh sama. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dia mungkin telah bersuami lagi. Pupus sudah harapanku.
“Maaf. Aku pergi dulu. Istriku menunggu.” Dan aku terpaksa berbohong.(*)
Watampone, 30/11/18
Malam ini aku diundang menghadiri sebuah peresmian kafe yang mengharuskan seluruh tamunya mengenakan batik. Tapi bodohnya, aku tidak paham batik mana yang paling cocok yang mesti kupakai. Andai saja dia masih ada, sebagai istriku. Andai pagi itu aku tidak mengatakan kalimat paling bodoh, “Aku ingin cerai.”
Anjani terdiam, menatapku tajam dengan matanya yang merah berkaca-kaca tapi tak sebening pun yang akhirnya jatuh, lalu mulai bersuara, lirih sekali. “Jika itu maumu, baiklah.”
Aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar dengan menggadaikan cintaku untuk seorang perempuan yang kutemui di kantor. Saat itu, aku berpikir kalau istriku, tepatnya mantan istriku, sudah tidak mencintaiku lagi sehingga aku memilih untuk berpisah dengannya. Dugaan itu mulai membuncah ketika dia lebih sibuk mengurusi butik batiknya daripada aku sendiri.
“Aku tidak ingin menyelingkuhimu, jadi baiknya kita berpisah saja.”
Lagi-lagi Anjani terdiam. Benar-benar terdiam. Dia pun enggan menatapku hingga aku merangkak pergi menjauhinya. Malamnya, kubawakan surat cerai, dan dia tanda tangan tanpa berkata-kata. Tidak cukup lama, kami resmi bercerai. Dia pergi dan aku tak tahu ke mana.
Setelah enam tahun, setelah aku merasakan sakitnya ditinggalkan oleh perempuan kantor sundal itu, perempuan yang diam-diam mencuri waktu untuk menemui kekasih lamanya, aku baru menyadari kalau keputusan cerai enam tahun lalu itu ialah keputusan terbodoh.
Aku baru sadar kalau aku mencintai Anjani lebih dari apa pun. Jika Tuhan mengizinkan kami bertemu kembali, dan bilamana dia belum bersuami lagi, ingin rasanya aku rujuk dengannya. Betapa pun selama kami menikah, aku belum banyak memberikan yang terbaik buatnya. Aku teramat egois memikirkan diriku sendiri ketimbang memikirkan kemungkinan kenapa dia lebih sibuk di butik daripada melayani suaminya.
Dialah perempuanku, pembatik dari Jogja. Aku mengenalnya saat kegiatan studi tur kampus yang membawa kami ke keraton untuk melihat orang-orang membatik. Jujur, aku bukanlah tipe orang yang punya jiwa nasionalisme tinggi. Batik, bukanlah sesuatu yang indah buatku. Tapi melihat tangan perempuan itu yang lihai memegang canting dan membentuk motif-motif ke dalam sebuah kain, aku mulai tertarik.
Anjani juga senang menjelaskan makna setiap motif yang dia buat. Penjelasan yang makin membuat cintaku pertama kali jatuh pada batik, juga padanya. Seperti motif parang yang dipakai kalangan bangsawan, motif yang katanya dikenal sebagai motif tertua di Jawa. Atau motif batik yang mirip biji pinang yang menyimbolkan rezeki melimpah.
“Menarik,” kataku. “Kira-kira menurutmu motif batik apa yang cocok buatku?”
Anjani semringah. “Mungkin yang ini.” Dia menunjukkan motif batik yang berupa bentuk geometris dengan ukuran besar. Sekilas motifnya mirip kelopak bunga dengan titik-titik di sekitarnya yang menambah cantik batik itu. “Batik grompol. Batik ini memiliki makna bersatu, artinya sebuah harapan agar orang yang mengenakannya hidup cerah di masa depan serta rukun dengan keluarga.”
Aku tidak menyangka maksud perempuan itu mengenai makna yang disampaikannya menjadi benar-benar kenyataan. Aku melamarnya setelah lulus dari kampus dan kami tuntas menikah. Kami seolah-olah—pada saat itu—merasakan masa depan yang begitu cerah. Sayangnya, aku merusak makna itu, makna rukun itu, dengan menceraikannya setelah pernikahan kami bahkan belum diisi tangisan bayi.
Sudah hampir jam 7, aku belum memilih satu batik pun untuk kukenakan. Aku bingung. Aku memang bukan pemilih yang baik. Lagian di rumah perantauan ini, setelah tidak lagi beristri, aku hidup sendirian jadi tak seorang pun bisa kutanyakan.
Dan di tengah kebingungan itu, aku mendapati sebuah batik yang berada di antara tumpukan baju usang. Paling bawah. Baunya sedikit apak. Aku ingat batik ini. Batik truntum. Batik terakhir yang perempuan itu buatkan untukku saat hari-hari paling akhir sebelum perceraian kami. Entah apa maknanya, dia belum sempat menjelaskan. Dia hanya bilang, “Batik truntum ini untukmu. Semoga kamu bahagia bersamanya.”
Mungkin, ini saatnya aku mengenakan batik itu. Sekalian mengobati rindu dan penyesalanku. Untuk membuang baunya, beberapa semprotan parfum dirasa cukup. Dan malam ini aku pergi juga dengan batik bermotif taburan bunga-bunga kecil atau seperti kuntum bunga melati.
Dalam perjalanan, aku sengaja browsing makna batik truntum pemberiannya. Tercengang dan membuat tanganku lumayan bergetar. Batik truntum ternyata memiliki kisah yang apik bahwasanya Raja Pangkubuwono III kembali jatuh cinta di ujung tombak pernikahan pada Ratu Beruk karena sang ratu menghadiahi batik tersebut. Mungkinkah ini yang diinginkan Anjani? Dia juga masih berharap aku tidak meninggalkannya dengan memberikan batik itu. Maafkan aku, Anjani.
Tanganku masih bergetar setiba di kafe. Seperti namanya, Batik Cafe, gedungnya dihiasi batik di mana-mana. Dinding, tiang penyangga, hingga kursi dan meja. Semua bermotif batik. Di gedung itu pula, sudah ada banyak tamu yang hadir. Dan beberapa tamu itu, aku betul-betul dikejutkan dengan salah seorang perempuan yang tak asing. Mengenakan batik sama yang kukenakan. Batik truntum. Perempuan yang sudah kusia-siakan cintanya.
“Anjani?” Aku menyapanya duluan. “Kamu juga datang ke sini?”
Anjani tampak heran melihatku tapi kemudian bersikap seolah biasa saja. “Tentu. Aku ikut merancang kafe ini.”
Dia tersenyum. Hangat sekali. Tiba-tiba seorang anak kecil perempuan yang mengenakan batik serupa berlari ke arahnya. Dia segera menyambutnya sambil sesekali menggunakan sapaan Nak. Batik boleh sama. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dia mungkin telah bersuami lagi. Pupus sudah harapanku.
“Maaf. Aku pergi dulu. Istriku menunggu.” Dan aku terpaksa berbohong.(*)
Watampone, 30/11/18
Minggu, 08 Juli 2018

[Dimuat di FAJAR Makassar edisi Minggu, 8 Juli 2018]
Sudah sebelas tahun Erwing bekerja sebagai penjaga palang di gerbang Pelabuhan Bajoe, baru malam itu dia merasa bulu kuduknya berdiri tak karuan. Bukan karena cuaca yang memang sangat dingin ditambah sapuan angin dari laut, tapi karena ada sesuatu yang mengalihkan pandangannya.
Seorang perempuan bermata sayu berkali-kali dilihatnya sedang berdiri di dekat pembatas jalan. Perempuan itu berambut panjang dan cukup manis kalau dilihat sekilas. Air muka perempuan itu datar dengan bibir putih memucat. Setiap kali Erwing memandanginya, perempuan itu seakan-akan memanggilnya.
Erwing langsung berasa ingin pulang. Tapi bagaimana caranya? Dia sendirian. Apalagi hari itu dia kena sif malam. Dia harus kerja mulai jam 8 malam sampai jam 8 pagi, sementara jam dinding yang menggantung di pos jaga masih menunjukkan pukul 11. Jika dia pulang saat itu juga, manager pasti akan langsung memecatnya karena pintu palang tidak mungkin ditinggalkan dalam keadaan tanpa penjagaan.
Lelaki berkepala plontos itu terpaksa menenangkan dirinya dan menganggap perempuan yang dilihatnya hanya ilusi belaka. Dia pun memutuskan untuk menuangkan kopi panas ke cangkirnya. “Mungkin kopi bisa membuatku tenang,” katanya.
Sebuah truk kemudian melaju ke arahnya, dan sontak berhenti tepat di dekat palang. Erwing segera memberikan karcis pada sang sopir truk, lalu dibalas dengan uang 12 ribu. Erwing menarik tukas dan membuat palang itu naik perlahan sehingga truk bisa masuk ke area pelabuhan.
Ketika truk berpaling, Erwing kembali dikagetkan dengan kehadiran perempuan bermata sayu. Perempuan itu menatapnya tanpa sedikit pun berkedip. Jantung Erwing hampir loncat dibuatnya. Dia kemudian memicingkan mata dan kembali memastikan kalau pandangannya tidak salah, nyatanya perempuan bermata sayu masih berdiri di tempatnya, di dekat pembatas jalan.
Erwin bergidik, tapi juga penasaran. Dia balik menatap perempuan itu dan mencoba meneriakinya, “Apa dikerja di situ, Ndi?” tanyanya.
Perempuan itu membeku. Dia tidak merespons dan tidak pula beranjak dari tempatnya. Erwing makin bingung. Entah apa yang benar-benar merasuk dalam dirinya, Erwing tiba-tiba mendekati perempuan itu. Langkahnya pelan dan sedikit ragu-ragu, tapi dia terus saja melangkah.
Semakin dekat. Namun sebuah avansa hitam membuat langkahnya harus terhenti. Dia berbalik dan mendekati si sopir. Seperti tadi, dia memberikan sopir itu secarik karcis yang kemudian dibalasnya juga dengan uang 12 ribu. Sang sopir tersenyum lantas melaju. Perginya avansa hitam membuat Erwing kembali menoleh ke perempuan itu. Sial. Perempuan bermata sayu sudah menghilang.
Erwing mencari-cari, tapi perempuan itu tidak juga terlihat
.
Erwing terpaksa kembali ke tempat duduknya, dekat dari pos jaga. Betapa terkejutnya Erwing, perempuan bermata sayu sudah berdiri tepat di sebelahnnya ketika dia duduk sembari menikmati secangkir kopi panas. Terang saja, lelaki itu langsung lari tunggang langgang. Tidak peduli lagi kalau manajer akan memecatnya sebab yang dipikirkannya saat itu bagaimana dia harus lari secepat mungkin, sejauh mungkin.
***
Sejak kejadian malam itu, Erwing meringkuk di kamarnya berhari-hari. Suhu badannya makin lama makin naik. Istirnya, Rahayu sudah mengobatinya dengan berbagai ramuan herbal tapi dia tidak juga membaik. Erwing pernah dilarikan ke rumah sakit, bermalam tiga hari, setelah itu dia kembali dipulangkan karena Rahayu tidak sanggup membayar iuran yang kian membengkak.
“Apa mi yang mau kita lakukan, Daeng? Hampir habis mi juga uang,” keluh Rahayu di samping suaminya yang menggigil hebat meskipun sudah berselimut sarung berlapis-lapis. Erwing tidak menjawab, bibirnya hanya terus menggelatuk.
“Nanti kupanggil La Dompe, Daeng. Semoga tidak nakasih bayar mahalki.” Rahayu mulai terisak. “Tinggal dia mi pilihan terakhirta.”
Malamnya, La Dompe benar-benar datang. Lelaki tua beruban dengan gigi hampir semua sudah tercabut itu untungnya cuma mau dibayar rokok dan sokko. Dia pun segera mengobati Erwing. Setelah menyentuh kening Erwing seraya mulutnya komat kamit, La Dompe menghampiri Rahayu. “Dari mana saja suamimu sebelum sakit begini?” tanyanya.
“Kerja di Pelabuhan Bajoe, Puang. Waktu itu pulang cepat karena lihat katanya perempuan yang panjang sekali rambutnnya. Sejak begitumi langsung sakit.” Rahayu menjelaskan.
La Dompe sejenak terdiam. Dia memandangi langit-langit. Sekejap dia kembali menatap Rahayu, lalu berucap. “Kalian pergi buang telur besok di sana. Bawa juga ayam untuk dilepaskan. Nanti saya temani.”
Rahayu menurut saja. Dia pun mengangguk lemah. Esoknya, mereka pergi ke Pelabuhan Bajoe. Erwing juga pergi meskipun badannya masih sangat loyo. Sesampainya mereka di sana, mereka mulai membuang telur dengan dibantu La Dompe. Lelaki tua itu berkomat kamit sebelum melemparkan telur itu ke laut. Selanjutnya, La Dompe berkomat kami lagi sebelum melepaskan seekor ayam jantan di area pelabuhan.
Ritual itu selesai tanpa hambatan. Mereka pulang ketika langit mulai menghitam.
