Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Januari 2015

GALAU? Curhat Sama Allah

GALAU? Curhat Sama Allah
Oleh: Justang Zealotous

GALAU? Curhat Sama Allah
Ya Allah, masih kuingat kala itu, di mana kegelisahan menghantui hidupku. Maka, izinkanlah aku curhat padaMu karena tempat curhat terbaik hanya padaMu.
Jika masa putih abu-abu kita masih bisa bersantai ria sambil mojok bareng teman di kafe tanpa peduli dengan dunia yang akan digenggam nantinya, maka masa kampus bukan lagi waktunya untuk bersifat labil. Dunia nyata akan segera disambut, siap tidak siap mesti bertarung dengan otak atau otot yang dipunya.
Seperti halnya ketika gerbang SMA telah kulewati. Aku mesti siap menjadi mahasiswa dan pertarungan segera terjadi. Dari katanya saja, maha dan siswa. Itu berarti bukan sekadar pelajar ingusan yang disuapi ilmu tapi sudah saatnya mencari ilmu dan memakannya sendiri.
Setelah memilih program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Segera pula pengalaman kucari untuk menunjang tujuan utama nanti, menjadi seorang guru. Di antaranya, gabung pada organisasi kepenulisan. Biar kepercayaan diri bisa meningkat.
Aku juga ikut kursus Bahasa Inggris. Bukan tanpa sebab, melainkan bahasa yang satu itu kuanggap sebagai bahasa dunia. Jika ingin menguasai dunia, maka kuasai dulu bahasanya. Selain itu, seseorang yang sudah seperti keluarga tiba-tiba mengajakku bekerja di travel, ini bisa jadi pengalaman yang paling berharga, pun penambah uang jajan.
Semua terasa terkendali walau mesti kuliah, kursus, kerja. Beban yang paling besar kupikul tentang waktu. Tentang bagaimana mengatur jadwal yang sudah semakin sibuk. Pergi pagi terus pulang sore, saat malam juga kadang mesti kerja lagi. Malahan Ibu pernah menyindir dengan sindiran halus, kayak artis saja yang tidak punya waktu untuk keluarga, katanya. Aku hanya mampu menggeleng pasrah, karena kutahu dari usaha besarku ini akan menghasilkan hal yang besar pula. Itu memang butuh proses, walau lama.
***
Hingga pada satu waktu, semua terasa morat marit. Aku bahkan bingung kenapa itu mesti terjadi. Jadwal kuliah dan kursus adakalanya bertabrakan. Kalau soal kerja, pada dasarnya memang seperti keluarga, dia membebaskanku masuk kapan saja ketika ada waktu luang walau kadang tidak sampai hati jika tak pernah masuk karena jadwal kuliah dan kursus padat.
Aku berusaha memperbaiki semua waktuku dengan baik. Tapi, teman satu ruangan di kursus malah bertindak egois atau jadwal kuliahnya juga padat. Semakin bingung karena memang cuma aku yang prodi bahasa Indonesia, sementara lainnya berasal dari prodi bahasa Inggris. Tentu satu-satunya penghalang mereka hanya aku.
Pernah kuminta untuk privat ketika memang tak ada waktu yang cocok untuk belajar bersama. Namun, kata instruktur yang mengajar di tempat kursus, pasti ada jalan keluar dari semua itu. Yah, aku tahu itu tapi akan terlalu menghabiskan banyak waktu jika terus memikirkan jalan keluarnya.
Setelah berembuk mengenai jadwal kursus yang tepat dengan teman lainnya. Akhirnya kita punya jalan keluar itu, beberapa hari yang harus kuisi dengan kursus dan mengabaikan sejenak kerja di travel. Walau dari itu, sesekali kursus dibatalkan saat ada kuliah mendadak. Teman-teman pun mulai sering menyalahkanku sebagai pengganggu.
Aku tak mungkin berhenti kursus hanya karena dicap sebagai pengganggu. Aku juga punya tujuan utama, pun sama-sama sebagai pelajar di tempat itu. Jadi, mesti tanggung resiko pada setiap yang terjadi.
***
Memang masih kelimpungan pada pengaturan jadwal. Tapi, aku mesti cermat mengatur waktu agar semua itu berjalan dengan baik.
