Jumat, 19 Januari 2024

Cerpen: Tabib Terakhir karya Justang Zealotous

Cerpen: Tabib Terakhir karya Justang Zealotous
[Dimuat harian Kedaulatan Rakyat, edisi Jumat, 19 Januari 2024]

Tabib terakhir di kampung telah mati. Tabib yang orang-orang kampung kenal dengan nama Mbah Kakung itu mati setelah terbaring seminggu di rumahnya. Ia mati di samping anak bungsunya, Pardi.


Mbah Kakung mati dalam usia delapan puluh tiga tahun. Meskipun tak lagi muda, kulitnya kendor berkeriput, Mbah Kakung masih sanggup ke sawah mencangkul, membajak, memanggul sekarung gabah untuk dibawa pulang. Namun, tubuh Mbah Kakung yang sekuat baja kalah dengan angin malam yang tetiba menerobos masuk. Mbah Kakung membungkus badannya dengan dua sarung, tapi perasaan dingin yang menjalari tubuhnya masih sangat menusuk. Belum lagi, Mbah Kakung terbatuk-batuk dan semakin lama ia serupa daging sapi yang baru saja direbus di atas kompor.


Mbah Kakung memiliki tiga anak, tapi ia hanya mampu bergantung pada Pardi. Anak pertamanya, Suaib menjadi dokter bedah di Makassar dan tak pernah pulang kampung. Anak keduanya, Rukmini telah pergi ke Malaysia ikut suaminya. Pardi seorang yang hanya berijazah SMP itu yang menemani Mbah Kakung karena ibunya pun telah lama mati. Pardi mengaku setiap malam telah memasakkan obat-obat herbal sesuai dengan perintah Mbah Kakung sendiri. Pardi pernah menelepon Suaib minta resep, dikasih, segera dibeli, tapi Pardi bilang, Bapak itu ngeyel, tidak suka minum obat kimia. Akhirnya, kolaps juga dengan ramuan-ramuan buatannya.


“Sedih ya, punya anak tiga, tapi akhir hayatnya sampai ke liang lahat pun hanya dilihat anak bungsu seorang.” Emak menyinggung. Semenjak berita kematian Mbah Kakung terdengar, kami memang tak pernah melihat batang hidung Suaib dan Rukmini. Suaib sudah ditelepon berkali-kali, tapi jawabannya selalu sama, banyak pasien. Rukmini malah hilang kabar.


Kesedihan Emak hanya secuil dibandingkan kesedihan orang-orang kampung ditinggalkan Mbah Kakung. Sebab, siapa lagi yang akan menyembuhkan penyakit-penyakit orang kampung jika tabib terakhir telah mati, sementara menemui dokter masih sulit?


Aku masih ingat kecelakaan motor setahun lalu. Bukannya memikirkan puskesmas atau rumah sakit, aku langsung menyuruh Emak sama Abah membawaku ke Mbah Kakung. Padahal, tulang lengan kananku telah mencuat. Entah mengapa naluri memintaku menemui Mbah Kakung. Sampai di rumahnya, Mbah Kakung melepaskan pakaianku. Dia membacakan sesuatu pada gelas yang berisi air. Mbah Kakung mengolesi air itu ke lengan kananku sebelum ia perlahan menariknya. Aku tidak merasakan sakit apa pun, dan ia tetiba berkata, selesai. Aku memeriksa lengan kananku, dan benar, tak ada lagi tulang yang mencuat. Kami pulang setelah Emak menyalami Mbah Kakung dengan sebungkus rokok dan uang seratus ribu.


“Masa Pardi tidak meneruskan ilmu bapaknya? Kalau Suaib dan Rukmini wajar bila tidak, tapi Pardi? Pardi berpuluh-puluh tahun tinggal bersama bapaknya. Mustahil sebaris kalimat suci tidak diketahuinya.” Omongan-omongan sejenis meriuhkan pemakamaman Mbah Kakung. Kulihat wajah Pardi, ia benar-benar tidak nyaman dengan omongan-omongan itu. Ia pasti sangat terluka. Orang-orang telah meninggalkan kuburan Mbah Kakung, tapi laki-laki dua puluh tiga tahun itu masih bersimpuh di samping gundukan tanah bapaknya, sendirian. Aku bermaksud menemaninya, tapi tatapannya yang tajam memberikan isyarat penolakan.


Besoknya, kesedihan orang-orang kampung berubah tegang. Seorang petani cengkih mengabarkan kuburan Mbah Kakung dibongkar seseorang. Ada bekas kain kafan di antara tanah yang menghambur. Dan anehnya, Pardi menghilang. (*)

Senin, 30 Oktober 2023

Cerpen: Ibu Melarang ke Sungai Sendirian karya Justang Zealotous

Cerpen: Ibu Melarang ke Sungai Sendirian karya Justang Zealotous 
[Dimuat harian Haluan, edisi Minggu, 29 Oktober 2023]


Bandi kecil telah berjanji pada ibunya untuk tidak mendekati sungai di belakang rumah sendirian, tapi aliran yang cukup deras itu terus menggodanya, sehingga Bandi kecil terpaksa ingkar janji. Bandi kecil tidak lupa minta maaf pada ibunya, bapaknya, juga Tuhan karena telah melupakan janji yang telah dia ikrarkan.


Bandi kecil membuka baju dan celananya. Dia bersiap untuk terjun ke sungai. Tapi langkahnya yang mungil terhenti ketika seseorang menarik tangannya. Bandi kecil menolehkan kepalanya, dan dia bingung karena tidak mengenal orang itu. Bandi kecil merasa baru pertama kali melihatnya.


“Kamu siapa?” tanya Bandi kecil heran. Bandi kecil menghentak-hentakkan tangannya, tapi tenaga orang itu lebih besar dibanding tangan mungilnya sehingga dia sangat sulit melepaskannya.


“Sungai itu tidak bagus untukmu. Kalau mau, aku bisa mengantarmu ke tempat yang indah yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.” Orang itu belum juga melepaskan tangan Bandi kecil meskipun Bandi kecil terus memaksa.


“Bagaimana dengan ibuku?” Bandi kecil bertanya. Kali ini, dia berhenti menghentak-hentakkan tangannya.


“Dia akan menyusulmu.”


“Bapakku?”


“Dia juga akan menyusulmu.”


“Mereka akan menyusulku ke tempat yang di bawahnya mengalir sungai-sungai itu? Benarkah?”


Orang itu tersenyum. Bandi kecil bingung. Namun setelahnya, Bandi kecil tidak lagi menolak. Dia mengikuti langkah orang itu dengan senyuman yang kini ikut terkunci di wajahnya.


“Mengapa kita belum sampai juga?” Bandi kecil bertanya setelah mereka berjalan cukup jauh. Mereka telah merambah hari yang mulai gelap dan dingin. Rumah-rumah warga kampung telah mengecil, dan perlahan menghilang ditelan daratan. Mereka menuju ke lembah yang seolah tanpa ujung.


“Bolehkah aku mengatakan sesuatu?” Bandi kecil bertanya lagi meskipun pertanyaan sebelumnya belum terjawab.


“Katakanlah.”


“Beberapa waktu lalu aku mendapati ibuku membawa seorang laki-laki ke rumah. Laki-laki itu memiliki perut yang besar dan bergoyang.”


“Apa itu bapakmu?”


“Bukan. Aku tidak mengenalnya.” Bandi kecil menghela napas. Dia merasakan angin yang tiba-tiba melewati rongga hidungnya. “Aku baru pertama kali melihat laki-laki itu. Sebenarnya aku tidak mengerti persoalan orang dewasa yang menurutku terlalu rumit. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi dengan ibu dan bapakku, tapi mereka tidak pernah lagi pulang bersama. Justru, laki-laki berperut besar dan bergoyang itu yang kini pulang bersama ibu, sedang bapak tak pernah lagi terlihat di rumah. Tidak untuk makan, apalagi untuk tidur.


Aku sempat bertanya pada ibu selepas laki-laki berperut besar itu meninggalkan rumah kami, tapi ibu malah membentakku dan menyuruhku untuk berhenti mengurus urusan orang dewasa. Karena itu, aku tidak pernah lagi bertanya pada ibu.


Hari lain, bapakku akhirnya pulang. Aku senang sekali melihat wajahnya yang memiliki tekstur keras yang setiap kali aku memeganginya, aku seperti memegang tanah liat yang telah lama ditimpa sinar matahari. Hanya saja, bapak tidak tersenyum selama mengobrol dengan ibu. Wajah mereka sama-sama mengeras. Dia baru tersenyum saat melihatku. Bapak ingin menarik tanganku, bahkan ingin menggendongku, tapi ibu melarang.”


Bandi kecil berhenti. Dia menghentikan kalimatnya, juga langkahnya. Bandi kecil menarik napas dalam-dalam. Air matanya sempat terjatuh, tapi tidak banyak. Dia segera mengusap air mata itu, lalu mencoba melanjutkan ceritanya.


“Aku tidak mengerti mengapa orang dewasa suka bertingkah seperti anak-anak. Seperti ibu dan bapakku. Mereka mengingatkanku pada Sapri dan Juned. Ketika Sapri menarik celana Juned sampai kelihatan, ah aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi kamu pasti mengerti maksudku, Juned langsung menonjok wajah Sapri. Sapri yang tidak terima menonjok balik wajah Juned. Mereka dorong-dorongan, sampah salah satunya tersungkur ke tanah.


Ibu menutup pintu dengan keras dan menguncinya ketika berhasil membuat bapak terdorong keluar dengan sebuah pentungan kayu di balik pintu. Wajah ibu lebam setelah beradu dengan bapak.  Kulihat ibu menangis dan menjerit-jerit, dia juga memukul-mukul dadanya, tapi aku tidak berani mendekat. Aku hanya mampu mengintip dari bilik kamar.


Besok hari, ibu seakan-akan lupa dengan yang terjadi semalam. Dia menutupi biru di wajahnya dengan bedak tebal. Dia tidak lupa memakai gincu merah dan berpakaian serba mini. Setiap kali aku bertanya ibu mau ke mana, dia selalu bilang ingin berangkat kerja. Aku bahagia ibu tidak pernah bertahan dengan lukanya, tapi aku bingung mengapa ibu selalu meninggalkanku sendirian di rumah tanpa makanan. Aku lapar.


Ibu memang selalu bilang padaku untuk menunggu nenek. Ibu bilang nenek akan datang ke rumah membawakan makanan, tapi sudah beberapa hari nenek tidak pernah datang lagi. Aku takut memberitahu ibu soal itu. Terakhir aku memberitahunya, ibu malah memukulku dengan rotan. Ibu bilang nenek pasti enggan datang karena aku nakal. Aku suka mengganggu nenek. Padahal aku hanya menggantung tongkatnya ke paku yang mencuat di dinding agar dia belajar untuk berjalan.


Apa kamu ingin tahu satu hal?”


“Apa itu?”


“Gara-gara ibu tidak pernah memasak untukku, dan nenek tidak pernah lagi datang membawakan makanan, aku terpaksa mencuri makanan di warung Bu Sri. Aku tidak pernah memberitahu ibu soal ini. Aku mohon kamu juga tidak memberitahunya.”


“Tenang saja. Semua rahasiamu aman di tanganku.”


“Syukurlah. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan ibu lakukan padaku kalau dia sampai tahu. Aku masih ingat ketika dia tahu aku pergi menemui bapakku diam-diam. Kamu tahu sendiri, bukan, hati anak siapa yang tidak bakal rindu jika harus berpisah dengan bapaknya bertahun-tahun. Namun karena itu, ibu menjewer telingaku sampai merah sekali. Aku berteriak sakit, tapi dia tidak peduli. Dia terus saja menarik telingaku. Rasanya, telingaku mau putus saja. 