Hari-hari setelahnya, Erwing sungguh-sungguh sembuh. Lelaki plontos itu terlihat bugar sebugar-bugarnya. Sayangnya, dia sudah tidak lagi bekerja sebagai penjaga palang di Pelabuhan Bajoe karena manajer ternyata benar-benar memecatnya.
“Tidak masalah, Daeng. Banyak ji pekerjaan yang lebih baik. Rezeki juga sudah diatur Tuhan.” Rahayu menguatkan suaminya. Dan Erwing semringah.
Erwing lalu pergi. Dia mengambil sepeda motornya, lantas melaju dengan sangat kencang. Erwin kemudian berhenti tepat di dekat palang pelabuhan. Selepas memarkirkan motornya, dia pun berjalan tanpa mengindahkan mantan rekannya yang menatapnya bingung. Lelaki itu menuju pembatas jalan, dan mencoba naik.
“Mauki apa, Wing?” tanya mantan rekannya heran.
Sebelum terjun ke laut, Erwing berteriak, “Mauka ketemu istriku.” (*)
Watampone, 5/7/18
Rabu, 28 Maret 2018
[Dimuat di Banjarmasin Post edisi Minggu, 25 Maret 2018]
Tubuhnya lunglai. Lebam memenuhi hampir sekujur tubuh perempuan yang setengah telanjang akibat pakaian yang koyak itu. Ia berusaha bergerak, tapi sulit. Ia berusaha bersuara, tapi yang terdengar hanya serupa embusan angin dari napas yang semakin sesak. Ketika ia ditemukan, lelakinya hanya mampu menjerit, menggusar, dan mengutuk siapa saja yang tega membuat perempuan itu yang kini di ambang kematian.
***
Pagi datang mengelus lelaki itu ketika sebuah telepon mendarat di kupingnya yang mengharuskan ia berkunjung ke Pasar Rakyat. Ia pun meletakkan secangkir kopi yang baru saja ia tandaskan ke atas meja.
Perempuannya mengerling, "Pulang kemalaman lagi, Daeng?"
"Semoga tidak." Lelaki itu mendorong kursinya ke belakang, kemudian berdiri. Ia mengusap kaus putihnya yang berkerah dan meraih topi hitam bertuliskan NH di sisi depannya. "Kamu ikut kan, istriku?"
"Kurang enak badan, Daeng."
"Kalau begitu, istirahatlah, istriku. Kamu pasti capek. Lagi pula Pasar Rakyat itu becek dan bau. Kamu mungkin tidak akan tahan." Ia lantas beranjak bersama beberapa ajudannya yang berbadan tegap. Ia meninggalkan istrinya di rumah dengan beberapa pekerja yang menemaninya. Pembantu, tukang kebun, hingga satpam. Mereka punya anak, satu-satunya, tapi ia sedang kuliah di Bandung. Sehingga tidak ada alasan untuk lelaki itu merasakan khawatir yang berlebih.
***
Pak Nasir dengan semangat juang istrinya, Bu Faridah, mencalonkan diri sebagai bupati dalam lima tahun mendatang. Ia berniat menggeser posisi bupati lama yang sudah duduk selama dua periode. Akibatnya, beberapa bulan sebelum pencalonan resmi, Pak Nasir mulai melakukan kampanye ke mana-mana, mendengungkan inisial NH dari nama lengkapnya Nasir Hasir ke berbagai penjuru kampung. Target utama Pak Nasir memang kalangan bawah, sebab kemenangan itu lebih mudah diperoleh dari bawah.
Selama kampanye, Pak Nasir berusaha membangun jati diri sebagai pemimpin yang merakyat. Ia rajin berkunjung ke tempat-tempat kumuh, menghadiri acara-acara rakyat, menggelar perjamuan dengan mengundang para warga, juga mengunjungi berbagai acara keagamaan. Ketika maulid, ia datang. Ketika natalan, ia pun tak sungkan. Pak Nasir juga bertandang ke panti asuhan. Bertemu dengan orang-orang yang ditinggalkan keluarganya. Kemudian, dia akan bersorai di depan anak-anak panti dan tentu saja para orang dewasa yang hadir di situ, kalau ia akan menyejahterakan nasib mereka. Orang-orang lalu bertepuk tangan dan berteriak menyebut inisial NH. Sebelum pulang, Pak Nasir membagikan kaus berwarna kuning yang memajang fotonya di bagian depan besar-besar.
"Orang-orang makin mencintaimu, Daeng. Aku yakin bupati lama itu akan segera lengser," kata Bu Faridah saat menjelang tidur.
Pak Nasir tertawa. Tawa yang cukup nyaring. "Hahah aku harap kamu tidak cemburu, istriku."
"Untuk apa cemburu sama cinta yang ada maunya, haha." Keduanya tertawa, kemudian saling berpelukan, saling memagut, dan tertidur.
***
Tubuhnya lunglai. Lebam memenuhi hampir sekujur tubuh perempuan yang setengah telanjang akibat pakaian yang koyak itu. Ia berusaha bergerak, tapi sulit. Ia berusaha bersuara, tapi yang terdengar hanya serupa embusan angin dari napas yang semakin sesak. Ketika ia ditemukan, lelakinya hanya mampu menjerit, menggusar, dan mengutuk siapa saja yang tega membuat perempuan itu yang kini di ambang kematian.
***
Pagi datang mengelus lelaki itu ketika sebuah telepon mendarat di kupingnya yang mengharuskan ia berkunjung ke Pasar Rakyat. Ia pun meletakkan secangkir kopi yang baru saja ia tandaskan ke atas meja.
Perempuannya mengerling, "Pulang kemalaman lagi, Daeng?"
"Semoga tidak." Lelaki itu mendorong kursinya ke belakang, kemudian berdiri. Ia mengusap kaus putihnya yang berkerah dan meraih topi hitam bertuliskan NH di sisi depannya. "Kamu ikut kan, istriku?"
"Kurang enak badan, Daeng."
"Kalau begitu, istirahatlah, istriku. Kamu pasti capek. Lagi pula Pasar Rakyat itu becek dan bau. Kamu mungkin tidak akan tahan." Ia lantas beranjak bersama beberapa ajudannya yang berbadan tegap. Ia meninggalkan istrinya di rumah dengan beberapa pekerja yang menemaninya. Pembantu, tukang kebun, hingga satpam. Mereka punya anak, satu-satunya, tapi ia sedang kuliah di Bandung. Sehingga tidak ada alasan untuk lelaki itu merasakan khawatir yang berlebih.
***
Pak Nasir dengan semangat juang istrinya, Bu Faridah, mencalonkan diri sebagai bupati dalam lima tahun mendatang. Ia berniat menggeser posisi bupati lama yang sudah duduk selama dua periode. Akibatnya, beberapa bulan sebelum pencalonan resmi, Pak Nasir mulai melakukan kampanye ke mana-mana, mendengungkan inisial NH dari nama lengkapnya Nasir Hasir ke berbagai penjuru kampung. Target utama Pak Nasir memang kalangan bawah, sebab kemenangan itu lebih mudah diperoleh dari bawah.
Selama kampanye, Pak Nasir berusaha membangun jati diri sebagai pemimpin yang merakyat. Ia rajin berkunjung ke tempat-tempat kumuh, menghadiri acara-acara rakyat, menggelar perjamuan dengan mengundang para warga, juga mengunjungi berbagai acara keagamaan. Ketika maulid, ia datang. Ketika natalan, ia pun tak sungkan. Pak Nasir juga bertandang ke panti asuhan. Bertemu dengan orang-orang yang ditinggalkan keluarganya. Kemudian, dia akan bersorai di depan anak-anak panti dan tentu saja para orang dewasa yang hadir di situ, kalau ia akan menyejahterakan nasib mereka. Orang-orang lalu bertepuk tangan dan berteriak menyebut inisial NH. Sebelum pulang, Pak Nasir membagikan kaus berwarna kuning yang memajang fotonya di bagian depan besar-besar.
"Orang-orang makin mencintaimu, Daeng. Aku yakin bupati lama itu akan segera lengser," kata Bu Faridah saat menjelang tidur.
Pak Nasir tertawa. Tawa yang cukup nyaring. "Hahah aku harap kamu tidak cemburu, istriku."
"Untuk apa cemburu sama cinta yang ada maunya, haha." Keduanya tertawa, kemudian saling berpelukan, saling memagut, dan tertidur.
***
Pak Nasir tiba di Pasar Minggu dengan sambutan dari orang-orang yang berkerumun. Mereka ingin menjabat tangan calon bupati baru yang dikenal merakyat, atau sekadar menyentuh kaus putihnya yang berkerah. Orang-orang yang histeris itu dibatasi oleh para ajudan Pak Nasir yang menjaga dari sisi kanan, kiri, dan belakang.
Seperti selalu, senyum tak pernah ketinggalan di bibir Pak Nasir. Ia bersorai dan sesekali menyapa para penjual dan pembeli yang dilewatinya.
Ketika berkeliling, seorang penjual baju tiba-tiba bercerita padanya, "Sepi nih, Pak. Sehari bahkan tidak ada pembeli sama sekali."
Senyum Pak Nasir belum hilang, lalu ia berkata, "Sepertinya kita perlu meremajakan pasar ini biar lebih ramai pengunjung." Pak Nasir memperhatikan celana hitamnya yang di bagian bawah sudah dipenuhi lumpur. Orang-orang pun mengiringi pernyataan Pak Nasir dengan berteriak hore dan inisial nama Pak Nasir. NH. NH. NH.
Di tengah kampanye, Pak Nasir mendadak mendapat telepon dari rumah. Ia pun mengangkatnya, barangkali dari istrinya. Ketika tersambung, suara yang terdengar malah suara pembantu. Suara yang timbul tenggelam. Pak Nasir jadi bingung. Ia berusaha bertanya, apa yang sedang terjadi, suara tangis yang malah ia dengar.
"Kita harus pulang," kata Pak Nasir pada ajudannya dengan sedikit berbisik. Sesekali ia melempar senyum pada orang-orang agar semuanya terlihat baik-baik saja. Lalu, ia pamit pergi.
Buru-buru Pak Nasir meninggalkan Pasar Minggu. Ia khawatir dengan kondisi istrinya. Setelah menempuh jarak tempuh yang hanya lima belas menit, ia pun berlari masuk setelah satpam tidak terlihat dan suara jeritan yang langsung menyambutnya. Saat di dalam, rumah tampak kosong. Dia berlari ke kamar, istrinya tidak di sana. Suara jeritan terdengar lagi, sepertinya di halaman belakang. Pak Nasir pun mengambil langkah seribu. Tepat. Istrinya sudah terbaring di sana dengan tubuh setengah telanjang dan lebam di mana-mana.
"Siapa yang melakukan ini?"
Bibir Bu Faridah berusaha bergerak, tapi yang terdengar hanya embusan angin. Pak Nasir lantas memeluk istrinya sambil terisak. Lama sekali. Barulah ia sadar istrinya sudah meregang nyawa.
Pak Nasir masih tersedu-sedu ketika salah satu ajudannya menyeret seseorang ke hadapannya yang ditengarai sebagai tersangka, berdasarkan kesaksian pembantu, sementara satpam juga sudah ia bunuh. Orang itu ternyata tukang kebun Pak Nasir. Pak Nasir sontak murka. Ia berdiri dan menghajar bapak tua itu.
"Kenapa kau melakukan ini pada istriku?" geram Pak Nasir.
Dengan napas tersendat-sendat, tukang kebun itu menjawab, "Aku bahkan bisa melakukan ini padamu, tapi aku cukup menikmati istrimu, Pak Nasir." Mata Pak Nasir memelotot mendengar pernyataan tukang kebunnya, dan ia hajar lagi. Sedetik kemudian, tukang kebun itu kembali berbicara, "Aku muak dengan tingkahmu sama kami, Pak Nasir. Kamu lembut di luar sana, tapi kamu kasari kami di sini. Aku bahkan belum kau gaji dua bulan, Pak."
Pak Nasir tertegun. Ia menatap tukang kebun yang dari mulutnya meleleh darah yang anyir. Usai itu, ia tiba-tiba merasakan tubuhnya seringan kapas. Dan ia tumbang. Tidak ada yang tahu kemudian, Pak Nasir masih mencalonkan atau tidak setelah kejadian itu. (*)
Watampone, 7/1/18
Sabtu, 10 Februari 2018
[Dimuat di Harian FAJAR Makassar edisi Minggu, 11 Februari 2018]
Saya tidak pernah menyangka akan berdebat dengan Ambo. Diiringi tangisan yang datang dari langit yang menurunkan air serupa jarum-jarum sehingga genting rumah seolah ditusuk-tusuk. Setelah sejak lama hingga usia saya mencapai dua puluh empat tahun, rumah kami selalu diramaikan dengan suara bernada rendah, kalau pun bernada tinggi hanya saat Ambo berteriak karena tulang betisnya bergeser sebab terjatuh dari pohon kelapa atau Indo yang berteriak ketika melihat kecoa membuntutinya di kamar mandi, lalu hari ini tiba-tiba saja rumah sudah berubah menjadi medan peperangan.
