Tampilkan postingan dengan label Puisi Liris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Liris. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 Mei 2014
Gubuk Tanpa Pintu
Oleh: Justang Zealotous
Ini
adalah rumahku, tempat aku mendekap hening. Saat aku telah keluar mencuri napas
dan merampok semua udara. Aku kembali dan pasti akan tetap bertahan pada
rumahku. Meski rumahku ini hanyalah gubuk tanpa pintu. Lalu lalang keluar masuk
orang-orang yang ingin perlindungan. Saat suasana hati tak lagi damai.
Gubukku
ini memang lebih damai akan yang lain. Meski gubuk, bahkan tanpa pintu tapi semua
nyaman menaruh pilu. Tiap kali orang-orang datang dengan mudah, lalu pergi jua
dengan mudah. Semua memang telah telanjur sudah. Namun akan bahagia ketika
mereka tetap tengadah saat aku butuh.
Gubukku
yang tanpa pintu ini memang tak pernah kosong. Selalu penuh sesak dengan
rupa-rupa yang menitipkan duka. Bahkan beberapa sudut gubukku ini penuh lubang,
tak diisi dengan rupa bahagia. Tak ada yang menitipkan suka ataupun cinta.
Aku
telah lama menanti orang dalam gubukku ini. Orang yang bersedia menitip jiwanya
untuk bersama. Orang yang senantiasa hadir menutupi segala lubang penuh duka.
Orang yang bersedia menutup gubukku ini dengan pintu untuk orang lain.
Namun
rasanya terlalu sulit. Orang yang kunanti hanyalah segelintir yang rela. Bahkan
orang yang rela itu pun terkadang pergi, bahkan tak sadar bahwa dialah orang
itu. Orang yang akan menyatu dengan gubukku.
Rembulan
Menangis
Oleh: Justang Zealotous
Tiap hari sajakku
selalu dalam rintihan. Selalu memekikkan jeritan tak bertepi. Jeritan yang
menyesakkan dada. Tersesak dan terimpit dalam duka yang terdalam.
Mungkin bintang gemerlap mengerling damai. Kerlingan yang malah tak terasa pada rembulan. Terasa hanyalah kesendirian di balik jutaan bintang. Balik senyuman yang hanya jadi tangisan.
Rembulan kini menangis bersama sepi kelamnya malam. Sepi-sepi yang jadi rintihan tiap detik. Rerintih yang juga ikut dalam sendu diriku. Kesenduan yang meyakinkan kesendirian seperti rembulan.
Beribu atau bahkan berjuta bintang tetap tersenyum. Senyum yang tak tertuju pada tangis sang rembulan. Tangis yang kini telah merasuk pula dalam diriku. Dalam dan sangat dalam hingga hati hanya mampu menjerit.
Aku adalah rembulan itu. Akulah tangisan. Jeritan itu, aku pula. Semua menyatu menciptakan hati yang terluka.
JZ-7/5/14-20:25 PM
Mungkin bintang gemerlap mengerling damai. Kerlingan yang malah tak terasa pada rembulan. Terasa hanyalah kesendirian di balik jutaan bintang. Balik senyuman yang hanya jadi tangisan.
Rembulan kini menangis bersama sepi kelamnya malam. Sepi-sepi yang jadi rintihan tiap detik. Rerintih yang juga ikut dalam sendu diriku. Kesenduan yang meyakinkan kesendirian seperti rembulan.
Beribu atau bahkan berjuta bintang tetap tersenyum. Senyum yang tak tertuju pada tangis sang rembulan. Tangis yang kini telah merasuk pula dalam diriku. Dalam dan sangat dalam hingga hati hanya mampu menjerit.
Aku adalah rembulan itu. Akulah tangisan. Jeritan itu, aku pula. Semua menyatu menciptakan hati yang terluka.
