Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan
Rabu, 28 Maret 2018
[Dimuat di Banjarmasin Post edisi Minggu, 25 Maret 2018]
Tubuhnya lunglai. Lebam memenuhi hampir sekujur tubuh perempuan yang setengah telanjang akibat pakaian yang koyak itu. Ia berusaha bergerak, tapi sulit. Ia berusaha bersuara, tapi yang terdengar hanya serupa embusan angin dari napas yang semakin sesak. Ketika ia ditemukan, lelakinya hanya mampu menjerit, menggusar, dan mengutuk siapa saja yang tega membuat perempuan itu yang kini di ambang kematian.
***
Pagi datang mengelus lelaki itu ketika sebuah telepon mendarat di kupingnya yang mengharuskan ia berkunjung ke Pasar Rakyat. Ia pun meletakkan secangkir kopi yang baru saja ia tandaskan ke atas meja.
Perempuannya mengerling, "Pulang kemalaman lagi, Daeng?"
"Semoga tidak." Lelaki itu mendorong kursinya ke belakang, kemudian berdiri. Ia mengusap kaus putihnya yang berkerah dan meraih topi hitam bertuliskan NH di sisi depannya. "Kamu ikut kan, istriku?"
"Kurang enak badan, Daeng."
"Kalau begitu, istirahatlah, istriku. Kamu pasti capek. Lagi pula Pasar Rakyat itu becek dan bau. Kamu mungkin tidak akan tahan." Ia lantas beranjak bersama beberapa ajudannya yang berbadan tegap. Ia meninggalkan istrinya di rumah dengan beberapa pekerja yang menemaninya. Pembantu, tukang kebun, hingga satpam. Mereka punya anak, satu-satunya, tapi ia sedang kuliah di Bandung. Sehingga tidak ada alasan untuk lelaki itu merasakan khawatir yang berlebih.
***
Pak Nasir dengan semangat juang istrinya, Bu Faridah, mencalonkan diri sebagai bupati dalam lima tahun mendatang. Ia berniat menggeser posisi bupati lama yang sudah duduk selama dua periode. Akibatnya, beberapa bulan sebelum pencalonan resmi, Pak Nasir mulai melakukan kampanye ke mana-mana, mendengungkan inisial NH dari nama lengkapnya Nasir Hasir ke berbagai penjuru kampung. Target utama Pak Nasir memang kalangan bawah, sebab kemenangan itu lebih mudah diperoleh dari bawah.
Selama kampanye, Pak Nasir berusaha membangun jati diri sebagai pemimpin yang merakyat. Ia rajin berkunjung ke tempat-tempat kumuh, menghadiri acara-acara rakyat, menggelar perjamuan dengan mengundang para warga, juga mengunjungi berbagai acara keagamaan. Ketika maulid, ia datang. Ketika natalan, ia pun tak sungkan. Pak Nasir juga bertandang ke panti asuhan. Bertemu dengan orang-orang yang ditinggalkan keluarganya. Kemudian, dia akan bersorai di depan anak-anak panti dan tentu saja para orang dewasa yang hadir di situ, kalau ia akan menyejahterakan nasib mereka. Orang-orang lalu bertepuk tangan dan berteriak menyebut inisial NH. Sebelum pulang, Pak Nasir membagikan kaus berwarna kuning yang memajang fotonya di bagian depan besar-besar.
"Orang-orang makin mencintaimu, Daeng. Aku yakin bupati lama itu akan segera lengser," kata Bu Faridah saat menjelang tidur.
Pak Nasir tertawa. Tawa yang cukup nyaring. "Hahah aku harap kamu tidak cemburu, istriku."
"Untuk apa cemburu sama cinta yang ada maunya, haha." Keduanya tertawa, kemudian saling berpelukan, saling memagut, dan tertidur.
***
Tubuhnya lunglai. Lebam memenuhi hampir sekujur tubuh perempuan yang setengah telanjang akibat pakaian yang koyak itu. Ia berusaha bergerak, tapi sulit. Ia berusaha bersuara, tapi yang terdengar hanya serupa embusan angin dari napas yang semakin sesak. Ketika ia ditemukan, lelakinya hanya mampu menjerit, menggusar, dan mengutuk siapa saja yang tega membuat perempuan itu yang kini di ambang kematian.
***
Pagi datang mengelus lelaki itu ketika sebuah telepon mendarat di kupingnya yang mengharuskan ia berkunjung ke Pasar Rakyat. Ia pun meletakkan secangkir kopi yang baru saja ia tandaskan ke atas meja.
Perempuannya mengerling, "Pulang kemalaman lagi, Daeng?"
"Semoga tidak." Lelaki itu mendorong kursinya ke belakang, kemudian berdiri. Ia mengusap kaus putihnya yang berkerah dan meraih topi hitam bertuliskan NH di sisi depannya. "Kamu ikut kan, istriku?"
"Kurang enak badan, Daeng."
"Kalau begitu, istirahatlah, istriku. Kamu pasti capek. Lagi pula Pasar Rakyat itu becek dan bau. Kamu mungkin tidak akan tahan." Ia lantas beranjak bersama beberapa ajudannya yang berbadan tegap. Ia meninggalkan istrinya di rumah dengan beberapa pekerja yang menemaninya. Pembantu, tukang kebun, hingga satpam. Mereka punya anak, satu-satunya, tapi ia sedang kuliah di Bandung. Sehingga tidak ada alasan untuk lelaki itu merasakan khawatir yang berlebih.
***
Pak Nasir dengan semangat juang istrinya, Bu Faridah, mencalonkan diri sebagai bupati dalam lima tahun mendatang. Ia berniat menggeser posisi bupati lama yang sudah duduk selama dua periode. Akibatnya, beberapa bulan sebelum pencalonan resmi, Pak Nasir mulai melakukan kampanye ke mana-mana, mendengungkan inisial NH dari nama lengkapnya Nasir Hasir ke berbagai penjuru kampung. Target utama Pak Nasir memang kalangan bawah, sebab kemenangan itu lebih mudah diperoleh dari bawah.
Selama kampanye, Pak Nasir berusaha membangun jati diri sebagai pemimpin yang merakyat. Ia rajin berkunjung ke tempat-tempat kumuh, menghadiri acara-acara rakyat, menggelar perjamuan dengan mengundang para warga, juga mengunjungi berbagai acara keagamaan. Ketika maulid, ia datang. Ketika natalan, ia pun tak sungkan. Pak Nasir juga bertandang ke panti asuhan. Bertemu dengan orang-orang yang ditinggalkan keluarganya. Kemudian, dia akan bersorai di depan anak-anak panti dan tentu saja para orang dewasa yang hadir di situ, kalau ia akan menyejahterakan nasib mereka. Orang-orang lalu bertepuk tangan dan berteriak menyebut inisial NH. Sebelum pulang, Pak Nasir membagikan kaus berwarna kuning yang memajang fotonya di bagian depan besar-besar.
