Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 Januari 2015
GALAU? Curhat
Sama Allah
Oleh: Justang
Zealotous
Ya Allah, masih kuingat kala itu, di
mana kegelisahan menghantui hidupku. Maka, izinkanlah aku curhat padaMu karena
tempat curhat terbaik hanya padaMu.
Jika
masa putih abu-abu kita masih bisa bersantai ria sambil mojok bareng teman di
kafe tanpa peduli dengan dunia yang akan digenggam nantinya, maka masa kampus
bukan lagi waktunya untuk bersifat labil. Dunia nyata akan segera disambut,
siap tidak siap mesti bertarung dengan otak atau otot yang dipunya.
Seperti
halnya ketika gerbang SMA telah kulewati. Aku mesti siap menjadi mahasiswa dan
pertarungan segera terjadi. Dari katanya saja, maha dan siswa. Itu berarti
bukan sekadar pelajar ingusan yang disuapi ilmu tapi sudah saatnya mencari ilmu
dan memakannya sendiri.
Setelah
memilih program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Segera pula
pengalaman kucari untuk menunjang tujuan utama nanti, menjadi seorang guru. Di
antaranya, gabung pada organisasi kepenulisan. Biar kepercayaan diri bisa
meningkat.
Aku
juga ikut kursus Bahasa Inggris. Bukan tanpa sebab, melainkan bahasa yang satu
itu kuanggap sebagai bahasa dunia. Jika ingin menguasai dunia, maka kuasai dulu
bahasanya. Selain itu, seseorang yang sudah seperti keluarga tiba-tiba
mengajakku bekerja di travel, ini
bisa jadi pengalaman yang paling berharga, pun penambah uang jajan.
Semua
terasa terkendali walau mesti kuliah, kursus, kerja. Beban yang paling besar
kupikul tentang waktu. Tentang bagaimana mengatur jadwal yang sudah semakin
sibuk. Pergi pagi terus pulang sore, saat malam juga kadang mesti kerja lagi.
Malahan Ibu pernah menyindir dengan sindiran halus, kayak artis saja yang tidak
punya waktu untuk keluarga, katanya. Aku hanya mampu menggeleng pasrah, karena
kutahu dari usaha besarku ini akan menghasilkan hal yang besar pula. Itu memang
butuh proses, walau lama.
***
Hingga
pada satu waktu, semua terasa morat marit. Aku bahkan bingung kenapa itu mesti
terjadi. Jadwal kuliah dan kursus adakalanya bertabrakan. Kalau soal kerja,
pada dasarnya memang seperti keluarga, dia membebaskanku masuk kapan saja
ketika ada waktu luang walau kadang tidak sampai hati jika tak pernah masuk
karena jadwal kuliah dan kursus padat.
Aku
berusaha memperbaiki semua waktuku dengan baik. Tapi, teman satu ruangan di
kursus malah bertindak egois atau jadwal kuliahnya juga padat. Semakin bingung
karena memang cuma aku yang prodi bahasa Indonesia, sementara lainnya berasal
dari prodi bahasa Inggris. Tentu satu-satunya penghalang mereka hanya aku.
Pernah
kuminta untuk privat ketika memang tak ada waktu yang cocok untuk belajar
bersama. Namun, kata instruktur yang mengajar di tempat kursus, pasti ada jalan
keluar dari semua itu. Yah, aku tahu itu tapi akan terlalu menghabiskan banyak
waktu jika terus memikirkan jalan keluarnya.
Setelah
berembuk mengenai jadwal kursus yang tepat dengan teman lainnya. Akhirnya kita
punya jalan keluar itu, beberapa hari yang harus kuisi dengan kursus dan
mengabaikan sejenak kerja di travel.
Walau dari itu, sesekali kursus dibatalkan saat ada kuliah mendadak.
Teman-teman pun mulai sering menyalahkanku sebagai pengganggu.
Aku
tak mungkin berhenti kursus hanya karena dicap sebagai pengganggu. Aku juga
punya tujuan utama, pun sama-sama sebagai pelajar di tempat itu. Jadi, mesti
tanggung resiko pada setiap yang terjadi.
***
Memang
masih kelimpungan pada pengaturan jadwal. Tapi, aku mesti cermat mengatur waktu
agar semua itu berjalan dengan baik.
Setelah
seharian kuliah, kursus, juga kerja. Kulihat pembayaran sedang menenggak bulan
itu. Ekonomi keluarga yang menengah ke bawah membuatku harus ekstra berpikir
untuk membiayai kursus selama per bulan. Mau bagaimana lagi? Kemauan untuk
kursus ada pada diriku sendiri.
“Berhenti
dari kursus saja. Toh, sama sekali tak ada hubungannya bahasa Inggris dengan
jurusan yang kau punya,” protes Ibu. Kakak malah ikut mojokin.
“Bukan
soal ada hubungannya atau tidak, Mak. Tapi, bahasa Inggris itu penting,”
balasku membela diri.
“Kalau
penting, kenapa tidak awal pilih jurusan bahasa Inggris saja?”
“Dari
niat, kan, memang sudah mau bahasa Indonesia.”