Perdebatan saya dengan Ambo dimulai sepulang Ambo dari rumah Sanro, ketua adat yang rambutnya beruban dan matanya mulai rabun dengan ingatan yang tak lagi jernih, kemudian membisiki Indo kalau Sirawu Sulo akan dilaksanakan tahun ini. Saya yang tentu mendengarnya karena duduk tepat di belakang Indo angkat bicara.
"Serius, Ambo? Baru dua tahun kemarin dilaksanakan, tahun ini dilaksanakan lagi?" heran saya. Ambo sontak menatap saya tajam. Matanya seperti panah yang bersiap menembus mata saya.
"Tahu apa? Ambo sudah berkunjung ke rumah Sanro, dan dia sendiri bilang begitu."
Saya masih tidak percaya. Sirawu Sulo selalu dilaksanakan tiga tahun sekali, meski dulu lima tahun sekali tapi politik merembesi kampung diubahlah jadi tiga tahun sekali agar sekalian bahan promosi untuk Pongka, tapi kini malah diubah lagi. Mentang-mentang Ambo calon wakil rakyat. Ini pelanggaran adat.
Saya tahu Ambolah yang senantiasa berhubungan dengan Sanro untuk diinformasikan pada Kepala Desa, kemudian diturunkan ke masyarakat mengenai tanggal baik Sirawu Sulo dilaksanakan. Ketika tadi pagi, dia tiba-tiba bertandang ke rumah Sanro, dan pulangnya malah mengabarkan hal yang tak masuk akal.
"Adampengi'ka, Ambo, betulji Sanro bilang begitu? Bukannya tahun depan baru dilaksanakan?"
"Kurang ajar. Kaukira Ambo berbohong?" Suara Ambo meninggi, kemudian tampaklah hujan turun seperti jarum-jarum dari balik jendela yang selalu terbuka. "Ini sudah perintah adat. Jika kita tidak laksanakan, kampung bisa kena karma."
Kami memang percaya semua yang keluar dari bibir Sanro merupakan kalimat yang datang dari Tuhan. Kami harus meyakini. Bilamana ada yang mengingkar dan tidak melaksanakannya, kampung kami akan mendapatkan musibah berupa kematian berturut-turut, seolah diracuni alam dan kekuasaan.
"Apa seharusnya Ambo konfirmasi ulang sama Sanro? Jangan sampai Sanro salah ingat. Dia sudah pikun, Ambo." Saya membalas Ambo dengan nada sehalus mungkin. Bagaimanapun, saya seorang anak dan dia seorang bapak. Lancang saya meninggikan suara di hadapan beliau.
Tapi Ambo tak terima. Dia menganggap saya sudah melawan orang tua.
Ambo pun meninggalkan saya setelah gemuruh yang terus dia lontarkan, seperti gemuruh yang enggan berhenti meronta di langit sana. Hujan masih turun. Jalan yang batu dan tanah semakin basah.
***
Indo tampak sibuk menyiapkan nasi ketan dan telur. Itu sesajen untuk ritual Mabbule Manu. Setelah segala rangkaian adat dilaksanakan seperti Mabbepa Pitu atau membuat tujuh jenis kue sebagai syarat wajib yang harus dilakukan semua masyarakat Pongka, memainkan permainan rakyat yang sudah diganti dengan pertandingan sepak bola sebagai wujud perkembangan zaman yang dilangsungkan seminggu penuh dan finalnya dilakukan tadi sore, kini puncak Sirawu Sulo akan dilaksanakan dengan diawali Mabbule Manu, mengarak ayam dari rumah Sudirman Mappangara, sanro baru setelah kematian Dajange, sanro lama yang kata Ambo sudah mengatakan kalau Sirawu Sulo harus dilaksanakan tahun ini.
Dajange mati dua hari setelah gemuruh datang di rumah saya kala itu. Banyak menduga kalau dia mati karena usianya memang sudah sangat lapuk. Beberapa orang sedikit menyayangkan, termasuk saya, sebab kami belum sempat menanyakan kebenaran perihal ucapan Ambo. Tapi karena Dajange sudah mati, dan semua orang kadung percaya, Sirawu Sulo tetap dilaksanakan untuk menghindari karma dengan mengusung sanro baru yang merupakan cucu ketiga Dajange sendiri.
"Saya masih tidak percaya kalau Sirawu Sulo berlangsung tahun ini, Ndo. Saya takut kalau itu cuma akal-akalan Ambo biar bisa sekalian kampanye. Mumpung Pongka lagi ramai dan ada soto kuda di setiap rumah," kataku sehabis melayat dari rumah Supriadi. Lelaki bertubuh tambun itu tiba-tiba saja meninggal padahal kata anaknya, dia masih kuat pagi hari dan masih sempat memakan satu mangkuk soto kuda.
"Ushh, kau ini. Ambomu tidak mungkin seperti itu. Lebih baik kau bantu Indo membereskan rumah. Keluargamu dari Bone kota bakal datang. Jangan sampai rumah kita kotor pas mereka masuk."
Saya mengangguk dan segera melupakan pikiran yang mengganjal. Barangkali Dajange menginginkan agar silaturahmi warga semakin erat dengan berlangsungnya Sirawu Sulo yang lebih awal.
Semakin langit diselimuti malam, Pongka semakin meriah. Warga datang dari berbagai arah, baik warga kampung maupun luar kampung. Sanro beserta rombongan mulai mengarak ayam dengan berjalan dari berbagai tempat ke Lapangan Mabbaranie, tempat Sirawu Sulo berlangsung. Orang-orang sudah siap dengan daun kelapa yang sudah diikat untuk kemudian dibakar, terus dilempar-dilemparkan sehingga terjadi perang api. Tampak Pak Bupati duduk di dekat jalan masuk menuju lapangan demi menyambut Sanro nantinya.
Tiba-tiba saya mendapat panggilan telepon dari sepupu. Indo meninggal. Katanya, Indo meninggal setelah jatuh pingsan sehabis menyantap soto kuda, persis seperti kematian Supriadi, atau tiga kematian lainnya yang sebenarnya sempat saya dengarkan sepanjang hari ini. Kenapa kematian berturut-turut bisa terjadi? Saya langsung berlari mendekati Ambo yang berdiri di sebelah Kepala Desa dan Pak Bupati. Saya ingin memberitahu soal kematian Indo, dan karma yang mungkin datang karena Sirawu Sulo. (*)
Watampone, 4/2/18
Ambo: Bapak
Indo: Ibu
Adampengi’ka: Maafkan saya
JUSTANG ZEALOTOUS. Seorang guru Bahasa Indonesia dan instruktur Bahasa Inggris. Anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Cabang Bone.
Saya tidak pernah menyangka akan berdebat dengan Ambo. Diiringi tangisan yang datang dari langit yang menurunkan air serupa jarum-jarum sehingga genting rumah seolah ditusuk-tusuk. Setelah sejak lama hingga usia saya mencapai dua puluh empat tahun, rumah kami selalu diramaikan dengan suara bernada rendah, kalau pun bernada tinggi hanya saat Ambo berteriak karena tulang betisnya bergeser sebab terjatuh dari pohon kelapa atau Indo yang berteriak ketika melihat kecoa membuntutinya di kamar mandi, lalu hari ini tiba-tiba saja rumah sudah berubah menjadi medan peperangan.
Perdebatan saya dengan Ambo dimulai sepulang Ambo dari rumah Sanro, ketua adat yang rambutnya beruban dan matanya mulai rabun dengan ingatan yang tak lagi jernih, kemudian membisiki Indo kalau Sirawu Sulo akan dilaksanakan tahun ini. Saya yang tentu mendengarnya karena duduk tepat di belakang Indo angkat bicara.
"Serius, Ambo? Baru dua tahun kemarin dilaksanakan, tahun ini dilaksanakan lagi?" heran saya. Ambo sontak menatap saya tajam. Matanya seperti panah yang bersiap menembus mata saya.
"Tahu apa? Ambo sudah berkunjung ke rumah Sanro, dan dia sendiri bilang begitu."
Saya masih tidak percaya. Sirawu Sulo selalu dilaksanakan tiga tahun sekali, meski dulu lima tahun sekali tapi politik merembesi kampung diubahlah jadi tiga tahun sekali agar sekalian bahan promosi untuk Pongka, tapi kini malah diubah lagi. Mentang-mentang Ambo calon wakil rakyat. Ini pelanggaran adat.
Saya tahu Ambolah yang senantiasa berhubungan dengan Sanro untuk diinformasikan pada Kepala Desa, kemudian diturunkan ke masyarakat mengenai tanggal baik Sirawu Sulo dilaksanakan. Ketika tadi pagi, dia tiba-tiba bertandang ke rumah Sanro, dan pulangnya malah mengabarkan hal yang tak masuk akal.
"Adampengi'ka, Ambo, betulji Sanro bilang begitu? Bukannya tahun depan baru dilaksanakan?"
"Kurang ajar. Kaukira Ambo berbohong?" Suara Ambo meninggi, kemudian tampaklah hujan turun seperti jarum-jarum dari balik jendela yang selalu terbuka. "Ini sudah perintah adat. Jika kita tidak laksanakan, kampung bisa kena karma."
Kami memang percaya semua yang keluar dari bibir Sanro merupakan kalimat yang datang dari Tuhan. Kami harus meyakini. Bilamana ada yang mengingkar dan tidak melaksanakannya, kampung kami akan mendapatkan musibah berupa kematian berturut-turut, seolah diracuni alam dan kekuasaan.
"Apa seharusnya Ambo konfirmasi ulang sama Sanro? Jangan sampai Sanro salah ingat. Dia sudah pikun, Ambo." Saya membalas Ambo dengan nada sehalus mungkin. Bagaimanapun, saya seorang anak dan dia seorang bapak. Lancang saya meninggikan suara di hadapan beliau.
Tapi Ambo tak terima. Dia menganggap saya sudah melawan orang tua.
Ambo pun meninggalkan saya setelah gemuruh yang terus dia lontarkan, seperti gemuruh yang enggan berhenti meronta di langit sana. Hujan masih turun. Jalan yang batu dan tanah semakin basah.
***
Indo tampak sibuk menyiapkan nasi ketan dan telur. Itu sesajen untuk ritual Mabbule Manu. Setelah segala rangkaian adat dilaksanakan seperti Mabbepa Pitu atau membuat tujuh jenis kue sebagai syarat wajib yang harus dilakukan semua masyarakat Pongka, memainkan permainan rakyat yang sudah diganti dengan pertandingan sepak bola sebagai wujud perkembangan zaman yang dilangsungkan seminggu penuh dan finalnya dilakukan tadi sore, kini puncak Sirawu Sulo akan dilaksanakan dengan diawali Mabbule Manu, mengarak ayam dari rumah Sudirman Mappangara, sanro baru setelah kematian Dajange, sanro lama yang kata Ambo sudah mengatakan kalau Sirawu Sulo harus dilaksanakan tahun ini.
Dajange mati dua hari setelah gemuruh datang di rumah saya kala itu. Banyak menduga kalau dia mati karena usianya memang sudah sangat lapuk. Beberapa orang sedikit menyayangkan, termasuk saya, sebab kami belum sempat menanyakan kebenaran perihal ucapan Ambo. Tapi karena Dajange sudah mati, dan semua orang kadung percaya, Sirawu Sulo tetap dilaksanakan untuk menghindari karma dengan mengusung sanro baru yang merupakan cucu ketiga Dajange sendiri.
"Saya masih tidak percaya kalau Sirawu Sulo berlangsung tahun ini, Ndo. Saya takut kalau itu cuma akal-akalan Ambo biar bisa sekalian kampanye. Mumpung Pongka lagi ramai dan ada soto kuda di setiap rumah," kataku sehabis melayat dari rumah Supriadi. Lelaki bertubuh tambun itu tiba-tiba saja meninggal padahal kata anaknya, dia masih kuat pagi hari dan masih sempat memakan satu mangkuk soto kuda.
"Ushh, kau ini. Ambomu tidak mungkin seperti itu. Lebih baik kau bantu Indo membereskan rumah. Keluargamu dari Bone kota bakal datang. Jangan sampai rumah kita kotor pas mereka masuk."
Saya mengangguk dan segera melupakan pikiran yang mengganjal. Barangkali Dajange menginginkan agar silaturahmi warga semakin erat dengan berlangsungnya Sirawu Sulo yang lebih awal.
Semakin langit diselimuti malam, Pongka semakin meriah. Warga datang dari berbagai arah, baik warga kampung maupun luar kampung. Sanro beserta rombongan mulai mengarak ayam dengan berjalan dari berbagai tempat ke Lapangan Mabbaranie, tempat Sirawu Sulo berlangsung. Orang-orang sudah siap dengan daun kelapa yang sudah diikat untuk kemudian dibakar, terus dilempar-dilemparkan sehingga terjadi perang api. Tampak Pak Bupati duduk di dekat jalan masuk menuju lapangan demi menyambut Sanro nantinya.
