Tampilkan postingan dengan label Komedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komedi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 November 2013

KPK Jadi Hantu - Part 7 / END (Kisah Komedi Horor)

Sebuah cinta yang indah adalah adanya waktu, perhatian dan rasa kasih sayang yang diberikan. Tanpa itu, cinta akan menjadi lemah dan bisa jadi berakhir dengan cara yang tak kita inginkan. Siapa yang salah? Orang yang mengabaikan cinta itu.

Hari ini, aku tak akan membiarkan pria bulus itu pergi begitu saja. Dia harus jera dengan tingkahnya yang berbuat sewenang-wenang kepada istriku. Aku memang sudah menjadi hantu, tapi cintaku tak akan pernah mati untuknya.

“Kugal, cepat ke sini!” panggilku pada Kugal yang masih asyik menghitung bintang. Ya ampun, itu tak penting banget, deh.

Dia tidak membalas, hanya sebuah anggukan dan segera menghampiriku. Kami pun masuk ke dalam rumah istriku, mengikuti pria bulus itu yang terus menggandengnya. Dia tidak mengerti, ya? Istriku masih muda, bukan nenek-nenek yang harus digandeng masuk ke dalam rumah.

Ketika berada di ruang tamu. Pria itu makin berbuat yang keterlaluan. Dia lansung membuka kemeja yang dikenakannya dan segera menarik pakaian istriku. Hal yang aku tak mengerti adalah, istriku malah pasrah pakaiannya ditarik. Bukannya menolak atau mengatakan: Sweeper jangan begitu, Sweeper jangan begitu. Loh, ini film kartun Dora, yah?

Adegan panas mereka seperti dalam cerita horor Indonesia terus berlanjut. Pria yang masih tak kuketahui namanya itu terus merayu, membujuk, dan memaksa untuk istriku berbuat cabul begitu. 

“Berhenti! Berhenti! Berhenti!” teriakku sekuat tenaga dengan gaya cheerleaders sedang beraksi di atas tali sirkus agar membuatnya berhenti. Tapi, betapa bodohnya aku. Mereka tak mungkin mendengarku.

Sementara aku terus teriak menghentikan adegan panas mereka hingga rasanya wajahku telah berubah merah gemas. Kugal malah tertawa terbahak-bahak seperti sedang menonton acara komedi. Dia itu nggak ngerti banget perasaanku.

“Ayo, buka terus, goyangkan pinggulmu, raba pahanya, kuliti pakaiannya dan arahkan jarumku ke sekitar celananya,” sorak Kugal memberikan semangat bagai suporter sepakbola.

Aku sudah tidak habis pikir. Sepertinya Kugal malah memancing emosiku. Akhirnya membuatku naik darah, mataku membelalak tajam, taringku telah keluar serentak, cakar-cakarku mulai tajam untuk ditusukkan ke pantat orang lain, yaitu pria busuk itu.

“BERHENTI!!!!!” teriakku super kencang dan membuat angin topan yang sangat besar, hingga membuat benda-benda di depanku beterbangan, termasuk pria itu dan istriku yang sedang berbuat mesum. Mereka tampak ketakutan.

“Apa yang terjadi? Tak ada hujan, tak ada ojek, kok ada angin topan?” tanya istriku dengan wajahnya yang super kebingungan.
“Aku juga tidak tahu. Tapi, aku mau nyampain sesuatu. Penting banget.”
“Apa Mas?”
“Jawab dulu password-nya. Kalau aku bilang ‘penting banget’, maka kamu harus bilang ‘yang bener’,” ucapnya sok menjelaskan.
“Aduh, ini bukan acara kuis. Buruan, sebelum kutabok dengan pensil warna.”
“Baiklah, cepat tanda tangan surat ini,” ungkapnya lalu memberikan surat yang dimaksud. “Setelah kautanda tangan. Mari kita pergi dari tempat ini, sepertinya ada yang aneh.”

Surat? Surat apa itu? Aku yakin, itu adalah surat yang akan menghancurkan istriku. Aku segera berlari menghampiri mereka. Melemparkan semua barang yang menghalangi pergerakanku. Mereka makin ketakutan ketika barang yang dilihatnya melayang-layang.

“Jangan tanda tangan!” Segera kuraih leher pria itu. Mencekiknya dan berusaha membunuhnya. Dia gemetaran, keringatnya bercucur hebat. Sementara istriku menggigil ketakutan.
“Lepaskan aku! Lepaskan!” Dia terus meronta-ronta di genggamanku.
“Lepaskan? Setelah yang kaulakukan pada istriku. Kamu juga mau korupsi, kan?”

Aku lalu mengangkat tubuhnya dengan mencekik lehernya. Dia terus meronta-ronta dan ingin berkata sesuatu tapi tak jelas sama sekali karena cekikan yang kuberikan. Matanya memerah, mukanya mulai pucat pasi.

Lanjut kuhempaskan tubuhnya hingga menabrak lemari kaca. Tubuhnya bersimbah darah, kulitnya tergores luka. Aku masih tak puas, segera aku mendekatinya untuk memberikan pelajaran (Tenang, bukan pelajaran Matematika). Istriku masih tak berkutip, dia terus memojok di pojokan.

Beberapa langkah. Tiba-tiba sesosok menarikku dari belakang hingga aku jatuh terhempas karenanya. Kulihat dan dia adalah Kugal.