Sampai di rumah, ibu mengikat tanganku pada tiang rumah kami. Setelah itu, ibu mulai memukulku dengan pentungan kayu, pentungan yang sama yang dia pakai untuk membuat bapak akhirnya menyerah dan tidak bisa membantuku lagi. Ibu memukulku di bagian paha, pergelangan tangan, dan kepala. Aku pikir ibu akan berhenti setelah kepalaku mulai mengucur darah yang membasahi wajahku, tapi tidak, dia belum berhenti.


Ibu mengambil tongkat kayu yang nenek tinggalkan terakhir kali dia berkunjung ke rumah kami. Ibu menggunakan tongkat itu untuk kembali memukulku. Kali itu aku benar-benar lemah. Tidak ada lagi upayaku untuk berteriak meminta ibu berhenti.


Setelah tubuhku penuh darah, dan darah-darah itu membercak ke lantai dan ke dinding, laki-laki berperut besar dan bergoyang itu datang lagi ke rumah kami. Di tengah ketidakberdayaanku, aku bisa merasakan kehadirannya. Aku juga bisa melihat wajahnya yang sangat terkejut melihat darah-darah itu. Ibu menyuruh laki-laki itu mengambil karung goni dan memintanya memasukkan tubuhku ke dalam karung goni. Laki-laki itu bergetar ketika menuruti perintah ibu.


Aku masih ingat, sangat ingat, laki-laki berperut besar dan bergoyang itu membawa tubuhku dengan karung goni ke sungai. Dia ingin mengalirkan tubuhku bersama derasnya aliran sungai itu. Tapi kurasa, nyalinya tidak cukup kuat. Dia hanya meletakkan tubuhku di tepi sungai. Setelahnya, dia pergi entah ke mana.


Aku sempat berkata padanya dengan begitu lirih dengan mulutku yang penuh darah, jangan tinggalkan aku, ibu melarangku ke sungai sendirian.”


Bandi kecil menghentikan ceritanya, tapi tidak dengan langkahnya. Dia tidak menangis seperti setiap kali dia mengingat-ingat cerita tentang ibunya. Dia justru tersenyum.


“Sebentar lagi kita sampai ke tempat yang indah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai itu. Kamu tidak sabar, kan?” tanya orang itu.


“Tentu saja. Apalagi, aku ke sana tidak sendirian. Aku bersamamu.” Bandi kecil menoleh ke orang itu. “Boleh aku tanya lagi?”


“Tanyakanlah.”


“Apa benar ibu dan bapakku akan menyusulku ke sana?”


“Mereka akan menyusulmu, tapi bukan ke tempat yang sama. Dia akan pergi ke tempat yang lebih tepat.” Orang itu tersenyum. Bandi kecil tidak mengerti, tapi dia enggan bertanya lagi. Mereka terus melangkah, menyusuri lembah yang seolah tanpa ujung. (*)

Senin, 08 Maret 2021

Cerpen : Mungkinkah Kesedihan Membuat Orang Sedikit Lebih Gila? karya Justang Zealotous

Cerpen : Mungkinkah Kesedihan Membuat Orang Sedikit Lebih Gila? karya Justang Zealotous
 
[Dimuat harian FAJAR Makassar, edisi Minggu, 07 Maret 2021]

Kami benar-benar terpukul. Ibu yang beberapa bulan terakhir ini bolak-balik ke rumah sakit karena pernyakit gulanya meradang sampai-sampai kami kebingungan mencari biaya pengobatannya, justru bapak yang dijemput ajal. Bukan kami mengharapkan ibu yang seharusnya lebih dulu diambil Izrail, tapi kenapa bapak yang sehat yang cuma mengeluh sakit punggung malamnya, pas pagi dia sudah tak lagi bernapas.

Aku yang pertama kali menyadari kematian bapak ketika ibu yang sedang memasak di tengah sakitnya memintaku untuk membangunkan bapak. “Kasih bangun’I bapakmu, Rohim! Tidur terusji saja nakerja.” Dan ketika aku mendatangi bapak di kamarnya, wajahnya sudah pucat pasi. Aku mencoba menggoyang-goyangkan badannya, tidak ada tanggapan. Segera saja aku merasa ada yang aneh pada bapak. Kuraih lengannya, kucek nadinya, hampa. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan.

Aku langsung meneriaki semua orang di rumah. Kuteriaki ibu, kuteriaku Mashun, kakakku yang sedang mandi di sumur belakang rumah, kuteriaki Misbah, kakak perempuanku yang juga membantu ibu memasak di kolong rumah dengan kayu bakar. Tak cukup lama, mereka sudah berdatangan dengan wajah penuh tanya.

“Tidak adami bapak…” hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku dengan suara tertahan-tahan, dengan sedusedanku, ketika mereka bertanya. 

Misbah, jelas, sontak menangis menjerit seraya menggerak-gerakkan badan bapak seolah tak percaya bapak benar-benar telah berpulang. Begitu pula Mashun yang sedikit telat datangnya langsung tersengut-sengut sambil meninju dinding kayu rumah kami.

Sesuatu yang tidak kumengerti, aku tidak melihat air mata yang keluar dari mata ibu yang keriput. Dia juga tidak menjerit. Dia hanya membatu di tempatnya sambil menatap bapak yang sudah tiada dengan air muka yang datar. Lantas, sesaat kemudian, dia bergerak mendekat. Dia meraih sarung di atas lemari, lalu menutup tubuh bapak dengan sarung itu, lagi, dengan air muka yang datar.

Dia hanya berkata dengan sangat pelannya. “Tanya’I tetangga! Tanya’I saudara-saudaranya bapakmu! Tanya’I keluargata yang jauh!”

Aku percaya ibu jauh lebih bersedih dibanding kami, anak-anaknya. Kehilangan pria yang puluhan tahun tidur bersamanya pasti membuat hatinya tersayat. Namun, kesedihan yang dimiliki ibu barangkali terlalu besar sehingga tidak cukup sekadar air mata. Dia butuh luapan lain, tapi itu masih belum bisa diterima otaknya sehingga dia hanya membungkam.

***

Para pelayat dari tetangga-tetangga telah berdatangan, berpakaian hitam-hitam, menunjukkan perasaan duka. Ada yang menyesaki rumah panggung kami, ada juga yang terpaksa duduk di kolong rumah karena kecilnya rumah panggung kami.

Sementara itu, ibu belum kembali. Dia keluar bersama Misbah. Aku tidak tahu ke mana mereka pergi. Aku hanya melihat mereka meninggalkan rumah saat satu per satu para pelayat itu datang. Mashun juga tidak tahu saat kutanya soal kepergian mereka. Entah. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada ibu. Mungkinkah kesedihan bisa membuat orang sedikit lebih gila?

Setelah rumah kami penuh dengan pelayat, ibu akhirnya datang bersama Misbah. Aku yang kebetulan duduk di beranda rumah panggung kami bisa melihat mereka dengan jelas datang dari arah selatan dengan tergesa-gesa.

“Dari manaki, Kak, sama ibu?” tanyaku ketika Misbah sudah naik. Aku tak mungkin menanyai ibu yang tampak linglung, sehingga mencari jawaban melalui Misbah ialah jalan terbaik.

“Rumahnya Pak Bahrun.”

“Mau apa?”

“Najual ibu cincinnya. Sudah kularang, tapi ibu maksa. Tidak mungkin juga kubiarkan ibu pergi sendiri. Lagi tidak bagus kondisinya.”

Aku tak bisa menyembunyikan perasaan terkejutku. Bagaimana tidak, cincin itu sudah kami perjuangkan agar tidak sampai dijual, tapi nyatanya akan berakhir seperti ini. Padahal, aku masih ingat bapak yang sangat kekurangan terpaksa menjual satu-satunya warisan dari almarhum kakek, yaitu sepetak sawah di Letta, yang penting bukan cincin itu yang terjual.

“Itu cincin yang Bapak belikan untuk ibumu saat kami menikah. Jangan jual! Tidak adami kenangan lain yang Bapak simpan buat ibumu selain itu cincin,” terang bapak pada kami ketika ibu terbaring di rumah sakit dan kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan saat itu, Mashun terpaksa berhenti kuliah dan memilih ikut mengambil padi seperti bapak, Misbah yang sedang merantau terpaksa pulang. Aku juga ingin berhenti sekolah, tapi bapak melarang. “Cukupmi Bapak yang bodoh,” katanya.

Bapak pun menjual sepetak sawah itu demi biaya pengobatan ibu, pun membayar hutang-hutang yang masih tersisa waktu menguliahkan Mashun, meski tak sepenuhnya hutang kami lunas.

Mashun yang akhirnya mendengar kalau ibu menjual cincin itu ikut bertanya-tanya sampai aku, Mashun, juga Misbah berdebat di samping jasad bapak, sampai kemudian ibu datang menengahi.

“Mukira mati tidak butuh biaya? Proses pemakaman bapakmu saja butuh biaya besar. Mana lagi kita harus masak banyak untuk kasih makan keluargamu yang dari Pinrang kalau mereka datang. Belumpi lagi tujuh hariannya, empat puluh hariannya. Di manako dapat uang?” Sekian lama, ibu akhirnya menangis tersedu-sedu.

Kami diam. Melihat ibu terkulai hingga jatuh terduduk di samping jasad bapak membuat kami teriris. Ditambah lagi pandangan heran para pelayat menggores hati kami.

“Kalau matika juga, masih mupikirkah itu cincin?” lanjut ibu yang setelahnya tiba-tiba merasa sesak. Dia menekan dadanya kuat-kuat sampai kemudian dia ambruk di samping jasad bapak. Kami histeris. Kami meraih tubuhnya yang amat lemah. Hingga kami sadar, tidak ada lagi kehidupan di sana. (*)

Bungi, 03-03-21

Minggu, 24 Maret 2019

Cerpen: Kisah yang Seharusnya Manis karya Justang Zealotous

Cerpen: Kisah yang Seharusnya Manis karya Justang Zealotous
[Dimuat harian FAJAR Makassar, edisi Minggu, 24 Maret 2019]

Malam ini aku diundang menghadiri sebuah peresmian kafe yang mengharuskan seluruh tamunya mengenakan batik. Tapi bodohnya, aku tidak paham batik mana yang paling cocok yang mesti kupakai. Andai saja dia masih ada, sebagai istriku. Andai pagi itu aku tidak mengatakan kalimat paling bodoh, “Aku ingin cerai.”

Anjani terdiam, menatapku tajam dengan matanya yang merah berkaca-kaca tapi tak sebening pun yang akhirnya jatuh, lalu mulai bersuara, lirih sekali. “Jika itu maumu, baiklah.”

Aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar dengan menggadaikan cintaku untuk seorang perempuan yang kutemui di kantor. Saat itu, aku berpikir kalau istriku, tepatnya mantan istriku, sudah tidak mencintaiku lagi sehingga aku memilih untuk berpisah dengannya. Dugaan itu mulai membuncah ketika dia lebih sibuk mengurusi butik batiknya daripada aku sendiri.

“Aku tidak ingin menyelingkuhimu, jadi baiknya kita berpisah saja.”

Lagi-lagi Anjani terdiam. Benar-benar terdiam. Dia pun enggan menatapku hingga aku merangkak pergi menjauhinya. Malamnya, kubawakan surat cerai, dan dia tanda tangan tanpa berkata-kata. Tidak cukup lama, kami resmi bercerai. Dia pergi dan aku tak tahu ke mana.

Setelah enam tahun, setelah aku merasakan sakitnya ditinggalkan oleh perempuan kantor sundal itu, perempuan yang diam-diam mencuri waktu untuk menemui kekasih lamanya, aku baru menyadari kalau keputusan cerai enam tahun lalu itu ialah keputusan terbodoh.

Aku baru sadar kalau aku mencintai Anjani lebih dari apa pun. Jika Tuhan mengizinkan kami bertemu kembali, dan bilamana dia belum bersuami lagi, ingin rasanya aku rujuk dengannya. Betapa pun selama kami menikah, aku belum banyak memberikan yang terbaik buatnya. Aku teramat egois memikirkan diriku sendiri ketimbang memikirkan kemungkinan kenapa dia lebih sibuk di butik daripada melayani suaminya.