Setelah seharian kuliah, kursus, juga kerja. Kulihat pembayaran sedang menenggak bulan itu. Ekonomi keluarga yang menengah ke bawah membuatku harus ekstra berpikir untuk membiayai kursus selama per bulan. Mau bagaimana lagi? Kemauan untuk kursus ada pada diriku sendiri.
“Berhenti dari kursus saja. Toh, sama sekali tak ada hubungannya bahasa Inggris dengan jurusan yang kau punya,” protes Ibu. Kakak malah ikut mojokin.
“Bukan soal ada hubungannya atau tidak, Mak. Tapi, bahasa Inggris itu penting,” balasku membela diri.
“Kalau penting, kenapa tidak awal pilih jurusan bahasa Inggris saja?”
“Dari niat, kan, memang sudah mau bahasa Indonesia.”
“Terus liat tuh! Mau biayain kuliah kamu aja sudah ribet. Tambah lagi kursus. Sudah kerja malah gaji tak memuaskan.” Ibu naik pitam. Aku tak mungkin diam saja karena sadar semua ini sudah sepatutnya harus dilakukan.
“Iya, Mak. Insya Allah, dari semua ini kita pasti dapat yang lebih baik, kok. Prosesnya saja yang butuh waktu lama.” Aku meyakinkan. Ibu tersenyum, namun bukan senyum kelegaan.
Ibu masih saja durja. Bahkan terus memaksaku untuk berhenti di kursus atau cari pekerjaan lain yang lebih membantu keuangan. Namun, aku tak bisa memilih. Aku mesti melakukan keduanya karena punya sasaran utama yang harus dituju, sebuah kesuksesan. Jika aku berhenti di kursus, tak lagi ada ilmu penunjang untuk masa depanku.
Setelah berdebat dengan Ibu yang membuatku kian detik harus menelan ludah. Hari yang kujalani semakin amburadul. Bukan karena apa, tapi itu terus menjadi beban pikiranku.
Soal waktu, bisa saja kuatur semaksimal mungkin, tapi kalau soal biaya malah buatku nelangsa. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa untuk meringankan beban keluarga atas biaya yang kutanggungkan.
Kau tahu? Gaji yang kudapatkan bekerja di travel itu sungguh hanya sebagai uang jajan karena masuk kerja memang tidak intensif. Selain itu, travel yang dibina masih baru dan sosialiasi pada masyarakat pun masih jarang. Terkadang dalam seminggu cuma bisa menjual tiga sampai empat tiket, itupun kalau beruntung. Bagaimana bisa mendapatkan gaji yang besar?
***
Suatu hari, ada pesan singkat yang masuk di ponselku kalau ada kursus pukul 1 siang, sementara bos di travel menghubungi kalau ada yang pesan tiket dan mesti kukerjakan segera. Pada pagi hingga siang, jadwal kuliah padat dan tak mungkin kutinggalkan.
Dengan penuh percaya diri, kuyakinkan pada hati bisa menyelesaikannya dengan baik. Aku pun mengikuti kuliah secara disiplin. Saat pukul 1 siang tiba, segera kulangkahkan kaki menuju tempat kursus.
Aku menunggu begitu lama, setidaknya ada setengah jam berlalu namun belum juga ada seorang pun yang datang. Bos terus saja menghubungi atas tiket tapi tetap saja kuabaikan karena menunggu kursus mulai.
Setelah hampir setengah tiga, tiba-tiba pesan singkat masuk ke ponsel memberitahukan kalau kursus hari itu dibatalkan dengan alasan tak ada yang bisa masuk, katanya sih capek. Berang rasanya mendapatkan info itu. Kenapa alasan capek jadi penghalang semuanya? Aku juga capek. Bahkan sangat capek. Aku mengelus dada dan berusaha sabar menerima.
Kemudian, segera aku menuju ke tempat kerja. Di sana tak ada bos. Dengan perasaan masih gusar, aku langsung mengerjakan tugas untuk pesan tiket buat seseorang yang sedari tadi menghubungi. Setelah berunding lewat telepon tentang harga dan segalanya. Pekerjaan itu akhirnya selesai. Aku menghembuskan napas lega.
Tiket yang dipesan sudah kucetak dan siap diberikan. Bos akhirnya datang saat sore harinya.
“Bagaimana dengan tiket yang dipesan tadi?” tanyanya.
Aku menyodorkan amplop berisi tiket itu padanya. Dia menerima dengan senang hati. Perasaanku agak sedikit tenang dibuatnya. Setelah tiket itu berulang kali dibacanya, matanya membelalak tajam. Aku bingung namun tak berani kutanya mengapa.
“Coba cek tanggal keberangkatannya?” Dia mulai bertanya. Jantungku berdegup kencang.