"Orang-orang makin mencintaimu, Daeng. Aku yakin bupati lama itu akan segera lengser," kata Bu Faridah saat menjelang tidur.
Pak Nasir tertawa. Tawa yang cukup nyaring. "Hahah aku harap kamu tidak cemburu, istriku."
"Untuk apa cemburu sama cinta yang ada maunya, haha." Keduanya tertawa, kemudian saling berpelukan, saling memagut, dan tertidur.
***
Pak Nasir tiba di Pasar Minggu dengan sambutan dari orang-orang yang berkerumun. Mereka ingin menjabat tangan calon bupati baru yang dikenal merakyat, atau sekadar menyentuh kaus putihnya yang berkerah. Orang-orang yang histeris itu dibatasi oleh para ajudan Pak Nasir yang menjaga dari sisi kanan, kiri, dan belakang.
Seperti selalu, senyum tak pernah ketinggalan di bibir Pak Nasir. Ia bersorai dan sesekali menyapa para penjual dan pembeli yang dilewatinya.
Ketika berkeliling, seorang penjual baju tiba-tiba bercerita padanya, "Sepi nih, Pak. Sehari bahkan tidak ada pembeli sama sekali."
Senyum Pak Nasir belum hilang, lalu ia berkata, "Sepertinya kita perlu meremajakan pasar ini biar lebih ramai pengunjung." Pak Nasir memperhatikan celana hitamnya yang di bagian bawah sudah dipenuhi lumpur. Orang-orang pun mengiringi pernyataan Pak Nasir dengan berteriak hore dan inisial nama Pak Nasir. NH. NH. NH.
Di tengah kampanye, Pak Nasir mendadak mendapat telepon dari rumah. Ia pun mengangkatnya, barangkali dari istrinya. Ketika tersambung, suara yang terdengar malah suara pembantu. Suara yang timbul tenggelam. Pak Nasir jadi bingung. Ia berusaha bertanya, apa yang sedang terjadi, suara tangis yang malah ia dengar.
"Kita harus pulang," kata Pak Nasir pada ajudannya dengan sedikit berbisik. Sesekali ia melempar senyum pada orang-orang agar semuanya terlihat baik-baik saja. Lalu, ia pamit pergi.
Buru-buru Pak Nasir meninggalkan Pasar Minggu. Ia khawatir dengan kondisi istrinya. Setelah menempuh jarak tempuh yang hanya lima belas menit, ia pun berlari masuk setelah satpam tidak terlihat dan suara jeritan yang langsung menyambutnya. Saat di dalam, rumah tampak kosong. Dia berlari ke kamar, istrinya tidak di sana. Suara jeritan terdengar lagi, sepertinya di halaman belakang. Pak Nasir pun mengambil langkah seribu. Tepat. Istrinya sudah terbaring di sana dengan tubuh setengah telanjang dan lebam di mana-mana.
"Siapa yang melakukan ini?"
Bibir Bu Faridah berusaha bergerak, tapi yang terdengar hanya embusan angin. Pak Nasir lantas memeluk istrinya sambil terisak. Lama sekali. Barulah ia sadar istrinya sudah meregang nyawa.
Pak Nasir masih tersedu-sedu ketika salah satu ajudannya menyeret seseorang ke hadapannya yang ditengarai sebagai tersangka, berdasarkan kesaksian pembantu, sementara satpam juga sudah ia bunuh. Orang itu ternyata tukang kebun Pak Nasir. Pak Nasir sontak murka. Ia berdiri dan menghajar bapak tua itu.
"Kenapa kau melakukan ini pada istriku?" geram Pak Nasir.
Dengan napas tersendat-sendat, tukang kebun itu menjawab, "Aku bahkan bisa melakukan ini padamu, tapi aku cukup menikmati istrimu, Pak Nasir." Mata Pak Nasir memelotot mendengar pernyataan tukang kebunnya, dan ia hajar lagi. Sedetik kemudian, tukang kebun itu kembali berbicara, "Aku muak dengan tingkahmu sama kami, Pak Nasir. Kamu lembut di luar sana, tapi kamu kasari kami di sini. Aku bahkan belum kau gaji dua bulan, Pak."
Pak Nasir tertegun. Ia menatap tukang kebun yang dari mulutnya meleleh darah yang anyir. Usai itu, ia tiba-tiba merasakan tubuhnya seringan kapas. Dan ia tumbang. Tidak ada yang tahu kemudian, Pak Nasir masih mencalonkan atau tidak setelah kejadian itu. (*)
Watampone, 7/1/18
Jumat, 10 Juli 2015
Teka-Teki Pembunuhan
Oleh: Justang Zealotous
Pria berpakaian hitam putih dengan rambut dianyam ke atas dahi sedang berdiri di depan sidang. Dia diadili atas kasus pembunuhan kekasihnya sendiri, Martha.
Pria bernama Refan itu terus menyangkal akan tuduhan yang dilemparkan padanya. Bahwasanya bukan dia yang telah membunuh Martha, bahkan tak tahu menahu tentang pembunuhan tersebut.
“Kenapa kau terus menyangkal? Bukankah sudah pasti dari pesan singkat yang masuk tentang kau akan datang ke rumahnya pada pukul sepuluh malam,” tuduh sahabat Martha, juga sebagai saksi persidangan. Wanita rambut ikal panjang itu sengit mendakwa Refan. Dia terlalu kesal akan kematian sahabat karibnya.
“Benar. Aku memang mengirim pesan singkat itu. Tapi—“
“Tapi apa? Kau masih mau menyangkal?” potong sahabat Martha.
“Izinkan terdakwa menjelaskan terlebih dahulu!” seru hakim sidang.
Keringat Refan mulai bercucur pelan. Dia berkali-kali menelan ludah sambil sekali-kali bernapas pendek. Lalu, dia melanjutkan kembali ucapannya, “Tapi, aku terlambat datang karena tiba-tiba bensin motorku habis. Aku bingung harus beli di mana karena pom bensin lumayan jauh. Kucoba untuk kirim pesan ke teman yang rumahnya dekat dari pom bensin, tapi baterai ponselku habis—“
“Aishhh, palingan kamu mengada-ada tentang itu. Apa susahnya, sih, jujur?” potong sahabat Martha lagi. Dia kelewat emosi.
“Sssttt!” tegur hakim sidang, membuat sahabat Martha membisu.