“Kugal, apa yang kamu lakukan?” tanyaku kaget.
“Aku tak membiarkan seseorang melukai orang yang kucintai,” ucapnya tajam seperti orang yang ingin memnghukum mati seseorang.
“Maksud kamu?”
“Sejak aku ketemu dia, aku lansung jatuh hati padanya. Makanya dari awal, aku sangat ingin mencicipi darahnya agar dia bisa bersama denganku selamanya di dunia hantu.”

Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Tapi, itu memang nyata, ini bukan sinetron atau semacamnya. Dia ternyata mencintai pria busuk itu. Baguslah, wanita menyebalkan bersama pria busuk memang serasi.

“Oh, begitukah Kugal? Cepat kausingkirkan pria busuk itu dari sini atau aku yang akan menghabisinya.”
“Apa? Aku tak akan membiarkan kau melukainya lagi. Aku tadi malah senang ketika dia memperkosa istrimu karena aku bisa tahu bagaimana dia melakukan kepada orang di dunia nyata. Agar hubungan kami lebih baik di dunia hantu.”

Di tengah perdebatanku dengan Kugal, sesosok muncul dengan gaya anehnya. Congsot. Si Pocong Ngesot itu datang lagi. Aku senang tak karuan. Sahabatku itu ternyata datang untuk melihatku lagi.

“Cong…soottt!” teriakku sambil berlari menghampirinya dengan gaya slow motion seperti dalam sinetron yang baru pertama kali bertemu dengan orang yang telah lama dinantikannya bertahun-tahun. Ketika di dekatnya, aku lansung memeluknya erat sebagai rasa rinduku padanya.

Dia melepas pelukanku. “Ah, biasa aja. Apa yang terjadi?” tanyanya sok sinis.
“Tahukah kau? Kugal ternyata mencintai pria yang telah menyelingkuhi istriku dan dia tidak terima dengan perlakuan kasarku pada pria itu.”
“Kugal? Ah, cewek hantu sok cantik ini memang suka berbuat yang menyebalkan,” ungkapnya seperti telah mengenal dekat sebelumnya. “Woi, jika kamu memang suka dengan pria itu. Bawa dia! Jangan biarkan dia mengganggu istri Pak KPK.”
“Oke, aku akan membawanya pergi dari sini,” kata Kugal dan segera menghampiri pria itu. Lalu, dia menarik tubuhnya dan menggigit lehernya untuk dibunuh segera. Ih, aku yang menyaksikannya lansung muntah-muntah. Saking jijiknya. Sementara Congsot menatapku jengkel karena aku terlihat kampungan baginya. 

Akhirnya pria busuk itu mati seketika. Hal itu jelas ketika arwahnya lansung muncul menjadi sesosok hantu.

“Ahhh, apa yang terjadi? Kenapa aku tertidur lebay begitu?” tanya pria itu kebingungan sambil terus memperhatikan mayatnya yang terkapar di lantai.
“Bodoh! Kamu itu sudah mati dan sekarang kamu jadi milikku. Mari kita pergi!” ucap Kugal dan segera menarik tangan pria itu untuk membawanya pergi. Pria itu tampak tak rela dibawa Kugal.

Kugal dan pria itu pun pergi entah kemana. Aku menghampiri istriku yang sedari tadi terus meratap ketakutan.

“Istriku, aku sangat merindukanmu.”
“Kurnia, sayangku. Apa itu kamu? Aku juga merindukanmu. Aku harap kamu tak marah padaku karena telah menyelingkuhimu,” balasnya ketika sadar telah mendengar suara ala Justin Bieber yang keluar dari mulutku.
“Aku tak pernah marah padamu karena aku sudah tahu kamu melakukan ini karena ingin menyejahterakan hidupmu. Itu wajar. Aku sungguh senang bisa menatap wajahmu lagi. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Tolong, pakai bajumu,” suruhku dan ia segera mencari bajunya dan mengenakannya.

Cintaku kembali bersemi ketika akhirnya pengusik hidup kami telah dibawa pergi Kugal. Congsot menatapku cemburu. Loh, bukan karena dia juga mencintaiku tapi karena dia cemburu tak mendapatkan pasangan seperti aku. Wajarlah, selain suka ngesot, dia juga jomblo ngenes.

“Gelena, aku mencintaimu tapi aku tak bisa bersamamu lagi,” ucapku sedih.
“Kenapa begitu? Tolong, kamu di mana? Aku tak bisa meihat kamu.”
“Aduh, aku di hadapanmu dan sedang mengelus wajahmu,” ucapku dan ia memegang wajahnya juga. “Kita tak bisa bersama karena kita punya dunia yang berbeda. Aku sudah jadi hantu.”
“Aku tak mau. Pokonya aku masih ingin bersamamu, selamanya.” Dia terus memaksa untuk tetap bersamaku, bahkan dia terus menghentakkan kakinya. Tidak penting!
“Tidak bisa.”
“Bisa.”
“Tidak bisa.”
“Bisa.”
“BERHENTIIII!!!” teriak Congsot menghentikan perdebatan kami dan jelas kami lansung diam seperti patung. “Kalian berdua sama egoisnya. Hmmhm, istri Pak KPK yang terhormat, cantik, memesona, dan WOW, kalian itu tidak bisa bersama lagi karena dunia kalian berbeda.”
“Tapi, aku tak rela harus berpisah dengannya,” ucapnya sembari air mata mulai mengalir deras. Aku sungguh kasihan melihatnya.
“Kamu ini sama saja dengan Pak KPK, egois. Kalau dibilang tidak bisa, yah, tidak bisa,” bentak Congsot dan kemudian menarik tanganku pergi meninggalkan istriku.