“Terus
liat tuh! Mau biayain kuliah kamu aja sudah ribet. Tambah lagi kursus. Sudah
kerja malah gaji tak memuaskan.” Ibu naik pitam. Aku tak mungkin diam saja
karena sadar semua ini sudah sepatutnya harus dilakukan.
“Iya,
Mak. Insya Allah, dari semua ini kita pasti dapat yang lebih baik, kok.
Prosesnya saja yang butuh waktu lama.” Aku meyakinkan. Ibu tersenyum, namun
bukan senyum kelegaan.
Ibu
masih saja durja. Bahkan terus memaksaku untuk berhenti di kursus atau cari
pekerjaan lain yang lebih membantu keuangan. Namun, aku tak bisa memilih. Aku
mesti melakukan keduanya karena punya sasaran utama yang harus dituju, sebuah
kesuksesan. Jika aku berhenti di kursus, tak lagi ada ilmu penunjang untuk masa
depanku.
Setelah
berdebat dengan Ibu yang membuatku kian detik harus menelan ludah. Hari yang
kujalani semakin amburadul. Bukan karena apa, tapi itu terus menjadi beban
pikiranku.
Soal
waktu, bisa saja kuatur semaksimal mungkin, tapi kalau soal biaya malah buatku
nelangsa. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa untuk meringankan beban
keluarga atas biaya yang kutanggungkan.
Kau
tahu? Gaji yang kudapatkan bekerja di travel
itu sungguh hanya sebagai uang jajan karena masuk kerja memang tidak intensif.
Selain itu, travel yang dibina masih
baru dan sosialiasi pada masyarakat pun masih jarang. Terkadang dalam seminggu cuma
bisa menjual tiga sampai empat tiket, itupun kalau beruntung. Bagaimana bisa
mendapatkan gaji yang besar?
***
Suatu
hari, ada pesan singkat yang masuk di ponselku kalau ada kursus pukul 1 siang,
sementara bos di travel menghubungi
kalau ada yang pesan tiket dan mesti kukerjakan segera. Pada pagi hingga siang,
jadwal kuliah padat dan tak mungkin kutinggalkan.
Dengan
penuh percaya diri, kuyakinkan pada hati bisa menyelesaikannya dengan baik. Aku
pun mengikuti kuliah secara disiplin. Saat pukul 1 siang tiba, segera
kulangkahkan kaki menuju tempat kursus.
Aku
menunggu begitu lama, setidaknya ada setengah jam berlalu namun belum juga ada
seorang pun yang datang. Bos terus saja menghubungi atas tiket tapi tetap saja
kuabaikan karena menunggu kursus mulai.
Setelah
hampir setengah tiga, tiba-tiba pesan singkat masuk ke ponsel memberitahukan
kalau kursus hari itu dibatalkan dengan alasan tak ada yang bisa masuk, katanya
sih capek. Berang rasanya mendapatkan info itu. Kenapa alasan capek jadi
penghalang semuanya? Aku juga capek. Bahkan sangat capek. Aku mengelus dada dan
berusaha sabar menerima.
Kemudian,
segera aku menuju ke tempat kerja. Di sana tak ada bos. Dengan perasaan masih
gusar, aku langsung mengerjakan tugas untuk pesan tiket buat seseorang yang
sedari tadi menghubungi. Setelah berunding lewat telepon tentang harga dan
segalanya. Pekerjaan itu akhirnya selesai. Aku menghembuskan napas lega.
Tiket
yang dipesan sudah kucetak dan siap diberikan. Bos akhirnya datang saat sore
harinya.
“Bagaimana
dengan tiket yang dipesan tadi?” tanyanya.
Aku
menyodorkan amplop berisi tiket itu padanya. Dia menerima dengan senang hati.
Perasaanku agak sedikit tenang dibuatnya. Setelah tiket itu berulang kali
dibacanya, matanya membelalak tajam. Aku bingung namun tak berani kutanya
mengapa.
“Coba
cek tanggal keberangkatannya?” Dia mulai bertanya. Jantungku berdegup kencang.
“Hari
ini, Pak,” jawabku dengan pasti.
“Hari
ini? Itu beberapa jam yang lalu dan artinya tiket ini sudah kedaluwarsa. Mana
mereka sudah bayar lagi.” Wajahnya memerah.
Aku
menunduk malu. Ya Allah, apa yang telah kuperbuat? Batinku. Semua seperti
bertimbun-timbun banyak sekali membebaniku. Di mana aku harus mengganti uang
yang ratusan ribu itu, bahkan hampir sejuta? Uang kursus saja aku masih
kelayapan. Ingin rasanya teriak dan menghunuskan pedang ke jantung begitu saja.
Betapa bodohnya aku!
Lalu,
aku pulang dengan perasaan paling gundah. Aku benar-benar galau. Wajahku sedari
tadi begitu masam memikirkan uang yang mesti kuganti. Ibu yang memperhatikan
diriku tak banyak tanya. Aku pun juga lebih memilih diam. Tak pernah
kuceritakan masalah ini, biar kutanggung sendiri.
Ketika
malam merangkak datang, tak pernah tenang jiwaku. Makan pun terasa tak enak.
Setiap ibu mulai bertanya, aku hanya bisa menjawab kalau tak dalam masalah. Aku
benar-benar tak ingin melibatkan Ibu ataupun yang lainnya ke dalam masalahku,
pun sebenarnya aku malu akan semua ini.