Refan mendesah lagi, lalu melanjutkannya, “Kemudian aku mengecas ponsel. Setelah nyala kembali, segera kuhubungi Jefri, teman yang kumaksud tadi. Dia meng-iya-kan. Lama sekali dia datang, katanya macet. Aku pun berangkat ke rumah Martha. Tapi, aku yakin sudah sangat telat.”
“Kau tahu? Hasil penyelidikan menunjukkan sidik jarimu banyak ditemukan di pisau yang kaupakai menghilangkan nyawa sahabatku. Itu semua sudah jadi bukti,” tegas sahabat Martha lagi.
“Setelah tiba di rumahnya yang ternyata pukul sebelas. Aku sudah menemukan dia terkapar bersimbah darah di lantai dengan pisau sudah tertancap di pe—“
“Kau pasti penulis ulung, ya?” potong sahabat Martha lagi, “Karanganmu sangat luar biasa hingga buat tercengang. Tepat saat datang, memang sudah kulihat kau menggenggam pisau yang masih tertancap di perutnya. Dan, kau tahu juga? Aku masih punya saksi lagi.”
Saksi yang dimaksud langsung muncul setelah dipanggil.
“Bisa kaujelaskan apa yang kautahu soal kasus ini?” tanya hakim.
“Sekitar pukul 10.30, aku melihat seseorang dengan pakaian serba hitam melewati pagar rumah korban,” jelas saksi tersebut.
“Bisa dijelaskan ciri-cirinya yang lebih detail!” pinta hakim.
“Tinggi sekitar 175 cm, badan tidak kurus juga tidak gemuk, seperti penutup ninja yang menutupi wajahnya. Pakai motor skuter biru menyala.”
“Skuter biru?” kaget Refan. Matanya melotot tajam, mukanya memerah penuh emosi.
“Ada apa? Itu motor kamu? Hah?” tanya sahabat Martha penuh selidik.
“Bukan! Itu motor Jefri. Apa alasannya terlambat itu sebenarnya karena habis membunuh Martha? Sialan!” ungkap Refan.
Jefri segera dipanggil masuk ke ruang sidang. Kebetulan, dia sedang menemani Refan.
“Bukan! Bukan aku yang membunuhnya. Aku memang ingin membunuhnya tapi ternyata dia lebih dulu bunuh diri. Sebelumnya aku menguping, dia bunuh diri karena kesal setelah menemukan foto mesra Refan dengan Tina, sahabatnya sendiri,” jelas Jefri sambil mengap-mengap.
Sahabat Martha dan Refan langsung bertatap muka.
Kamis, 31 Oktober 2013
Suka membaca cerita yang menegangkan? Menguras emosi, bikin keringetan, mengandung misteri, pintar mengolah setting dan situasi supaya bisa membawa pembaca ikut dalam cerita? Kali ini Gelora Pustaka Jingga menantang teman-teman penulis semua untuk menulis cerita yang mungkin cukup jarang dibuat lomba.
Kini saatnya teman-teman menulis cerita pendek bertema THRILLER!
Apa sih thriller itu?
Menurut Pusat Bahasa Diknas- Glosarium pada blog Erlinda Jilly Madhan, Thriller adalah “petualangan yang mendebarkan”. Tipe alur ceritanya biasanya berupa para jagoan yang berpacu dengan waktu, penuh aksi menantang, dan mendapatkan berbagai bantuan yang kebetulan sangat dibutuhkan yang harus menggagalkan rencana-rencana kejam para penjahat yang lebih kuat dan lebih lengkap persenjataannya.
Dan sub-genre Thriller bisa dipilih sebagai berikut:
Crime thriller: Uang tebusan, Tawanan, Pencurian, Balas dendam, Penculikan dll
Mystery thriller: Investigasi, Tehnik detektif, Teka-teki dll
Psikologi thriller: Mind game, Obsesi, Kejiwaan dll
Paranoid thriller: Konspirasi, Tuduhan palsu, Paranoia dll
atau lainnya seperti supernatural, techno, dsb. (sumber: Na Maku Ti Gakata)
PJ menantang teman-teman untuk menunangkan ide thrill kita yang WOW dan super menegangkan! Bisa membawa emosi pembaca. Tapi tetap, ada nilai yang terkandung di dalam cerita. Berani? Yakin? Oke, kalau memang teman-teman merasa tertantang, maka simak syarat mengirim naskah di bawah ini:
Syarat dan Ketentuan Lomba:
- Lomba terbuka untuk umum.
- Menjadi anggota grup Gelora Pustaka Jingga
- Isi naskah: berupa cerpen boleh fiksi ataupun kisah nyata.
- Naskah diketik 4-5 hlm pada jenis kertas A4, font cambria ukuran 11, spasi 1,5, dengan batas margin 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi. Format naskah .doc
- Naskah adalah karya sendiri (bukan saduran) dan belum pernah dipublikasikan lewat media mana pun.
- Setiap peserta melampirkan biodata narasi maksimal 50 kata/wajib mencamtumkan akun facebook yang ditulis di bagian akhir naskah (masih dalam satu file tetapi pada halaman terpisah).
- Naskah dikirim ke email: redaksipustaka@gmail.com berupa attachment, bukan di badan email.
- Tulis Subjek email dengan format: PJ-Judul Naskah-Nama Penulis dan nama file PJ-Judul Naskah-Nama Penulis, misal PJ-Kotak Berdebu-Anita Luna. Mohon untuk memperhatikan syarat ini guna mempermudah admin dan juri menilai serta mengelola naskah.
- Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya.
- Lomba ini dibuka mulai 1 November 2013 hingga 30 November 2013 (Jam 23:59 WIB).
- Jika tidak ada halangan, Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 15 November 2013. Jika ada keterlambatan, akan diumumkan dikemudian hari.
- Bagikan info lomba ini kepada minimal 30 orang sahabat FB.
- Naskah yang dikirim menjadi hak pelaksana lomba untuk dipublikasikan dalam bentuk buku.
- Akan dipilih 25 naskah terbaik untuk dibukukan.
- Keputusan Dewan Juri mengikat.
Hadiah:
Akan dipilih tiga pemenang
- Pemenang 1: Sebuah buku terbit + Medali Lapis Plastik Warna Emas + Sertifikat + Voucher penerbitan Pustaka Jingga 50.000
- Pemenang 2: Sebuah buku terbit + Medali Lapis Plastik Warna Perak + Sertifikat + Voucher penerbitan Pustaka Jingga 50.000
- Pemenang 3: Sebuah buku terbit + Medali Lapis Plastik Warna Perunggu + Sertifikat + Voucher penerbitan Pustaka Jingga 50.000
Seluruh kontributor akan mendapatkan e-sertifikat, voucher penerbitan Pustaka Jingga 50.000 dan potongan harga khusus untuk setiap pembelian buku.