Aku hanya bisa pasrah. Aku juga tidak rela untuk berpisah dengannya tapi mau bagaimana lagi.

“Tunggu!” Istriku berteriak dan menepuk pundakku dari belakang. Aku berbalik dan betapa terperanjatnya ketika kulihat dia telah menjadi sesosok hantu. Rupanya dia telah melakukan aksi gila dengan menusuk perutnya sendiri dengan pisau berkali-kali hingga tewas.

“Ya ampun, kamu bodoh atau emang bodoh banget. Jika kamu mau mati, kan bisa bilang ke aku. Biar aku yang membunuhmu dengan cara lembut dan tak sekejam itu.”
“Tapi, kita bisa bersama lagi, kan?” ucapnya menggoda.
“Hehhehe, iya,” ucapku dan ia segera memeluk erat dan menyosor bibirku. Ah, sepertinya dia benar-benar kangen dengan tubuhku gembrotku. Heheheh.

Setelah lika-liku kehidupan telah kami jalani. Setelah kematian memisahkan kami. Akhirnya, aku dan istriku kembali bersama selamanya di dunia hantu. Congsot yang menatap kemesraan kami pergi mengesot dengan irinya. Aku harap, dia mendapatkan kekasih yang setia padanya.


TAMAT

Minggu, 13 Oktober 2013

KPK Jadi Hantu - Part 6 (Kisah Komedi Horor)

Ketika uang berbicara. Mata terasa buta, mulut membisu, telinga menjadi tuli. Semua seakan digelapkan oleh uang. Siapa yang akan menderita? Mereka yang memilih kegelapan.

Lelaki jahanam itu ternyata korupsi. Ia berhasil menggelapkan uang negara demi kepentingan pribadi. Tipu muslihat yang ia umbar ternyata juga ditujukan kepada istriku. Ya, karena jabatan istriku begitu penting pada sebuah perusahaan (maaf nama perusahaan disensor), maka lelaki itu menipu istriku dengan menidurinya agar ia bisa meraih cintanya, juga uangnya.

Aku bingung dan merasa bersalah. Sepertinya, istriku tak sepenuhnya salah. Ia melakukan itu karena ditipu, tapi tetap saja dia telah menyelingkuhiku. Aku masih pusing harus memikirkan ini. Kutatap wajah Kugal diam-diam, gigi taringnya telah keluar dua.

“Woles gal, woles. Jika kamu terburu-buru melakukan ini, semuanya bisa hancur. Istriku akan menderita karena telah ditipu. Jadi, tenangkan dirimu.”
“Aku tidak bisa, aku tak sanggup untuk tak mencicipi darah satu orang hari ini.” Kugal terus meronta-ronta untuk segera mencicipi darah lelaki itu, tapi aku tetap berusaha keras menahan tindakannya. Hingga di ujung kesabaran menahannya.
“Maaf, aku terpaksa.”

Plakk! Tanganku berhasil menampar pipinya. Dia tertegun sejenak. Beberapa detik kemudian, aliran air begitu deras keluar dari matanya. Dia menangis menjerit-jerit bagai anak kecil yang tidak diberi uang jajan sebulan. Ingin mereda suasana, malah membuat tambah kewalahan. Dia terus menangis tanpa jeda. Ingin rasanya menekan tombol pause agar dia berhenti, setidaknya sejenak, tapi sangat susah.

“Nang ning nung, ning nung, ning nung. Ayo, berhenti nangis, ya! Kalau tidak, nanti dicubit gajah, loh! Mau?” rayuku tapi tak jua membuat dia berhenti menangis, malah kini tangisannya semakin kencang. Beberapa hantu yang mendengarnya bahkan pinsang karena tak tahan lagi.

“Ya udah, kalau kamu tidak mau berhenti, kita putus!” Memang kami tidak pernah pacaran, tapi semoga membuat tangisannya berhenti dan akhirnya dia berhenti juga menangis. Dasar hantu paling cengeng. Jika bukan karena ingin melepas benak dengan kesendirian di dunia hantu, sudah kubuang kau jauh-jauh. Aku membatin.

‘Mas, aku sudah sangat lelah. Aku butuh darah untuk membangkitkan staminaku,” mohonnya dengan wajah yang semakin pucat dari kepucatan sebelumnya.
“Baiklah, kamu boleh mencicipi darah orang tapi jangan lelaki itu karena dia sangat penting bagiku. Dia satu-satunya kunci utama agar istriku dan aku tak merasa tertipu,” ucapku dengan gagah bagai Presiden Soekarno membawakan pidatonya.

Kemudian, kuajak Kugal ke luar untuk mencari orang yang akan dicicipi darahnya. Dia sangat senang dan terus menggandeng tanganku erat. Setelah berada di luar rumah mewah itu, ternyata terdapat satu orang pria sedang lewat membawa gerobaknya. Dia penjual sate keliling.

“Sateeee! Sateee!” teriak ramai penjual itu, meskipun hanya dia seorang.
“Kugal, tuh ada orang. Silahkan dekati dia dan cicipi darahnya terus bawakan aku 1000 tusuk sate, lagi lapar banget. Meskipun jadi hantu, ternyata aku lapar juga,” ucapku sembari terus menunjuk-nunjuk ke arah pedagang sate.