Dialah perempuanku, pembatik dari Jogja. Aku mengenalnya saat kegiatan studi tur kampus yang membawa kami ke keraton untuk melihat orang-orang membatik. Jujur, aku bukanlah tipe orang yang punya jiwa nasionalisme tinggi. Batik, bukanlah sesuatu yang indah buatku. Tapi melihat tangan perempuan itu yang lihai memegang canting dan membentuk motif-motif ke dalam sebuah kain, aku mulai tertarik.

Anjani juga senang menjelaskan makna setiap motif yang dia buat. Penjelasan yang makin membuat cintaku pertama kali jatuh pada batik, juga padanya. Seperti motif parang yang dipakai kalangan bangsawan, motif yang katanya dikenal sebagai motif tertua di Jawa. Atau motif batik yang mirip biji pinang yang menyimbolkan rezeki melimpah.

“Menarik,” kataku. “Kira-kira menurutmu motif batik apa yang cocok buatku?”

Anjani semringah. “Mungkin yang ini.” Dia menunjukkan motif batik yang berupa bentuk geometris dengan ukuran besar. Sekilas motifnya mirip kelopak bunga dengan titik-titik di sekitarnya yang menambah cantik batik itu. “Batik grompol. Batik ini memiliki makna bersatu, artinya sebuah harapan agar orang yang mengenakannya hidup cerah di masa depan serta rukun dengan keluarga.”

Aku tidak menyangka maksud perempuan itu mengenai makna yang disampaikannya menjadi benar-benar kenyataan. Aku melamarnya setelah lulus dari kampus dan kami tuntas menikah. Kami seolah-olah—pada saat itu—merasakan masa depan yang begitu cerah. Sayangnya, aku merusak makna itu, makna rukun itu, dengan menceraikannya setelah pernikahan kami bahkan belum diisi tangisan bayi.

Sudah hampir jam 7, aku belum memilih satu batik pun untuk kukenakan. Aku bingung. Aku memang bukan pemilih yang baik. Lagian di rumah perantauan ini, setelah tidak lagi beristri, aku hidup sendirian jadi tak seorang pun bisa kutanyakan.

Dan di tengah kebingungan itu, aku mendapati sebuah batik yang berada di antara tumpukan baju usang. Paling bawah. Baunya sedikit apak. Aku ingat batik ini. Batik truntum. Batik terakhir yang perempuan itu buatkan untukku saat hari-hari paling akhir sebelum perceraian kami. Entah apa maknanya, dia belum sempat menjelaskan. Dia hanya bilang, “Batik truntum ini untukmu. Semoga kamu bahagia bersamanya.”

Mungkin, ini saatnya aku mengenakan batik itu. Sekalian mengobati rindu dan penyesalanku. Untuk membuang baunya, beberapa semprotan parfum dirasa cukup. Dan malam ini aku pergi juga dengan batik bermotif taburan bunga-bunga kecil atau seperti kuntum bunga melati.

Dalam perjalanan, aku sengaja browsing makna batik truntum pemberiannya. Tercengang dan membuat tanganku lumayan bergetar. Batik truntum ternyata memiliki kisah yang apik bahwasanya Raja Pangkubuwono III kembali jatuh cinta di ujung tombak pernikahan pada Ratu Beruk karena sang ratu menghadiahi batik tersebut. Mungkinkah ini yang diinginkan Anjani? Dia juga masih berharap aku tidak meninggalkannya dengan memberikan batik itu. Maafkan aku, Anjani.

Tanganku masih bergetar setiba di kafe. Seperti namanya, Batik Cafe, gedungnya dihiasi batik di mana-mana. Dinding, tiang penyangga, hingga kursi dan meja. Semua bermotif batik. Di gedung itu pula, sudah ada banyak tamu yang hadir. Dan beberapa tamu itu, aku betul-betul dikejutkan dengan salah seorang perempuan yang tak asing. Mengenakan batik sama yang kukenakan. Batik truntum. Perempuan yang sudah kusia-siakan cintanya.

“Anjani?” Aku menyapanya duluan. “Kamu juga datang ke sini?”

Anjani tampak heran melihatku tapi kemudian bersikap seolah biasa saja. “Tentu. Aku ikut merancang kafe ini.”

Dia tersenyum. Hangat sekali. Tiba-tiba seorang anak kecil perempuan yang mengenakan batik serupa berlari ke arahnya. Dia segera menyambutnya sambil sesekali menggunakan sapaan Nak. Batik boleh sama. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dia mungkin telah bersuami lagi. Pupus sudah harapanku.

“Maaf. Aku pergi dulu. Istriku menunggu.” Dan aku terpaksa berbohong.(*)


Watampone, 30/11/18

Minggu, 08 Juli 2018

Cerpen: Perempuan Bermata Sayu di Pelabuhan Bajoe karya Justang Zealotous

Cerpen: Perempuan Bermata Sayu di Pelabuhan Bajoe karya Justang Zealotous
[Dimuat di FAJAR Makassar edisi Minggu, 8 Juli 2018]

Sudah sebelas tahun Erwing bekerja sebagai penjaga palang di gerbang Pelabuhan Bajoe, baru malam itu dia merasa bulu kuduknya berdiri tak karuan. Bukan karena cuaca yang memang sangat dingin ditambah sapuan angin dari laut, tapi karena ada sesuatu yang mengalihkan pandangannya.

Seorang perempuan bermata sayu berkali-kali dilihatnya sedang berdiri di dekat pembatas jalan. Perempuan itu berambut panjang dan cukup manis kalau dilihat sekilas. Air muka perempuan itu datar dengan bibir putih memucat. Setiap kali Erwing memandanginya, perempuan itu seakan-akan memanggilnya.

Erwing langsung berasa ingin pulang. Tapi bagaimana caranya? Dia sendirian. Apalagi hari itu dia kena sif malam. Dia harus kerja mulai jam 8 malam sampai jam 8 pagi, sementara jam dinding yang menggantung di pos jaga masih menunjukkan pukul 11. Jika dia pulang saat itu juga, manager pasti akan langsung memecatnya karena pintu palang tidak mungkin ditinggalkan dalam keadaan tanpa penjagaan.

Lelaki berkepala plontos itu terpaksa menenangkan dirinya dan menganggap perempuan yang dilihatnya hanya ilusi belaka. Dia pun memutuskan untuk menuangkan kopi panas ke cangkirnya. “Mungkin kopi bisa membuatku tenang,” katanya.

Sebuah truk kemudian melaju ke arahnya, dan sontak berhenti tepat di dekat palang. Erwing segera memberikan karcis pada sang sopir truk, lalu dibalas dengan uang 12 ribu. Erwing menarik tukas dan membuat palang itu naik perlahan sehingga truk bisa masuk ke area pelabuhan.

Ketika truk berpaling, Erwing kembali dikagetkan dengan kehadiran perempuan bermata sayu. Perempuan itu menatapnya tanpa sedikit pun berkedip. Jantung Erwing hampir loncat dibuatnya. Dia kemudian memicingkan mata dan kembali memastikan kalau pandangannya tidak salah, nyatanya perempuan bermata sayu masih berdiri di tempatnya, di dekat pembatas jalan.

Erwin bergidik, tapi juga penasaran. Dia balik menatap perempuan itu dan mencoba meneriakinya, “Apa dikerja di situ, Ndi?” tanyanya.

Perempuan itu membeku. Dia tidak merespons dan tidak pula beranjak dari tempatnya. Erwing makin bingung. Entah apa yang benar-benar merasuk dalam dirinya, Erwing tiba-tiba mendekati perempuan itu. Langkahnya pelan dan sedikit ragu-ragu, tapi dia terus saja melangkah.

Semakin dekat. Namun sebuah avansa hitam membuat langkahnya harus terhenti. Dia berbalik dan mendekati si sopir. Seperti tadi, dia memberikan sopir itu secarik karcis yang kemudian dibalasnya juga dengan uang 12 ribu. Sang sopir tersenyum lantas melaju. Perginya avansa hitam membuat Erwing kembali menoleh ke perempuan itu. Sial. Perempuan bermata sayu sudah menghilang.

Erwing mencari-cari, tapi perempuan itu tidak juga terlihat
.
Erwing terpaksa kembali ke tempat duduknya, dekat dari pos jaga. Betapa terkejutnya Erwing, perempuan bermata sayu sudah berdiri tepat di sebelahnnya ketika dia duduk sembari menikmati secangkir kopi panas. Terang saja, lelaki itu langsung lari tunggang langgang. Tidak peduli lagi kalau manajer akan memecatnya sebab yang dipikirkannya saat itu bagaimana dia harus lari secepat mungkin, sejauh mungkin.

***

Sejak kejadian malam itu, Erwing meringkuk di kamarnya berhari-hari. Suhu badannya makin lama makin naik. Istirnya, Rahayu sudah mengobatinya dengan berbagai ramuan herbal tapi dia tidak juga membaik. Erwing pernah dilarikan ke rumah sakit, bermalam tiga hari, setelah itu dia kembali dipulangkan karena Rahayu tidak sanggup membayar iuran yang kian membengkak.

“Apa mi yang mau kita lakukan, Daeng? Hampir habis mi juga uang,” keluh Rahayu di samping suaminya yang menggigil hebat meskipun sudah berselimut sarung berlapis-lapis. Erwing tidak menjawab, bibirnya hanya terus menggelatuk.

“Nanti kupanggil La Dompe, Daeng. Semoga tidak nakasih bayar mahalki.” Rahayu mulai terisak. “Tinggal dia mi pilihan terakhirta.”

Malamnya, La Dompe benar-benar datang. Lelaki tua beruban dengan gigi hampir semua sudah tercabut itu untungnya cuma mau dibayar rokok dan sokko. Dia pun segera mengobati Erwing. Setelah menyentuh kening Erwing seraya mulutnya komat kamit, La Dompe menghampiri Rahayu. “Dari mana saja suamimu sebelum sakit begini?” tanyanya.

“Kerja di Pelabuhan Bajoe, Puang. Waktu itu pulang cepat karena lihat katanya perempuan yang panjang sekali rambutnnya. Sejak begitumi langsung sakit.” Rahayu menjelaskan.

La Dompe sejenak terdiam. Dia memandangi langit-langit. Sekejap dia kembali menatap Rahayu, lalu berucap. “Kalian pergi buang telur besok di sana. Bawa juga ayam untuk dilepaskan. Nanti saya temani.”

Rahayu menurut saja. Dia pun mengangguk lemah. Esoknya, mereka pergi ke Pelabuhan Bajoe. Erwing juga pergi meskipun badannya masih sangat loyo. Sesampainya mereka di sana, mereka mulai membuang telur dengan dibantu La Dompe. Lelaki tua itu berkomat kamit sebelum melemparkan telur itu ke laut. Selanjutnya, La Dompe berkomat kami lagi sebelum melepaskan seekor ayam jantan di area pelabuhan.

Ritual itu selesai tanpa hambatan. Mereka pulang ketika langit mulai menghitam.

Hari-hari setelahnya, Erwing sungguh-sungguh sembuh. Lelaki plontos itu terlihat bugar sebugar-bugarnya. Sayangnya, dia sudah tidak lagi bekerja sebagai penjaga palang di Pelabuhan Bajoe karena manajer ternyata benar-benar memecatnya.

“Tidak masalah, Daeng. Banyak ji pekerjaan yang lebih baik. Rezeki juga sudah diatur Tuhan.” Rahayu menguatkan suaminya. Dan Erwing semringah.

Erwing lalu pergi. Dia mengambil sepeda motornya, lantas melaju dengan sangat kencang. Erwin kemudian berhenti tepat di dekat palang pelabuhan. Selepas memarkirkan motornya, dia pun berjalan tanpa mengindahkan mantan rekannya yang menatapnya bingung. Lelaki itu menuju pembatas jalan, dan mencoba naik.