Malam
semakin malam, tak juga lelap tidurku. Kesalahan fatal tadi terus menghantui
diriku, bahkan tiap memejamkan mata terus kuingat kejadian itu. Ya Allah, apa
yang terjadi padaku? Lalu, kupikir untuk segera mengambil wudhu.
Meski
memang tak lelap, tapi aku sudah tidur walau hanya sebentar. Aku pun salah
tahajud untuk memohon dan berserah diri karena kutahu hanya Allah kini tempat
mengadu. Tak ada teman curhat terbaik selain padaNya.
Usai
melaksanakan dua rakaat, aku menengadahkan tangan dan memanjatkan doa. Terus
kumohon agar diberikan ketenangan jiwa dan hati. Dilancarkan segala urusan. Aku
tahu, tak ada yang berjalan dengan percuma di dunia ini, pasti semua ada hikmah
di baliknya. Di sela-sela berdoa, setetes bening di sudut mataku terjatuh
membasahi pipi.
***
Pagi
harinya, aku masih belum bisa melupakan kejadian sebelumnya. Namun, aku
berusaha bangkit dari keterpurukan ini. Begitupun ketika berada di kampus,
teman-teman memperhatikanku dengan penuh selidik. Mereka mungkin agak bingung
dengan tampangku yang terlihat bungkam. Walau sekali-kali aku berusaha
menciptakan senyum itu pada mereka.
Saat
kembali di tempat kerja, sejujurnya aku tak ingin masuk hari itu karena masih
sangat malu dengan yang kemarin tapi mesti bersikap profesional. Bos juga
memperhatikan aku agak berbeda, tentu dia tahu mengapa aku terlihat durja
begitu.
“Tak
perlu sedih. Lupakan saja soal kemarin! Itu memang resiko kerja. Kalau begini
saja kamu tidak kuat, bagaimana nantinya ketika kamu sudah kerja di perusahaan
yang besar. Kau tahu? Semakin besar seseorang maka semakin besar pula resiko
atau beban yang mesti dipikulnya,” ucapnya. Aku hanya bisa mengangguk lemah.
“Ya
sudah, cepat ambil barang-barangmu!” suruhnya yang membuat aku bingung. Apa dia
ingin mengusirku?
Lalu,
tiba-tiba dia membonceng dan membawaku ke suatu tempat. Aku terus
bertanya-tanya dalam hati entah ke mana dia akan pergi. Aku bahkan semakin
kaget ketika ternyata dia singgah di warung makan. Katanya sih dia ingin
mentraktirku makan agar aku tidak muram lagi. Aku benar-benar tidak mengerti
tapi sungguh baik yang dia tunjukkan padaku. Bahkan dia menyuruhku untuk
melupakan soal uang itu.
Entah
sekarang perasaanku sulit digambarkan seperti apa. Sejujurnya aku masih gelisah
karena bagaimanapun juga itu semua salahku. Tapi, ketika dia memintaku untuk
melupakannya, sedikit mengurangi kegelisahan itu. Ketika di rumah, Ibu
tiba-tiba menghadang langkahku. Entah apa lagi yang ingin Ibu debatkan.
“Ini,
Nak, untuk biaya kursusmu! Semoga kau bisa meraih yang kau impikan itu.” Ibu
menyodorkan uang dan seakan menghapuskan semua rasa gelisah di dadaku.
Watampone,
20 November 2014
Senin, 05 Mei 2014
Aku Tak Punya Teman
Teman? Siapa sih teman itu? Apakah dia sejenis tumbuhan
merambat? Seekor hewan? Atau makhluk tak kasat mata?
Entahlah. Yang jelas, aku tak punya teman.
Dalam dunia yang selama ini kujalani, aku tak pernah
punya teman. Kalau pun punya, aku tak ingat kapan. Tiap hari kujalani dengan
indah, tanpa teman. Tanpa iming-iming teman. Pokoknya, aku tak punya teman.
Aku pernah bertemu dengan seseorang. Katanya sih dia teman. Ah, yang benar teman
seperti dia? Lagaknya agak aneh, menyedihkan. Ditatap dengan sebelah mata pun
tetap memilukan. Ada lagi, dia juga pernah bilang kalau dia adalah teman. Masih
tak percaya, rupanya teman seperti dia. Tiap hari sembunyi di balik kata-kata.
Mengendap perlahan, mencuat perlahan, bahkan menusuk perlahan. Terasa
mengerikan. Ataukah teman memang mengerikan? Ah, aku masih tak punya teman.
Dulu. Dulu sekali. Setiap hari, ada yang mengaku teman,
lalu pergi begitu saja. Apa memang teman begitu? Menakutkan. Sudah seperti
nyamuk yang menghisap darah, lalu pergi membekas luka bahkan perih. Oh, teman.
Apa memang kau seperti nyamuk?
Masih soal teman. Atau orang-orang yang mengaku teman.
Beberapa waktu yang lalu, ada pula yang mengaku teman. Kini masih bisa
dipercaya. Setelah waktu berjalan menuju bulan. Dia malah mendengus. Kotoran
berkoar di mana-mana. Hampir seperti kerbau, sapi, atau bahkan kuda. Kotoran
dibuang begitu saja, tanpa malu. Bahkan sering memberi kotoran. Apa memang
teman seperti itu. Kalau begitu, mending memang tak punya teman.