Dari jarak beberapa centimeter, kudengar pembicaraan mereka ketika Kugal telah mendekati pedagang sate tersebut. “Mas, minta satenya dong. 1000 tusuk yah,” ucap dingin Kugal dengan nada menggoda.
Pedagang sate itu berpeluh-peluh, keringatnya terus berpancar keluar. Seluruh tubuhnya gemetar takut ketika sadar tak satupun orang sedang mengajaknya bicara. “Please deh! Ini sudah tahun 2013, masih saja ada Susana, tapi siapa itu? Ahhh….!” ungkapnya, lalu lari terbirit-birit meninggalkan gerobaknya sendiri.
“Ah, bagaimana mau dicicipi darahnya? Kalau begitu saja sudah kabur duluan.”

Busyet dah! Aku pikir dia akan dengan mudahnya mencicipi darah manusia. Tapi, ribetnya minta ampun. Beberapa manusia yang setengah kantuk telah lewat, namun tak satupun ia cicipi. Alasannya sangat banyak, miskin lah, bukan darah ningrat lah, darahnya kotor lah, aduhhh, banyak alasan banget.

Hingga akhirnya seorang pria tampan nan gagah, tubuh atletis, lesung pipi kanan kirinya, kulit putih bersih, mulus lagi, rambut ala boyband korea dan dia sepertinya kloningan Aming. Lelaki yang satu ini tak akan kubiarkan lewat, kalau lewat lagi, maka aku akan bunuh diri. Meskipun aku sudah mati, pokoknya aku mau bunuh diri. Aku sudah sangat capek dan bosan menuruti omong kosong si Kugal.

“Ku..gal..gal.gall,” panggilku dengan suara menggema bagai sinetron yang slow motion. “Cepat habisi dia, cicipi darahnya dan kita kembali ke orang tadi. Cepatlah!”

Dia terperanjat mendengar panggilanku. Dia berbalik dengan lambat bagai seorang yang baru pertama kali ketemu dengan yang dicintainya dalam sebuah sinetron.  “Apa? Baiklah, kali ini dengan terpaksa aku lakukan, hahahaha.”

Kugal pun menghampiri lelaki itu, lelaki yang sementara berjalan dengan pinggul yang bergeser ke kanan ke kiri. Dikeluarkannya jurus andalan: kentut. Meskipun hantu, kentut Kugal lebih buas dari kentut lainnya. Yah, dengan sekejap mata, lelaki itu pingsan dengan elegannya. Pada detik selanjutnya, segera kututup mataku dengan telapak tangan, bermaksud untuk menutupi agar aku tak melihat kejijikan Kugal mencicipi darah lelaki itu. Aku sangat yakin, itu lebih dari sangat menjijikkan.

“Kugal, udah selesai?” teriakku.
“Aduh, hantu macam apa kau ini? Begini saja kau tak mau lihat? Tapi, tak apalah karena kau masih baru. Tenang, beberapa meter lagi sayatanku akan selesai.”
“Sayatan? Ya udah, lanjutkan tapi lebih cepat lebih baik.”

Beberapa menit kemudian, Kugal berteriak lagi. “Pak, sudah selesai.”

Aku pun membuka tutupan tanganku dan sudah tak melihat lekaki itu. “Kemana perginya lelaki itu? Jangan bilang kamu menghabisi seluruhnya.”
“Oh, setelah aku cicipi darahnya sedikit dan ketika dia sadar, dia lansung lari bagai melihat hantu. Ya, itu aku, hantunya.”

Sesaat kemudian, pria yang telah selingkuh dengan istriku pun keluar dari rumah mewah itu dan sudah tak membawa tas besar itu lagi. Dia menghampiri mobilnya, naik dan kemudian dikendarai dengan kencangnya.

“Kugaaaallll! Cepat, pria itu telah pergi dengan mobilnya,” pekikku kencang dan Kugal segera menghampiriku. Ia lalu memegang tanganku erat dan kami segera melihat. Kami muncul di dalam mobil lelaki itu.

“Hahaha, setelah ini, aku harus ke rumah Gelena Somay, melakukan aksi 18++ kami dan kembali menawarkan perjanjian agar dia setuju untuk menyerahkan seluruh harta perusahaan kepadaku,” ungkapnya sendirian di atas mobil. Meskipun ada aku dan Kugal tapi dia tetap sendiri sebagai manusia yang masih hidup.

Eh, tunggu dulu! Belum tahu, yah, Gelena Somay itu siapa? Itu nama istriku. Cantik banget, kan, namanya? Ya, seperti orangnya. Dia selalu jadi bidadariku meski dia telah selingkuh dan kita telah memiliki dunia berbeda. Oh, sayang!

Sudah beberapa kilometer mobil ini berjalan dan sepanjang jalan. Lelaki itu terus tertawa seringai. Uh, sudah gila kali yah ini orang? Gila uang!

Beberapa detik, ehhhh… si pria itu menginjak rem dengan tajamnya. Lantas, hal itu membuatku jumpalitan bersama Kugal ke badan depan mobil. Rupanya, mobil ini telah sampai di tempat tujuannya, rumahku, eh ralat, rumah istriku. 

Pria itu lalu turun dari mobilnya, berlari kecil menuju ke rumahku. Tonnggggg! (Ini sudah bunyi bel, nggak yah?) Suaranya mendenging dan beberapa saat kemudian. Pintu itu pun terbuka dan telah berada sosok cantik nan memesona, istriku (aku tak mau bilang mantan).

Ketika lelaki itu menatap lembut istriku, dia dengan cepat lansung menyosor bibir istriku dengan bibir monyongnya. Menciumi bagai tak pernah ketemu se-abad. Muka, hati, dan perasaanku bergejolak.