“Hari ini, Pak,” jawabku dengan pasti.
“Hari ini? Itu beberapa jam yang lalu dan artinya tiket ini sudah kedaluwarsa. Mana mereka sudah bayar lagi.” Wajahnya memerah.
Aku menunduk malu. Ya Allah, apa yang telah kuperbuat? Batinku. Semua seperti bertimbun-timbun banyak sekali membebaniku. Di mana aku harus mengganti uang yang ratusan ribu itu, bahkan hampir sejuta? Uang kursus saja aku masih kelayapan. Ingin rasanya teriak dan menghunuskan pedang ke jantung begitu saja. Betapa bodohnya aku!
Lalu, aku pulang dengan perasaan paling gundah. Aku benar-benar galau. Wajahku sedari tadi begitu masam memikirkan uang yang mesti kuganti. Ibu yang memperhatikan diriku tak banyak tanya. Aku pun juga lebih memilih diam. Tak pernah kuceritakan masalah ini, biar kutanggung sendiri.
Ketika malam merangkak datang, tak pernah tenang jiwaku. Makan pun terasa tak enak. Setiap ibu mulai bertanya, aku hanya bisa menjawab kalau tak dalam masalah. Aku benar-benar tak ingin melibatkan Ibu ataupun yang lainnya ke dalam masalahku, pun sebenarnya aku malu akan semua ini.
Malam semakin malam, tak juga lelap tidurku. Kesalahan fatal tadi terus menghantui diriku, bahkan tiap memejamkan mata terus kuingat kejadian itu. Ya Allah, apa yang terjadi padaku? Lalu, kupikir untuk segera mengambil wudhu.
Meski memang tak lelap, tapi aku sudah tidur walau hanya sebentar. Aku pun salah tahajud untuk memohon dan berserah diri karena kutahu hanya Allah kini tempat mengadu. Tak ada teman curhat terbaik selain padaNya.
Usai melaksanakan dua rakaat, aku menengadahkan tangan dan memanjatkan doa. Terus kumohon agar diberikan ketenangan jiwa dan hati. Dilancarkan segala urusan. Aku tahu, tak ada yang berjalan dengan percuma di dunia ini, pasti semua ada hikmah di baliknya. Di sela-sela berdoa, setetes bening di sudut mataku terjatuh membasahi pipi.
***
Pagi harinya, aku masih belum bisa melupakan kejadian sebelumnya. Namun, aku berusaha bangkit dari keterpurukan ini. Begitupun ketika berada di kampus, teman-teman memperhatikanku dengan penuh selidik. Mereka mungkin agak bingung dengan tampangku yang terlihat bungkam. Walau sekali-kali aku berusaha menciptakan senyum itu pada mereka.
Saat kembali di tempat kerja, sejujurnya aku tak ingin masuk hari itu karena masih sangat malu dengan yang kemarin tapi mesti bersikap profesional. Bos juga memperhatikan aku agak berbeda, tentu dia tahu mengapa aku terlihat durja begitu.
“Tak perlu sedih. Lupakan saja soal kemarin! Itu memang resiko kerja. Kalau begini saja kamu tidak kuat, bagaimana nantinya ketika kamu sudah kerja di perusahaan yang besar. Kau tahu? Semakin besar seseorang maka semakin besar pula resiko atau beban yang mesti dipikulnya,” ucapnya. Aku hanya bisa mengangguk lemah.
“Ya sudah, cepat ambil barang-barangmu!” suruhnya yang membuat aku bingung. Apa dia ingin mengusirku?
Lalu, tiba-tiba dia membonceng dan membawaku ke suatu tempat. Aku terus bertanya-tanya dalam hati entah ke mana dia akan pergi. Aku bahkan semakin kaget ketika ternyata dia singgah di warung makan. Katanya sih dia ingin mentraktirku makan agar aku tidak muram lagi. Aku benar-benar tidak mengerti tapi sungguh baik yang dia tunjukkan padaku. Bahkan dia menyuruhku untuk melupakan soal uang itu.
Entah sekarang perasaanku sulit digambarkan seperti apa. Sejujurnya aku masih gelisah karena bagaimanapun juga itu semua salahku. Tapi, ketika dia memintaku untuk melupakannya, sedikit mengurangi kegelisahan itu. Ketika di rumah, Ibu tiba-tiba menghadang langkahku. Entah apa lagi yang ingin Ibu debatkan.
“Ini, Nak, untuk biaya kursusmu! Semoga kau bisa meraih yang kau impikan itu.” Ibu menyodorkan uang dan seakan menghapuskan semua rasa gelisah di dadaku.