“Mauki apa, Wing?” tanya mantan rekannya heran.

Sebelum terjun ke laut, Erwing berteriak, “Mauka ketemu istriku.” (*)

Watampone, 5/7/18

Rabu, 28 Maret 2018

Cerpen: Pemimpin Rakyat karya Justang Zealotous

Cerpen: Pemimpin Rakyat karya Justang Zealotous
[Dimuat di Banjarmasin Post edisi Minggu, 25 Maret 2018]

Tubuhnya lunglai. Lebam memenuhi hampir sekujur tubuh perempuan yang setengah telanjang akibat pakaian yang koyak itu. Ia berusaha bergerak, tapi sulit. Ia berusaha bersuara, tapi yang terdengar hanya serupa embusan angin dari napas yang semakin sesak. Ketika ia ditemukan, lelakinya hanya mampu menjerit, menggusar, dan mengutuk siapa saja yang tega membuat perempuan itu yang kini di ambang kematian.

***

Pagi datang mengelus lelaki itu ketika sebuah telepon mendarat di kupingnya yang mengharuskan ia berkunjung ke Pasar Rakyat. Ia pun meletakkan secangkir kopi yang baru saja ia tandaskan ke atas meja.

Perempuannya mengerling, "Pulang kemalaman lagi, Daeng?"

"Semoga tidak." Lelaki itu mendorong kursinya ke belakang, kemudian berdiri. Ia mengusap kaus putihnya yang berkerah dan meraih topi hitam bertuliskan NH di sisi depannya. "Kamu ikut kan, istriku?"

"Kurang enak badan, Daeng."

"Kalau begitu, istirahatlah, istriku. Kamu pasti capek. Lagi pula Pasar Rakyat itu becek dan bau. Kamu mungkin tidak akan tahan." Ia lantas beranjak bersama beberapa ajudannya yang berbadan tegap. Ia meninggalkan istrinya di rumah dengan beberapa pekerja yang menemaninya. Pembantu, tukang kebun, hingga satpam. Mereka punya anak, satu-satunya, tapi ia sedang kuliah di Bandung. Sehingga tidak ada alasan untuk lelaki itu merasakan khawatir yang berlebih.

***

Pak Nasir dengan semangat juang istrinya, Bu Faridah, mencalonkan diri sebagai bupati dalam lima tahun mendatang. Ia berniat menggeser posisi bupati lama yang sudah duduk selama dua periode. Akibatnya, beberapa bulan sebelum pencalonan resmi, Pak Nasir mulai melakukan kampanye ke mana-mana, mendengungkan inisial NH dari nama lengkapnya Nasir Hasir ke berbagai penjuru kampung. Target utama Pak Nasir memang kalangan bawah, sebab kemenangan itu lebih mudah diperoleh dari bawah.

Selama kampanye, Pak Nasir berusaha membangun jati diri sebagai pemimpin yang merakyat. Ia rajin berkunjung ke tempat-tempat kumuh, menghadiri acara-acara rakyat, menggelar perjamuan dengan mengundang para warga, juga mengunjungi berbagai acara keagamaan. Ketika maulid, ia datang. Ketika natalan, ia pun tak sungkan. Pak Nasir juga bertandang ke panti asuhan. Bertemu dengan orang-orang yang ditinggalkan keluarganya. Kemudian, dia akan bersorai di depan anak-anak panti dan tentu saja para orang dewasa yang hadir di situ, kalau ia akan menyejahterakan nasib mereka. Orang-orang lalu bertepuk tangan dan berteriak menyebut inisial NH. Sebelum pulang, Pak Nasir membagikan kaus berwarna kuning yang memajang fotonya di bagian depan besar-besar.

"Orang-orang makin mencintaimu, Daeng. Aku yakin bupati lama itu akan segera lengser," kata Bu Faridah saat menjelang tidur.

Pak Nasir tertawa. Tawa yang cukup nyaring. "Hahah aku harap kamu tidak cemburu, istriku."

"Untuk apa cemburu sama cinta yang ada maunya, haha." Keduanya tertawa, kemudian saling berpelukan, saling memagut, dan tertidur.

***

Pak Nasir tiba di Pasar Minggu dengan sambutan dari orang-orang yang berkerumun. Mereka ingin menjabat tangan calon bupati baru yang dikenal merakyat, atau sekadar menyentuh kaus putihnya yang berkerah. Orang-orang yang histeris itu dibatasi oleh para ajudan Pak Nasir yang menjaga dari sisi kanan, kiri, dan belakang.

Seperti selalu, senyum tak pernah ketinggalan di bibir Pak Nasir. Ia bersorai dan sesekali menyapa para penjual dan pembeli yang dilewatinya.

Ketika berkeliling, seorang penjual baju tiba-tiba bercerita padanya, "Sepi nih, Pak. Sehari bahkan tidak ada pembeli sama sekali."

Senyum Pak Nasir belum hilang, lalu ia berkata, "Sepertinya kita perlu meremajakan pasar ini biar lebih ramai pengunjung." Pak Nasir memperhatikan celana hitamnya yang di bagian bawah sudah dipenuhi lumpur. Orang-orang pun mengiringi pernyataan Pak Nasir dengan berteriak hore dan inisial nama Pak Nasir. NH. NH. NH.

Di tengah kampanye, Pak Nasir mendadak mendapat telepon dari rumah. Ia pun mengangkatnya, barangkali dari istrinya. Ketika tersambung, suara yang terdengar malah suara pembantu. Suara yang timbul tenggelam. Pak Nasir jadi bingung. Ia berusaha bertanya, apa yang sedang terjadi, suara tangis yang malah ia dengar.

"Kita harus pulang," kata Pak Nasir pada ajudannya dengan sedikit berbisik. Sesekali ia melempar senyum pada orang-orang agar semuanya terlihat baik-baik saja. Lalu, ia pamit pergi.

Buru-buru Pak Nasir meninggalkan Pasar Minggu. Ia khawatir dengan kondisi istrinya. Setelah menempuh jarak tempuh yang hanya lima belas menit, ia pun berlari masuk setelah satpam tidak terlihat dan suara jeritan yang langsung menyambutnya. Saat di dalam, rumah tampak kosong. Dia berlari ke kamar, istrinya tidak di sana. Suara jeritan terdengar lagi, sepertinya di halaman belakang. Pak Nasir pun mengambil langkah seribu. Tepat. Istrinya sudah terbaring di sana dengan tubuh setengah telanjang dan lebam di mana-mana.

"Siapa yang melakukan ini?"

Bibir Bu Faridah berusaha bergerak, tapi yang terdengar hanya embusan angin. Pak Nasir lantas memeluk istrinya sambil terisak. Lama sekali. Barulah ia sadar istrinya sudah meregang nyawa.

Pak Nasir masih tersedu-sedu ketika salah satu ajudannya menyeret seseorang ke hadapannya yang ditengarai sebagai tersangka, berdasarkan kesaksian pembantu, sementara satpam juga sudah ia bunuh. Orang itu ternyata tukang kebun Pak Nasir. Pak Nasir sontak murka. Ia berdiri dan menghajar bapak tua itu.

"Kenapa kau melakukan ini pada istriku?" geram Pak Nasir.

Dengan napas tersendat-sendat, tukang kebun itu menjawab, "Aku bahkan bisa melakukan ini padamu, tapi aku cukup menikmati istrimu, Pak Nasir." Mata Pak Nasir memelotot mendengar pernyataan tukang kebunnya, dan ia hajar lagi. Sedetik kemudian, tukang kebun itu kembali berbicara, "Aku muak dengan tingkahmu sama kami, Pak Nasir. Kamu lembut di luar sana, tapi kamu kasari kami di sini. Aku bahkan belum kau gaji dua bulan, Pak."

Pak Nasir tertegun. Ia menatap tukang kebun yang dari mulutnya meleleh darah yang anyir. Usai itu, ia tiba-tiba merasakan tubuhnya seringan kapas. Dan ia tumbang. Tidak ada yang tahu kemudian, Pak Nasir masih mencalonkan atau tidak setelah kejadian itu. (*)

Watampone, 7/1/18

Sabtu, 10 Februari 2018

Cerpen: Karma Sirawu Sulo karya Justang Zealotous

Cerpen: Karma Sirawu Sulo karya Justang Zealotous
[Dimuat di Harian FAJAR Makassar edisi Minggu, 11 Februari 2018]

Saya tidak pernah menyangka akan berdebat dengan Ambo. Diiringi tangisan yang datang dari langit yang menurunkan air serupa jarum-jarum sehingga genting rumah seolah ditusuk-tusuk. Setelah sejak lama hingga usia saya mencapai dua puluh empat tahun, rumah kami selalu diramaikan dengan suara bernada rendah, kalau pun bernada tinggi hanya saat Ambo berteriak karena tulang betisnya bergeser sebab terjatuh dari pohon kelapa atau Indo yang berteriak ketika melihat kecoa membuntutinya di kamar mandi, lalu hari ini tiba-tiba saja rumah sudah berubah menjadi medan peperangan.

Perdebatan saya dengan Ambo dimulai sepulang Ambo dari rumah Sanro, ketua adat yang rambutnya beruban dan matanya mulai rabun dengan ingatan yang tak lagi jernih, kemudian membisiki Indo  kalau Sirawu Sulo akan dilaksanakan tahun ini. Saya yang tentu mendengarnya karena duduk tepat di belakang Indo angkat bicara.

"Serius, Ambo? Baru dua tahun kemarin dilaksanakan, tahun ini dilaksanakan lagi?" heran saya. Ambo sontak menatap saya tajam. Matanya seperti panah yang bersiap menembus mata saya.

"Tahu apa? Ambo sudah berkunjung ke rumah Sanro, dan dia sendiri bilang begitu."

Saya masih tidak percaya. Sirawu Sulo selalu dilaksanakan tiga tahun sekali, meski dulu lima tahun sekali tapi politik merembesi kampung diubahlah jadi tiga tahun sekali agar sekalian bahan promosi untuk Pongka, tapi kini malah diubah lagi. Mentang-mentang Ambo calon wakil rakyat. Ini pelanggaran adat.

Saya tahu Ambolah yang senantiasa berhubungan dengan Sanro untuk diinformasikan pada Kepala Desa, kemudian diturunkan ke masyarakat mengenai tanggal baik Sirawu Sulo dilaksanakan. Ketika tadi pagi, dia tiba-tiba bertandang ke rumah Sanro, dan pulangnya malah mengabarkan hal yang tak masuk akal.

"Adampengi'ka, Ambo, betulji Sanro bilang begitu? Bukannya tahun depan baru dilaksanakan?"

"Kurang ajar. Kaukira Ambo berbohong?" Suara Ambo meninggi, kemudian tampaklah hujan turun seperti jarum-jarum dari balik jendela yang selalu terbuka. "Ini sudah perintah adat. Jika kita tidak laksanakan, kampung bisa kena karma."

Kami memang percaya semua yang keluar dari bibir Sanro merupakan kalimat yang datang dari Tuhan. Kami harus meyakini. Bilamana ada yang mengingkar dan tidak melaksanakannya, kampung kami akan mendapatkan musibah berupa kematian berturut-turut, seolah diracuni alam dan kekuasaan.

"Apa seharusnya Ambo konfirmasi ulang sama Sanro? Jangan sampai Sanro salah ingat. Dia sudah pikun, Ambo." Saya membalas Ambo dengan nada sehalus mungkin. Bagaimanapun, saya seorang anak dan dia seorang bapak. Lancang saya meninggikan suara di hadapan beliau.

Tapi Ambo tak terima. Dia menganggap saya sudah melawan orang tua.

Ambo pun meninggalkan saya setelah gemuruh yang terus dia lontarkan, seperti gemuruh yang enggan berhenti meronta di langit sana. Hujan masih turun. Jalan yang batu dan tanah semakin basah.