Bersambung

Rabu, 09 Oktober 2013

KPK Jadi Hantu - Part 5 (Kisah Komedi Horor)

Kata-kata cinta yang dulu telah terucap dari bibir kini terbungkus debu, usang dan tak pantas jadi kenangan. Saat berpaling dan selingkuh jadi wicara, cinta tak kan pernah abadi, kecuali cinta dari-Nya. Dari Tuhan yang maha menyayangi.

Saat akhirnya kuketahui sifat bulus dari istriku. Aku pun kembali ke kamarnya, menemui Congsot yang ketinggalan.

“Ya ampun, Cong! Dari tadi wajahmu kaututupi dengan jari-jarimu yang kotor itu. Adegannya sudah selesai. Please deh!” ucapku bosan dengan tingkah si congsot yang satu ini.
“Maaf Pak, aku bukan tipe yang suka nonton kayak gituan. Menurutku itu terlalu rendahan. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi tolong jangan panggil aku Cong. Nanti aku dikira Bencong. Panggil Congsot atau Sot aja,” ucapnya menggerutu.
“Whatever!”

Aku dan Congsot kemudian pergi dari kamar itu. Meninggalkan istriku yang kini lebih kejam dari iblis di mataku. Tapi, aku tak akan menyerah karena aku akan mendatangi mereka lagi. Mencari tahu mengenai identitas si pria ganjen itu. Sekarang aneh, pria yang ganjen meskipun wanita lebih banyak ganjennya. Maaf yang tersinggung!

Tiba di pemakaman, aku menyandarkan bahuku ke batu nisanku sementara Congsot kembali ke alam kematian. Aku sedang melepas pedih bersama para kunti yang juga sekali-kali menjerit tak karuan. Bersama para sundel yang kini bolongnya telah diplester. Sekali aku juga ikut menangis meski kini air mataku tak terjatuh setetespun.

“Pak, apa yang membuatmu bersedih?” tanya manja si wanita tercantik sejagad hantu dengan rambutnya yang tergerai panjang selutut.
“Istriku selingkuh,” ucapku melemas.
“What?” kagetnya yang seakan dibuat-buat. Kayaknya nggak pernah ikut casting, kalaupun pernah pasti ditolak. Ekspresi kagetnya terlalu over.
“Biasa aja. Nggak usah sok Inggris. Nanti kena linggis loh!” ungkapku mulai menjemu.
“Aduh, kasian bener hidupmu.”
“Hidup? Aku udah mati bego!”
“Oh, maaf aku lupa. Jangan bersedih gitu dong. Move on! Kalau kamu mau, aku juga mau kok jadi penggantinya,” katanya mulai merayu.

Kupalingkan wajahku dari tatapannya yang perlahan membius. Aku tak mau seperti istriku. Meskipun kini dia berpaling padaku dan telah selingkuh dengan pria lain. Tapi, aku harus tetap tunjukkan bahwa akulah si pria paling setia yang kini jadi hantu tak jelas. Walaupun begitu, kalau dicoba bersamanya, boleh juga kali, yah? Aku pun mengajaknya berkenalan. Dia meraih tanganku dan saat dia menyentuh tanganku, sungguh tangannya lebih kasar dari tumpukan besi.

“Aku Kugal, Kunti Galau. Para hantu di sini memberiku julukan itu karena aku dianggap hantu paling galau sejagad hantu. Setiap hari kerjaanku cuma menangis, menjerit, berdiam diri. Meski aku tak tahu kenapa aku seperti itu,” jelasnya memperkenalkan diri sambil terus menggoyang-goyangkan rambutnya berputar-putar bak trio macan.

“Wow!” Aku tercengang kagum. Lalu, kuhentikan putaran rambutnya dengan menyentuh kepalanya yang agak berlendir. “Stop! Kalau aku Kurnia Putra Kosim atau yang disingkat KPK, aku belum punya julukan hantu. Tapi, aku mau bertanya, segalau itukah dirimu?”
“Tentu!” jawabnya lantang. “Kadang meski aku udah jadi hantu, aku masih aja mau coba bunuh diri dengan loncat dari jembatan.”
“Berhasil?” tanyaku segera.
“Tentu tidak dong! Kan aku udah jadi hantu. Bagaimana bisa mati lagi setelah mati,” jelasnya.

Setelah perkenalan singkat itu dengan Kugal. Aku mulai melanjutkan hubungan kami lebih dekat lagi dan pikiran mengenai perselingkuhan istriku agak tersingkir. Aku mengajaknya kencan pada suatu malam. Bukan malam minggu, tapi malam jumat pakai kliwon.

“Kugal, mau nggak makan malam bareng aku? Kita pergi ke suatu tempat di alam manusia dan nikmati malam di sana,” ajakku sambil memberinya bunga kamboja.
“Wah, mau banget! Tapi, tunggu di sini dulu, ya! Aku mau dandan,” ucapnya dan segera menghilang seketika.

Beberapa menit, dia pun datang dengan memakai pakaian yang masih sama, putih polos panjang. Hanya rambutnya yang kini diikat seperti ekor kuda dan diberi hiasan di rambutnya dengan bunga mawar layu. Selain itu, riasan mukanya kini lebih tebal, setebal buku ensiklopedia.

“Kamu terlihat paling cantik memesona. Ijinkan tanganku ini menggandeng tanganmu,” kataku rayu.
“Pangeranku, dengan senang hati. Meski wajahmu biasa banget, tapi kamu terlalu ganteng nyangkut di hatiku,” balasnya lebih merayu.