Watampone, 20 November 2014

Senin, 05 Mei 2014

Aku Tak Punya Teman

Aku Tak Punya Teman

Teman? Siapa sih teman itu? Apakah dia sejenis tumbuhan merambat? Seekor hewan? Atau makhluk tak kasat mata?
Entahlah. Yang jelas, aku tak punya teman.

Dalam dunia yang selama ini kujalani, aku tak pernah punya teman. Kalau pun punya, aku tak ingat kapan. Tiap hari kujalani dengan indah, tanpa teman. Tanpa iming-iming teman. Pokoknya, aku tak punya teman.

Aku pernah bertemu dengan seseorang. Katanya sih dia teman. Ah, yang benar teman seperti dia? Lagaknya agak aneh, menyedihkan. Ditatap dengan sebelah mata pun tetap memilukan. Ada lagi, dia juga pernah bilang kalau dia adalah teman. Masih tak percaya, rupanya teman seperti dia. Tiap hari sembunyi di balik kata-kata. Mengendap perlahan, mencuat perlahan, bahkan menusuk perlahan. Terasa mengerikan. Ataukah teman memang mengerikan? Ah, aku masih tak punya teman.

Dulu. Dulu sekali. Setiap hari, ada yang mengaku teman, lalu pergi begitu saja. Apa memang teman begitu? Menakutkan. Sudah seperti nyamuk yang menghisap darah, lalu pergi membekas luka bahkan perih. Oh, teman. Apa memang kau seperti nyamuk?

Masih soal teman. Atau orang-orang yang mengaku teman. Beberapa waktu yang lalu, ada pula yang mengaku teman. Kini masih bisa dipercaya. Setelah waktu berjalan menuju bulan. Dia malah mendengus. Kotoran berkoar di mana-mana. Hampir seperti kerbau, sapi, atau bahkan kuda. Kotoran dibuang begitu saja, tanpa malu. Bahkan sering memberi kotoran. Apa memang teman seperti itu. Kalau begitu, mending memang tak punya teman.

Hmhm, teman. Teman. Seperti apa sih wujud kau? Masih ada lagi yang mengaku teman. Aku terpaksa percaya biar tahu jelas apa itu teman. Dia memberiku manisan. Banyak sekali. Eh, malah dia juga memberiku cabai. Bahkan lebih banyak. Apa teman tak konsisten? Atau memang teman rupanya seperti itu? Ah, benar-benar tak mau punya teman. Membuat dilema.