***

Indo tampak sibuk menyiapkan nasi ketan dan telur. Itu sesajen untuk ritual Mabbule Manu. Setelah segala rangkaian adat dilaksanakan seperti Mabbepa Pitu atau membuat tujuh jenis kue sebagai syarat wajib yang harus dilakukan semua masyarakat Pongka, memainkan permainan rakyat yang sudah diganti dengan pertandingan sepak bola sebagai wujud perkembangan zaman yang dilangsungkan seminggu penuh dan finalnya dilakukan tadi sore, kini puncak Sirawu Sulo akan dilaksanakan dengan diawali Mabbule Manu, mengarak ayam dari rumah Sudirman Mappangara, sanro baru setelah kematian Dajange, sanro lama yang kata Ambo sudah mengatakan kalau Sirawu Sulo harus dilaksanakan tahun ini.

Dajange mati dua hari setelah gemuruh datang di rumah saya kala itu. Banyak menduga kalau dia mati karena usianya memang sudah sangat lapuk. Beberapa orang sedikit menyayangkan, termasuk saya, sebab kami belum sempat menanyakan kebenaran perihal ucapan Ambo. Tapi karena Dajange sudah mati, dan semua orang kadung percaya, Sirawu Sulo tetap dilaksanakan untuk menghindari karma dengan mengusung sanro baru yang merupakan cucu ketiga Dajange sendiri.

"Saya masih tidak percaya kalau Sirawu Sulo berlangsung tahun ini, Ndo. Saya takut kalau itu cuma akal-akalan Ambo biar bisa sekalian kampanye. Mumpung Pongka lagi ramai dan ada soto kuda di setiap rumah," kataku sehabis melayat dari rumah Supriadi. Lelaki bertubuh tambun itu tiba-tiba saja meninggal padahal kata anaknya, dia masih kuat pagi hari dan masih sempat memakan satu mangkuk soto kuda.

"Ushh, kau ini. Ambomu tidak mungkin seperti itu. Lebih baik kau bantu Indo membereskan rumah. Keluargamu dari Bone kota bakal datang. Jangan sampai rumah kita kotor pas mereka masuk."
Saya mengangguk dan segera melupakan pikiran yang mengganjal. Barangkali Dajange menginginkan agar silaturahmi warga semakin erat dengan berlangsungnya Sirawu Sulo yang lebih awal.

Semakin langit diselimuti malam, Pongka semakin meriah. Warga datang dari berbagai arah, baik warga kampung maupun luar kampung. Sanro beserta rombongan mulai mengarak ayam dengan berjalan dari berbagai tempat ke Lapangan Mabbaranie, tempat Sirawu Sulo berlangsung. Orang-orang sudah siap dengan daun kelapa yang sudah diikat untuk kemudian dibakar, terus dilempar-dilemparkan sehingga terjadi perang api. Tampak Pak Bupati duduk di dekat jalan masuk menuju lapangan demi menyambut Sanro nantinya.

Tiba-tiba saya mendapat panggilan telepon dari sepupu. Indo meninggal. Katanya, Indo meninggal setelah jatuh pingsan sehabis menyantap soto kuda, persis seperti kematian Supriadi, atau tiga kematian lainnya yang sebenarnya sempat saya dengarkan sepanjang hari ini. Kenapa kematian berturut-turut bisa terjadi? Saya langsung berlari mendekati Ambo yang berdiri di sebelah Kepala Desa dan Pak Bupati. Saya ingin memberitahu soal kematian Indo, dan karma yang mungkin datang karena Sirawu Sulo. (*)

Watampone, 4/2/18

Ambo: Bapak
Indo: Ibu
Adampengi’ka: Maafkan saya

JUSTANG ZEALOTOUS. Seorang guru Bahasa Indonesia dan instruktur Bahasa Inggris. Anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Cabang Bone.

Minggu, 31 Desember 2017

Cerpen: Kisah-kisah Miris di Jalan Raya karya Justang Zealotous

Cerpen: Kisah-kisah Miris di Jalan Raya karya Justang Zealotous

[Dimuat di Banjarmasin Post edisi Minggu, 31 Desember 2017]

Adakah yang lebih tabah dari aku? Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Seharian ini, aku memang dirundung hujan, dan aku tidak berlari. Aku mematung di tempatku berdiri.
Aku sudah terbiasa seperti ini. Ketika hujan datang, aku membasah. Ketika matahari bersinar, aku menggosong. Tapi seperti yang aku katakan, aku tetap bertahan pada tempatku berdiri.
Jika hujan, tidak ada yang lebih indah selain melihat orang-orang berpayung, melompati genangan air hingga terciprat dan sesekali mengenai pakaian mereka, lalu tiba-tiba ada suara tawa di bawah payung-payung itu. Atau seorang lelaki berjaket jins yang memayungi seorang perempuan yang jelas-jelas memakai jas hujan. Polos sekali.
"Kamu tidak perlu melakukan itu."
"Aku tidak ingin kamu sakit."
"Aku sudah pakai jas hujan."
"Itu tidak cukup."
Lalu, sebuah mobil di seberang jalan membukakan pintu. Perempuan yang mengenakan jas hujan itu masuk, meninggalkan lelaki yang tadi. Dari balik kaca mobil, seorang lelaki melemparkan jari tengahnya ke arah lelaki berjaket jins.
Orang-orang di jalan raya memang selalu lucu. Oleh karenanya, aku betah berdiri berlama-lama di sini. Meskipun hujan membuatku gigil, atau panas yang datang tak tanggung-tanggung. Tapi tidak semua orang di jalan raya itu lucu. Beberapa di antara mereka malah lebih menakutkan daripada hantu-hantu yang bergentayangan di rumah-rumah tua. Aku serius soal ini.
Pernah suatu malam, aku melihat kejadian paling miris yang membuat aku sempat berdoa agar segera dicabut Tuhan.
Seperti biasa, aku berdiri di tempat ini, di dekat tiang nama jalan yang bertuliskan Jalan Merdeka Raya. Malam itu tidak hujan tapi bau aspal basah karena hujan tadi sore masih menguar. Aku yang bisa dikatakan sedikit menggigil memperhatikan mobil, motor, becak, andong, bajaj, hingga truk lalu lalang. Aku selalu senang memperhatikan mesin-mesin yang berjalan angkuh itu.
Di dekat tiang lampu merah, sekitar beberapa meter dari tempatku berdiri, ada seorang anak laki-laki berambut kusut berpakaian kusut menenteng kantong-kantong plastik hitam yang juga kusut. Dia menjajakan kantong-kantong plastik hitam itu ke setiap pengendara yang singgah karena lampu merah.
Ada sedikit rasa kagum melihat anak itu. Dia menjual, bukan mengemis. Dia punya usaha untuk hidup. Aku tidak menyalahkan pengemis-pengemis yang mencari rezeki dengan mengemis, tapi sekali lagi, aku lebih kagum pada anak itu.
"Beli ini, Pak, beli ini, Bu," kata anak laki-laki itu. Tiap kali dia berkata begitu, dia selalu menyertakannya dengan merendahkan bahu. Aku tahu anak itu pasti bekerja di malam begini karena suatu keperluan yang mendesak, atau itu memang pekerjaannya demi membantu biaya sekolah. Itu cuma dugaanku.
Dua jam berlalu, baru satu pengendara yang berhasil membeli kantong plastiknya. Itu karena anak perempuan dalam mobil sedan itu terlihat ingin muntah, jadi dia membutuhkan kantong plastik hitam demi memuntahkan semua isi perutnya.
"Terima kasih banyak, Pak. Semoga berkah," ucap anak laki-laki itu sambil menunduk-nundukkan badannya. Dia terlihat girang sekali memperoleh uang seribuan. Aku yakin sekali, orang tuanya sudah berhasil mendidiknya dengan ajaran agama.
Malam semakin larut. Dingin kota ini makin terasa. Aku tetap bertahan di tempatku berdiri, tetap menyaksikan anak laki-laki penjual kantong plastik di dekat tiang lampu merah yang juga masih berjualan. Dia benar-benat ulet.
Hingga beberapa gerombolan anak datang menghampiri anak laki-laki itu. Pikiranku mendadak kacau. Apa yang ingin mereka lakukan?
"Woi!" teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar.
Anak laki-laki yang berjualan itu malah tersenyum. Tidak tampak rasa takut dalam dirinya. Aku kini mulai bingung.
"Sudah dapat banyak?"
"Belum. Baru satu orang yang beli."
"Ya sudah. Kita ke sana!" Salah satu anak berambut keriting mengajak anak laki-laki itu ke suatu tempat. Anak laki-laki itu mengangguk saja. Mereka kemudian pergi ke tempat yang dituju. Di dekat semak-semak, tak terlalu jauh dari tepi jalan, di tempat yang agak gelap.
Di tengah keremangan, aku menyaksikan anak laki-laki itu bersama dengan gerombolan anak yang tadi. Gila. Mereka mengeluarkan beberapa barang berupa bubuk yang lumayan kecil, menghirupnya sedikit, lalu tertawa-tawa. Mereka juga mengeluarkan sebatang rokok. Astaga. Anak laki-laki itu juga ikutan merokok.
Aku langsung ingin mengutuk diri. Aku tidak tahu tapi aku teramat jengkel dengan diriku sendiri.
Sehabis menikmati dunia, anak-anak itu berpencar lagi, termasuk anak laki-laki yang kembali ke dekat tiang lampu merah. Anak itu kembali menyodorkan jualannya, tapi kini cara berdirinya kurang stabil. Sedikit-sedikit oleng ke kiri, atau oleng ke kanan.
Akibatnya sebuah mobil berwarna putih yang hilang kendali menabrak anak laki-laki itu. Dia terpelanting. Kepalanya jatuh tepat di sisi trotoar. Darah seketika muncrat ke mana-mana. Tidak cukup lama, orang-orang sudah berkerumun ke arah anak itu. Beberapa orang lainnya menghakimi supir mobil, menghajarnya hingga biru-biru, termasuk mobilnya yang dibikin tambah penyok.
Kisah-kisah miris semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari. Aku memang tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Aku tidak mempermasalahkan orang-orang yang sering berjalan dengan lagak, atau orang yang kadang singgah mengencingiku, atau ketika aku jadi bahan lelucon karena sebuah mobil milik pejabat menabrakku. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya. (*)
Watampone, 19 November 2017

Minggu, 24 Desember 2017

Cerpen: Perempuan yang Menikah dengan Luka karya Justang Zealotous

Cerpen : Perempuan yang Menikah dengan Luka karya Justang Zealotous
[Dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu, 24 Desember 2017]