Tiba-tiba saya mendapat panggilan telepon dari sepupu. Indo meninggal. Katanya, Indo meninggal setelah jatuh pingsan sehabis menyantap soto kuda, persis seperti kematian Supriadi, atau tiga kematian lainnya yang sebenarnya sempat saya dengarkan sepanjang hari ini. Kenapa kematian berturut-turut bisa terjadi? Saya langsung berlari mendekati Ambo yang berdiri di sebelah Kepala Desa dan Pak Bupati. Saya ingin memberitahu soal kematian Indo, dan karma yang mungkin datang karena Sirawu Sulo. (*)
Watampone, 4/2/18
Ambo: Bapak
Indo: Ibu
Adampengi’ka: Maafkan saya
JUSTANG ZEALOTOUS. Seorang guru Bahasa Indonesia dan instruktur Bahasa Inggris. Anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Cabang Bone.
Minggu, 31 Desember 2017
[Dimuat di Banjarmasin Post edisi Minggu, 31 Desember 2017]
Adakah yang lebih tabah dari aku? Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Seharian ini, aku memang dirundung hujan, dan aku tidak berlari. Aku mematung di tempatku berdiri.
Aku sudah terbiasa seperti ini. Ketika hujan datang, aku membasah. Ketika matahari bersinar, aku menggosong. Tapi seperti yang aku katakan, aku tetap bertahan pada tempatku berdiri.
Jika hujan, tidak ada yang lebih indah selain melihat orang-orang berpayung, melompati genangan air hingga terciprat dan sesekali mengenai pakaian mereka, lalu tiba-tiba ada suara tawa di bawah payung-payung itu. Atau seorang lelaki berjaket jins yang memayungi seorang perempuan yang jelas-jelas memakai jas hujan. Polos sekali.
"Kamu tidak perlu melakukan itu."
"Aku tidak ingin kamu sakit."
"Aku sudah pakai jas hujan."
"Itu tidak cukup."
Lalu, sebuah mobil di seberang jalan membukakan pintu. Perempuan yang mengenakan jas hujan itu masuk, meninggalkan lelaki yang tadi. Dari balik kaca mobil, seorang lelaki melemparkan jari tengahnya ke arah lelaki berjaket jins.
Orang-orang di jalan raya memang selalu lucu. Oleh karenanya, aku betah berdiri berlama-lama di sini. Meskipun hujan membuatku gigil, atau panas yang datang tak tanggung-tanggung. Tapi tidak semua orang di jalan raya itu lucu. Beberapa di antara mereka malah lebih menakutkan daripada hantu-hantu yang bergentayangan di rumah-rumah tua. Aku serius soal ini.
Pernah suatu malam, aku melihat kejadian paling miris yang membuat aku sempat berdoa agar segera dicabut Tuhan.
Seperti biasa, aku berdiri di tempat ini, di dekat tiang nama jalan yang bertuliskan Jalan Merdeka Raya. Malam itu tidak hujan tapi bau aspal basah karena hujan tadi sore masih menguar. Aku yang bisa dikatakan sedikit menggigil memperhatikan mobil, motor, becak, andong, bajaj, hingga truk lalu lalang. Aku selalu senang memperhatikan mesin-mesin yang berjalan angkuh itu.
Di dekat tiang lampu merah, sekitar beberapa meter dari tempatku berdiri, ada seorang anak laki-laki berambut kusut berpakaian kusut menenteng kantong-kantong plastik hitam yang juga kusut. Dia menjajakan kantong-kantong plastik hitam itu ke setiap pengendara yang singgah karena lampu merah.
Ada sedikit rasa kagum melihat anak itu. Dia menjual, bukan mengemis. Dia punya usaha untuk hidup. Aku tidak menyalahkan pengemis-pengemis yang mencari rezeki dengan mengemis, tapi sekali lagi, aku lebih kagum pada anak itu.
"Beli ini, Pak, beli ini, Bu," kata anak laki-laki itu. Tiap kali dia berkata begitu, dia selalu menyertakannya dengan merendahkan bahu. Aku tahu anak itu pasti bekerja di malam begini karena suatu keperluan yang mendesak, atau itu memang pekerjaannya demi membantu biaya sekolah. Itu cuma dugaanku.
Dua jam berlalu, baru satu pengendara yang berhasil membeli kantong plastiknya. Itu karena anak perempuan dalam mobil sedan itu terlihat ingin muntah, jadi dia membutuhkan kantong plastik hitam demi memuntahkan semua isi perutnya.
"Terima kasih banyak, Pak. Semoga berkah," ucap anak laki-laki itu sambil menunduk-nundukkan badannya. Dia terlihat girang sekali memperoleh uang seribuan. Aku yakin sekali, orang tuanya sudah berhasil mendidiknya dengan ajaran agama.
Malam semakin larut. Dingin kota ini makin terasa. Aku tetap bertahan di tempatku berdiri, tetap menyaksikan anak laki-laki penjual kantong plastik di dekat tiang lampu merah yang juga masih berjualan. Dia benar-benat ulet.
Hingga beberapa gerombolan anak datang menghampiri anak laki-laki itu. Pikiranku mendadak kacau. Apa yang ingin mereka lakukan?
"Woi!" teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar.
Anak laki-laki yang berjualan itu malah tersenyum. Tidak tampak rasa takut dalam dirinya. Aku kini mulai bingung.
"Sudah dapat banyak?"
"Belum. Baru satu orang yang beli."
"Ya sudah. Kita ke sana!" Salah satu anak berambut keriting mengajak anak laki-laki itu ke suatu tempat. Anak laki-laki itu mengangguk saja. Mereka kemudian pergi ke tempat yang dituju. Di dekat semak-semak, tak terlalu jauh dari tepi jalan, di tempat yang agak gelap.
Di tengah keremangan, aku menyaksikan anak laki-laki itu bersama dengan gerombolan anak yang tadi. Gila. Mereka mengeluarkan beberapa barang berupa bubuk yang lumayan kecil, menghirupnya sedikit, lalu tertawa-tawa. Mereka juga mengeluarkan sebatang rokok. Astaga. Anak laki-laki itu juga ikutan merokok.
Aku langsung ingin mengutuk diri. Aku tidak tahu tapi aku teramat jengkel dengan diriku sendiri.
Sehabis menikmati dunia, anak-anak itu berpencar lagi, termasuk anak laki-laki yang kembali ke dekat tiang lampu merah. Anak itu kembali menyodorkan jualannya, tapi kini cara berdirinya kurang stabil. Sedikit-sedikit oleng ke kiri, atau oleng ke kanan.
Akibatnya sebuah mobil berwarna putih yang hilang kendali menabrak anak laki-laki itu. Dia terpelanting. Kepalanya jatuh tepat di sisi trotoar. Darah seketika muncrat ke mana-mana. Tidak cukup lama, orang-orang sudah berkerumun ke arah anak itu. Beberapa orang lainnya menghakimi supir mobil, menghajarnya hingga biru-biru, termasuk mobilnya yang dibikin tambah penyok.
Kisah-kisah miris semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari. Aku memang tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Aku tidak mempermasalahkan orang-orang yang sering berjalan dengan lagak, atau orang yang kadang singgah mengencingiku, atau ketika aku jadi bahan lelucon karena sebuah mobil milik pejabat menabrakku. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya. (*)
Watampone, 19 November 2017
Minggu, 24 Desember 2017
[Dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu, 24 Desember 2017]
Aku hanya perempuan biasa, Rustam. Perempuan yang masih punya hati yang rapuh serapuh ranting kering jatuh meninggalkan pohon yang ketika terinjak kaki-kaki manusia akan patah sendirinya. Jujur, Rustam, aku tak bisa pura-pura kuat ketika dadaku sudah semakin sesak karena luka yang kauberikan padaku. Aku, perempuan yang telah menerima pinanganmu ingin menikah denganmu, bukan menikah dengan luka.
Sudah terbilang empat pekan kau pergi, Rustam. Sudah banyak kerinduan dan kehilangan dan kerterpurukan yang menjeratku. Aku seakan berada di ambang keinginan untuk lepas darimu atau tetap menunggumu di sini sampai kau pulang. Tapi aku tidak tahu seberapa lama aku bertahan sementara aku benar-benar hanya perempuan biasa yang bisa jatuh hati dengan siapa saja. Jika begitu, pulanglah, Rustam. Jangan biarkan aku mencinta selain dirimu.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau datang di rumahku bersama ibu dan bapakmu menemui ibu dan bapakku tanpa kabar sebelumnya hingga kami serumah kaget setengah mati. Kami kira kau bercanda tapi matamu yang berbinar, senyummu yang merekah lebar sekali hingga pipi bakpaumu jadi terkikis, menyiratkan kesungguhan yang nyata.
"Saya sudah sangat mencintai anak Om. Saya mohon restui hubungan kami," katamu jantan, lebih jantan dari kata-kata para lelaki yang pernah datang ke rumahku hanya dengan modal cengengesan.
"Kami pasti merestui niat baikmu, Nak." Ayahku membalas ucapanmu dengan bijak pula. Kau tahu, Rustam? Bahagia yang datang ke hatiku ketika mendengar itu lebih besar daripada bahagia yang pernah menghampiriku ketika wisuda S1 dua tahun lalu.
"Kapan acara naik uangnya?" tanya ibumu. Dia tampak lebih bersemangat dari yang aku kira.
"Secepatnya," sambut ayahku.
Semua tanggal penting sudah tercatat. Segala rangkaian adat sudah dilaksanakan. Tersisa kalimat sakral yang mesti kauucapkan di hadapan penghulu demi mengikat janji kita untuk hidup bahagia selamanya. Namun tiba-tiba kaukirimkan guntur tepat di hari-hari bahagiaku. "Aku harus berangkat sekarang, Halimah. Negara membutuhkanku."
Apa kau pikir aku tidak membutuhkanmu sama sekali, Rustam? Apa kau pikir aku tidak akan tersiksa dengan kepergianmu yang entah kembali atau tidak, Rustam? Aku sakit, Rustam. Aku bahkan menangis berhari-hari setelah melihat punggungmu yang lebar dan tegap itu menghilang perlahan demi perlahan.
Kukatakan memang, "Pergilah, Rustam, jika itu benar tugas negara yang harus kaupenuhi. Aku tahu banyak orang yang membutuhkan dan mengharapkanmu di sana. Aku hanya akan mengirimkan doa-doa untuk mengiringi langkahmu." Tapi itu tidak lebih dari caraku untuk membuat kau tidak merasa cemas sama sekali. Padahal kalimatku telah menusuk jantungku sendiri.
"Terima kasih, Halimah, aku janji akan kembali secepat yang aku bisa."
"Janji?"
"Janjiku itu janji seorang kesatria, Halimah. Aku lebih baik mati tertusuk panah ketimbang mengingkari janjiku sendiri."
Kau cium keningku kemudian berbalik. Kau pergi lalu tak kembali lagi. Ke mana janji kesatriamu itu, Rustam? Ini sudah cukup lama kaubiarkan aku dirundung pilu dan hidup dengan luka.
Kenapa juga harus kau yang pergi membela negara, Rustam? Maksudku, kenapa tidak kaucari saja pekerjaan lain yang tak perlu membuat aku merasakan kerinduan dan kehilangan dan keterpurukan yang tiada terkira?
Terlalu pahit rasanya melihat kau mencumbui senjata-senjata, sementara aku di sini hanya mampu menyandarkan wajahku ke jendela kaca sembari melihat angin menerbangkan daun-daun. Terlalu perih rasanya membayangkan kau berada di tengah-tengah kebengisan orang-orang yang bermain-main dengan desing peluru yang ditembakkan berkali-kali, sementara aku di sini hanya mampu tertidur dengan malam-malamku yang penuh dengan suara tembakan dan lelehan darah serta napas kematian.
"Kenapa kau memilih untuk jadi tentara?"
"Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang melindungi negara? Apa kau tidak bangga calon suamimu menjadi orang yang berjasa untuk negaranya?"
"Tapi aku takut kau terluka. Dan aku takut kau mati."
"Mati itu teman dari sebuah peperangan. Jika Tuhan membiarkan aku mati di medan perang, itu berarti Tuhan mengizinkan aku hidup di surganya."
"Kau bisa hidup di surga dengan cara lain."
"Mendapatkan surga dengan cara jantan itu pilihan terbaik, Halimah."
Kau memang egois, Rustam. Kau hanya memikirkan bagaimana seharusnya kau mati, tapi tidak pernah sekalipun kau berpikir bagaimana seharusnya kau hidup denganku.
Kau ingat, Rustam, kita bertemu saat aksi demonstrasi yang mengakibatkan dua teman kita direset ke kantor polisi. Mereka dituduh sebagai provokator. Saat itu, aku belum benar-benar mengenalmu tapi ketidakbecusan pemerintah saat itu membuat aku harus kenal dengan orang-orang sepertimu. Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang haknya dicabut. Aku ingin membela rakyat yang diperbudak pemerintah. Kau pun demikian.
Saat malam, setelah kita mengadakan pertemuan di rumah Suardi, rumah yang cukup luas untuk kita jadikan sebagai sekretariat, kau tiba-tiba menawariku jemputan untuk pulang.