Selamat berlomba! Ayo, buatlah pembacamu tegang menguras emosi!
Rekomendasi bacaan Thriller:
DAMN! Aku (Bukan) Pembunuh
Klik Judul buku di atas untuk detail buku.
Bagi yang penasaran dan berminat memiliki buku tersebut bisa pesan buku tersebut ke085743351574. Buku LARIS!
Salam karya,
CEO Pustaka Jingga,
Novela Nian
Admin,
Vindy Putri
DAMN! Aku (Bukan) Pembunuh
By Vindy Putri on Friday, November 1, 2013 at 11:36am
Selasa, 06 Agustus 2013
Diposting oleh
Justang Zealotous
di
20.01
Label:
Cerita Bersambung,
Fiksi,
Horor,
Thriller
0
komentar
Haloo!!! Sudah pada baca kan cerpen Malam Berdarah sebelumnya? Kalau belum, sebaiknya Anda harus baca karena cerpen berikut ini adalah lanjutannya.
Author: Justang
Title: Malam Berdarah 2 : Balas Dendam
Genre: Thriller, Horor
Part: 2
Author: Justang
Title: Malam Berdarah 2 : Balas Dendam
Genre: Thriller, Horor
Part: 2
Bercak darah yang masih menggulung-gulung kenangan terus menjeratku. Aku
yakin ini bukan salahku. Sangat yakin. Dunia gelap dan kelam itu memang pernah
menyusup dalam kehidupanku. Bahkan membuatku terisolasi oleh kesalahan yang
seakan terus meneror.
Hari ini. Tepat satu minggu setelah kejadian malam kemarin. Malam yang
membuatku terus terbayang-bayang penyesalan ketika harus mengetahui bahwa
kekasihku si kuncir meninggal tragis dengan tanganku sendiri. Aku tak pernah
ingin melakukan itu. Tapi efek emosional terus melancarkan jiwaku untuk
melakukannya.
Ketika saat itu, dadaku berhasil tertusuk pisau dapur dan punggung yang
kurasakan sakit setelah terjatuh dari atap rumahku sendiri. Aku masih ingat
ketika dua orang datang menghampiri kami karena keributan yang dilakukan. Aku
juga yakin bahwa mereka yang akhirnya membawa saya terbaring lemah di rumah
sakit. Kuketahui dari dokter yang merawatku.
Setelah ditangani secara serius selama satu minggu. Akhirnya aku bisa
kembali istirahat di lantai rumahku. Aku segera pulang ditemani oleh temanku
yang setia, Fery. Dia adalah temanku
yang juga sudah lama tinggal bersama denganku di rumah. Ia tak punya tempat
tinggal di kota. Semua keluarganya ada di kampung. Aku memintanya untuk tinggal
di rumahku karena aku merasa kesepian. Aku adalah anak tunggal dari orang tua
yang paling sibuk di dunia ini. Ya, mereka selalu ke luar negeri dan pulang
paling lama lima kali setahun.
Tiba di rumah. Aku masih tak memberanikan diri untuk naik ke loteng
rumah. Aku tak ingin mengingat lagi kejadian malam itu. Aku pikir bahwa itu
cukup menjadi kenangan pahit bagiku. Maka tinggallah aku termenung pilu di
rumah. Aku seakan seperti terjerat dalam keadaan traumatis.
“Sandy, sudahlah, kamu tak perlu mengingat lagi malam itu. Ayo move on!”
ungkap Fery menyemangatiku yang terus duduk kacau di teras rumah.
“Fer, aku juga ingin seperti itu. Tapi, aku merasa masih ada hal yang
aneh pada malam itu. Aku sekaan terus dihantui oleh kejadian tersebut,” lantang
segera aku berdiri di hadapannya.
Fery tampak tegang. Ia mungkin merasa khawatir denganku. Lalu
dipegangnya pundakku. “Sandy, jika kamu seperti ini terus. Kamu bisa gila.
Sayang sekali, aku tidak ada pada malam itu. Aku tak bisa melihat kejadiannya
dan mungkin jika aku ada, aku bisa menghalangi agar semua itu tak terjadi,” Ia
menarik tangannya dari pundakku dan segera pergi ke kamar.
Aku terus memikirkan kata-kata Fery. Aku memang cukup jauh untuk terus
berpikir pada kejadian itu. Benar, aku bisa gila jika seperti ini terus. Maka
kucoba untuk hidup normal lagi. Lalu kulangkahkan kakiku segera menuju ke kamar
mandi. Membasuh muka yang seakan kotor pada pikiran-pikiran ganjil. Kemudian
kuambil handuk yang tergantung pada gagang pintu. Kuusap mukaku dengan handuk
itu sembari terus menatap cermin di hadapanku.
Tiba-tiba. Hsstthhh!!! Sebuah bayangan hitam melesat cepat dari cermin
itu. Aku serentak terperanjat. Aku kaget dan membuat bulu roma sedikit tegak
berdiri. Apa itu? Aku terus teriak dari kamar mandi. Seketika itu seseorang
menggedor pintu dan memanggil namaku.
Kubuka perlahan pintu kamar mandi. Terbuka dan terlihat Fery tepat
berdiri di balik pintu itu. Lalu ia menarikku segera keluar dari kamar mandi
dan membuatku berhadapan dengannya dan juga menghadap tepat di depan kamar
mandi itu.
“Ada apa? Kenapa kamu teriak? Apa yang terjadi?” tanyanya khawatir
padaku.
“Tidak! Tidak! ini mungkin karena aku baru saja pulang dari rumah sakit
dan masih merasa lelah,” ungkapku segera menutup pertanyaannya.
Lalu kuberanikan lagi memandang area dalam kamar mandri yang tepat
berada di belakang Fery berdiri. Kulihat perlahan dengan mataku yang sudah
penat. Wuhhh. Tampak sosok tinggi gelap membelakang dengan rambut panjang ikal
ke bawah. Sontak membuatku kaget setengah mati dan membuat kakiku lumayan
bergetar. Segera kututup wajahku dengan satu tapak tangan dan terus menunjuk ke
arah kamar mandi. Fery yang melihatku bertingkah demikian lantas kaget dan
heran.
“Ada apa? Apa yang kamu lihat?” tanyanya ketakutan.
“Itu.. itu.. itu,” kataku gagap dan menunjuk-nunjuk ke arah kamar mandi
itu.
Fery pun berbalik cepat dan sepertinya tak melihat sosok apapun dari
dalam kamar mandi itu.