Aku dan Kugal pun saling bergandengan tangan dengan mesra. Kami keliling di alam manusia. Mencari tempat yang cukup romantis untuk kita berdua. Meski aku tahu, betapapun romantisnya tempat yang kami temukan, tak akan cukup romantis jika harus bersama dia. Sebenarnya cukup terpaksa aku mendekatinya, demi melupakan bulusnya sifat istriku dari pikiranku.

Saat kami sedang berkeliling mencari tempat. Aku menghentikan perjalanan sejenak. Aku bertanya pada Kugal mengenai makanan hantunya dan dia menjawab kalau dia suka banget sama darah, darah manusia. Meski minus cantik, tapi dia juga super kejam dan sadis.

Di saat itu juga, aku melihat seorang pria berkemeja setelan dengan dasi yang terlingkar di leher menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah super mewah serta membawa tas jinjing hitam besar. Pria itu tampak tak asing bagiku. Lalu, kutatap wajahnya dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Aha! Dia adalah pria yang sebelumnya telah meniduri istriku.

Aku terkaget seketika. Kemudian kuberitahukan pada Kugal mengenai pria itu bahwa dia yang telah selingkuh dengan istriku. Rupanya, wajahnya lebih dulu terangsang. Mukanya berubah merah ganas seakan mengintai korbannya. Aku yakin dia terpesona dengan pria itu dan ingin segera mencicipi darahnya. Tapi, kutahan pergerakannya, aku tak mau dia mematikan pria itu dan membuatku tak tahu mengenai identitasnya.

Lalu, segera kubuntuti pria itu dari belakang menuju ke rumah mewah itu, sementara terus kutahan aksi Kugal. Sesampainya di dalam rumah, sehabis dia mengetuk pintu dengan keras-keras meski nyatanya ada bel. Dia pun berbincang-bincang dengan seorang pria lain yang mengenakan baju tidur berwarna biru dan corak bunga melati.

Aku tak mengerti dengan apa yang mereka sedang perbincangkan. Tapi sekali-kali aku mendengar mengenai kerja sama, bisnis, proyek, uang negara dan rahasia. Di puncak pembicaraan mereka, si pria hidung super belang memberikan sebuah uang dalam sebuah tas jinjing hitam itu. Saat itu pula aku yakin mereka sedang korupsi. Apa?

Bersambung

Minggu, 06 Oktober 2013

Malu-malu (FF by. Justang Zealotous)

Malu-malu
Oleh: Justang

"Hai!" seru seorang gadis pada pria berkaus oblong merah jambu yang sedang berjalan di koridor. 

"Ada apa?" Pria itu segera berbalik ketika sadar seseorang memanggilnya.

Gadis itu malah ikut membalikkan badan. Ia seakan malu-malu. Merasa dijaili, pria itu kembali melanjutkan langkahnya. 

"Hai!" seru gadis itu lagi dan membuat pria itu kembali berbalik. Tapi, gadis itu juga ikut membalikkan badan sekali lagi. Si pria mulai tampak kesal. 

"Woi, mau cari ribut?" bentak pria itu. 
"Tidak!" 
"Terus?" 
"Kembalikan bra yang kaupinjam." 

Pria itu pun melepaskan bra yang dikenakannya dan memberikan pada gadis itu dari belakang.

KPK Jadi Hantu - Part 4 (Kisah Komedi Horor)

Dunia kita memang telah berbeda. Dimensi ruang telah memutuskan hubungan kita. Tapi, bukan berarti cinta pun ikut tenggelam bersama pasir merah yang mengeliling. Cinta terus tumbuh layaknya pohon yang terus dipupuk. Tumbuh di mana? Di hati kita semua.

Aku mencoba beradaptasi dengan lingkungan baruku. Lingkungan aneh bin ajaib. Mau tidak mau, itu harus aku lakukan karena jika tidak, maka aku akan tersungkur zaman.

Setelah berhasil tertidur dan terus meronta-ronta karena kesal dengan dengkuran si Hantu Pendengkur. Di tengah lelapnya tidur, sebuah bunyi yang merasuk ke kupingku terdengar begitu kencang. Seketika itu, aku terbangun terhuyun-huyun ketakutan. Apa yang terjadi? Aku teriak-teriak dari kuburan dan langsung terdengar dobrakan dari luar.

“Siapa itu?” tanyaku menjerit.
“Banguuuunnnn! Ini sudah malam, cepat bergegas dan keluarlah! Karena sidang hantu segera dimulai.” Seseorang berteriak dari luar dan terus mengetuk-ngetuk pintu dengan keras.
“Tungguuuuuu!” teriakku balik.

Segera kurapikan tempat tidurku dan membuka pintu cepat. Saat pintu terbuka, kulihat berbagai jenis hantu telah berjalan berderetan menuju ke suatu tempat. Aku yakin jika mereka menuju ke ruang sidang hantu, seperti yang dikatakan sebelumnya oleh hantu yang berteriak dari luar kuburanku. Aku pun meliuk-liukkan badan, menerobos para hantu dan masuk ke deretan mereka, pun ikut berjalan bersama.

Kutolehkan wajahku ke segala arah. Kulihat begitu banyak hantu yang berjalan berbaris-baris, sepertinya hampir mencapai puluhan kilometer barisan. “Orang mati sudah banyak, ya?” gumamku. Beberapa langkah, akhirnya kami sampai juga di aula hantu yang luar biasa luas. Aku tercengang kagum. Semua hantu telah duduk di kursi yang telah disiapkan. Begitupun dengan diriku, duduk di kursi deretan paling belakang dan paling jauh dari sumber pembicara. Si pembicara tak terlihat sedikitpun, bagai anaknya virus.