"Tidak baik perempuan pulang sendirian," katamu saat itu.
"Aku sudah terbiasa."
"Kalau begitu kau harus mulai terbiasa diantar pulang."
Sejak dulu, kau memang sudah sangat egois, Rustam. Tapi karena malam itu memang sudah sangat larut, aku mau tak mau menerima tawaranmu. Lagi pula aku sebenarnya senang seorang lelaki bergaya mahasiswa organisator dengan rambut keriting yang ditata acak-acakan, jaket kulit yang membungkus kaos bertuliskan Merdeka Tanpa Kata-Kata yang kemudian dilengkapi jins panjang yang sudah disobek bagian lututnya. Aku diam-diam memperhatikanmu karena caramu untuk tetap terlihat berantakan.
Motormu sampai di depan pagar rumahku dalam waktu kurang lima belas menit. Jarak tempuh yang cukup dekat seharusnya..
"Apa kamu yakin akan ikut besok, Halimah?" tanyamu. Ada cemas yang muncul dari sosok berantakanmu.
"Kenapa kau bertanya begitu, Rustam? Aku tentu saja akan ikut. Itu sudah jadi sebuah prinsip."
"Tapi besok akan sangat bahaya untukmu, Halimah. Anak-anak pasti akan lebih agresif dari kemarin. Ini bukan lagi soal pembelaan hak-hak tapi juga tuntutan pembebasan untuk Adi dan Dono."
"Kamu santai saja, Rustam. Aku bisa jaga diri," kataku enteng. Kau tetap menatapku dengan tatapan paling khawatir. Sekarang aku merasakan kecemasanmu. Aku juga takut seperti kau dulu takut aku terluka. Ini seperti upaya balas dendam yang tak pernah tuntas.
Hari itu kita memang sama-sama berjuang, sama-sama membela hak-hak rakyat. Aku bahkan bahagia bisa berada di tengah teriakan-teriakan para demonstran yang haus keadilan. Mendengar letupan senjata para anggota brimob yang dilecutkan ke langit membuat semangatku semakit memburu. Gas air mata yang sengaja ditembakkan. Batu-batu kerikil yang melayang-melayang di udara. Semua itu benar-benar menyulut darahku. Hari itu kita sama-sama tertangkap, juga beberapa mahasiswa lain yang ikut digiring ke kantor polisi. Meskipun beberapa hari kemudian, kita dikembalikan ke orang tua masing-masing.
"Aku pernah berpikir apa sih yang sebenarnya kita lakukan ini?"
"Maksud kamu, Halimah?"
"Kita membela hak-hak rakyat dengan cara berteriak-teriak dan sekali adu pukul, sedangkan mereka di gedung sana malah menyeruput kopi sambil menonton televisi. Maksud aku, kenapa kita tidak membela hak-hak rakyat dengan cara lain tanpa harus anarkis?"
"Kita tidak anarkis, Halimah. Namun untuk didengar, kadang kita harus cari perhatian."
Sekarang, aku benar-benar ingin didengar olehmu, Rustam. Pahamkah kau itu? Aku seperti kembali menjadi seorang demonstran yang menuntut keadilan dalam dirinya. Keadilan yang telah kau renggut karena meninggalkanku di hari-hari seharusnya aku bahagia. Sesungguhnya aku pun patut bahagia, dengan atau tanpamu, tapi aku tak sanggup dan masih berharap kau segera kembali.
"Aku dengar kamu akan mendaftar jadi anggota tentara setelah lulus nanti. Apa itu benar, Rustam?"
"Aku memang memikirkan hal itu."
"Kenapa?"
"Aku berasal dari keluarga tentara, Halimah. Bapak dan kakekku seorang tentara."
"Kamu lucu, Rustam."
Kau menatapku heran.
"Kamu melawan negara dan sekarang kamu berpikir untuk membela negara."
"Aku tidak pernah melawan negara, Halimah. Hal ini bahkan tidak kusebut sebagai melawan negara. Kita hanya ingin negara ini berjalan dengan seharusnya tanpa ketidakadilan dari oknum-oknum pemerintah."
"Aku senang mendengarnya. Tapi aku minta satu hal, ketika kamu benar-benar jadi tentara, Rustam, jangan pernah lupakan orang-orang yang pernah ikut berjuang bersamamu."
Kau memang tidak melupakanku, Rustam, kau malah akan segera meresmikan hubungan kita, tapi kau sudah membuat aku tersiksa. Aku benar-benar disiksa rindu. Maka jangan salahkan aku ketika kau pulang, Rustam, kau hanya akan menemukan seorang perempuan yang membenamkan dirinya dengan sebuah luka dan darah hasil tembakan di kepalanya. (*)
Aku hanya perempuan biasa, Rustam. Perempuan yang masih punya hati yang rapuh serapuh ranting kering jatuh meninggalkan pohon yang ketika terinjak kaki-kaki manusia akan patah sendirinya. Jujur, Rustam, aku tak bisa pura-pura kuat ketika dadaku sudah semakin sesak karena luka yang kauberikan padaku. Aku, perempuan yang telah menerima pinanganmu ingin menikah denganmu, bukan menikah dengan luka.
Sudah terbilang empat pekan kau pergi, Rustam. Sudah banyak kerinduan dan kehilangan dan kerterpurukan yang menjeratku. Aku seakan berada di ambang keinginan untuk lepas darimu atau tetap menunggumu di sini sampai kau pulang. Tapi aku tidak tahu seberapa lama aku bertahan sementara aku benar-benar hanya perempuan biasa yang bisa jatuh hati dengan siapa saja. Jika begitu, pulanglah, Rustam. Jangan biarkan aku mencinta selain dirimu.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau datang di rumahku bersama ibu dan bapakmu menemui ibu dan bapakku tanpa kabar sebelumnya hingga kami serumah kaget setengah mati. Kami kira kau bercanda tapi matamu yang berbinar, senyummu yang merekah lebar sekali hingga pipi bakpaumu jadi terkikis, menyiratkan kesungguhan yang nyata.
"Saya sudah sangat mencintai anak Om. Saya mohon restui hubungan kami," katamu jantan, lebih jantan dari kata-kata para lelaki yang pernah datang ke rumahku hanya dengan modal cengengesan.
"Kami pasti merestui niat baikmu, Nak." Ayahku membalas ucapanmu dengan bijak pula. Kau tahu, Rustam? Bahagia yang datang ke hatiku ketika mendengar itu lebih besar daripada bahagia yang pernah menghampiriku ketika wisuda S1 dua tahun lalu.
"Kapan acara naik uangnya?" tanya ibumu. Dia tampak lebih bersemangat dari yang aku kira.
"Secepatnya," sambut ayahku.
Semua tanggal penting sudah tercatat. Segala rangkaian adat sudah dilaksanakan. Tersisa kalimat sakral yang mesti kauucapkan di hadapan penghulu demi mengikat janji kita untuk hidup bahagia selamanya. Namun tiba-tiba kaukirimkan guntur tepat di hari-hari bahagiaku. "Aku harus berangkat sekarang, Halimah. Negara membutuhkanku."
Apa kau pikir aku tidak membutuhkanmu sama sekali, Rustam? Apa kau pikir aku tidak akan tersiksa dengan kepergianmu yang entah kembali atau tidak, Rustam? Aku sakit, Rustam. Aku bahkan menangis berhari-hari setelah melihat punggungmu yang lebar dan tegap itu menghilang perlahan demi perlahan.
Kukatakan memang, "Pergilah, Rustam, jika itu benar tugas negara yang harus kaupenuhi. Aku tahu banyak orang yang membutuhkan dan mengharapkanmu di sana. Aku hanya akan mengirimkan doa-doa untuk mengiringi langkahmu." Tapi itu tidak lebih dari caraku untuk membuat kau tidak merasa cemas sama sekali. Padahal kalimatku telah menusuk jantungku sendiri.
"Terima kasih, Halimah, aku janji akan kembali secepat yang aku bisa."
"Janji?"
"Janjiku itu janji seorang kesatria, Halimah. Aku lebih baik mati tertusuk panah ketimbang mengingkari janjiku sendiri."
Kau cium keningku kemudian berbalik. Kau pergi lalu tak kembali lagi. Ke mana janji kesatriamu itu, Rustam? Ini sudah cukup lama kaubiarkan aku dirundung pilu dan hidup dengan luka.
Kenapa juga harus kau yang pergi membela negara, Rustam? Maksudku, kenapa tidak kaucari saja pekerjaan lain yang tak perlu membuat aku merasakan kerinduan dan kehilangan dan keterpurukan yang tiada terkira?
Terlalu pahit rasanya melihat kau mencumbui senjata-senjata, sementara aku di sini hanya mampu menyandarkan wajahku ke jendela kaca sembari melihat angin menerbangkan daun-daun. Terlalu perih rasanya membayangkan kau berada di tengah-tengah kebengisan orang-orang yang bermain-main dengan desing peluru yang ditembakkan berkali-kali, sementara aku di sini hanya mampu tertidur dengan malam-malamku yang penuh dengan suara tembakan dan lelehan darah serta napas kematian.
"Kenapa kau memilih untuk jadi tentara?"
"Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang melindungi negara? Apa kau tidak bangga calon suamimu menjadi orang yang berjasa untuk negaranya?"
"Tapi aku takut kau terluka. Dan aku takut kau mati."
"Mati itu teman dari sebuah peperangan. Jika Tuhan membiarkan aku mati di medan perang, itu berarti Tuhan mengizinkan aku hidup di surganya."
"Kau bisa hidup di surga dengan cara lain."
"Mendapatkan surga dengan cara jantan itu pilihan terbaik, Halimah."
Kau memang egois, Rustam. Kau hanya memikirkan bagaimana seharusnya kau mati, tapi tidak pernah sekalipun kau berpikir bagaimana seharusnya kau hidup denganku.
Kau ingat, Rustam, kita bertemu saat aksi demonstrasi yang mengakibatkan dua teman kita direset ke kantor polisi. Mereka dituduh sebagai provokator. Saat itu, aku belum benar-benar mengenalmu tapi ketidakbecusan pemerintah saat itu membuat aku harus kenal dengan orang-orang sepertimu. Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang haknya dicabut. Aku ingin membela rakyat yang diperbudak pemerintah. Kau pun demikian.
Saat malam, setelah kita mengadakan pertemuan di rumah Suardi, rumah yang cukup luas untuk kita jadikan sebagai sekretariat, kau tiba-tiba menawariku jemputan untuk pulang.
"Tidak baik perempuan pulang sendirian," katamu saat itu.
"Aku sudah terbiasa."
"Kalau begitu kau harus mulai terbiasa diantar pulang."
Sejak dulu, kau memang sudah sangat egois, Rustam. Tapi karena malam itu memang sudah sangat larut, aku mau tak mau menerima tawaranmu. Lagi pula aku sebenarnya senang seorang lelaki bergaya mahasiswa organisator dengan rambut keriting yang ditata acak-acakan, jaket kulit yang membungkus kaos bertuliskan Merdeka Tanpa Kata-Kata yang kemudian dilengkapi jins panjang yang sudah disobek bagian lututnya. Aku diam-diam memperhatikanmu karena caramu untuk tetap terlihat berantakan.
Motormu sampai di depan pagar rumahku dalam waktu kurang lima belas menit. Jarak tempuh yang cukup dekat seharusnya..
"Apa kamu yakin akan ikut besok, Halimah?" tanyamu. Ada cemas yang muncul dari sosok berantakanmu.
"Kenapa kau bertanya begitu, Rustam? Aku tentu saja akan ikut. Itu sudah jadi sebuah prinsip."
"Tapi besok akan sangat bahaya untukmu, Halimah. Anak-anak pasti akan lebih agresif dari kemarin. Ini bukan lagi soal pembelaan hak-hak tapi juga tuntutan pembebasan untuk Adi dan Dono."
"Kamu santai saja, Rustam. Aku bisa jaga diri," kataku enteng. Kau tetap menatapku dengan tatapan paling khawatir. Sekarang aku merasakan kecemasanmu. Aku juga takut seperti kau dulu takut aku terluka. Ini seperti upaya balas dendam yang tak pernah tuntas.
Hari itu kita memang sama-sama berjuang, sama-sama membela hak-hak rakyat. Aku bahkan bahagia bisa berada di tengah teriakan-teriakan para demonstran yang haus keadilan. Mendengar letupan senjata para anggota brimob yang dilecutkan ke langit membuat semangatku semakit memburu. Gas air mata yang sengaja ditembakkan. Batu-batu kerikil yang melayang-melayang di udara. Semua itu benar-benar menyulut darahku. Hari itu kita sama-sama tertangkap, juga beberapa mahasiswa lain yang ikut digiring ke kantor polisi. Meskipun beberapa hari kemudian, kita dikembalikan ke orang tua masing-masing.
"Aku pernah berpikir apa sih yang sebenarnya kita lakukan ini?"
"Maksud kamu, Halimah?"
"Kita membela hak-hak rakyat dengan cara berteriak-teriak dan sekali adu pukul, sedangkan mereka di gedung sana malah menyeruput kopi sambil menonton televisi. Maksud aku, kenapa kita tidak membela hak-hak rakyat dengan cara lain tanpa harus anarkis?"