“Hmhmh, sepertinya kamu memang sangat kelelahan. Sebaiknya kamu segera
ke kamar dan apalagi mentari juga sudah hampir tenggelam dan malam ini aku
ingin memperbaiki dinding yang sudah mulai lapuk,” sarannya dan segera aku
berjalan cepat menuju ke kamar.
***
Malam akhirnya menyambut. Usai makan malam bersama Fery di ruang makan.
Kembali aku ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhku yang sudah sangat letih
pada kejadian hari ini.
Di kamar. Aku terbaring lemas di kamar yang lumayan lunak. Meskipun
begitu, mataku masih tak mau menutup diri. Aku gelisah dan sangat gelisah.
Kubalikkan arah tidurku ke kanan ke kiri dan ke kanan lagi. Aku tak bisa tidur.
Kutatap jam dinding yang tergantung tepat di kamarku dan sudah menunjukkan
hampir jam 12 malam. Aku masih terjaga pada larutnya malam.
Lalu kucoba untuk menutup mataku perlahan sekali lagi dan akhirnya
tertutup. Aku pun tertidur meskipun tak begitu pulas. Di tengah tidur kecilku
tiba-tiba.
Brakk!! Sebuah benda terjatuh dan suaranya membangunkanku. Apa lagi ini?
Aku makin ketakutan. Kurasakan tubuhku dingin membeku, gemetar dan menggigil
padahal malam ini begitu panas. Tapi aku berpikir kalau itu hanyalah suara
jatuhan benda dari kucing atau sejenisnya, bukan dari hal-hal aneh yang masih
menjalar dalam benakku.
Brakk!! Sekali lagi suara itu terdengar. Dari dinginnya badan berubah
keringat ketakutan. Aku merinding. Apa itu hantu? Kuangkat tubuhku dari kasur
lunak itu. Segera berdiri dan perlahan kulangkahkan kakiku menuju ke pintu. Aku
ingin keluar untuk memastikan suara itu. Perlahan gagang pintu yang terbuat
dari besi itu kutarik. Aku merasakan kedinginan yang teramat dingin. Kubuka dan
memandangi sekitar. Semua gelap dan bahkan lampu rumah juga sudah mati.
Kuperhatikan pintu kamar Fery yang tepat berada di sebelah kamarku dan masih
sangat tertutup rapat. Aku yakin dia tidak mendengar suara yang kudengar tadi.
Lalu kulangkahkan kakiku perlahan. Mengendap-endap mencari asal suara
itu. Aku ke dapur karena merasa itu memang berasal dari dapur. Ketika tiba di
dapur dan tak ada satupun sesuatu yang aneh di dapur. Di lantai pun tak ada
benda yang berserakan. Lantas dimanakah asal suara itu?
Aku istirahat sejenak sambil membuka kulkas mencari minuman demi membasahi
kerongkongan yang mulai kering karena ketakutan. Awwhh, betapa nikmatnya ketika
bongkahan es batu masuk ke dalam kerongkonganku, terasa begitu adem ayem.
Kututup lagi kulkas itu dan tiba-tiba aku mendengar suara orang yang
sedang menangis merintih. Hu..huu.huh. Suaranya begitu jelas dari
pendengaranku. Seakan menyusup ke indra yang satu itu. Lantas membuat bulu
kuduk berdiri tegak satu persatu.
Huh..hu..huu. Suaranya makin jelas. Ia seakan menangis karena kesakitan.
Aku yakin itu suara perempuan. Suara tangisannya begitu mengiris hati. Aku pun
juga mendengar itu berasal dari loteng. Loteng? Ya tepat dari loteng rumahku.
Aku sangat ketakutan. Terasa semua tubuhku tercekik takut. Meskipun aku gelisah
dan takut tapi aku harus memberanikan diri agar semuanya selesai. Aku tak ingin
tersiksa dan terus dihantui oleh suara-suara aneh itu.
Maka mulai kugerakkan tubuhku menuju ke loteng tanpa membangunkan Fery.
Aku tak ingin ia terlibat dengan semua ini. Biarlah aku yang cari tahu sendiri.
Aku pun naik ke loteng dengan napas yang mendesah dan kadang hilang.
Tiba di loteng. Semua gelap dan begitu kelam. Kuraba-raba sekitar
mencari sakelar lampu. Kutekan dan semua terang dengan lampu itu tapi tak
seseorang pun di loteng. Namun suara tangisan itu malah semakin keras dan jelas
di pendengaranku. Aku tahu, bukan di loteng tapi di atas atap, tepat berada di
depan lotengku ini. Tepat berada di tempat kejadian malam kemarin terjadi.
Aku berjalan perlahan menghampiri jendela kecil lotengku. Kubuka dan
segera naik ke atap. Betapa tercengannya diriku ketika kulihat sesosok wanita
berambut panjang ikal tak beraturan sedang duduk selonjoran di tepi atap. Ia
menangis tersedu-sedu. Suaranya begitu menyeringai.
“Siapa itu?” tanyaku penasaran.
Tangisannya makin kencang. “Sandy, sayang!” katanya begitu
mendesah-desah.
“Kekasihku!” tebakku karena yakin suara itu seperti suara kekasihku yang
telah meninggal. “Ada apa? Kenapa kamu menangis?” tanyaku lagi. Rasa takut yang
kurasakan perlahan menghilang tapi kakiku tetap saja gemetaran.
“Sayang, aku sendiri. Aku kesepian. Temani aku dan peluk aku. Buka
bajumu dan kita nikmati lagi seperti yang pernah kita lakukan dulu,” tuturnya
dengan nada halus mencekik diiringi tangisan yang terus menderu.
Entah mengapa tapi aku tetap mengikuti ajakannya. Lalu segera kuangkat
dan kubuka baju kaos hitam yang melekat di tubuhku. Tersisah singlet putih yang
masih kukenakan. Kulihat ia pun perlahan membuka pakaiannya. Tiba-tiba.
“Sandy, apa yang kamu lakukan?” sahut seseorang dari belakangku. Aku
berbalik badan segera dan kulihat Fery berdiri membuka jendela kecil loteng
rumahku dengan palu tepat di tangan kanannya.
“Fery, kekasihku di sana,” kataku lalu menunjuk ke arah yang tadi
kulihat tapi sudah tak ada sesosok apapun di sana. Aku kaget karena begitu
jelas tadi kulihat tubuhnya masih berada pada tepi atap itu.
“Kawan, tidak ada orang di sana. Hanya…” belum selesai Fery meneruskan
perkataannya tiba-tiba wajahnya berubah pucat. Matanya pun ikut merah. Aku
takut. Apa yang terjadi dengan Fery?
“Sandy, hanya ada kamu di sini. Hanya ada kamu. Betapa teganya kau bunuh
wanita yang juga kucintai itu,” kata Fery dengan nada marah dan kesal.