Sekali lagi, seseorang datang di saat aku sedang bahagia. Katanya sihdia teman. Kami berpesta bersama. Merayakan indahnya dunia. Lalu, suatu ketika. Aku sakit. Aku terluka. Dia tak datang. Katanya sih lagi sibuk. Lanjutnya, lagi acara keluarga. Eh, teman ke mana dirimu? Apakah teman memang seperti kau? Ihh, tak butuh teman kalau kalau teman kayak kau.

Cukup! Aku bilang aku tak punya teman. Jadi, jangan suka ngaku teman malah bukan teman.

Baiklah terakhir, beberapa hari yang lalu. Seseorang datang saat aku sedang bahagia karena nilai ujian memuaskan. Dia berkata dengan sopan dan halus. "Selamat, aku ikut bahagia melihat kau bahagia." Lalu, beberapa hari kemudian. Dia kembali datang tapi dalam kondisi berbeda. Aku terluka dalam hati. Bahkan air mataku tak lagi menetes saat itu karena jeritan hati lebih kuat. Dia berkata, "Tak perlu sedih, kau tak sendiri. Aku di sini."

Aku lalu bertanya, "Kau adalah teman?". Dia tersenyum lalu bergumam, "Aku bukan teman. Aku adalah sahabat."

Akhirnya aku tahu, aku tak butuh teman tapi aku butuh sahabat.


Watampone, 21:17. 05-05-14
Justang Zealotous

Jumat, 13 Desember 2013

My Dream House

My Sketch is My soul
gambar sketsa


Really, I'm so excited because you make me so upset sometimes, oh no! This is about house who can stay in the beach or the mountain. I drew this sketch when night comes and I was alone, always like that. I incancerated myself and drew something.

My sketch is dwawn by my soul. I don't know why I draw like this but, do you know? I needn't a luxurious beautiful big house I need comfortable house. The house is not only for stay, sleep, or haven and after that I go out, go somewhere. Need happy family who can take me over. I know, if I go in my house, I just find some people laugh, cry, smile, and never seen me. They don't know me, don't know about what I do out.

Probably, some people suppose me that I'm always happy, never had sadness. I alway try to smile, laugh in cry. But, after I'm in my house. I don't know, but I think I'm alone, I don't have someone who cares me. Sometimes, I want to cry, scream, shout till they know I need them.

Justang Zealotous

Jumat, 13 September 2013

Memantaskan Sebelum Mencintai

Aku hanya bisa menatapmu lesu dari kejauhan. Membuncah pedih dari hati yang paling dalam. Tanpa bisa mengumbar kata kepadamu bahwa aku sangat mencintaimu.

Jikalau pun bisa, sungguhlah tak pantas. Siapa aku? Aku bukanlah apa-apa. Dia yang di hatimu sekarang jauh lebih sempurna daripada aku. Aku sadar hal itu.

Tapi, aku hanya bisa mengabarkan pada mentari di kala fajar telah datang, membisiki rembulan ketika malam telah menutup. Jika aku jauh lebih baik daripada dia. Seseorang yang kini di hatimu.

Tahukah kau? Apa jawaban mereka? Ya, aku tetap bukanlah apa-apa. Aku hanya pecundang kata-kata. Merangkai huruf demi huruf menjadi sebuah rangkaian kalimat tanpa makna. Mengukir kisah pilu tanpa cara untuk mengubahnya. Aku sadar hal itu.

Lalu, apa yang aku lakukan? Tidak ada? Salah! Aku mulai memantaskan diri bersamamu. Melakukan sesuatu yang luar biasa hingga akhirnya kau sadar bahwa kau telah salah memilih, karena pilihan satu-satunya yang terbaik untukmu adalah: bersamaku.