Aku hanya perempuan biasa, Rustam. Perempuan yang masih punya hati yang rapuh serapuh ranting kering jatuh meninggalkan pohon yang ketika terinjak kaki-kaki manusia akan patah sendirinya. Jujur, Rustam, aku tak bisa pura-pura kuat ketika dadaku sudah semakin sesak karena luka yang kauberikan padaku. Aku, perempuan yang telah menerima pinanganmu ingin menikah denganmu, bukan menikah dengan luka.
Sudah terbilang empat pekan kau pergi, Rustam. Sudah banyak kerinduan dan kehilangan dan kerterpurukan yang menjeratku. Aku seakan berada di ambang keinginan untuk lepas darimu atau tetap menunggumu di sini sampai kau pulang. Tapi aku tidak tahu seberapa lama aku bertahan sementara aku benar-benar hanya perempuan biasa yang bisa jatuh hati dengan siapa saja. Jika begitu, pulanglah, Rustam. Jangan biarkan aku mencinta selain dirimu.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau datang di rumahku bersama ibu dan bapakmu menemui ibu dan bapakku tanpa kabar sebelumnya hingga kami serumah kaget setengah mati. Kami kira kau bercanda tapi matamu yang berbinar, senyummu yang merekah lebar sekali hingga pipi bakpaumu jadi terkikis, menyiratkan kesungguhan yang nyata.
"Saya sudah sangat mencintai anak Om. Saya mohon restui hubungan kami," katamu jantan, lebih jantan dari kata-kata para lelaki yang pernah datang ke rumahku hanya dengan modal cengengesan.
"Kami pasti merestui niat baikmu, Nak." Ayahku membalas ucapanmu dengan bijak pula. Kau tahu, Rustam? Bahagia yang datang ke hatiku ketika mendengar itu lebih besar daripada bahagia yang pernah menghampiriku ketika wisuda S1 dua tahun lalu.
"Kapan acara naik uangnya?" tanya ibumu. Dia tampak lebih bersemangat dari yang aku kira.
"Secepatnya," sambut ayahku.
Semua tanggal penting sudah tercatat. Segala rangkaian adat sudah dilaksanakan. Tersisa kalimat sakral yang mesti kauucapkan di hadapan penghulu demi mengikat janji kita untuk hidup bahagia selamanya. Namun tiba-tiba kaukirimkan guntur tepat di hari-hari bahagiaku. "Aku harus berangkat sekarang, Halimah. Negara membutuhkanku."
Apa kau pikir aku tidak membutuhkanmu sama sekali, Rustam? Apa kau pikir aku tidak akan tersiksa dengan kepergianmu yang entah kembali atau tidak, Rustam? Aku sakit, Rustam. Aku bahkan menangis berhari-hari setelah melihat punggungmu yang lebar dan tegap itu menghilang perlahan demi perlahan.
Kukatakan memang, "Pergilah, Rustam, jika itu benar tugas negara yang harus kaupenuhi. Aku tahu banyak orang yang membutuhkan dan mengharapkanmu di sana. Aku hanya akan mengirimkan doa-doa untuk mengiringi langkahmu." Tapi itu tidak lebih dari caraku untuk membuat kau tidak merasa cemas sama sekali. Padahal kalimatku telah menusuk jantungku sendiri.
"Terima kasih, Halimah, aku janji akan kembali secepat yang aku bisa."
"Janji?"
"Janjiku itu janji seorang kesatria, Halimah. Aku lebih baik mati tertusuk panah ketimbang mengingkari janjiku sendiri."
Kau cium keningku kemudian berbalik. Kau pergi lalu tak kembali lagi. Ke mana janji kesatriamu itu, Rustam? Ini sudah cukup lama kaubiarkan aku dirundung pilu dan hidup dengan luka.
Kenapa juga harus kau yang pergi membela negara, Rustam? Maksudku, kenapa tidak kaucari saja pekerjaan lain yang tak perlu membuat aku merasakan kerinduan dan kehilangan dan keterpurukan yang tiada terkira?
Terlalu pahit rasanya melihat kau mencumbui senjata-senjata, sementara aku di sini hanya mampu menyandarkan wajahku ke jendela kaca sembari melihat angin menerbangkan daun-daun. Terlalu perih rasanya membayangkan kau berada di tengah-tengah kebengisan orang-orang yang bermain-main dengan desing peluru yang ditembakkan berkali-kali, sementara aku di sini hanya mampu tertidur dengan malam-malamku yang penuh dengan suara tembakan dan lelehan darah serta napas kematian.
"Kenapa kau memilih untuk jadi tentara?"
"Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang melindungi negara? Apa kau tidak bangga calon suamimu menjadi orang yang berjasa untuk negaranya?"
"Tapi aku takut kau terluka. Dan aku takut kau mati."
"Mati itu teman dari sebuah peperangan. Jika Tuhan membiarkan aku mati di medan perang, itu berarti Tuhan mengizinkan aku hidup di surganya."
"Kau bisa hidup di surga dengan cara lain."
"Mendapatkan surga dengan cara jantan itu pilihan terbaik, Halimah."
Kau memang egois, Rustam. Kau hanya memikirkan bagaimana seharusnya kau mati, tapi tidak pernah sekalipun kau berpikir bagaimana seharusnya kau hidup denganku.
Kau ingat, Rustam, kita bertemu saat aksi demonstrasi yang mengakibatkan dua teman kita direset ke kantor polisi. Mereka dituduh sebagai provokator. Saat itu, aku belum benar-benar mengenalmu tapi ketidakbecusan pemerintah saat itu membuat aku harus kenal dengan orang-orang sepertimu. Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang haknya dicabut. Aku ingin membela rakyat yang diperbudak pemerintah. Kau pun demikian.
Saat malam, setelah kita mengadakan pertemuan di rumah Suardi, rumah yang cukup luas untuk kita jadikan sebagai sekretariat, kau tiba-tiba menawariku jemputan untuk pulang.
"Tidak baik perempuan pulang sendirian," katamu saat itu.
"Aku sudah terbiasa."
"Kalau begitu kau harus mulai terbiasa diantar pulang."
Sejak dulu, kau memang sudah sangat egois, Rustam. Tapi karena malam itu memang sudah sangat larut, aku mau tak mau menerima tawaranmu. Lagi pula aku sebenarnya senang seorang lelaki bergaya mahasiswa organisator dengan rambut keriting yang ditata acak-acakan, jaket kulit yang membungkus kaos bertuliskan Merdeka Tanpa Kata-Kata yang kemudian dilengkapi jins panjang yang sudah disobek bagian lututnya. Aku diam-diam memperhatikanmu karena caramu untuk tetap terlihat berantakan.
Motormu sampai di depan pagar rumahku dalam waktu kurang lima belas menit. Jarak tempuh yang cukup dekat seharusnya..
"Apa kamu yakin akan ikut besok, Halimah?" tanyamu. Ada cemas yang muncul dari sosok berantakanmu.
"Kenapa kau bertanya begitu, Rustam? Aku tentu saja akan ikut. Itu sudah jadi sebuah prinsip."
"Tapi besok akan sangat bahaya untukmu, Halimah. Anak-anak pasti akan lebih agresif dari kemarin. Ini bukan lagi soal pembelaan hak-hak tapi juga tuntutan pembebasan untuk Adi dan Dono."
"Kamu santai saja, Rustam. Aku bisa jaga diri," kataku enteng. Kau tetap menatapku dengan tatapan paling khawatir. Sekarang aku merasakan kecemasanmu. Aku juga takut seperti kau dulu takut aku terluka. Ini seperti upaya balas dendam yang tak pernah tuntas.
Hari itu kita memang sama-sama berjuang, sama-sama membela hak-hak rakyat. Aku bahkan bahagia bisa berada di tengah teriakan-teriakan para demonstran yang haus keadilan. Mendengar letupan senjata para anggota brimob yang dilecutkan ke langit membuat semangatku semakit memburu. Gas air mata yang sengaja ditembakkan. Batu-batu kerikil yang melayang-melayang di udara. Semua itu benar-benar menyulut darahku. Hari itu kita sama-sama tertangkap, juga beberapa mahasiswa lain yang ikut digiring ke kantor polisi. Meskipun beberapa hari kemudian, kita dikembalikan ke orang tua masing-masing.
"Aku pernah berpikir apa sih yang sebenarnya kita lakukan ini?"
"Maksud kamu, Halimah?"
"Kita membela hak-hak rakyat dengan cara berteriak-teriak dan sekali adu pukul, sedangkan mereka di gedung sana malah menyeruput kopi sambil menonton televisi. Maksud aku, kenapa kita tidak membela hak-hak rakyat dengan cara lain tanpa harus anarkis?"
"Kita tidak anarkis, Halimah. Namun untuk didengar, kadang kita harus cari perhatian."
Sekarang, aku benar-benar ingin didengar olehmu, Rustam. Pahamkah kau itu? Aku seperti kembali menjadi seorang demonstran yang menuntut keadilan dalam dirinya. Keadilan yang telah kau renggut karena meninggalkanku di hari-hari seharusnya aku bahagia. Sesungguhnya aku pun patut bahagia, dengan atau tanpamu, tapi aku tak sanggup dan masih berharap kau segera kembali.
"Aku dengar kamu akan mendaftar jadi anggota tentara setelah lulus nanti. Apa itu benar, Rustam?"
"Aku memang memikirkan hal itu."
"Kenapa?"
"Aku berasal dari keluarga tentara, Halimah. Bapak dan kakekku seorang tentara."
"Kamu lucu, Rustam."
Kau menatapku heran.
"Kamu melawan negara dan sekarang kamu berpikir untuk membela negara."
"Aku tidak pernah melawan negara, Halimah. Hal ini bahkan tidak kusebut sebagai melawan negara. Kita hanya ingin negara ini berjalan dengan seharusnya tanpa ketidakadilan dari oknum-oknum pemerintah."
"Aku senang mendengarnya. Tapi aku minta satu hal, ketika kamu benar-benar jadi tentara, Rustam, jangan pernah lupakan orang-orang yang pernah ikut berjuang bersamamu."
Kau memang tidak melupakanku, Rustam, kau malah akan segera meresmikan hubungan kita, tapi kau sudah membuat aku tersiksa. Aku benar-benar disiksa rindu. Maka jangan salahkan aku ketika kau pulang, Rustam, kau hanya akan menemukan seorang perempuan yang membenamkan dirinya dengan sebuah luka dan darah hasil tembakan di kepalanya. (*)

Sabtu, 09 Desember 2017

Cerma: Gara-Gara Gigi Tanggal karya Justang Zealotous

Cerma: Gara-Gara Gigi Tanggal karya Justang Zealotous
[Dimuat di Minggu Pagi edisi Jumat, 8 Desember 2017]