Lalu ia bergerak menuju ke atas atap dan berjalan menghampiriku. Aku
masih kaget dan heran. Kutatap wajahnya yang begitu memerah. Lalu Fery
tiba-tiba memukul pundakku dengan palu yang dibawanya. Menendangku dan membuat
aku terjatuh. Aku pun teriak kesakitan.
Ia kemudian mengambil pisau dapur dari dalam sakunya. Ditodongkan pada
leherku ketika aku telah tergeletak di atas atap.
“Sandy, kalau kamu ingin tahu? Aku lah yang membuat kalian saling bunuh
seperti itu. Kumasukkan sebuah pil dalam minuman kalian. Pil yang dapat
membunuhmu tapi aku tak menyangka efeknya hanya membuatmu lupa diri. Kulakukan
ini karena aku cemburu karena kalian begitu dekat padahal aku juga mencintai
wanita itu,” jelasnya dengan mulut yang terus menghembus napas pilu.
Aku tak menyangka setelah mendengar pernyataan dari Fery. Aku tak pernah
tahu kalau dia ternyata juga suka pada kekasihku itu. Akibatnya, aku begitu
kesal ketika mengetahui kejadian yang sebenarnya bahwa Fery yang membuat semua
itu terjadi. Aku pun mengambil inisiatif untuk menendang tepat di kemaluannya.
Ia menjerit kesakitan. Segera aku berdiri tapi ia lanjut loncat ke arahku dan
membuat kami jatuh terpontang-panting hingga terhempas ke tanah. Kami berdua
jatuh tengkurap bersamaan. Beberapa benda tajam juga terjatuh tapi tak satupun
menimpa kami.
Di sela-sela kesakitan itu. Fery segera berlari ke arahku sembari
membawa golok panjang di tangannya bermaksud untuk menusukku dengan golok itu. Aku
berhasil menghindar dengan menggulingkan tubuh ke kiri. Aku berdiri dan
menendang kakinya. Ia pun berdiri dengan kaki terlipat. Kumanfaatkan suasana
dengan menghajar mukanya dan berhasil membuat darah terciprat dari hidungnya
dan segera kubanting hingga terjatuh ke tanah.
Ketika ia terbaring lemas. Aku pun menginjak perutnya dengan keras dan
membuat darah tersembur dari mulutnya. Seakan masih kesal, kuambil pula golok
yang tadi dibawanya dan segera menusuk perutnya. Kembali darah terus menetes
dari mulut, hidung dan perutnya. Tiba-tiba sesosok wanita berambut panjang
seakan keluar dari tubuh Fery. Ia pun tertawa menyeringai.
“Hahahah. Ini adalah balasan karena kamu telah membunuhku. Akulah yang
memasukkan pil itu untuk membunuhmu karena aku lebih suka temanmu dari pada
kau. Tapi karena aku telah mati maka kubuat juga temanmu ikut mati agar ia bisa
bersamaku abadi di sana. Aku pun merasuki jiwa temanmu itu dan membuat kau
sendiri yang membunuh dengan tragis dirinya. Aku rasa balas dendamku padamu
telah usai. Selamat tinggal mantan kekasihku, hahahahh,” ungkapnya terus
tertawa menyeringai dan mendadak hilang.
Aku terperanjat dibuatnya. Sekali lagi aku berbuat suatu kesalahan. Apa
yang aku lakukan? Lalu kuangkat kepala Fery, mencoba untuk membuat ia terduduk.
Ia pun seakan ingin menyampaikan sesuatu padaku.
“Sandy, apa yang kamu lakukan? Kenapa kau membunuhku?” tanya Fery dengan
darah yang terus merembes dari mulutnya.
“Fery, maafkan aku. Aku tak bermaksud melakukan ini. Tadi, aku pikir itu
adalah dirimu tapi ternyata… .” kutatap Fery yang mulai terengah-engah.
Napasnya terus mengembus keras-keras. Darah dari mulutnya tak henti mengalir
deras.
“Sandy,” ungkapnya terakhir dan seketika itu ia tak sadarkan diri.
Kucoba periksa nadinya tapi benar-benar tak terasa lagi. Jantungnya pun tak
berdetak. Fery tewas pada saat itu. Aku menjerit menyesal. Air mataku pun terus
mengalir deras hingga membuat darah Fery melumar.
“Akhhhhhhhhhhhhhh…..” pekikku kencang.
Habis. Habislah sudah. Dua orang yang terdekat padaku kini tewas dengan
tanganku sendiri. Aku menyesal dan begitu menyesal. Tapi semua telah terjadi.
Aku harus segera bangkit pada malasah yang terus menuntutku. Balas dendam
kekasihku itu benar-benar membuatku kacau. Padahal, dulu aku tak bermaksud
melakukannya. Melakukan pembunuhan itu.
Sabtu, 27 Juli 2013
Hari ini aku mau share sebuah cerpen. Setelah keliling kota, benua dan samudera dengan browsing internet akhirnya kutemukan juga genrenya, yaitu Thriller. Lansung saja kita intip cerita pendek (cerpen) terbaru karya Justang yang berjudul "Malam Berdarah".
Pengarang: Justang
Judul: Malam Berdarah
Genre: Thriller
Part: 1
Tanggal pembuatan: 27 Juli 2013
Tempat pembuatan: Watampone, Sulawesi Selatan
Malam Berdarah
Malam ini adalah malam yang gelap. Bukan karena sang rembulan sedang cuti tuk mengggantikan matahari bersinar di malam ini atau bintang yang sedang tidak memiliki mood untuk kumpul di langit. Mereka semua masih di atas sana, setia tak seperti kekasihku si kuncir yang kini pergi tanpa ucapan "goodbye". Ia hanya meninggalkan bercak-bercak merah.
Kejadian itu terjadi di suatu malam. Malam yang sangat aneh, sepi dan tak seperti malam biasanya. Anjing pun yang biasa setia melolong hingga fajar muncul, tak terdengar lagi suara merdunya itu. Meskipun demikian, aku dan kekasihku tak pupus untuk tetap menikmati keremajaan kami di malam itu.
Seperti hari-hari biasanya, kami selalu kencan pada jam 12 larut malam. Mungkin untuk beberapa orang itu terdengar aneh tapi menurut kami bahwa itu adalah waktu yang indah dan begitu spesial. Suasana lebih damai dan tenang untuk melakukan gairah bercinta.