JZ-7/5/14-20:25 PM
Kamis, 07 November 2013
Wanita Kembang di Taman
Kembang
ungu di taman. Mengembang indah, mengikat
zaman. Wanita cantik duduk menawan. Tanpa nelangsa, dia tersenyum rupawan.
Balutan
kain menutup aurat. Rambut tak tergerai, tetap cantik tersirat. Wanita idaman
menatap kembang penuh hasrat. Semakin cantik tanpa syarat.
Tercium
harum dari kembang taman. Wanginya menggugah, berasa nyaman. Wanita cantik bak
kembang di halaman. Terukir elok dalam alunan.
Suara taman kian merambat. Terdengar merdu makin kuat.
Wanita idaman satukan ikatan lebih erat. Meski dia tak lebih dari sahabat.
Wtp, 0711213
Model Ilustrasi: @Nun Ainun
Rabu, 06 November 2013
Orang-orang menyambutku dengan tawa. Aku tersenyum wibawa. Mereka membawa segala hawa bahagia tanpa kecewa. Dalam rupa, aku masih pada senyum berjiwa.
Semua menatapku tanpa beban. Bukan menganggap aku sebagai korban. Mereka menarikku dalam senda gurau tanpa aduan. Aku hanya memberikan senyum mengikuti peran.
Mereka terlihat sangat bahagia dalam rasa. Ceritakan segala canda mengenai asa-asa. Melupakan sejenak rentetan dosa. Aku tak lebih dari tersenyum tanpa bahasa.
Mungkin yang mereka tahu hanya senyum dalam rupa. Tak pernah sadar mengenai arti dari senyum hampa. Sebuah senyuman tanpa arti apa-apa. Ketika aku benar-benar hanya tersenyum menyapa. Ketika jiwa hanya berisi tangisan yang menerpa.
Aku sedang merintih dalam hati. Hanya senyum yang mampu kutunjukkan meski tiada arti. Aku yakin sekata pun tak pasti untuk menjadi pengganti. Hanya rintihan ini yang mengadu tanpa henti.
wtp, 06112013
Semua menatapku tanpa beban. Bukan menganggap aku sebagai korban. Mereka menarikku dalam senda gurau tanpa aduan. Aku hanya memberikan senyum mengikuti peran.
Mereka terlihat sangat bahagia dalam rasa. Ceritakan segala canda mengenai asa-asa. Melupakan sejenak rentetan dosa. Aku tak lebih dari tersenyum tanpa bahasa.
Mungkin yang mereka tahu hanya senyum dalam rupa. Tak pernah sadar mengenai arti dari senyum hampa. Sebuah senyuman tanpa arti apa-apa. Ketika aku benar-benar hanya tersenyum menyapa. Ketika jiwa hanya berisi tangisan yang menerpa.
Aku sedang merintih dalam hati. Hanya senyum yang mampu kutunjukkan meski tiada arti. Aku yakin sekata pun tak pasti untuk menjadi pengganti. Hanya rintihan ini yang mengadu tanpa henti.
wtp, 06112013
Kamis, 31 Oktober 2013
Wanita berkerudung merah sedang duduk di bawah pohon cemara sembari tersenyum dengan pipi yang cerah menyala. Matanya yang berbinar-binar memandang sekeliling. Memerhatikan setiap langkah kaki yang berjalan di depannya.
Sosok wanita yang entah siapa duduk sendirian. Entah menanti siapa. Entah sedang melakukan apa. Ketika langit semakin cerah. Ketika dia memalingkan wajahnya ke arahku. Aku terpana. Sorot matanya menghiasi pandanganku. Aku terbuai.
Tiba-tiba dia tersenyum. Senyuman yang sempat melelehkan napasku. Membuat sendi-sendi menjadi kaku. Aku terpaku. Sedetik waktu berlalu, dia mengangkat tangan kanannya. Melambaikan tangan. Aku salah tingkah. Jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.