Hmhm, teman. Teman. Seperti apa sih wujud kau? Masih ada lagi yang mengaku
teman. Aku terpaksa percaya biar tahu jelas apa itu teman. Dia memberiku
manisan. Banyak sekali. Eh, malah dia juga memberiku cabai. Bahkan lebih
banyak. Apa teman tak konsisten? Atau memang teman rupanya seperti itu? Ah,
benar-benar tak mau punya teman. Membuat dilema.
Sekali lagi, seseorang datang di saat aku sedang bahagia.
Katanya sihdia teman. Kami berpesta bersama. Merayakan indahnya
dunia. Lalu, suatu ketika. Aku sakit. Aku terluka. Dia tak datang.
Katanya sih lagi
sibuk. Lanjutnya, lagi acara keluarga. Eh, teman ke mana dirimu? Apakah teman
memang seperti kau? Ihh, tak butuh teman kalau kalau teman kayak kau.
Cukup! Aku bilang aku tak punya teman. Jadi, jangan suka
ngaku teman malah bukan teman.
Baiklah terakhir, beberapa hari yang lalu. Seseorang
datang saat aku sedang bahagia karena nilai ujian memuaskan. Dia berkata dengan
sopan dan halus. "Selamat, aku ikut bahagia melihat kau bahagia."
Lalu, beberapa hari kemudian. Dia kembali datang tapi dalam kondisi berbeda.
Aku terluka dalam hati. Bahkan air mataku tak lagi menetes saat itu karena
jeritan hati lebih kuat. Dia berkata, "Tak perlu sedih, kau tak sendiri.
Aku di sini."
Aku lalu bertanya, "Kau adalah teman?". Dia
tersenyum lalu bergumam, "Aku bukan teman. Aku adalah sahabat."
Akhirnya aku tahu, aku tak butuh teman tapi aku butuh
sahabat.
Watampone, 21:17. 05-05-14
Justang Zealotous
Jumat, 13 Desember 2013
My Sketch is My soul
Really, I'm so excited because you make me so upset sometimes, oh no! This is about house who can stay in the beach or the mountain. I drew this sketch when night comes and I was alone, always like that. I incancerated myself and drew something.
My sketch is dwawn by my soul. I don't know why I draw like this but, do you know? I needn't a luxurious beautiful big house I need comfortable house. The house is not only for stay, sleep, or haven and after that I go out, go somewhere. Need happy family who can take me over. I know, if I go in my house, I just find some people laugh, cry, smile, and never seen me. They don't know me, don't know about what I do out.
Probably, some people suppose me that I'm always happy, never had sadness. I alway try to smile, laugh in cry. But, after I'm in my house. I don't know, but I think I'm alone, I don't have someone who cares me. Sometimes, I want to cry, scream, shout till they know I need them.
Justang Zealotous
Really, I'm so excited because you make me so upset sometimes, oh no! This is about house who can stay in the beach or the mountain. I drew this sketch when night comes and I was alone, always like that. I incancerated myself and drew something.
My sketch is dwawn by my soul. I don't know why I draw like this but, do you know? I needn't a luxurious beautiful big house I need comfortable house. The house is not only for stay, sleep, or haven and after that I go out, go somewhere. Need happy family who can take me over. I know, if I go in my house, I just find some people laugh, cry, smile, and never seen me. They don't know me, don't know about what I do out.
Probably, some people suppose me that I'm always happy, never had sadness. I alway try to smile, laugh in cry. But, after I'm in my house. I don't know, but I think I'm alone, I don't have someone who cares me. Sometimes, I want to cry, scream, shout till they know I need them.
Justang Zealotous
Jumat, 13 September 2013
Aku hanya bisa menatapmu lesu dari kejauhan. Membuncah
pedih dari hati yang paling dalam. Tanpa bisa mengumbar kata kepadamu bahwa aku
sangat mencintaimu.
Jikalau pun bisa, sungguhlah tak pantas. Siapa aku?
Aku bukanlah apa-apa. Dia yang di hatimu sekarang jauh lebih sempurna daripada
aku. Aku sadar hal itu.
Tapi, aku hanya bisa mengabarkan pada mentari di kala
fajar telah datang, membisiki rembulan ketika malam telah menutup. Jika aku
jauh lebih baik daripada dia. Seseorang yang kini di hatimu.
Tahukah kau? Apa jawaban mereka? Ya, aku tetap
bukanlah apa-apa. Aku hanya pecundang kata-kata. Merangkai huruf demi huruf
menjadi sebuah rangkaian kalimat tanpa makna. Mengukir kisah pilu tanpa cara
untuk mengubahnya. Aku sadar hal itu.
Lalu, apa yang aku lakukan? Tidak ada? Salah! Aku
mulai memantaskan diri bersamamu. Melakukan sesuatu yang luar biasa hingga
akhirnya kau sadar bahwa kau telah salah memilih, karena pilihan satu-satunya
yang terbaik untukmu adalah: bersamaku.