Kami kencan tepat di atas atap rumahku dengan beberapa perabotan rumah yang berserakan. Persis menghadap pada loteng dengan jendela kecil di depannya. Saat kencan, udara bersuhu sangat rendah. Aku dingin dan badanku menggigil. Angin malam saat itu seakan menembus kulitku yang hanya tertutupi kemeja dan singlet di dalamnya. Selain dinginnya malam, beberapa botol anggur juga meramaikan suasana bercinta kami.
“Sayang, anggur lagi? Aku bosan akhh!” kata kekasihku jemu dengan nada menggoda.
“Akhh, sekarang beda sayang. Anggur malam ini ada banyak rasa, ada rasa jeruk lemon dan coklat pasta. Pasti tidak bosan dan apalagi sudah aku tambahkan campuran arak.”
Kutatap wajahnya dan sudah tak jemu lagi. Garis lengkung ke bawah terlukis di wajahnya dan hal itu mampu menghangatkan hatiku yang dibekukan malam. Hmhm, tiba-tiba aku tersadar ketika jarum jam yang tercipta di benda yang melingkari tanganku terlihat telah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Aku merasa itu adalah waktu yang tepat untuk menikmati indah dunia.
Sebelum itu, tradisi setiap kami ingin melakukan hubungan cinta tak kami lupakan. Beberapa botol anggur terlebih dahulu kami tenggak bersama. Mengucap janji sukma yang terus menghantam pendengaranku.
Usai tradisi dilakukan, mulai kupersiapkan diriku. Kubuka perlahan satu persatu kancing kemejaku. Kekasihku pun ikut melepaskan sweter yang membungkus badannya, menyisahkan baju merah tipis tanpa lengan. Semua kancing sudah kubuka namun kemeja tetap kubiarkan membungkus terbuka.
Wuss! Angin datang memblokade tubuhku. Menyerang celah-celah kemeja yang terbuka. Membuatku jatuh terlentang dan menerpa lapisan atap. Sepertinya efek anggur itu mulai menjalar di tubuhku. Perlahan mulai terasa pening dan hilang kesadaran. Lalu kucoba untuk bangkit bertumpu pada kaki secara perlahan. Ketika berhasil dan menegakkan tubuh, setengah sadar kulihat seorang berkuncir dengan wajah gelap. Ia seperti bayangan. Samar-samar kulihat wajahnya. Kutahu bahwa dia adalah manusia.
“Mana kekasihku?” teriakku bertanya pada orang itu. Ia hanya diam seraya memegang palu di tangan kanannya. Lalu ia mencoba memalingkan palu itu berusaha mengenaiku. Aku berhasil menghindar dan lagi aku terjatuh terkapar ke lapisan atap itu.
Kemudian ia mengambil sebuah golok yang tepat berada di belakang ia berdiri. Aku pun mencoba lagi bangkit dan berdiri sempoyongan. Sekali lagi, ia mencoba mengarahkan golok itu ke arahku. Namun, sebelum sempat ia melakukan itu. Segera aku memukulnya dengan botol anggur. Goloknya terjatuh dan ia mulai tampak pusing. Kutendang tubuhnya dan membuatnya jatuh terkapar di atas atap.
Saat kuketahui bahwa dia telah bergeletak tak berdaya dengan darah yang merembes di kulit kepalanya. Aku rasa itu adalah kesempatan besar bagiku. Kuambil golok yang sebelumnya ia genggam. Mengarahkan padanya untuk segera menusuk perutnya. Ia sukses menghindar dengan menggulingkan tubuh. Kemudian ia menyepak kakiku dan membuatku terjatuh dan menerpanya.
Kini aku tepat berada di atasnya dan kucoba untuk meninju mukanya. Aku yakin aku berhasil membuatnya membiru meski gelap dan hitam menutupi wajahnya yang masih aku tak tahu tentang orang itu. Tidak ingin kalah dariku, ia terus menyikuku dan membuatku mengguling dan berganti ia di atasku.
Lanjut kuputar tubuhku dan membuat kita berguling-guling hingga ke ujung atap dan akhirnya terjatuh ke tanah dengan keras. Aku tepat menghantam bongkahan tanah dengan punggung terlebih dahulu. Sementara orang itu menyerang tumpukan batu dan segera menjerit dengan lantang. Tak lama, golok yang sebelumnya kita gunakan juga terjatuh dan pas berdiri tegak menusuk perut orang itu. Darah terciprat keluar dari mulutnya.
Selagi punggung masih kutahan sakitnya. Aku mencoba lagi bangkit tersakit-sakit. Perlahan dan hasilnya aku berdiri terbungkuk sedikit serta terus kutekan punggungku. Saat mulai kutegakkan tubuhku, orang itu malah melempariku pisau dapur dan ujungnya persis menembus singlet putih tepat di dadaku. Aku jatuh tergeletak tak berdaya dan darah terus menetes keluar. Aku merintih kesakitan. Tiba-tiba gunting rumput terjatuh dari atap dan kembali mengenai tubuh orang itu tepat pada lehernya. Darah kembali terciprat dan cipratannya mengenaiku. Tampaknya orang itu tewas seketika.
Usai itu, suhu tubuhku mulai dingin membeku. Wajahku memucat. Darah yang masih menetes keluar dari tubuhku juga ikut dingin. Di tengah separuh sadar ini, kulihat dengan mata yang mulai sayup dua orang datang menghampiri kami. Suara keributan kami mungkin mengundangnya datang. Orang yang satu menghampiriku dan yang satu lagi menghampiri orang yang kuajak ribut tadi.
“Akhh, wanita berbaju merah ini telah tewas. Nadinya tak terasa lagi,” teriak orang yang menghampiri orang tadi.
Orang yang menghampiriku lalu menyentuh tanganku, memeriksa urat nadi. Kemudian mengarahkan tangannya ke mulutku dan merasakan napasku masih mendesah. Lalu ia teriak segera bermaksud memberitahukan temannya kalau aku masih hidup. Ketika teriakannya selesai, seketika itu aku sudah tak sadarkan diri.
(lihat juga: Malam Berdarah 2 : Balas Dendam)
Pengarang: Justang
Judul: Malam Berdarah
Genre: Thriller
Part: 1
Tanggal pembuatan: 27 Juli 2013
Tempat pembuatan: Watampone, Sulawesi Selatan
Malam Berdarah
Malam ini adalah malam yang gelap. Bukan karena sang rembulan sedang cuti tuk mengggantikan matahari bersinar di malam ini atau bintang yang sedang tidak memiliki mood untuk kumpul di langit. Mereka semua masih di atas sana, setia tak seperti kekasihku si kuncir yang kini pergi tanpa ucapan "goodbye". Ia hanya meninggalkan bercak-bercak merah.