“Wuhhh, membosankan!” keluhku.
“Apa yang membosankan?” Sesosok hantu di samping kananku tiba-tiba mengagetkanku dan membuntutiku pertanyaan.
“Apalagi kalau bukan sidang ini. Apa sih yang mereka bahas? Pasti suatu yang tidak penting.” Aku makin kesal dan terus mengumpat sidang.
“Yah, beginilah jadi hantu, penuh membosankan. Tapi, lebih membosankan jadi aku, terus mengesot dan mengesot padahal aku pocong yang seharusnya lompat loncat,” keluhnya juga.

Aku kaget mendengar kata ‘ngesot’. Segera kupalingkan wajahku ke kanan dan ternyata dia adalah si pocong ngesot itu. Betapa senangnya setelah kuketahui dia di sampingku karena aku sunggu penasaran dengannya.

“Kamu? Aku tuh ngefans banget sama kamu karena menurut aku, kamu itu hantu paling keren dan tak mudah putus asa. Meski ditinggalkan jauh, tapi kamu tak menyerah untuk terus mengesot padahal aku yakin kamu lebih terkenal darinya,” sanjungku.
Wajahnya hitam suram memerah merona. “Aduhh, kamu bisa aja! Tapi, menurutku itu biasa. Aku juga sudah sering kok mendapatkan sanjungan, bahkan para hantu-hantu gelap yang sudah terlihat cantik bersahut-sahutan merayuku,” ungkapnya sombong meskipun aku tahu kalau itu palsu belaka.
“Oh iya, kenapa kamu bisa ngesot? Padahal kan, takdir pocong itu lompat-lompat,” tanyaku mengintrogasi.
“Ooh, awalnya aku masih normal seperti pocong lainnya, lompat-lompat kesana kemari, tapi setelah terpeleset dan jatuh pontang panting, kakiku patah dan jadilah aku pocong ngesot itu,” jelasnya pilu.
“Baiklah, aku boleh minta sesuatu nggak?” tanyaku harap.
“Apa?”
“Habis ini, tolong temani aku ke dunia manusia, yah! Aku ingin menemui istriku yang telah kutinggalkan mati,” pintaku.
“Hmhmhmh, baiklah!” Ia menyetujui pintaku dan membuat hatiku perlahan mencuat bahagia.

Beberapa menit kemudian, tepuk tangan riuh hantu menggetarkan aula. Sepertinya sidang telah selesai meski satu huruf pun aku tak dengar. Semua hantu perlahan meninggalkan aula dan bertebaran di langit-langit, menghilang entah kemana. Aku mendekati si Pocong Ngesot untuk menagih janjinya menemaniku menemui istri.

“Congsot, ayo kita temui istriku,” ajakku.
“Congsot?” tanyanya heran.
“Pocong Ngesot. Nama hantumu terlalu panjang, jadi aku buat lebih singkat,” jelasku.
“Ooh, keren juga.”

Dia lalu menarik tanganku dan dengan sekejap kami telah berada di pemakaman. Suasana pemakaman yang begitu gelap dan menyeramkan agak membuat nyaliku ciut. Meski aku telah menjadi sesosok hantu, tapi aku belum mampu menghilangkan rasa takutku pada gelap dan hantu itu sendiri. Nyanyian kuntilanak dan lantunan lagu-lagu sendu yang menusuk jiwa terus menggetarkan nyaliku. Suara serak burung hantu membuat bibirku kaku ketakutan. 

Sesosok hantu dengan rambutnya yang terurai panjang juga menangis merintih-rintih dan selonjoran di atas kuburan yang tak jauh dari tempat kami berdiri.

“Waduhhh, nyalimu cukup ciut banget. Tak pantaslah kau seperti demikian. Kamu harus sadar bahwa kau juga hantu seperti mereka, jadi tidak perlu takut begitu. Oh iya, di mana istrimu tinggal?” ungkapnya tajam.
“Istriku tinggal di J&^#Gn$^%,” jelasku padanya.
“Apa? Jangan disensor gitu, mana aku tahu istrimu di mana?”
“Harus disensor gitu karena aku takut orang yang sedang memperhatikan kita dari jauh tahu keberadaan istriku. Aku tahu bahwa mereka sedang membaca kita,” jelasku dan masih ketakutan.
“Ooh, begitu! Baiklah, kaupegang tanganku dan sebut tempat istrimu di dalam hati, pikirkan tempatnya dan kita akan segera ke sana,” ucapnya menyuruhku.

Aku pun menunduk untuk meraih tangannya yang tersembunyi dari pakaian pocongnya. Lalu, memikirkan rumah yang pernah kami tempati dahulu, tepat di kamar kami atau tepat di tempat nyawaku berakhir. Aku memejamkan mata dan sekali kejap kami telah berada di tempat itu.

Betapa terperanjatnya diriku ketika kulihat istriku sedang bercumbu mesra dengan seorang pria lain di kamar, pria yang sama sekali aku tak kenal. Aku semakin geram ketika pria itu perlahan membuka kancing kemejanya dan melepaskan kemeja putih itu meninggalkan singlet putih polos. Kemudian menjulurkan tangannya ke seluruh tubuh istriku dan berhasil melucuti pakaiannya.