Kuminta supir angkot tuk ajari aku mengemudikan mobil, agar aku bisa menjemput hatimu ke hatiku meski hanya pakai angkot. Terus kuminta satpam tuk ajari aku bagaimana mengamankan sesuatu, agar aku bisa menjaga hatimu selalu. Kemudian kuminta pemulung mengajariku memulung sampah, agar aku bisa tahu sesuatu yang dapat didaur ulang tuk membuatmu terus tersenyum. Terakhir, kuminta pembantu tuk mengajariku melakukan pekerjaan rumah, agar aku tahu cara terbaik mengusap air matamu di saat kau menangis.

Dan, dengan semua yang telah aku lakukan untuk bisa pantas bersamamu. Maka, kumulai tuk memberanikan diri mendekatimu di saat aku telah yakin bahwa kini aku jauh lebih baik, jauh lebih hebat, jauh lebih sempurna dan jauh lebih mudah tuk menghayal semua itu. Hahahahah!


Cukup! Berhentilah menghayal! Lakukan sesuatu dan buktikan!

Senin, 29 Juli 2013

Kapan Giliran Aku Bagi-bagi THR?

bagi-bagi thr
Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Ehh, beberapa hari lagi udah mau Hari Raya Idul Fitri. Maaf-maafan yuk! Tapi satu hal yang paling ditungguin anak jaman sekarang adalah THR (Tunjangan Hari Raya).

Seberkas uang atau hadiah diberikan menjelang lebaran tiba. Kadang ada yang memberi uang, pakaian atau yang lain. Hari ini tepat kakakku dapat THR dari pekerjaannya. Horee! Pasti dapat juga. Benar, aku dapat. Kakak membelikan aku celana panjang, seperti yang aku pesan sebelumnya. Raut muka kebahagiaan dari kami terus terpancar indah.

Ehh. Tapi dalam benakku terus menggumam: "Kapan ya aku yang bagi-bagi THR ke keluarga juga?"

Rasanya sangat ingin bagi-bagi THR juga. Membuat dan memandang raut kebahagiaan di wajah mereka Terus merengek untuk diberi hadiah. Aku sangat ingin itu terjadi.

Meskipun sekarang bukan wakunya. Aku masih jadi anak kuliahan yang hanya mengais uang dari orang tua. Meski kerja, tapi tak seberapa. Makan aja tak cukup :(

Maki dari itu. Aku sangat bertekad untuk suatu hari nanti aku lagi yang menggantikan kakak-kakakku berbagi rejeki bersama. Bagi-bagi THR. Mampu mendapatkan pekerjaan yang layak, mampu membahagiakan mereka yang mulai merintih minta uang, hehehe.

Ini curhat, atau apa yah? Ya udah! Sekarang, waktunya Anda berbagi cerita bersama saya. Lebih suka bagi-bagi atau dibagiin? Jawab jujur loh...

Senin, 22 Juli 2013

Kenapa Harus Punya Mimpi?

Haloooo!!!

Samudera yang luas terpatri dengan indahnya. Impian yang tergeletak hanyalah jadi buaian. Bermimpi bak menyeberangi samudera akan tercapai tapi sulit untuk mencapainya.

Ketika ku arahkan dua jemariku menunduk ke atas. Telapak tangan yang haus akan doa terpanjatkan. Aku selalu bertanya pada Tuhan, Allah.

" Ya Allah, kenapa aku harus dilahirkan untuk bermimpi hal yang jauh dari tempat asalku? Kenapa mimpi yang aku harapkan tak sesuai dengan tempatku berada?"
 Sederetan pertanyaan terus ku ungkapkan.

Aku bermimpi menjadi seorang penulis. Kenapa aku lahir di sini? Lahir di tempat orang-orang jarang memperhatikan kami. Tempat di mana kadang kami diabaikan. Tempat tak ada tujuan untuk beralih menulis.
Aku bermimpi menjadi seorang crew TV swasta (TRANS TV). Kenapa aku lahir di sini? Lahir di tempat bukan kawasan untuk memperoleh mimpi itu. Tempat tak ada wadah untuk mencapai mimpi itu. Ini kejam? Tentu.