Kejadian itu terjadi di suatu malam. Malam yang sangat aneh, sepi dan tak seperti malam biasanya. Anjing pun yang biasa setia melolong hingga fajar muncul, tak terdengar lagi suara merdunya itu. Meskipun demikian, aku dan kekasihku tak pupus untuk tetap menikmati keremajaan kami di malam itu.
Seperti hari-hari biasanya, kami selalu kencan pada jam 12 larut malam. Mungkin untuk beberapa orang itu terdengar aneh tapi menurut kami bahwa itu adalah waktu yang indah dan begitu spesial. Suasana lebih damai dan tenang untuk melakukan gairah bercinta.
Kami kencan tepat di atas atap rumahku dengan beberapa perabotan rumah yang berserakan. Persis menghadap pada loteng dengan jendela kecil di depannya. Saat kencan, udara bersuhu sangat rendah. Aku dingin dan badanku menggigil. Angin malam saat itu seakan menembus kulitku yang hanya tertutupi kemeja dan singlet di dalamnya. Selain dinginnya malam, beberapa botol anggur juga meramaikan suasana bercinta kami.
“Sayang, anggur lagi? Aku bosan akhh!” kata kekasihku jemu dengan nada menggoda.
“Akhh, sekarang beda sayang. Anggur malam ini ada banyak rasa, ada rasa jeruk lemon dan coklat pasta. Pasti tidak bosan dan apalagi sudah aku tambahkan campuran arak.”
Kutatap wajahnya dan sudah tak jemu lagi. Garis lengkung ke bawah terlukis di wajahnya dan hal itu mampu menghangatkan hatiku yang dibekukan malam. Hmhm, tiba-tiba aku tersadar ketika jarum jam yang tercipta di benda yang melingkari tanganku terlihat telah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Aku merasa itu adalah waktu yang tepat untuk menikmati indah dunia.
Sebelum itu, tradisi setiap kami ingin melakukan hubungan cinta tak kami lupakan. Beberapa botol anggur terlebih dahulu kami tenggak bersama. Mengucap janji sukma yang terus menghantam pendengaranku.
Usai tradisi dilakukan, mulai kupersiapkan diriku. Kubuka perlahan satu persatu kancing kemejaku. Kekasihku pun ikut melepaskan sweter yang membungkus badannya, menyisahkan baju merah tipis tanpa lengan. Semua kancing sudah kubuka namun kemeja tetap kubiarkan membungkus terbuka.
Wuss! Angin datang memblokade tubuhku. Menyerang celah-celah kemeja yang terbuka. Membuatku jatuh terlentang dan menerpa lapisan atap. Sepertinya efek anggur itu mulai menjalar di tubuhku. Perlahan mulai terasa pening dan hilang kesadaran. Lalu kucoba untuk bangkit bertumpu pada kaki secara perlahan. Ketika berhasil dan menegakkan tubuh, setengah sadar kulihat seorang berkuncir dengan wajah gelap. Ia seperti bayangan. Samar-samar kulihat wajahnya. Kutahu bahwa dia adalah manusia.
“Mana kekasihku?” teriakku bertanya pada orang itu. Ia hanya diam seraya memegang palu di tangan kanannya. Lalu ia mencoba memalingkan palu itu berusaha mengenaiku. Aku berhasil menghindar dan lagi aku terjatuh terkapar ke lapisan atap itu.
Kemudian ia mengambil sebuah golok yang tepat berada di belakang ia berdiri. Aku pun mencoba lagi bangkit dan berdiri sempoyongan. Sekali lagi, ia mencoba mengarahkan golok itu ke arahku. Namun, sebelum sempat ia melakukan itu. Segera aku memukulnya dengan botol anggur. Goloknya terjatuh dan ia mulai tampak pusing. Kutendang tubuhnya dan membuatnya jatuh terkapar di atas atap.
Saat kuketahui bahwa dia telah bergeletak tak berdaya dengan darah yang merembes di kulit kepalanya. Aku rasa itu adalah kesempatan besar bagiku. Kuambil golok yang sebelumnya ia genggam. Mengarahkan padanya untuk segera menusuk perutnya. Ia sukses menghindar dengan menggulingkan tubuh. Kemudian ia menyepak kakiku dan membuatku terjatuh dan menerpanya.
Kini aku tepat berada di atasnya dan kucoba untuk meninju mukanya. Aku yakin aku berhasil membuatnya membiru meski gelap dan hitam menutupi wajahnya yang masih aku tak tahu tentang orang itu. Tidak ingin kalah dariku, ia terus menyikuku dan membuatku mengguling dan berganti ia di atasku.
Lanjut kuputar tubuhku dan membuat kita berguling-guling hingga ke ujung atap dan akhirnya terjatuh ke tanah dengan keras. Aku tepat menghantam bongkahan tanah dengan punggung terlebih dahulu. Sementara orang itu menyerang tumpukan batu dan segera menjerit dengan lantang. Tak lama, golok yang sebelumnya kita gunakan juga terjatuh dan pas berdiri tegak menusuk perut orang itu. Darah terciprat keluar dari mulutnya.
Selagi punggung masih kutahan sakitnya. Aku mencoba lagi bangkit tersakit-sakit. Perlahan dan hasilnya aku berdiri terbungkuk sedikit serta terus kutekan punggungku. Saat mulai kutegakkan tubuhku, orang itu malah melempariku pisau dapur dan ujungnya persis menembus singlet putih tepat di dadaku. Aku jatuh tergeletak tak berdaya dan darah terus menetes keluar. Aku merintih kesakitan. Tiba-tiba gunting rumput terjatuh dari atap dan kembali mengenai tubuh orang itu tepat pada lehernya. Darah kembali terciprat dan cipratannya mengenaiku. Tampaknya orang itu tewas seketika.
Usai itu, suhu tubuhku mulai dingin membeku. Wajahku memucat. Darah yang masih menetes keluar dari tubuhku juga ikut dingin. Di tengah separuh sadar ini, kulihat dengan mata yang mulai sayup dua orang datang menghampiri kami. Suara keributan kami mungkin mengundangnya datang. Orang yang satu menghampiriku dan yang satu lagi menghampiri orang yang kuajak ribut tadi.
“Akhh, wanita berbaju merah ini telah tewas. Nadinya tak terasa lagi,” teriak orang yang menghampiri orang tadi.
Orang yang menghampiriku lalu menyentuh tanganku, memeriksa urat nadi. Kemudian mengarahkan tangannya ke mulutku dan merasakan napasku masih mendesah. Lalu ia teriak segera bermaksud memberitahukan temannya kalau aku masih hidup. Ketika teriakannya selesai, seketika itu aku sudah tak sadarkan diri.
(lihat juga: Malam Berdarah 2 : Balas Dendam)
Langganan:
Postingan (Atom)