Kuminta supir angkot tuk ajari aku mengemudikan mobil,
agar aku bisa menjemput hatimu ke hatiku meski hanya pakai angkot. Terus
kuminta satpam tuk ajari aku bagaimana mengamankan sesuatu, agar aku bisa
menjaga hatimu selalu. Kemudian kuminta pemulung mengajariku memulung sampah,
agar aku bisa tahu sesuatu yang dapat didaur ulang tuk membuatmu terus
tersenyum. Terakhir, kuminta pembantu tuk mengajariku melakukan pekerjaan
rumah, agar aku tahu cara terbaik mengusap air matamu di saat kau menangis.
Dan, dengan semua yang telah aku lakukan untuk bisa
pantas bersamamu. Maka, kumulai tuk memberanikan diri mendekatimu di saat aku
telah yakin bahwa kini aku jauh lebih baik, jauh lebih hebat, jauh lebih
sempurna dan jauh lebih mudah tuk menghayal semua itu. Hahahahah!
Cukup! Berhentilah menghayal! Lakukan sesuatu dan
buktikan!
Senin, 29 Juli 2013
Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Ehh, beberapa hari lagi udah mau Hari Raya Idul Fitri. Maaf-maafan yuk! Tapi satu hal yang paling ditungguin anak jaman sekarang adalah THR (Tunjangan Hari Raya).
Seberkas uang atau hadiah diberikan menjelang lebaran tiba. Kadang ada yang memberi uang, pakaian atau yang lain. Hari ini tepat kakakku dapat THR dari pekerjaannya. Horee! Pasti dapat juga. Benar, aku dapat. Kakak membelikan aku celana panjang, seperti yang aku pesan sebelumnya. Raut muka kebahagiaan dari kami terus terpancar indah.
Ehh. Tapi dalam benakku terus menggumam: "Kapan ya aku yang bagi-bagi THR ke keluarga juga?"
Rasanya sangat ingin bagi-bagi THR juga. Membuat dan memandang raut kebahagiaan di wajah mereka Terus merengek untuk diberi hadiah. Aku sangat ingin itu terjadi.
Meskipun sekarang bukan wakunya. Aku masih jadi anak kuliahan yang hanya mengais uang dari orang tua. Meski kerja, tapi tak seberapa. Makan aja tak cukup :(
Maki dari itu. Aku sangat bertekad untuk suatu hari nanti aku lagi yang menggantikan kakak-kakakku berbagi rejeki bersama. Bagi-bagi THR. Mampu mendapatkan pekerjaan yang layak, mampu membahagiakan mereka yang mulai merintih minta uang, hehehe.
Ini curhat, atau apa yah? Ya udah! Sekarang, waktunya Anda berbagi cerita bersama saya. Lebih suka bagi-bagi atau dibagiin? Jawab jujur loh...
Ehh, beberapa hari lagi udah mau Hari Raya Idul Fitri. Maaf-maafan yuk! Tapi satu hal yang paling ditungguin anak jaman sekarang adalah THR (Tunjangan Hari Raya).
Seberkas uang atau hadiah diberikan menjelang lebaran tiba. Kadang ada yang memberi uang, pakaian atau yang lain. Hari ini tepat kakakku dapat THR dari pekerjaannya. Horee! Pasti dapat juga. Benar, aku dapat. Kakak membelikan aku celana panjang, seperti yang aku pesan sebelumnya. Raut muka kebahagiaan dari kami terus terpancar indah.
Ehh. Tapi dalam benakku terus menggumam: "Kapan ya aku yang bagi-bagi THR ke keluarga juga?"
Rasanya sangat ingin bagi-bagi THR juga. Membuat dan memandang raut kebahagiaan di wajah mereka Terus merengek untuk diberi hadiah. Aku sangat ingin itu terjadi.
Meskipun sekarang bukan wakunya. Aku masih jadi anak kuliahan yang hanya mengais uang dari orang tua. Meski kerja, tapi tak seberapa. Makan aja tak cukup :(
Maki dari itu. Aku sangat bertekad untuk suatu hari nanti aku lagi yang menggantikan kakak-kakakku berbagi rejeki bersama. Bagi-bagi THR. Mampu mendapatkan pekerjaan yang layak, mampu membahagiakan mereka yang mulai merintih minta uang, hehehe.
Ini curhat, atau apa yah? Ya udah! Sekarang, waktunya Anda berbagi cerita bersama saya. Lebih suka bagi-bagi atau dibagiin? Jawab jujur loh...
Senin, 22 Juli 2013
Haloooo!!!
Samudera yang luas terpatri dengan indahnya. Impian yang tergeletak hanyalah jadi buaian. Bermimpi bak menyeberangi samudera akan tercapai tapi sulit untuk mencapainya.
Ketika ku arahkan dua jemariku menunduk ke atas. Telapak tangan yang haus akan doa terpanjatkan. Aku selalu bertanya pada Tuhan, Allah.
Aku bermimpi menjadi seorang penulis. Kenapa aku lahir di sini? Lahir di tempat orang-orang jarang memperhatikan kami. Tempat di mana kadang kami diabaikan. Tempat tak ada tujuan untuk beralih menulis.