Dua mimpi itu mungkin terlalu kecil bagi kalian. Tapi itu adalah mimpi terbesar bagi aku. Aku sangat ingin seperti itu. Aku sangat ingin meraih semua itu.

Ya Allah. Kenapa aku harus punya mimpi seperti itu?
Ya Allah. Kenapa aku harus terlahir dengan mimpi itu?

Mungkin mimpi yang pantas untuk aku yang lahir di sini, guru. Ya! Aku juga ingin jadi guru. Tapi itu bukanlah mimpi terbesar aku.

Baiklah... Sekarang Anda bertanya.
kenapa harus punya mimpi?

Jawabku simple. Anda harus punya mimpi karena mimpi adalah salah satu jembatan untuk Anda dapat mencapai tujuan hidup Anda.  Lalu yang jadi pertanyaan adalah, apa tujuan hidup Anda?.

Balik lagi ke awal..
Balik lagi ke doa-doa yang aku panjatkan.

Ya Allah, Apa aku salah ketika aku harus bermimpi yang jauh dari tempatku? Mimpi yang sebenarnya sulit untuk aku raih di tempat ini. Aku terima dengan kekurangan materi yang aku miliki. Tapi jangan pula Engkau kurangkan ilmu padaku. Jadikanlah aku sumber dari ilmu yang dapat membesarkan kehidupanku. Amin Ya Rabbi Alamin...

Sabtu, 20 Juli 2013

Menjadi Penulis Hebat itu Impian

Aku sangat kagum ketika melihat teman-temanku memegang sebuah buku yang bertuliskan namanya sebagai penulis.

Menjadi Penulis Hebat itu Impian


Menjadi seorang penulis hebat adalah sebuah impian yang telah ingin aku raih sejak masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). Aku masih ingat saat itu ketika aku menciptakan beberapa karya dan kubagikan kepada semua teman sekelasku. Ku pandangi wajah mereka yang seakan memohon untuk kelanjutan cerita yang aku buat. Hal itu seakan membangkitkan jiwa kepenulisan aku.

Merambah menjadi siswa di SMP tak menjadikan impian itu surut. Aku malah makin excited untuk terus menghasilkan karya dan karya lagi. Meskipun beberapa karya yang dibuat itu tak sampai jua ke tangan penerbit. Karya itu hanya terpajang kusut di antara beberapa kertas pedih lainnya.

Tiba ke SMA. Aku mulai berkenalan dengan blogspot. Tempat semua tulisan dapat kutulis dan kuterbitkan sendiri tanpa perlu berpangku tangan pada sang penerbit. Blog pertama aku telah hilang. Hilang ditelan oleh modernisasi. Blog yang aku buat itu sudah tak pernah muncul lagi dalam ingatanku.

Kini setelah lama mengadu pada dunia. Maka ku buat lagi sebuah blog. Blog yang telah Anda pandangi ini.

Aku sangat ingin seperti blog-blog mereka. Blog yang dikunjungi oleh ribuan pasang mata hanya untuk mengais ribuan bahkan jutaan kata yang tersirat dalam blog mereka. Penulis blog itu menjadi bak selebritis dunia maya. Mereka dikenal dan memiliki banyak penggemar.

Itulah yang ingin aku rasakan. Menjadi penulis hebat itulah yang ingin aku raih.

Mampukah?
Bisakah?

"Jangan putus asa untuk mengejar sesuatu. Terus kejar dan kamu akan segera meraihnya. Diperlukan tekad yang kuat untuk memenuhi semua itu. Jangan terpaku pada pendapat miring mereka yang malah membuat kamu menjadi jatuh tak berdaya. Kuatkan dirimu. Raih impianmu"

Kalimat di atas akan menjadi penopang untuk aku terus berjuang. Menciptakan sebuah karya yang mesti dinikmati olehmu. Pembaca dan pembaca.