Semalam aku bermimpi lagi, mimpi yang sama dua malam yang lalu, gigiku tanggal. Aku tidak tahu maksud dari mimpi-mimpi itu, tapi aku juga tidak ingin menjadikan bunga tidur sebagai pengacau hari-hariku.
Aku tetap menjalani hari seperti biasa. Bangun kesiangan, dan langsung buru-buru ke kamar mandi. Siram sebentar, pakai sampo sebentar, pakai sabun, siram lagi, selesai. Ibu kembali mengomel, seperti yang lalu-lalu, "Fio, kamu kesiangan lagi? Bagaimana nilai rapormu bisa naik kalau ke sekolah selalu telat?"
Aku tidak mengindahkan kata-kata Ibu, aku segera meluncur ke kamar, dan ganti baju, seragam osis. Setelah itu, nasi goreng yang disediakan Ibu sedari tadi kulahap habis. Dan tak lama, mobil milik ayah Putri sudah terparkir di depan rumah. Putri dan ayahnya memang baik. Mereka tidak pernah bosan mengantar-menjemputku ke sekolah. Aku senang. Selain hemat biaya, aku pun tak perlu takut telat pergi ke sekolah, seperti kata Ibu.
Dalam perjalanan, Putri tiba-tiba memberiku buku tentang arti mimpi. Kenapa harus kebetulan begini? Aku dengan ogah menyambut pemberian Putri.
"Baca ini, Fio. Aku pernah bermimpi dan melihat artinya di buku ini, dan hasilnya lumayan benar," kata Putri antusias.
"Aku tidak percaya arti mimpi. Kalaupun benar, itu pasti cuma kebetulan."
Putri tetap menyerahkan buku itu dan kini menaruhnya di samping aku duduk. Aku terpaksa membiarkannya. Aku sekarang dalam mobil milik ayahnya. Hal terbodoh jika aku menolaknya mentah-mentah, dan bahkan membuat hati perempuan manja itu terluka.
Sialnya, buku yang kini teronggok itu malah terus menggodaku. Aku seolah mendengar bisikan dari lembaran-lembaran buku itu. Baca aku! Baca aku!
Semakin aku mencoba untuk melupakan teror buku itu, keinginan kuat untuk membacanya semakin menyala. Perlahan, kuhampiri buku itu. Kusentuh sampul depannya, kuraba seperti meraba bulu halus kucing yang membinar-binarkan matanya.
Baiklah, aku akan membacanya. Ini hanya buku. Buku memang untuk dibaca. Jika aku akhirnya mengetahui makna dari mimpi-mimpiku berdasarkan pendapat orang melalui buku ini, itu tidak akan mengubah apapun dari hidupku. Aku hanya akan menjadikannya sebagai hiburan.
Lembaran kedua terbuka. Di sana ada daftar isi, aku segera mencari kata kunci gigi. Dapat. Aku sampai di halaman dua puluh tiga. Sudah ada belasan mimpi tentang gigi. Gigi goyang, gigi hilang, gigi jatuh, gigi sakit, hingga gigi tanggal. Mataku sontak saja melotot pada bagian tentang gigi tanggal itu. Aku masih mengingat mimpinya dengan jelas, mimpi yang sudah terulang dua kali, gigi geraham bawahku tanggal. Dan maknanya, bakal ada anggota keluarga yang meninggal.
Gila. Buku ini berhasil membuat napasku memburu. Buku itu pun tanpa sadar kulempar begitu saja, terlebih saat Putri menangkap basah diriku telah membaca bukunya.
"Kaubaca juga kan, Fio?" goda Putri.
Aku tersenyum, ketir.
Sepanjang hari ini, isi dari buku itu terus terngiang di ujung telingaku. Kenapa jadi begini? Aku sudah memaksa diriku untuk melupakan mimpi dan artinya itu tapi aku masih saja mengingatnya.
Beberapa cara pun aku lakukan agar lepas dari isi buku tentang arti mimpi itu. Mendengar musik, misalnya. Baca buku komedi. Atau berceloteh dengan kawan-kawanku di sekolah. Nihil. Kalimat-kalimat itu tetap bergerak-gerak di atas kepalaku.
"Kamu mikirin apa, Fio?" Putri mengagetkanku. Selama di kantin, sambil mengaduk-aduk gorengan yang sudah dicampur sambal tanpa sekalipun aku masukkan ke dalam mulut, aku terus-terusan melamun.
"Tidak," kataku. "Aku tidak memikirkan apa-apa, Put."
"Kalau begitu makanlah. Sebentar lagi jam istirahat bakal habis," sarannya.
Aku menyantap gorengan itu, pelan-pelan, sementara pikiran-pikiran tentang arti mimpi masih tetap terbayang. Begitu pula ketika jam pelajaran Matematika, aku yang duduk di bangku kedua dari depan masih memikirkan arti mimpi itu. Sampai-sampai Ibu Erti menegurku. Dia memintaku mengerjakan tugas tentang aljabar di papan tulis.
Di sekolah, aku terkenal pintar. Namun hari itu, perhitungan aljabar yang paling sederhana yang diberikan Ibu Erti jadi terlihat sulit. Ini semua gara-gara buku arti mimpi pemberian Putri. Aku jadi kesal sendiri.
"Kalau kamu masih mau belajar Matematika, jangan suka melamun," semprot Bu Erti. Aku mengangguk.
Sepulang sekolah, Putri kembali bertanya, "Kamu baik-baik saja kan, Fio?"
"Maksud kamu, Put?"
"Aneh saja. Seharian ini, kamu terus melamun. Biasanya kan kalau di sekolah, kamu yang paling heboh."
Aku diam sebentar. Kulempar pandanganku ke luar jendela mobil. Di sana langit terlihat agak mendung. "Tidak ada masalah kok, Put."
"Ini pasti karena mau hujan," celetuk Putri tiba-tiba.
"Apa hubungannya?"
"Cuaca itu suka mendukung suasana hati seseorang, tahu." Putri tertawa. Aku jadi ikut tertawa karenanya. "Kalau kamu punya masalah. Cerita saja sama aku, Fio."
Aku benar-benar beruntung punya sepupu, sekaligus sahabat seperti Putri. Dia sangat baik, meskipun sifat manjanya masih kadang mengusikku. Tapi wajar, Putri anak tunggal. Dia pasti jadi putri mahkota.
Tiba di rumah, perasaanku makin kalut saja. Kulangkahkan kaki gontai menuju ruang depan. Di sana ada Ibu. Dia sedang melanjutkan rajutan wol yang dikerjakannya sejak tiga hari yang lalu. Tiap kali aku bertanya sedang merajut apa, Ibu hanya tersenyum. Paling banter baju, pikirku. Ibu memang akhir-akhir ini suka bikin baju rajutan untuk adikku yang masih mungil itu.
"Langsung makan, Nak," teriak Ibu, tapi pandangannya tetap tertuju pada kain-kain wol itu.
Mendengar teriakan Ibu, entah, aku makin berdebar. Aku benar-benar tidak menyangka sebuah mimpi dan arti tentangnya dalam buku membuatku tak keruan begini. Ada anggota keluarga yang meninggal, katanya. Siapa dia?
Aku sudah berusaha untuk tidak mempercayai itu semua, tapi aku tidak bisa. Pikiran-pikiran aneh masih terus menghantuiku. Padahal aku tahu sendiri, kematian itu ada di tangan Tuhan bukan di lembaran-lembaran buku yang memaknai sebuah mimpi.
Jika arti mimpi itu ternyata benar, sekali lagi, siapa anggota keluarga yang akan meninggal. Kuperhatikan Ibu bersama rajutannya, aku kelu. Aku tidak mampu membayangkan kalau Ibu-lah yang dimaksudkan arti mimpi itu. Hidupku pasti akan semakin kacau, sementara Ayah sudah lebih dulu meninggalkan kami. Lagi pula, ada banyak dosa yang kulakukan pada Ibu. Aku juga masih terlalu muda dan belum bisa memberikan apa-apa untuk Ibu.
Mendadak, air mataku merintik. Aku lari memeluk Ibu. Dan perempuan beruban itu tampak heran melihatku.
"Ada apa, Nak? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ibu. Suaranya terdengar cemas sekali.
Tidak kujawab. Aku hanya menangis dalam rebaan Ibu.
"Fio. Fio. Bangun. Apa yang terjadi denganmu?" Ibu terlihat makin khawatir.
Kuangkat kepalaku dan berkata, "Maafkan aku, Ibu." Dan kulihat Ibu malah tersenyum padaku.
Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku tidak lagi mendengar omelan Ibu sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Mungkin, Tuhan sedang menegurku melalui mimpi yang konyol sambil menuntunku untuk membaca buku tentang arti mimpi agar aku tidak membuat Ibu marah-marah lagi.
"Kalau begini kan, bagus, Nak," kata Ibu. "Ibu yakin nilai rapormu bakal naik tahun ini."
Aku tersenyum. Kupeluk Ibu segera. Lama sekali, sampai dering telepon membuat Ibu melepaskan pelukanku. Ibu lalu bicara dengan orang di seberang sana. Beberapa detik, raut muka Ibu berubah. Ayah Putri meninggal, kabarnya.(*)
Watampone, 2017

Minggu, 31 Juli 2016

Tulis, Sebarkan, Heboh

Sekitar 68% media/berita di Indonesia isinya sesuatu yang ada di Pulau Jawa. Tidak heran bila orang Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua yang tidak tahu sama sekali perihal kehidupan orang Jawa juga diminta untuk berpikir ke sana. Misalnya, ketika akhirnya berita Pak Ahok yang lebih memilih jalur partai untuk menjadi Gubernur Jakarta mencuat di media, juga mesti dipikirkan orang-orang di pulau lain. Padahal dia mau jadi Gubernur Jakarta, bukan Gubernur Indonesia.

Oleh karenanya, bagi yang bukan orang Jawa atau tidak berasal dari sana, jangan kaget kalau semisal Anda membuat sesuatu yang menghebohkan, lebih menginspirasi, unik, dan bahkan patut diacungkan jempol, kemungkinan muncul di media sangat sedikit. Untungnya, saat ini semua orang di semua pulau bisa menjadi seorang reporter (penyampai berita). Dunia internet telah memudahkan kita untuk membuat orang lain melirik pula tanah kita. Tulis, sebarkan, heboh.

Hal ini terbukti ketika seorang kakek bernama H. Nasir, yang notabene berasal dari suatu daerah nun jauh dari Pulau Jawa, menikahi seorang perempuan muda nan cantik, berkat media sosial mereka pun jadi berita di mana-mana. Orang-orang membicarakan mereka.

Foto Bersama Workshop Menulis
Foto bersama para peserta workshop menulis, pemateri, dan panitia penyelenggara
Permasalahan di atas sempat didiskusikan dalam sebuah kegiatan Workshop Menulis yang diadakan di Aula Utama STAIN Watampone, Sabtu (30/7/16) - Minggu (31/7/16) kemarin. Dengan mengangkat tema "Menulis: Membangun Bone", Komunitas Rumah Baca Bukuta Philosophia yang bekerja sama dengan beberapa komunitas lainnya, mengajak peserta workshop untuk memperkaya wawasan dalam kepenulisan sehingga dapat memperkenalkan budaya Bone ke kancah nasional, bahkan internasional melalui tulisan.

Kegiatan yang diadakan secara gratis ini diikuti oleh beberapa pemuda, pelajar, dan mahasiswa di Kabupaten Bone. Kegiatan ini mendapat antusias yang besar terbukti dengan banyak peserta yang mengikuti kegiatan tersebut seperti Mahasiswa STAIN Watampone, STKIP Muhammadiyah Bone, pelajar dari MAN 2 Watampone dan Pesantren Al-Junaidiyah Biru, serta lainnya. Kegiatan yang dilangsungkan dengan beberapa materi seputar kepenulisan. Beberapa pemateri merupakan Blogger ternama yang telah lama berkecimpung dalam dunia literasi.

Iqbal Lubis - Workshop Menulis
Iqbal Lubis, Jurnalis Foto Tempo dan Blogger di iqballubis.com
sedang membawakan materi di Workshop Menulis
Beberapa pemateri, seperti Daeng Iphul yang merupakan Blogger dari daengasing.com dengan materi “Ide dan Sudut Pandang Tulisan”, Iqbal Lubis yang merupakan Jurnalis Foto Tempo dan Blogger di iqballubis.com dengan materi “Fotografi”. Pemateri lainnya seperti Mansyur Rahim dengan lelakibugis.net yang membawakan materi “Etika Media Sosial”, serta Andi Feri Febriari asal penabiru.net dengan materi “Blogging dan Optimasi Blog”.

Workshop menulis dimulai dengan me-review beberapa tulisan peserta yang telah dikirimkan sebelum kegiatan dilangsungkan. Hal ini dilakukan guna melihat sejauh mana potensi kepenulisan peserta yang hadir dalam workshop tersebut. Pada saat review, tidak sedikit peserta workshop memang telah memikili pengalaman menulis sehingga hanya membutuhkan sedikit bimbingan demi terciptanya calon penulis besar. Dalam agenda tersebut pula dilaksanakan sesi tanya jawab perihal masalah dalam proses tulis-menulis.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini, memang patut diberikan perhatian lebih agar dapat dijadikan sebagai ajang untuk mencari bibit baru dalam dunia literasi. Seperti yang dikatakan seorang filsuf Muslim, Imam Al Ghazali, "Jika engkau bukan seorang anak raja, maka jadilah penulis." Maksudnya, apabila kamu bukan orang terkenal, seperti artis atau anak pemerintah, maka dengan menjadi seorang penulis maka kita akan dikenal orang lain pula secara luas. 