Aku bermimpi menjadi seorang crew TV swasta (TRANS TV). Kenapa aku lahir di sini? Lahir di tempat bukan kawasan untuk memperoleh mimpi itu. Tempat tak ada wadah untuk mencapai mimpi itu. Ini kejam? Tentu.
Dua mimpi itu mungkin terlalu kecil bagi kalian. Tapi itu adalah mimpi terbesar bagi aku. Aku sangat ingin seperti itu. Aku sangat ingin meraih semua itu.
Ya Allah. Kenapa aku harus punya mimpi seperti itu?
Ya Allah. Kenapa aku harus terlahir dengan mimpi itu?
Mungkin mimpi yang pantas untuk aku yang lahir di sini, guru. Ya! Aku juga ingin jadi guru. Tapi itu bukanlah mimpi terbesar aku.
Baiklah... Sekarang Anda bertanya.
kenapa harus punya mimpi?
Jawabku simple. Anda harus punya mimpi karena mimpi adalah salah satu jembatan untuk Anda dapat mencapai tujuan hidup Anda. Lalu yang jadi pertanyaan adalah, apa tujuan hidup Anda?.
Balik lagi ke awal..
Balik lagi ke doa-doa yang aku panjatkan.
Ya Allah, Apa aku salah ketika aku harus bermimpi yang jauh dari tempatku? Mimpi yang sebenarnya sulit untuk aku raih di tempat ini. Aku terima dengan kekurangan materi yang aku miliki. Tapi jangan pula Engkau kurangkan ilmu padaku. Jadikanlah aku sumber dari ilmu yang dapat membesarkan kehidupanku. Amin Ya Rabbi Alamin...
Samudera yang luas terpatri dengan indahnya. Impian yang tergeletak hanyalah jadi buaian. Bermimpi bak menyeberangi samudera akan tercapai tapi sulit untuk mencapainya.
Ketika ku arahkan dua jemariku menunduk ke atas. Telapak tangan yang haus akan doa terpanjatkan. Aku selalu bertanya pada Tuhan, Allah.
" Ya Allah, kenapa aku harus dilahirkan untuk bermimpi hal yang jauh dari tempat asalku? Kenapa mimpi yang aku harapkan tak sesuai dengan tempatku berada?"Sederetan pertanyaan terus ku ungkapkan.
Aku bermimpi menjadi seorang penulis. Kenapa aku lahir di sini? Lahir di tempat orang-orang jarang memperhatikan kami. Tempat di mana kadang kami diabaikan. Tempat tak ada tujuan untuk beralih menulis.
Aku bermimpi menjadi seorang crew TV swasta (TRANS TV). Kenapa aku lahir di sini? Lahir di tempat bukan kawasan untuk memperoleh mimpi itu. Tempat tak ada wadah untuk mencapai mimpi itu. Ini kejam? Tentu.
Dua mimpi itu mungkin terlalu kecil bagi kalian. Tapi itu adalah mimpi terbesar bagi aku. Aku sangat ingin seperti itu. Aku sangat ingin meraih semua itu.
Ya Allah. Kenapa aku harus punya mimpi seperti itu?
Ya Allah. Kenapa aku harus terlahir dengan mimpi itu?
Mungkin mimpi yang pantas untuk aku yang lahir di sini, guru. Ya! Aku juga ingin jadi guru. Tapi itu bukanlah mimpi terbesar aku.
Baiklah... Sekarang Anda bertanya.
kenapa harus punya mimpi?
Jawabku simple. Anda harus punya mimpi karena mimpi adalah salah satu jembatan untuk Anda dapat mencapai tujuan hidup Anda. Lalu yang jadi pertanyaan adalah, apa tujuan hidup Anda?.
Balik lagi ke awal..
Balik lagi ke doa-doa yang aku panjatkan.
Ya Allah, Apa aku salah ketika aku harus bermimpi yang jauh dari tempatku? Mimpi yang sebenarnya sulit untuk aku raih di tempat ini. Aku terima dengan kekurangan materi yang aku miliki. Tapi jangan pula Engkau kurangkan ilmu padaku. Jadikanlah aku sumber dari ilmu yang dapat membesarkan kehidupanku. Amin Ya Rabbi Alamin...
Sabtu, 20 Juli 2013
Aku sangat kagum ketika melihat teman-temanku memegang sebuah buku yang bertuliskan namanya sebagai penulis.
Menjadi seorang penulis hebat adalah sebuah impian yang telah ingin aku raih sejak masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). Aku masih ingat saat itu ketika aku menciptakan beberapa karya dan kubagikan kepada semua teman sekelasku. Ku pandangi wajah mereka yang seakan memohon untuk kelanjutan cerita yang aku buat. Hal itu seakan membangkitkan jiwa kepenulisan aku.
Merambah menjadi siswa di SMP tak menjadikan impian itu surut. Aku malah makin excited untuk terus menghasilkan karya dan karya lagi. Meskipun beberapa karya yang dibuat itu tak sampai jua ke tangan penerbit. Karya itu hanya terpajang kusut di antara beberapa kertas pedih lainnya.
Tiba ke SMA. Aku mulai berkenalan dengan blogspot. Tempat semua tulisan dapat kutulis dan kuterbitkan sendiri tanpa perlu berpangku tangan pada sang penerbit. Blog pertama aku telah hilang. Hilang ditelan oleh modernisasi. Blog yang aku buat itu sudah tak pernah muncul lagi dalam ingatanku.