Senin, 25 Maret 2013

Krisis Uang Menyerangku

Gaswat.. gawat…gawast

Beberapa minggu terakhir uang betul-betul telah surut di kantongku, semua menepi bersiap untuk hilang keseluruhan. Aku pusing, pening, gundah, suram karena uang. Pengeluaran menumpuk, pemasukan malah kendor. Semua ini akibat dari molornya kesehatanku pada minggu lalu, aku terkena penyakit yang parah. Susah tidur (sebenarnya sama sekali tidak bisa tidur), tidak makan tapi cuma air susu yang masuk ke tenggorokanku. Setelah berfikir panjang, penyakit ini bukanlah penyebab masalah yang seutuhnya.
Masalah yang mungkin adalah pekerjaan. Pekerjaanku memang sudah tak bersahabat lagi, uang sudah jarang masuk. Namun, yang menyebabkan hal itu adalah karena aku memang jarang masuk kerja, selain karena kuliah dan kursus, kesibukan lain juga terus menghantui. Cukup, tak ada gunanya harus menyalahkan semua itu. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana membuat uang kembali berbondong-bondong masuk di kantong bahkan hingga antri dan penuh sesak

Krisis Uang

Uang, berbicara tentang uang memang suatu hal yang sensitif. Maksudnya, jika kita mampu mengendalikan suasana maka kita akan terhanyut dengan indahnya uang, namun jika ternyata suasanalah yang mengendalikan kita maka kita akan merasa terancam dengan uang, sosok yang akan merenggut hidup kita, menghabiskan waktu kita dan hal tragis lainnya. Nah, kini aku sedang berada dalam status siaga (kayak ingin meletus aja), aku sedang kebingungan mengurus sosok yang dinamakan uang ini. Dulu uang seakan menjadi penolong yang loyal, tapi sekarang entah mengapa semua pada lari dan jarang muncul lebih banyak lagi.
Uang hilang, kepuasan terasa lenyap juga. Beli ini, itu, jadi sukar banget. Aduhhh, uang, uang, kenapa susah banget sih mengejar kamu untuk kembali lagi padaku, menjadi teman loyal dan selalu membantu aku, menolong dan menemani ketika aku butuh.

Capek curhat soal uang, semoga ini menjadi pengingat buat aku bahwa uang itu memang sulit dicari namun akan menjadi mudah jika kita punya keahlian untuk mencarinya, seperti apa? Tergantung kamu. Hehehehehe.

Jumat, 22 Maret 2013

How to Manage a Time?

Jika kalian lihat dari judul artikel ini, bisa jadi kalian menganggap bahwa ini adalah sebuah artikel tips mengatur waktu dengan baik. Tapi nyatanya ini adalah sebuah artikel curhat dari seseorang yang memiliki blog ini.
Akhir-akhir ini aku sedang pusing 1.700 keliling. Wah! Karena apa tuh? Apa lagi kalau bukan tentang waktu. Yapzt, aku sangat pusing bagaimana mengatur waktuku dengan baik, dulu sih bisa tapi tidak tahu kenapa sekarang terasa sangat sulit, luar biasa sulit. Kerja, kuliah, kursus, organisasi semuanya selalu bertabrakan, disaat aku ingin ke tempat ini, malah dipanggil untuk ke tempat yang lain, pusiiinngg…
Cara terbaik mungkin menghilangkan satu pekerjaan, tapi yang mana? Semua terasa penting bagiku. Kerja, penting banget soalnya bisa dapat “duit”. Kuliah, ini mah lebih penting lagi soalnya untuk masa depan aku yang lebih baik. Kursus, penting lah untuk menunjang pengetahuan aku lebih. Organisasi, juga penting banget biar bisa nambah pengalaman, apalagi mau jadi guru. So, what should I do?

Help me… help me… help me…

I’m really hope your suggestion, the best suggestion. I hope so.

Now! Time is my problem, my responsibility and my homework for manage it.