"Kita tidak anarkis, Halimah. Namun untuk didengar, kadang kita harus cari perhatian."
Sekarang, aku benar-benar ingin didengar olehmu, Rustam. Pahamkah kau itu? Aku seperti kembali menjadi seorang demonstran yang menuntut keadilan dalam dirinya. Keadilan yang telah kau renggut karena meninggalkanku di hari-hari seharusnya aku bahagia. Sesungguhnya aku pun patut bahagia, dengan atau tanpamu, tapi aku tak sanggup dan masih berharap kau segera kembali.
"Aku dengar kamu akan mendaftar jadi anggota tentara setelah lulus nanti. Apa itu benar, Rustam?"
"Aku memang memikirkan hal itu."
"Kenapa?"
"Aku berasal dari keluarga tentara, Halimah. Bapak dan kakekku seorang tentara."
"Kamu lucu, Rustam."
Kau menatapku heran.
"Kamu melawan negara dan sekarang kamu berpikir untuk membela negara."
"Aku tidak pernah melawan negara, Halimah. Hal ini bahkan tidak kusebut sebagai melawan negara. Kita hanya ingin negara ini berjalan dengan seharusnya tanpa ketidakadilan dari oknum-oknum pemerintah."
"Aku senang mendengarnya. Tapi aku minta satu hal, ketika kamu benar-benar jadi tentara, Rustam, jangan pernah lupakan orang-orang yang pernah ikut berjuang bersamamu."
Kau memang tidak melupakanku, Rustam, kau malah akan segera meresmikan hubungan kita, tapi kau sudah membuat aku tersiksa. Aku benar-benar disiksa rindu. Maka jangan salahkan aku ketika kau pulang, Rustam, kau hanya akan menemukan seorang perempuan yang membenamkan dirinya dengan sebuah luka dan darah hasil tembakan di kepalanya. (*)
Rabu, 03 Februari 2016
[Dimuat di Metro Riau, Minggu, 24 Januari 2016]
Puncak segatan matahari terjadi lagi, padahal ini
sudah masuk musim penghujan. Pasir kembali mendidih. Angin berembus seperti
kobaran api yang menyala. Ini memang aneh. Tapi, tidak ada yang lebih
mengejutkan selain kabar kematian Pak Burhan, pria berumur yang begitu dermawan,
di siang bolong begini. Banyak yang bilang, Pak Burhan mati kelaparan.
Semua orang berbondong-bondong menaruh tanya. Mengapa
Pak Burhan bisa menjemput maut karena kelaparan? Sosoknya yang pemurah dan
selalu membantu banyak orang seolah mustahil kematian seperti itu yang
menimpanya. Jika Pak Burhan mati stroke atau serangan jantung, mungkin semua
orang akan terima karena umurnya yang memang sudah tua. Pertanyaannya lagi,
kenapa dia sampai mati kelaparan? Tidak adakah orang yang memberinya makan?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di kepala
banyak orang. Tidak ada yang menyangka akan seperti ini akhir hidup Pak Burhan.
Saya sendiri sontak kaget mendengar kabar angin itu. Namun, bagaimanapun
jenazah Pak Burhan telah diangkut dengan ambulans menuju tempat
peristirahatannya yang terakhir.
Iring-iringan pengantar jenazah sangat banyak
diikuti suara sirene ambulans yang meraung-raung. Semua seperti menyimpan
kehilangan yang mendalam. Betapapun, Pak Burhan telah mencetak banyak amal
kebaikan. Kemurahan hatinya dan kesederhanaannya. Satu yang masih saya
sesalkan, kenapa Pak Burhan yang kami kenal baik harus mati kelaparan?
Saya dan Pak Burhan memang tidak terlalu dekat. Saya
mengenalnya hanya sebatas rekan kerja sebelum akhirnya dia mengundurkan diri.
Kami sama-sama kerja sebagai buruh di pabrik beras. Meskipun Pak Burhan cukup
berumur ketimbang kami yang bekerja dengannya tapi dia memiliki semangat kerja
yang lebih besar daripada kami.
Saya tidak pernah melihatnya mengeluh sama sekali
walaupun mesti lembur hampir tiap hari. Suatu hari saya melihatnya telah
bermandikan keringat, sambil batuk-batuk dia masih menyelesaikan pekerjaannya.
Menumbuk padi dan menggilingnya.
“Pak, kenapa tidak istirahat saja?” Saya
mengingatkan. “Nanti saya gantikan pekerjaannya.”
“Tidak apa-apa. Sebentar lagi juga selesai,” katanya
masih penuh semangat.
Saya mendekat padanya, bermaksud membantu
pekerjaannya. “Pak Burhan ini hebat.”
Pak Burhan tersenyum mendengar pujian saya.
“Bapak ini kan lebih tua daripada kami semua. Tapi,
semangat Bapak masih seperti anak muda. Sama sekali tidak pernah capek.”
Dia terkekeh. “Saya juga pernah capek. Tapi bukan
berarti itu adalah alasan saya untuk mengeluh. Saya masih bisa kerja. Saya
masih bisa kasih makan diri sendiri. Sementara banyak orang tunggang langgang
cari kerja untuk makan. Makanya, ya, disyukuri saja.”
Begitupun, setelah setahun lebih bekerja di pabrik,
Pak Burhan memutuskan untuk mengundurukan diri. Alasan tepatnya tidak begitu
saya ketahui, tapi kata beberapa rekan kerja, Pak Burhan sudah merasa beda visi
dengan di pabrik. Banyak kejanggalan yang tidak diingini, misalnya gaji yang tidak
seimbang dengan pekerjaan atau ego tinggi yang dimiliki pihak pengelola yang
selalu membedakannya dengan buruh lain hanya karena masalah umur. Dia dianggap
tidak becus lagi. Namun, setelah pengunduran dirinya, Pak Burhan kadang jadi
kuli panggul, kuli bangunan, atau apa saja yang bisa dikerjakannya.
Saya kian kagum pada sosok yang lumayan ringkih itu.
Selain sifat kesederhanaannya dan dengan semangat yang tinggi, Pak Burhan
banyak membantu orang padahal dia sendiri sedang kesusahan. Dia bukan orang yang
berkecukupan tapi terlihat selalu cukup jika bersedekah.
Hal yang saya heran dari Pak Burhan, meskipun suka
membantu sesama tapi dia paling tidak suka dibantu orang. Dia selalu beralasan
bahwa dia masih kuat untuk mendapat bantuan. Pernah sesekali saya melihat Pak
Burhan jalan kaki sendirian. Tampaknya perjalanan kaki Pak Burhan sudah lumayan
jauh atau matahari yang semakin terik saja hingga Pak Burhan terlihat begitu
letih, baju kaosnya bahkan basah karena keringat. Beberapa kali dia mengusap
dahinya dengan lengan.
Saya yang kala itu mengendarai motor menuju pasar
berhenti tepat di sampingnya. Saya mencoba untuk memberikan tumpangan padanya.
“Pak, mau ke mana?” tanya saya pelan.
“Mau ke terminal,” jawabnya.
“Oh, ikut saya saja. Toh, saya mau ke pasar dan
jalurnya searah.”
“Tidak! Terima kasih. Adek jalan saja.” Pak Burhan
menolak sambil tersenyum sedikit. Dari wajahnya, saya bisa melihat guratan
keletihan di dalamnya.
“Ikut sajalah, Pak! Kelihatannya Bapak capek sekali
apalagi masih jauh perjalanannya.”
Pak Burhan tetap menolak. Dalihnya dia ingin
olahraga. Daripada maksa terus dan akhirnya terdengar menyinggung. Saya pun
memutuskan pergi sendiri. “Kalau begitu saya duluan, Pak!”
“Hati-hati.” Dia masih sempat teriak saat itu. Dalam
teriakannya, tetap terdengar rasa semangat di sana. Pak Burhan memang hebat.
Hal-hal yang saya paling kenal dari Pak Burhan
terasa mengaburkan kabar penyebab kematiannya. Mati kelaparan. Saya benar-benar
tidak percaya. Pasti ada orang-orang yang sengaja menyebar gosip tentang itu.
Setelah jenazah Pak Burhan dimasukkan ke dalam liang
lahat dan dibacakan doa oleh Pak Imam, para rombongan meninggalkan makam. Di
antara rombongan itu, tidak seorang pun yang saya lihat merupakan keluarga
dekat Pak Burhan. Kebanyakan dari yang datang hanyalah mantan rekan kerja Pak
Burhan, tetangganya, dan orang-orang yang mengenalnya atau mungkin yang pernah
dibantunya.
Selama saya mengenal Pak Burhan, saya memang tidak
pernah mendengar kabar soal keluarganya. Hingga umur genap lima puluh dua, Pak
Burhan tetap menjadi bujang lapuk. Saya tidak tahu menahu mengapa Pak Burhan
tidak mencari istri. Ada yang bilang, Pak Burhan tetap setia sendiri karena
tidak mau menyusahkan seorang wanita yang akan menjadi istrinya nanti. Hidup
sudah susah, tidak perlu dibikin tambah susah.
Pak Burhan juga tidak memiliki kerabat dekat. Dia
telah lama hidup sendiri sebagai manusia perantauan. Pak Burhan seperti hidup
sebatang kara.
Sepulang dari mengantar jenazah Pak Burhan, sudah
banyak obrolan soal mengapa Pak Burhan sampai mati kelaparan. Semua seakan
menyesal telah melupakan sosok yang selama ini banyak membantu. Seperti sebuah
ketidakadilan, banyak yang merutuki kelalaian masyarakat sekitarnya sampai
membiarkan Pak Burhan harus hidup di tengah perut yang kosong.
Pak Lurah dengan inisiatif beberapa warga pun
mengadakan pertemuan mendadak di balai desa untuk membahas penyebab kematian
Pak Burhan, yang terasa sangat disesalkan. Pak Lurah membuka pertemuan dengan
sedikit pidato.
“Innalillahiwainnailaihirajiun! Telah berpulang,
keluarga kita, saudara kita, sahabat kita, Pak Burhan Saleh. Dia sosok yang
kita kenal begitu baik dan dermawan. Banyak di antara kita yang telah mendapat
bantuan darinya. Termasuk saya pribadi. Saya dan tentunya kalian semua merasa
kehilangan akan sosoknya. Namun, keresahan saya timbul ketika mendengar kalau
Pak Burhan meninggal karena kelaparan. Mengapa hal itu bisa sampai terjadi? Ini
pasti sebuah kelalaian. Saya mengadakan pertemuan ini agar tidak ada lagi
korban kelaparan selanjutnya.”
Semua orang yang hadir menundukkan kepala. Ada
guratan sedih di wajah mereka. Beberapa orang yang mengenal begitu dekat sosok
Pak Burhan bahkan meneteskan air mata. Suasana pun menjadi senyap dan haru.
Di tengah kegamangan, Pak Amin, tetangga Pak Burhan,
angkat bicara. “Semenjak Pak Burhan tidak lagi kerja di pabrik, dia memang
selalu kelayapan tidak jelas. Apalagi umurnya yang sudah tidak muda lagi, Pak
Burhan sempat beberapa kali sakit. Dulu, saya pernah melihat dia keluar rumah.
Ketika ditanya mau ke mana, katanya ingin membeli obat. Saya tahu betul kalau
Pak Burhan itu orang baik dan beberapa kali juga membantu saya. Tiap kali
diberi uang, dia selalu tolak dan menganggap itu keikhlasan. Saat itu, saya
bermaksud ingin menolongnya untuk membelikan obat yang diingini, sekaligus
balas budi. Namun sekali lagi, Pak Burhan menolak bantuan saya. Makanya, karena
sering sekali ditolak, saya pun jadi sungkan untuk membantunya bahkan terkesan
mengabaikan padahal saya paham dia juga mengharap bantuan. Jika saya kurang
perhatian padanya, saya minta maaf. Kematiannya juga bukan mau saya.” Pak Amin
mengakhiri ucapannya dengan tatapan menyesal.
“Saya juga.” Sebuah suara terdengar lagi. Seseorang
pun maju di hadapan para warga yang hadir. Dia adalah Pak Jahid. Seorang bapak
berkumis tebal itu bukan mantan rekan kerja, tetangga, apalagi keluarga Pak
Burhan. Mungkin dia orang yang juga pernah dibantu olehnya.
Pak Burhan memang membantu semua orang tanpa melihat
status dan kedekatan. Pak Burhan pernah bilang, jika kita membantu, bukan
dilihat dari siapa yang kita bantu tapi apa yang bisa kita bantu.
“Kamu juga apa?” Pak Lurah bertanya.
“Saya juga pernah ditolong Pak Burhan. Bahkan saya
merasa telah berutang budi padanya. Namun saya minta maaf.” Pak Jahid tiba-tiba
mengubah ekspersi wajahnya dengan begitu menyesal.
Semua orang lantas menatap Pak Jahid dengan bingung.