Kini setelah lama mengadu pada dunia. Maka ku buat lagi sebuah blog. Blog yang telah Anda pandangi ini.
Aku sangat ingin seperti blog-blog mereka. Blog yang dikunjungi oleh ribuan pasang mata hanya untuk mengais ribuan bahkan jutaan kata yang tersirat dalam blog mereka. Penulis blog itu menjadi bak selebritis dunia maya. Mereka dikenal dan memiliki banyak penggemar.
Itulah yang ingin aku rasakan. Menjadi penulis hebat itulah yang ingin aku raih.
Mampukah?
Bisakah?
Kalimat di atas akan menjadi penopang untuk aku terus berjuang. Menciptakan sebuah karya yang mesti dinikmati olehmu. Pembaca dan pembaca.
Menjadi seorang penulis hebat adalah sebuah impian yang telah ingin aku raih sejak masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). Aku masih ingat saat itu ketika aku menciptakan beberapa karya dan kubagikan kepada semua teman sekelasku. Ku pandangi wajah mereka yang seakan memohon untuk kelanjutan cerita yang aku buat. Hal itu seakan membangkitkan jiwa kepenulisan aku.
Merambah menjadi siswa di SMP tak menjadikan impian itu surut. Aku malah makin excited untuk terus menghasilkan karya dan karya lagi. Meskipun beberapa karya yang dibuat itu tak sampai jua ke tangan penerbit. Karya itu hanya terpajang kusut di antara beberapa kertas pedih lainnya.
Tiba ke SMA. Aku mulai berkenalan dengan blogspot. Tempat semua tulisan dapat kutulis dan kuterbitkan sendiri tanpa perlu berpangku tangan pada sang penerbit. Blog pertama aku telah hilang. Hilang ditelan oleh modernisasi. Blog yang aku buat itu sudah tak pernah muncul lagi dalam ingatanku.
Kini setelah lama mengadu pada dunia. Maka ku buat lagi sebuah blog. Blog yang telah Anda pandangi ini.
Aku sangat ingin seperti blog-blog mereka. Blog yang dikunjungi oleh ribuan pasang mata hanya untuk mengais ribuan bahkan jutaan kata yang tersirat dalam blog mereka. Penulis blog itu menjadi bak selebritis dunia maya. Mereka dikenal dan memiliki banyak penggemar.
Itulah yang ingin aku rasakan. Menjadi penulis hebat itulah yang ingin aku raih.
Mampukah?
Bisakah?
"Jangan putus asa untuk mengejar sesuatu. Terus kejar dan kamu akan segera meraihnya. Diperlukan tekad yang kuat untuk memenuhi semua itu. Jangan terpaku pada pendapat miring mereka yang malah membuat kamu menjadi jatuh tak berdaya. Kuatkan dirimu. Raih impianmu"
Kalimat di atas akan menjadi penopang untuk aku terus berjuang. Menciptakan sebuah karya yang mesti dinikmati olehmu. Pembaca dan pembaca.
Senin, 25 Maret 2013
Gaswat.. gawat…gawast 
Beberapa minggu terakhir uang betul-betul telah surut di kantongku, semua menepi bersiap untuk hilang keseluruhan. Aku pusing, pening, gundah, suram karena uang. Pengeluaran menumpuk, pemasukan malah kendor. Semua ini akibat dari molornya kesehatanku pada minggu lalu, aku terkena penyakit yang parah. Susah tidur (sebenarnya sama sekali tidak bisa tidur), tidak makan tapi cuma air susu yang masuk ke tenggorokanku. Setelah berfikir panjang, penyakit ini bukanlah penyebab masalah yang seutuhnya.
Masalah yang mungkin adalah pekerjaan. Pekerjaanku memang sudah tak bersahabat lagi, uang sudah jarang masuk. Namun, yang menyebabkan hal itu adalah karena aku memang jarang masuk kerja, selain karena kuliah dan kursus, kesibukan lain juga terus menghantui. Cukup, tak ada gunanya harus menyalahkan semua itu. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana membuat uang kembali berbondong-bondong masuk di kantong bahkan hingga antri dan penuh sesak
Uang, berbicara tentang uang memang suatu hal yang sensitif. Maksudnya, jika kita mampu mengendalikan suasana maka kita akan terhanyut dengan indahnya uang, namun jika ternyata suasanalah yang mengendalikan kita maka kita akan merasa terancam dengan uang, sosok yang akan merenggut hidup kita, menghabiskan waktu kita dan hal tragis lainnya. Nah, kini aku sedang berada dalam status siaga (kayak ingin meletus aja), aku sedang kebingungan mengurus sosok yang dinamakan uang ini. Dulu uang seakan menjadi penolong yang loyal, tapi sekarang entah mengapa semua pada lari dan jarang muncul lebih banyak lagi.
Uang hilang, kepuasan terasa lenyap juga. Beli ini, itu, jadi sukar banget. Aduhhh, uang, uang, kenapa susah banget sih mengejar kamu untuk kembali lagi padaku, menjadi teman loyal dan selalu membantu aku, menolong dan menemani ketika aku butuh.