Langkah kakiku mulai bergerak maju. Aku mencoba mendekati. Menatap dia lebih dekat. Merekatkan sinyal hati lebih erat. Tak cukup dua tiga langkah, seorang pria keburu mendekat. Melintas dari arah belakang aku berdiri. Langkahnya semakin cepat hingga ke wanita itu. Memeluknya. Menciumnya. Aku tersentak. Hatiku retak.
wtp,31102013
Sosok wanita yang entah siapa duduk sendirian. Entah menanti siapa. Entah sedang melakukan apa. Ketika langit semakin cerah. Ketika dia memalingkan wajahnya ke arahku. Aku terpana. Sorot matanya menghiasi pandanganku. Aku terbuai.
Tiba-tiba dia tersenyum. Senyuman yang sempat melelehkan napasku. Membuat sendi-sendi menjadi kaku. Aku terpaku. Sedetik waktu berlalu, dia mengangkat tangan kanannya. Melambaikan tangan. Aku salah tingkah. Jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.
Langkah kakiku mulai bergerak maju. Aku mencoba mendekati. Menatap dia lebih dekat. Merekatkan sinyal hati lebih erat. Tak cukup dua tiga langkah, seorang pria keburu mendekat. Melintas dari arah belakang aku berdiri. Langkahnya semakin cepat hingga ke wanita itu. Memeluknya. Menciumnya. Aku tersentak. Hatiku retak.
wtp,31102013
Kamis, 17 Oktober 2013
TAK LAGI CERAH
Aku duduk termenung di bawah rerimbun pohon. Memerhatikan langit jingga perlahan dibungkus awan hitam. Rerintik hujan tampaknya siap menghantam bumi. Aku masih terdiam dalam dekapan angin gila.
Kulihat matahari tak lagi mengintip dari balik pohon tua yang menghadap ke arahku. Gugusan awan hitam benar telah menutupinya.
Langit telah mendung, ditinggalkan pesona yang sepanjang hari menyelimuti. Apalagi hatiku, tak lagi cerah. Sejak kepergian dirinya yang membekas luka. Menggores penuh di setiap sayatannya pada hatiku.
Aku menunduk pilu. Meremas segala kepedihan yang menancap dahulu. Tetiba, langit berubah liar. Menjerit-jerit. Cahaya yang berkelebat terukir ganas. Perlahan, titik-titik air mulai berjatuhan satu-satu, puluhan-puluhan, deras sekali.
Hatiku ikut liar. Terasa ingin menjerit, berteriak, memekikkan segala emosi yang membuncah. Aku bukan untuknya. Dia bukan untukku. Air mata akhirnya ikut menderas mengikuti derasnya hujan. Bangun! Sadar! Dia telah pergi, dengan kekasih barunya.
wtp, 17102013
Aku duduk termenung di bawah rerimbun pohon. Memerhatikan langit jingga perlahan dibungkus awan hitam. Rerintik hujan tampaknya siap menghantam bumi. Aku masih terdiam dalam dekapan angin gila.
Kulihat matahari tak lagi mengintip dari balik pohon tua yang menghadap ke arahku. Gugusan awan hitam benar telah menutupinya.
Langit telah mendung, ditinggalkan pesona yang sepanjang hari menyelimuti. Apalagi hatiku, tak lagi cerah. Sejak kepergian dirinya yang membekas luka. Menggores penuh di setiap sayatannya pada hatiku.
Aku menunduk pilu. Meremas segala kepedihan yang menancap dahulu. Tetiba, langit berubah liar. Menjerit-jerit. Cahaya yang berkelebat terukir ganas. Perlahan, titik-titik air mulai berjatuhan satu-satu, puluhan-puluhan, deras sekali.
Hatiku ikut liar. Terasa ingin menjerit, berteriak, memekikkan segala emosi yang membuncah. Aku bukan untuknya. Dia bukan untukku. Air mata akhirnya ikut menderas mengikuti derasnya hujan. Bangun! Sadar! Dia telah pergi, dengan kekasih barunya.
wtp, 17102013
Langganan:
Postingan (Atom)