“Sehari sebelum Pak Burhan meninggal. Saya sempat
melihat dia berjalan sambil membawa bakul besar. Saya ingin mendekatinya untuk
memberi bantuan tapi urung karena saya pikir dia akan kembali menolak. Soalnya
saya sempat malu besar ketika berusaha menolongnya di hari lain dan ditolak
mentah-mentah di depan banyak orang. Dia bilang saat itu kalau dia bukan lagi
orang tua dan masih kuat untuk bekerja sendiri. Dia lalu pergi meninggalkan
saya.” Pak Jahid mulai meneteskan air mata. “Padahal maksud saya baik. Kemudian
saat dia tampak capek menenteng bakul dari sana ke mari, dia pun terjatuh. Saya
tetap tidak menolongnya. Saya menyesal sekali. Apalagi saya langsung pergi saat
itu.”
Mendengar berbagai cerita penyesalan yang dialami
mereka bersama Pak Burhan, saya jadi teringat namun tidak ingin menyampaikan di
depan khalayak. Saya seperti malu pada diri sendiri hanya karena Pak Burhan
juga sering menolak bantuan saya.
Kala itu. Saya melihat Pak Burhan terjatuh. Saya
melihat bakul berisi nasi sisa itu berserakan di tanah. Saya melihat dia
berjuang seorang diri untuk memunguti nasi sisa itu sedikit demi sedikit. Namun
saya tidak membantunya dan malah pergi meninggalkannya. Pak Burhan, kami
menyesal, saya sangat menyesal.
Watampone, 10-01-15 22:20
JUSTANG ZEALOTOUS. Menulis cerpen, puisi, dan
artikel. Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP
Muhammadiyah Bone. Anggota dari Forum Lingkar Pena Cabang Bone. Beberapa
karyanya sudah pernah diterbitkan.
Jumat, 16 Mei 2014
PANGERAN JAS
HUJAN
By. Justang Zealotous
Rupaku
bukan bidadari
Aku
tak manis, tak juga rupawan
Aku
tak menawan, cuma hati seputih awan
Gayaku
bukan permaisuri, cuma cinta selalu tulus
Sajak itu selalu
terukir dalam coretan hati. Terkadang tersimpul dalam secarik kertas. Berharap
suatu hari nanti, akan ada seorang pangeran yang entah siapa kan membacanya dan
paham tentang aku. Paham tentang perasaanku. Paham tentang adanya cinta yang
selalu tulus untuk sang idaman.
Namaku Tina. Pengalamanku
tentang cinta, bisa dikatakan sangat langka. Terlahir dengan wajah tak karuan
begini, siapa mau? Meski yakin, Tuhan telah menyiapkan sosok yang pantas
untukku.
Gadis
kacamata. Rambut kepang. Riasan tebal. Mulut yang menjorok ke depan. Rahang
yang moncong. Hidung yang setengah habis. Hantu sendiri bahkan muak jika
melihatku. Ingin operasi plastik, biaya super mahal. Menghabiskan hartaku tujuh
turunan. Tuhan pernah bilang, manusia diciptakan berpasangan-pasangan. Apa iya,
aku punya pasangan juga?
Pertanyaan yang membuatku
sempat putus asa itu memang selalu membelenggu hidupku. Namun, untungnya ada
sesosok pria di kampus yang selalu buat hatiku berbunga. Dia Henry. Cowok tampan, tinggi, kulit putih
bersih, rapi, fashionable dan dengan
tubuh atletisnya yang selalu kupandangi dari jauh. Mana berani aku mendekatinya.
Aku sadar diri. Dia pangeran sedangkan aku hanyalah budaknya bawahan.
Jujur. Henry yang
sering kujuluki sebagai pangeran kampus itu memang menjadi inspirasi
terbesarku. Demi dia, aku rela berubah jadi lebih cantik agar bisa dilirik.
Tiap hari perawatan. Tapi, sepertinya takdir tidak bisa dibohongi. Henry masih
saja ogah melirikku. Meski hasil perawatan itu memang hanya mengubah dari
terlalu jelek menjadi agak jelek. Setidaknya, menatapku bukan hal menjijikkan
untuknya, bukan?
***
Seperti biasa di
kampus, aku menjadi makhluk terasing. Segitu burukkah diriku hingga terkesan buangan.
Tapi, tak masalah. Dedikasiku dalam pendidikan dan sosok Henry membuatku tetap
bertahan. Dia sungguh hadiah terindah dari Tuhan untukku. Meskipun hadiahnya
hanya terbungkus dan terpajang di etalase kaca.
Aku berjalan sendirian.
Sangat tergesa-gesa karena hari ini harus mengikuti ujian praktikum. Tuhan
memang adil, walau aku dikaruniai wajah yang tak maksimal tapi otakku masih
brilian. Aku tak mungkin melewatkan ujian begitu saja.
Brak! Langkah yang
memburu terhenti saat menabrak seseorang. Buku-buku yang kubawa berjatuhan.
Sebelum kupungut semua, kutatap orang yang kutabrak. Aku terperanjat. Rupanya
orang itu Henry. Tubuhnya sangat dekat denganku, bahkan kulitnya yang mulus
sempat menyentuhku. Aku pasti akan selalu ingat momen ini.
Aku tersenyum. Dia
cemberut. Lalu, kugerakkan bibirku yang kaku perlahan, “Ma-af!”
Dia tak menjawab.
Tampaknya sangat kesal karena kacamata yang dikenakannya terjatuh dan pecah
karena saat melangkah, aku tak sengaja menginjaknya.. Wajahnya pun memerah dan
siap merutuk tapi aku menunduk dan segera mengambil kacamata itu untuknya. Belum
sempat kuserahkan, dia telah melangkah pergi tanpa menoleh. Kacamata itu pun
kusisipkan ke saku.
Wajar dia bertindak begitu
karena sepenuhnya salahku. Aku telah merusak kacamatanya. Aku sungguh merasa
bersalah. Ingin rasanya minta maaf walau tak cukup berani. Aku tak mau buat dia
kesal karena kebodohanku.
Kutarik napas
pelan-pelan, lalu memungut buku-buku yang sedari tadi berserakan di tanah.
Kemudian melanjutkan langkahku. Aku tak mau terlambat dan mendapat penyesalan
dua kali hari ini.
***
Ujian praktikum
selesai. Sementara kurapikan meja, mataku tiba-tiba berpaling ke kaca bening di
laboratorium, di sana ada Henry sedang berjalan. Jantungku berdegup. Sejauh ini
saja dia mampu membuat terlena, bagaimana kalau dekat. Aku harus segera
membereskan semuanya sebelum terlambat. Aku ingin minta maaf. Harus. Ini
kesalahanku.
Kuambil tas merah di
atas kursi dan menggantungnya ke pundak. Lalu mengambil langkah cepat menuju ke
luar. Saat di bahu pintu, kutatap sekeliling. Rupanya dia sudah ada di ujung
koridor, selangkah lagi langkahnya akan menghilang.
Aku tak akan
kehilangannya kali ini, kata maaf itu harus terucap. Entah dia terima atau
tidak, yang jelas tidak menyimpan beban. Kukejar dia dengan langkah seribu, sesekali
juga kuteriakkan namanya agar dia memalingkan wajah dan menyadari panggilanku.
Rupanya semua sia-sia,
napasku yang sudah sengal-sengal tak berhasil menggapainya. Dia lebih dahulu
menaiki mobil sporty merah miliknya
dan melaju kencang. Aku mengatur napas kembali dan meraih kacamatanya di saku. Aku pasti bisa minta maaf padamu.
Batinku.
Aku memang sudah
terlambat hari ini. Tapi, aku tetap yakin niatku yang baik untuk minta maaf
akan segera membawaku padanya, cepat atau lambat. Kumasukkan kembali kacamata
itu ke saku. Satu-satunya benda miliknya yang kini di tanganku. Sungguh
bahagia.
***
Sudah hampir gelap,
atau mungkin karena langit sedang mendung. Awan hitam bergerombol di atas sana.
Sepertinya akan hujan. Kuraih payung yang kusematkan di tas. Payung hijau
totol-totol yang memang selalu kubawa, apalagi musim hujan begini. Meski aku
pencinta hujan tapi beberapa buku kuliah harus diselamatkan. Daripada basah,
rusak, mending sedia payung sebelum hujan.
Segera kutarik benang
panjang pada payung dan seketika itu kain payung terbentang ke atas. Aku
melangkah menelusuri jalan pulang di bawah lindungan payung. Benar saja,
beberapa menit berjalan, angin sudah menderu. Dedaunan di pohon menari-nari.
Payungku ikut bergoyang tak terkendali. Kupegang erat-erat agar tak melayang.
Setengah perjalanan,
petir ikut bergemuruh. Bersahut-sahutan memecah angkasa. Titik-titik air yang
berjatuhan segera datang. Sementara payungku kian tak terkendali karena amukan
angin. Aku berusaha menggenggamnya dengan sekuat tenaga.
Tak berselang lama,
genggaman tanganku tak cukup erat hingga payungku melayang terseret angin. Aku
mencoba mengejar tapi angin kian menerbangkannya semakin jauh. Benar-benar tak
berguna, aku terlalu lemah hingga itu terjadi.
Aku cemas ketika hujan
datang dan membasahi seluruh tubuhku, juga tasku. Buku-buku yang kusimpan bisa
rusak. Itu akan semakin membuat aku menggundah. Tapi, aku tak mungkin berdiam
diri, berharap hujan menyurutkan niatnya untuk turun hari ini. Itu sungguh
mustahil dan benar-benar bodoh. Sebaiknya mencari tempat berteduh.
Kuedarkan pandangan ke
sekeliling. Hanya pepohonan yang rindang berjejer rapi di tepi jalan. Halte bis
mana? Tanda-tanda hujan semakin nyata.
Petir bergejolak. Angin menderu hebat. Awan menghitam. Aku masih saja seperti
orang tolol. Membisu.
Di tengah cemasnya
hati, sesosok dari kejauhan berjalan ke arahku. Langkahnya semakin mendekat.
Apakah dia malaikat yang diturunkan untuk melindungiku? Semakin dekat dan
semakin jelas. Dia agak tinggi, pakai jas hujan, dan membawa payung.
Tunggu! Payung itu tak
asing. Payung itu payungku. Apakah dia benar-benar malaikat? Bukan, dia seperti
pangeran. Pangeran yang membawa payungku. Aku ingin memperhatikan wajahnya tapi
tertutupi oleh masker penutup mulut dan hidung . Tak masalah yang penting
payungku telah kembali.
“Ini payungmu?”
tanyanya seraya menyerahkan payung itu.
Aku mengangguk sambil tersenyum
dan mengambil payung dari tangannya. “Terima kasih!”
“Tak masalah. Tadi tak
sengaja melihat payung itu terlepas dari tanganmu hingga melayang-layang.
Untungnya melayang dekat ke arahku, jadi mudah untuk mengambilnya,” jelasnya.
Aku cuma bisa tersenyum,
mulutku kaku. Dia sungguh baik. Aku tak pernah menemukan pria sebaik dia. Tuhan
memang tak pernah tidur, Dia mendatangkan seorang pangeran jas hujan ke bumi
untuk menolongku.
“Sebaiknya kamu pegang
payung itu erat biar tak terbang lagi. Hujan segera datang dan tak baik untuk
kesehatanmu,” sarannya dengan nada lembut. Tak ada kepalsuan pada setiap
ketukan kalimatnya.
Oh
Tuhan, pangeran yang Kau turunkan untukku ini sangat baik? Batinku.
Aku menatapnya sayup-sayup sambil tetap tersenyum. “Sekali lagi terima kasih.”
Dia mendesah. Desahan
napasnya terdengar jelas.
“Boleh tanya, tidak?”
pintaku.
“Tentu boleh!”
“Kenapa kau menolongku?
Apakah tidak malu dekat denganku? Selama ini tak pernah ada yang dekat denganku
karena wajah yang buruk.”
Dia tertawa kecil dan
kemudian menjawab, “Aku menolongmu karena wajib. Kenapa harus malu? Orang yang
tak mau dekat denganmu, berarti mereka buta.”
Aku terdiam membisu. Seakan
terhipnotis akan kalimatnya yang syahdu. Tak percaya ada orang yang mengucapkan
demikian. Hening beberapa saat hingga hujan datang memecah kesunyian.
“Hujan sudah datang.
Kita ke bawah pohon itu, yuk!” ajakku.
“Untuk apa?” tanyanya.
Keningku mengerut,
“Kalau di bawah pohon, kan, biar hujannya tak cukup deras.”
“Oh, baiklah. Kamu ke
sana dan biar aku di sini! Aku suka hujan.”
Dia suka hujan? Aku
juga. Apakah kita jodoh? Tidak, dia bukan jodohku. Jodohku pangeran kampus. Aku
tak mungkin berpaling hati. Cintaku sudah tulus untuknya. Jika aku mencintai pangeran
jas hujan, berarti tak punya cinta lagi. Hanyalah khianat.
Terpaksa kusurutkan
niatku ke bawah pohon. Tak mungkin membiarkan dia sendiri. Itu terlalu egois.
Saat dia membantuku, aku malah kabur tak tahu malu. “Aku juga suka hujan.