Capek curhat soal uang, semoga ini menjadi pengingat buat aku bahwa uang itu memang sulit dicari namun akan menjadi mudah jika kita punya keahlian untuk mencarinya, seperti apa? Tergantung kamu. Hehehehehe.
Beberapa minggu terakhir uang betul-betul telah surut di kantongku, semua menepi bersiap untuk hilang keseluruhan. Aku pusing, pening, gundah, suram karena uang. Pengeluaran menumpuk, pemasukan malah kendor. Semua ini akibat dari molornya kesehatanku pada minggu lalu, aku terkena penyakit yang parah. Susah tidur (sebenarnya sama sekali tidak bisa tidur), tidak makan tapi cuma air susu yang masuk ke tenggorokanku. Setelah berfikir panjang, penyakit ini bukanlah penyebab masalah yang seutuhnya.
Masalah yang mungkin adalah pekerjaan. Pekerjaanku memang sudah tak bersahabat lagi, uang sudah jarang masuk. Namun, yang menyebabkan hal itu adalah karena aku memang jarang masuk kerja, selain karena kuliah dan kursus, kesibukan lain juga terus menghantui. Cukup, tak ada gunanya harus menyalahkan semua itu. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana membuat uang kembali berbondong-bondong masuk di kantong bahkan hingga antri dan penuh sesak
Uang, berbicara tentang uang memang suatu hal yang sensitif. Maksudnya, jika kita mampu mengendalikan suasana maka kita akan terhanyut dengan indahnya uang, namun jika ternyata suasanalah yang mengendalikan kita maka kita akan merasa terancam dengan uang, sosok yang akan merenggut hidup kita, menghabiskan waktu kita dan hal tragis lainnya. Nah, kini aku sedang berada dalam status siaga (kayak ingin meletus aja), aku sedang kebingungan mengurus sosok yang dinamakan uang ini. Dulu uang seakan menjadi penolong yang loyal, tapi sekarang entah mengapa semua pada lari dan jarang muncul lebih banyak lagi.
Uang hilang, kepuasan terasa lenyap juga. Beli ini, itu, jadi sukar banget. Aduhhh, uang, uang, kenapa susah banget sih mengejar kamu untuk kembali lagi padaku, menjadi teman loyal dan selalu membantu aku, menolong dan menemani ketika aku butuh.
Capek curhat soal uang, semoga ini menjadi pengingat buat aku bahwa uang itu memang sulit dicari namun akan menjadi mudah jika kita punya keahlian untuk mencarinya, seperti apa? Tergantung kamu. Hehehehehe.
Jumat, 22 Maret 2013
Jika kalian lihat dari judul artikel ini, bisa jadi kalian menganggap bahwa ini adalah sebuah artikel tips mengatur waktu dengan baik. Tapi nyatanya ini adalah sebuah artikel curhat dari seseorang yang memiliki blog ini.
Akhir-akhir ini aku sedang pusing 1.700 keliling. Wah! Karena apa tuh? Apa lagi kalau bukan tentang waktu. Yapzt, aku sangat pusing bagaimana mengatur waktuku dengan baik, dulu sih bisa tapi tidak tahu kenapa sekarang terasa sangat sulit, luar biasa sulit. Kerja, kuliah, kursus, organisasi semuanya selalu bertabrakan, disaat aku ingin ke tempat ini, malah dipanggil untuk ke tempat yang lain, pusiiinngg…
Cara terbaik mungkin menghilangkan satu pekerjaan, tapi yang mana? Semua terasa penting bagiku. Kerja, penting banget soalnya bisa dapat “duit”. Kuliah, ini mah lebih penting lagi soalnya untuk masa depan aku yang lebih baik. Kursus, penting lah untuk menunjang pengetahuan aku lebih. Organisasi, juga penting banget biar bisa nambah pengalaman, apalagi mau jadi guru. So, what should I do?
Help me… help me… help me…
I’m really hope your suggestion, the best suggestion. I hope so.
Now! Time is my problem, my responsibility and my homework for manage it.
Akhir-akhir ini aku sedang pusing 1.700 keliling. Wah! Karena apa tuh? Apa lagi kalau bukan tentang waktu. Yapzt, aku sangat pusing bagaimana mengatur waktuku dengan baik, dulu sih bisa tapi tidak tahu kenapa sekarang terasa sangat sulit, luar biasa sulit. Kerja, kuliah, kursus, organisasi semuanya selalu bertabrakan, disaat aku ingin ke tempat ini, malah dipanggil untuk ke tempat yang lain, pusiiinngg…
Cara terbaik mungkin menghilangkan satu pekerjaan, tapi yang mana? Semua terasa penting bagiku. Kerja, penting banget soalnya bisa dapat “duit”. Kuliah, ini mah lebih penting lagi soalnya untuk masa depan aku yang lebih baik. Kursus, penting lah untuk menunjang pengetahuan aku lebih. Organisasi, juga penting banget biar bisa nambah pengalaman, apalagi mau jadi guru. So, what should I do?
Help me… help me… help me…
I’m really hope your suggestion, the best suggestion. I hope so.
Now! Time is my problem, my responsibility and my homework for manage it.
Langganan:
Postingan (Atom)