Aku semakin panas dan tubuhku terasa berkobar-kobar dengan api yang terus menyala-nyala. Kulihat Congsot yang terus memejamkan mata dan tak berani memperhatikan peristiwa sensual di hadapannya.

“Mas, apakah mereka sudah selesai?” tanyanya terus menutup mata.
“Apanya yang selesai? Mereka malah semakin asyik,” kesalku, “Apa?” kagetku melihat tingkah mereka yang aduhai.
“Ada apa?” tanyanya sembari terus menutup matanya.
“Mereka penuh gaya di ranjang. Ada gaya batu, gaya kupu-kupu, dan sekarang gaya jungkir balik,” geramku semakin dalam.
“Aduhh, kerjain aja laki-laki itu, buat dia kapok agar tak mendekati istrimu lagi,” sarannya.
“Caranya?” tanyaku penasaran.
“Pejamkan matamu dan bayangkan jika kamu bisa menyentuh apapun. Ingat! konsentrasi,” ujarnya memberikan saran.

Tanpa pikir panjang, kulakukan segera apa yang ia ajarkan. Memejamkan mata dan membayangkan semua benda dapat kusentuh. Setelah selesai, lalu kucoba menyentuh sebuah benda tapi tidak berhasil. Kucoba lagi dan masih tak berhasil.

“Tidak berhasil, Cong!”
“Konsentrasi!”

Kuulang sekali lagi. Memejamkan mata, membayangkan dan penuh konsentrasi. Kemudian, kucoba lagi menyentuh sebuah benda dan tak tersentuh jua. Aku tak menyerah dan aku semakin bernafsu untuk melakukannya karena ia pun semakin jauh mengecup puas istriku. Setelah berkali-kali kucoba dan kucoba, akhirnya berhasil. Aku berhasil menyentuh sebuah benda.

Lalu, kudekati si pria itu dan menghempaskan genggamannya dari istriku. Ia terlihat kebingungan, begitupun dengan istriku. Ia malah tak jera jua dan kali ini dia kemudian mendekatkan bibirnya ke wajah istriku. Aku semakin mendongkol, lalu kutarik singletnya dari belakang dan membuatnya jatuh terhembalang. Ia kaget dan semakin kebingungan. Meski telah kulakukan berbagai cara, si pria itu tetap teguh hati dan berusaha menghabiskan pelukannya ke istriku.

“Oh my God! Dasar pria terkutuk, wajah bejat, tukang cabul, bajingan,” umpatku kesal dan begitu geram.

Akhirnya kucoba cara terakhir, mengangkat kemeja dan melayangkannya. Dia dan istriku ketakutan setengah mati. Tapi, mereka lebih beruntung karena masih setengah mati, kalau aku, sudah full mati. Akibat ketakutan, si pria itu mengambil kemejanya dan mengenakannya.

“Sayang, ada hantu di sini! Aku harus pergi,” teriaknya ketakutan dan segera lari meninggalkan istriku tergopoh-gopoh.
“Sayang!” teriak balik istriku.

Istriku ingin mengejarnya tapi aku berhasil menghalangi dengan mengunci pintu kamar. Kulihat lagi si Pocong Ngesot dan ia masih menutup mata sembari tubuhnya terus bergetar merinding. Kampungan!

“Is-tri-ku,ku,ku,ku,” ucapku dengan suara yang menggema.
“Kurnia? Apakah itu Engkau?” tanyanya sembari tubuhnya terus merinding ketakutan.
“Be-nar,nar,nar, i-ni,ni,ni,ni aku datang me-ngunju-ngi-mu,mu,mu,mu. Me-nga-pa,pa,pa,pa kau tega menyelingkuhiku,ku,ku,ku?” Suaraku terus menggema dan menusuk-nusuk telinganya.
“Maafkan aku, Kurnia! Aku tak bermaksud melakukan ini,” ungkapnya membela diri.
“Tak bermaksud?” tanyaku syok dengan kepala yang meliuk-liuk dari bawah ke atas.
“Ya, dia adalah rekan bisnisku, jika aku tak melakukan ini, hubungan kerja kami akan diputuskan, padahal ini adalah satu-satunya cara agar dapat mensejahterahkan kehidupanku.” Ia masih membela diri.
“Malasan! Pintar kali dirimu mengibul wahai istri jahanam,” geramku dan semakin kesal.
“Aduh, kalau sudah jadi hantu tidak perlu sebodoh itu juga kali, bukan malasan tapi alasan,” ungkapnya sok imut dengan gaya sok chibi.
“Haloooooo, yang punya mulut siapa? Kamu? Terserah aku dong mau bilang apa. Hmhm, berani yah kau melawanku?”
“Aduh, maafkan aku! tadi aku khilaf.” Sekali lagi dia membela diri.
“Khilaf? Katamu khilaf? Sudah, bye!” ungkapku terakhir dan segera menghilang darinya.

Aku pergi ke atas sebuah gedung, menyelonjorkan kaki ke bawah. Aku sangat sedih, kenapa istriku begitu tega padaku? Kejam! Aku menangis menjerit-jerit di atas gedung itu. Tapi, meskipun begitu, aku harus cari tahu siapa pria yang berani-beraninya telah meluapkan gairah nafsunya ke istriku. Jika ketemu, akan kuuleti tubuhnya. Beberapa menit aku terus menjerit-jerit, meluapkan segara emosi pedihku, aku tersadar seketika bahwa si Pocong Ngesot ketinggalan di kamarku tadi. “Aduhhhh, aku harus kembali lagi deh.”


Bersambung atau To Be Continue