Baiklah, aku akan menemanimu di sini,” putusku akhirnya.
“Wah, kita sama dong.
Tapi, buku kamu bakal basah jika tetap bertahan di sini. Atau begini, kita
berjalan pulang saja. Rumahmu ke barat, kan?” sarannya lagi.
Aku mengangguk pelan.
Kami berjalan bersama
di bawah derasnya hujan. Aku di bawah lindungan payung, sementara dia dalam
lindungan jas hujan. Aku memintanya untuk sepayung berdua tapi ditolak karena menurutnya
tak baik, bisa menimbulkan fitnah.
***
Sepanjang perjalanan,
tak lupa saling mengenal. Dia Hasyim. Dia mahasiswa tapi tak bilang kampusnya
di mana. Dia suka hujan karena menurutnya sangat indah ketika setiap tetesan
itu berjatuhan dan memercik seperti lantunan lagu. Hujan juga membuatnya
bahagia karena terus mengingatkannya pada orang yang dicintai. Dia tak bilang
siapa orang itu.
Selama perjalanan itu
pula, kami mengobrol banyak hal. Aku sangat suka ngobrol dengannya. Nyambung
dan hangat. Aku juga sempat menceritakan ketertarikanku dengan Henry. Tapi
entah kenapa setiap aku bercerita tentang Henry, dia seperti tersedak,
batuk-batuk. Apa dia cemburu? Tak mungkin. Baru saja bertemu dan kenalan.
Sudah hampir masuk gang
rumahku. Hujan perlahan mereda. Aku belum jua sempat melihat wajahnya. Dia
pamit duluan dan bergegas pergi. Namun sebelum beringsut meninggalkanku, dia
tak lupa meminta nomor handphone. Dia
berlindung sejenak di bawah payung dan mencatat nomorku ke handphone-nya. Dia janji akan menghubungiku malam ini.
***
Senja kemerahan baru
saja menghilang. Di bawah sinar bulan purnama, kubuka jendela lebar-lebar dan
menatap jutaan bintang di langit. Kubayangkan rupa Henry dan menyatukan setiap
rasi bintang, seakan dia sedang tersenyum manis ke arahku. Entah kapan dia mau
membuka hatinya untukku? Aku selalu menunggu hari itu tiba.
Terus kupandangi
bintang yang sesekali mengerling, juga lamunanku tentang Henry yang masih bertahan.
Tiba-tiba handphone berdering. Dengan
gesit langsung kuraih handphone yang
tergeletak di sampingku dan segera memencet tombol angkat.
“Henry?” terkaku.
Dia terdiam. Tak ada
suara di ujung sana. Aku langsung menepuk jidat. Betapa bodohnya aku. Dia tidak
mungkin Henry. Sejak kapan Henry tahu nomorku?
“Maaf, aku pikir
temanku. Ini siapa, ya?” tanyaku lagi.
Agak lama terdiam,
hingga jawaban dari sana terdengar jua, “Maaf Tina. Ini nomor aku, Hasyim.
Ganggu, ya?”
“Oh, kamu. Tidak kok.
Maaf, yah, soal tadi,” balasku.
“Ngga apa-apa. Kayaknya
kamu suka, ya, sama Henry? Dari kemarin sebut Henry terus.”
Aku tersenyum dan
kembali membayangkan Henry. Lalu, lanjut berucap, “Tapi kayaknya dia tidak suka
sama aku. Aku jelek, dia tampan.” Aku memasam. Kembali kudongakkan kepalaku,
bintang perlahan semakin sedikit. Hanya satu yang cerah, setia menemani bulan.
“Kenapa bilang begitu?
Tak pernah ada yang tahu takdir Tuhan seperti apa. Bisa saja kamu berjodoh
dengan dia. Jangan sedih, ya!” ucapnya menyemangati.
Dia begitu perhatian
padaku. Kami menelepon semalam suntuk. Membicarakan banyak hal. Memang tak
terasa waktu saat mengobrol dengannya. Mungkin terlalu asyik hingga jam yang
terpajang di dinding kamarku telah menunjukkan tengah malam. Kami masih saja
mengobrol.
Namun akhirnya kantuk
mengalahkanku. Mata tak lagi kuat menahan. Kuputuskan untuk mengakhiri
panggilan itu. Tapi hubunganku dengan Hasyim dalam sambungan telepon bukan cuma
malam itu. Tiap malam, kami selalu menelepon. Kadang dia dahulu, kadang pula
aku yang menelepon duluan.
Hasyim memang menjadi
temanku kini, tidak lebih. Aku tidak ingin mengkhianati perasaanku sendiri
kalau nyatanya hatiku masih untuk Henry, bukan dia. Aku juga memang tak pernah
bertemu dengan Hasyim. Hanya sekali, saat hujan kemarin.
***
Menghadap ke depan,
lebih jauh, atau ke arah esok fajar bakal semburat. Kini harus kuhadapi
semuanya. Henry tepat di hadapanku. Dia sedang berdiri, menyandarkan
punggungnya ke dinding bersama temannya yang lain. Siapkah aku? Beranikah aku? Itu
tak penting lagi harus dipikirkan. Hal yang sukses bukan apa yang dipikirkan
tapi apa yang akan dilakukan.
Aku berjalan mendekatinya
perlahan. Kuraih kacamatanya yang kusisipkan di saku. Meski bentuknya sudah tak
terlalu baik, tapi bagian pengaitnya telah kusambung dengan plester bening,
kacanya juga sudah kuganti. Aku memperbaikinya seminggu penuh. Aku melakukan
ini demi dia. Demi rasa bersalahku padanya. Demi cinta yang tak pernah
berkurang untuknya selalu.
Selangkah lagi, aku
menyapanya dengan rasa bersalah, “Henry, aku minta maaf!”
Dia berbalik. Jantungku
berdebar. Wajahnya kusam menatapku. Lalu, aku menjulurkan tangan dan
menyerahkan kacamata. Dia terdiam lama hingga akhirnya mengangkat tangan ke
atas dengan telapak tangan terbuka, kemudian mengibaskannya dan merebut
kacamata itu paksa. Belum sampai itu saja, dia lalu mengempaskan kacamata ke
lantai. Aku terkejut.
“Siapa tuh, Henry?”
tanya lelaki di belakangnya.
Henry tak menjawab dan
langsung merutuk ke arahku. “Masih berani dekat denganku? Enyah kau!” ucapnya
sinis dan segera mengempaskan tubuhku, lalu melangkah pergi.
Hatiku sakit. Seakan
diremuk dan dicabik-cabik. Air mataku masih tertahan, hanya ingin menjerit
sekencang-kencangnya. Aku tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Apakah ini
cinta yang sebenarnya saat cinta dibalas dengan pedih?
Aku tak tahan lagi. Aku
mengambil langkah tercepat. Berlari sejauh-jauhnya. Awan tampak hitam dan angin
perlahan mengencang. Hujan mungkin datang. Itu lebih baik. Biarkan hujan temani
aku yang sedih, biarkan hujan temani linangan air mata yang mulai menderai.
Saat hujan akhirnya
tumpah, kurentangkan tanganku dan
biarkan titik-titik air itu membasahiku. Segera kulepaskan semua rintihan hati.
Aku menjerit bersama jeritan petir yang menggejolak. Ini alasan mengapa aku
suka hujan, bisa menangis dan berteriak tanpa ada yang tahu.
Tak berselang lama,
seseorang datang membentangkan payungnya untuk melindungiku. Kutatap orang itu
dengan mata sembap.
“Tina? Apakah kamu baik-baik
saja?” tanyanya.
“Hasyim? Aku baik-baik
saja. Aku hanya terharu dengan hujan yang sangat indah hari ini,” sergahku.
Dia tertawa. “Memang
indah. Tapi, kalau kamu punya masalah, ceritalah!”
“Hmhm, aku tak punya
masalah. Aku boleh minta sesuatu?”
“Tentu saja!”
“Boleh aku lihat
wajahmu? Ah, agak aneh saat kita dekat malah tak pernah lihat wajahmu? Atau,
jangan-jangan—“
Dia terdiam tapi agak
aneh dan memalingkan wajahnya ke kiri. Seakan menyembunyikan sesuatu. Namun,
dengan jahil kutarik penutup kepala jas hujannya, begitupun masker yang
menutupi mukanya. Aku tertawa geli karena berhasil melakukannya. Tapi tiba-tiba
tawa itu terhenti saat melihat wajahnya. Sungguh di luar dugaan.
“Hasyim? Henry? Kau
Henry atau Hasyim? Atau Henry Hasyim itu satu?” tanyaku sangat tak percaya.
Wajahnya sungguh mirip dengan Henry. Jadi, selama ini aku dekat dengan dua
orang berbeda yang nyatanya sama. Aku benar-benar bodoh.
“Aku bisa jelaskan!”
pintanya.
“Apa lagi yang harus dijelaskan?
Kamu mau bilang lakuin ini semua karena mau mempermainkan aku. Biar semua orang
tahu kamu keren. Yah, kamu keren. Karena kamu keren, aku sangat mencintaimu.
Tapi, rupanya persepsi aku tentang cinta itu salah. Cinta yang benar itu apa
yang kita rasa, bukan yang kita lihat. Sukses!”
“Tina, dengarkan aku
dulu!” Dia mulai mengiba tapi wajahnya terlalu bulus untuk kuperhatikan kini.
Aku menjerit lagi. Aku
tak ingin mendengar suaranya. Tiap kali melihatnya, aku terus terluka lebih
dalam dan lebih sakit. Lalu, aku segera berlari menjauh. Meninggalkan dia yang
kini berlutut berharap aku mendengarkannya. Tapi itu tak mungkin, aku sudah
terlalu kesal. Rutukan barusan menyadarkan kebodohanku.
***
Petir masih bergemuruh
dan hujan terus menimpa bumi. Sesaat kemudian, sebuah mobil sporty merah datang dan berhenti dekat
dengan Hasyim. Saat kulihat wajahnya. Dia mirip dengan Hasyim atau Henry. Siapa
lagi dia? Apakah dia pangeran mobil? Pikiranku kacau. Sangat rumit untuk
memikirkan mereka semua.
Masih kugerakkan kakiku dan melangkah pergi.
Tak terduga, sebuah mobil melaju kencang ke arahku. Lajunya tak terkendali. Aku
pasrah dan tak akan menghindar. Aku lebih baik mati daripada terus ditipu oleh
kebodohan.
Kupejamkan mataku. Tuhan, maafkan aku! Aku membatin. Kutunggu
mobil menabrak namun tubuhku terlempar. Seseorang mendorongku dan membuat aku
terlempar ke tepi jalan. Kuarahkan pandangan ke jalanan dan sudah terkapar
seseorang di sana. Dia Hasyim? Hasyim atau Henry yang menolongku.
Aku segera berlari
menghampirinya. Berkali-kali dia memuntahkan darah. Aku berlutut dan menopang
tubuhnya. Air mataku masih berderai.
“Tina, maafkan aku yang
tak bisa jujur padamu!” ucapnya masih terbata-bata, agak tidak jelas tapi aku
masih mampu memaknainya.
“Jangan banyak bicara
dulu! Kita harus ke rumah sakit!” tuturku.
“Aku Hasyim, Tina.
Henry kembaranku. Aku sengaja merahasiakan identitasku karena ingin lebih dekat
denganmu, aku tahu kamu lebih menyukai Henry daripada aku,” jelasnya lagi.
Henry yang dimaksud segera datang.
Aku menatap Henry
lamat-lamat saat dia menggenggam tangan Hasyim penuh penyesalan. Air matanya
tak berderai tapi yakin hatinya menjerit.
“Aku tidak bermaksud
membohongimu. Tina, kamu baik. Aku banyak belajar darimu. Arti cinta yang
kaumaksud benar, aku merasakan cinta bersamamu bukan saat melihatmu.” Hasyim
terus berbicara, sementara darah yang keluar dari mulutnya semakin banyak. Aku
menyuruhnya berhenti karena tak tahan menatapnya terluka tapi dia tetap
melanjutkan, “Tiap hari aku menatapmu dari jauh. Aku tak berani mendekatimu
karena wajahku yang mirip dengan Henry. Aku takut kamu tak mau dekat denganku.”
Hasyim memaksa tubuhnya
bergerak. Dia meraih sesuatu dari dalam sakunya, yakni kacamata Henry. Dia
menunjukkan kacamata itu. “Henry, jaga Tina untukku! Dia sangat mencintaimu
lebih dari dirinya sendiri. Ada banyak hal yang dia lakukan demi kamu. Jangan
sia-siakan cinta yang dia miliki untukmu!”
Reflek aku memalingkan
wajahku ke arah Henry. Dia menatapku balik. Kami bertemu dalam satu mata. Entah
kenapa debaran jantung itu tak lagi kuat dari sebelumnya. Kembali kuarahkan
mataku pada Hasyim dan matanya telah terpejam. Nadinya pun tak terasa. Dia
telah tiada bersama cinta yang telah kami genggam.
Watampone, 16 Mei 2014
Justang Zealotous
Langganan:
Postingan (Atom)