Selain itu, seperti yang dikatakan sebelumnya, jika sebagian besar media memuat permasalahan di Jawa, maka buatlah media kamu sendiri, seperti Blog, Facebook, atau Twitter, atau lainnya. Namun, Mansyur Rahim mengingatkan, "Bijaklah dalam bersosial media. Saring sebelum sharing." (*)

Minggu, 03 Juli 2016

Pada Penghujung Malam - Puisi Malam Takbir Lebaran

Pada Penghujung Malam
Oleh: Justang Zealotous

Pada penghujung malam di bulan keduapuluh sembilan
Gurat wajah penggema takbir makin mengerut
Mengikuti senandung alam yang berkoar pada sepanjang jalan
Mereka tertawa dalam kerut wajah yang sedih

Apakah ini kemenangan?
Jangan tanya pada anak-anak yang menenteng gendang seraya terhenti mencari tangan di atas
Atau ibu-ibu yang menetek bayinya sambil memikul keranjang sayur kemudian keliling ratusan gang
Tapi tanya pada kau
Masih sempat mata pun telinga bertemu mereka

Ataukah ini kesalahan?
Sambil menyeru takbir di trotoar jalan, pemukiman kecil, atau gang-gang sempit
Tapi di ujung lidah masih terdengar menyibir
Lantang! Iba pun kurang

Pada penghujung malam di bulan keduapuluh sembilan
Biar takbir menggema
Kau tertawa, mereka menanti asa


Wtp, malam keduapuluh tujuh bulan suci, 2015

*Puisi ini dibuat pada malam takbiran tahun 2015.
*Puisi ini pernah memenangkan Galeri Puisi Pedas 094 - Senin, 13 Juli 2015

Rabu, 03 Februari 2016

Cerpen: Kematian Seorang Dermawan karya Justang Zealotous

kematian seorang dermawan
[Dimuat di Metro Riau, Minggu, 24 Januari 2016]

Puncak segatan matahari terjadi lagi, padahal ini sudah masuk musim penghujan. Pasir kembali mendidih. Angin berembus seperti kobaran api yang menyala. Ini memang aneh. Tapi, tidak ada yang lebih mengejutkan selain kabar kematian Pak Burhan, pria berumur yang begitu dermawan, di siang bolong begini. Banyak yang bilang, Pak Burhan mati kelaparan.
Semua orang berbondong-bondong menaruh tanya. Mengapa Pak Burhan bisa menjemput maut karena kelaparan? Sosoknya yang pemurah dan selalu membantu banyak orang seolah mustahil kematian seperti itu yang menimpanya. Jika Pak Burhan mati stroke atau serangan jantung, mungkin semua orang akan terima karena umurnya yang memang sudah tua. Pertanyaannya lagi, kenapa dia sampai mati kelaparan? Tidak adakah orang yang memberinya makan?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di kepala banyak orang. Tidak ada yang menyangka akan seperti ini akhir hidup Pak Burhan. Saya sendiri sontak kaget mendengar kabar angin itu. Namun, bagaimanapun jenazah Pak Burhan telah diangkut dengan ambulans menuju tempat peristirahatannya yang terakhir.
Iring-iringan pengantar jenazah sangat banyak diikuti suara sirene ambulans yang meraung-raung. Semua seperti menyimpan kehilangan yang mendalam. Betapapun, Pak Burhan telah mencetak banyak amal kebaikan. Kemurahan hatinya dan kesederhanaannya. Satu yang masih saya sesalkan, kenapa Pak Burhan yang kami kenal baik harus mati kelaparan?
Saya dan Pak Burhan memang tidak terlalu dekat. Saya mengenalnya hanya sebatas rekan kerja sebelum akhirnya dia mengundurkan diri. Kami sama-sama kerja sebagai buruh di pabrik beras. Meskipun Pak Burhan cukup berumur ketimbang kami yang bekerja dengannya tapi dia memiliki semangat kerja yang lebih besar daripada kami.
Saya tidak pernah melihatnya mengeluh sama sekali walaupun mesti lembur hampir tiap hari. Suatu hari saya melihatnya telah bermandikan keringat, sambil batuk-batuk dia masih menyelesaikan pekerjaannya. Menumbuk padi dan menggilingnya.
“Pak, kenapa tidak istirahat saja?” Saya mengingatkan. “Nanti saya gantikan pekerjaannya.”
“Tidak apa-apa. Sebentar lagi juga selesai,” katanya masih penuh semangat.
Saya mendekat padanya, bermaksud membantu pekerjaannya. “Pak Burhan ini hebat.”
Pak Burhan tersenyum mendengar pujian saya.
“Bapak ini kan lebih tua daripada kami semua. Tapi, semangat Bapak masih seperti anak muda. Sama sekali tidak pernah capek.”
Dia terkekeh. “Saya juga pernah capek. Tapi bukan berarti itu adalah alasan saya untuk mengeluh. Saya masih bisa kerja. Saya masih bisa kasih makan diri sendiri. Sementara banyak orang tunggang langgang cari kerja untuk makan. Makanya, ya, disyukuri saja.”
Begitupun, setelah setahun lebih bekerja di pabrik, Pak Burhan memutuskan untuk mengundurukan diri. Alasan tepatnya tidak begitu saya ketahui, tapi kata beberapa rekan kerja, Pak Burhan sudah merasa beda visi dengan di pabrik. Banyak kejanggalan yang tidak diingini, misalnya gaji yang tidak seimbang dengan pekerjaan atau ego tinggi yang dimiliki pihak pengelola yang selalu membedakannya dengan buruh lain hanya karena masalah umur. Dia dianggap tidak becus lagi. Namun, setelah pengunduran dirinya, Pak Burhan kadang jadi kuli panggul, kuli bangunan, atau apa saja yang bisa dikerjakannya.
Saya kian kagum pada sosok yang lumayan ringkih itu. Selain sifat kesederhanaannya dan dengan semangat yang tinggi, Pak Burhan banyak membantu orang padahal dia sendiri sedang kesusahan. Dia bukan orang yang berkecukupan tapi terlihat selalu cukup jika bersedekah.
Hal yang saya heran dari Pak Burhan, meskipun suka membantu sesama tapi dia paling tidak suka dibantu orang. Dia selalu beralasan bahwa dia masih kuat untuk mendapat bantuan. Pernah sesekali saya melihat Pak Burhan jalan kaki sendirian. Tampaknya perjalanan kaki Pak Burhan sudah lumayan jauh atau matahari yang semakin terik saja hingga Pak Burhan terlihat begitu letih, baju kaosnya bahkan basah karena keringat. Beberapa kali dia mengusap dahinya dengan lengan.
Saya yang kala itu mengendarai motor menuju pasar berhenti tepat di sampingnya. Saya mencoba untuk memberikan tumpangan padanya.
“Pak, mau ke mana?” tanya saya pelan.
“Mau ke terminal,” jawabnya.
“Oh, ikut saya saja. Toh, saya mau ke pasar dan jalurnya searah.”
“Tidak! Terima kasih. Adek jalan saja.” Pak Burhan menolak sambil tersenyum sedikit. Dari wajahnya, saya bisa melihat guratan keletihan di dalamnya.
“Ikut sajalah, Pak! Kelihatannya Bapak capek sekali apalagi masih jauh perjalanannya.”
Pak Burhan tetap menolak. Dalihnya dia ingin olahraga. Daripada maksa terus dan akhirnya terdengar menyinggung. Saya pun memutuskan pergi sendiri. “Kalau begitu saya duluan, Pak!”
“Hati-hati.” Dia masih sempat teriak saat itu. Dalam teriakannya, tetap terdengar rasa semangat di sana. Pak Burhan memang hebat.
Hal-hal yang saya paling kenal dari Pak Burhan terasa mengaburkan kabar penyebab kematiannya. Mati kelaparan. Saya benar-benar tidak percaya. Pasti ada orang-orang yang sengaja menyebar gosip tentang itu.
Setelah jenazah Pak Burhan dimasukkan ke dalam liang lahat dan dibacakan doa oleh Pak Imam, para rombongan meninggalkan makam. Di antara rombongan itu, tidak seorang pun yang saya lihat merupakan keluarga dekat Pak Burhan. Kebanyakan dari yang datang hanyalah mantan rekan kerja Pak Burhan, tetangganya, dan orang-orang yang mengenalnya atau mungkin yang pernah dibantunya.
Selama saya mengenal Pak Burhan, saya memang tidak pernah mendengar kabar soal keluarganya. Hingga umur genap lima puluh dua, Pak Burhan tetap menjadi bujang lapuk. Saya tidak tahu menahu mengapa Pak Burhan tidak mencari istri. Ada yang bilang, Pak Burhan tetap setia sendiri karena tidak mau menyusahkan seorang wanita yang akan menjadi istrinya nanti. Hidup sudah susah, tidak perlu dibikin tambah susah.
Pak Burhan juga tidak memiliki kerabat dekat. Dia telah lama hidup sendiri sebagai manusia perantauan. Pak Burhan seperti hidup sebatang kara.
Sepulang dari mengantar jenazah Pak Burhan, sudah banyak obrolan soal mengapa Pak Burhan sampai mati kelaparan. Semua seakan menyesal telah melupakan sosok yang selama ini banyak membantu. Seperti sebuah ketidakadilan, banyak yang merutuki kelalaian masyarakat sekitarnya sampai membiarkan Pak Burhan harus hidup di tengah perut yang kosong.
Pak Lurah dengan inisiatif beberapa warga pun mengadakan pertemuan mendadak di balai desa untuk membahas penyebab kematian Pak Burhan, yang terasa sangat disesalkan. Pak Lurah membuka pertemuan dengan sedikit pidato.
“Innalillahiwainnailaihirajiun! Telah berpulang, keluarga kita, saudara kita, sahabat kita, Pak Burhan Saleh. Dia sosok yang kita kenal begitu baik dan dermawan. Banyak di antara kita yang telah mendapat bantuan darinya. Termasuk saya pribadi. Saya dan tentunya kalian semua merasa kehilangan akan sosoknya. Namun, keresahan saya timbul ketika mendengar kalau Pak Burhan meninggal karena kelaparan. Mengapa hal itu bisa sampai terjadi? Ini pasti sebuah kelalaian. Saya mengadakan pertemuan ini agar tidak ada lagi korban kelaparan selanjutnya.”
Semua orang yang hadir menundukkan kepala. Ada guratan sedih di wajah mereka. Beberapa orang yang mengenal begitu dekat sosok Pak Burhan bahkan meneteskan air mata. Suasana pun menjadi senyap dan haru.
Di tengah kegamangan, Pak Amin, tetangga Pak Burhan, angkat bicara. “Semenjak Pak Burhan tidak lagi kerja di pabrik, dia memang selalu kelayapan tidak jelas. Apalagi umurnya yang sudah tidak muda lagi, Pak Burhan sempat beberapa kali sakit. Dulu, saya pernah melihat dia keluar rumah. Ketika ditanya mau ke mana, katanya ingin membeli obat. Saya tahu betul kalau Pak Burhan itu orang baik dan beberapa kali juga membantu saya. Tiap kali diberi uang, dia selalu tolak dan menganggap itu keikhlasan. Saat itu, saya bermaksud ingin menolongnya untuk membelikan obat yang diingini, sekaligus balas budi. Namun sekali lagi, Pak Burhan menolak bantuan saya. Makanya, karena sering sekali ditolak, saya pun jadi sungkan untuk membantunya bahkan terkesan mengabaikan padahal saya paham dia juga mengharap bantuan. Jika saya kurang perhatian padanya, saya minta maaf. Kematiannya juga bukan mau saya.” Pak Amin mengakhiri ucapannya dengan tatapan menyesal.
“Saya juga.” Sebuah suara terdengar lagi. Seseorang pun maju di hadapan para warga yang hadir. Dia adalah Pak Jahid. Seorang bapak berkumis tebal itu bukan mantan rekan kerja, tetangga, apalagi keluarga Pak Burhan. Mungkin dia orang yang juga pernah dibantu olehnya.
Pak Burhan memang membantu semua orang tanpa melihat status dan kedekatan. Pak Burhan pernah bilang, jika kita membantu, bukan dilihat dari siapa yang kita bantu tapi apa yang bisa kita bantu.
“Kamu juga apa?” Pak Lurah bertanya.
“Saya juga pernah ditolong Pak Burhan. Bahkan saya merasa telah berutang budi padanya. Namun saya minta maaf.” Pak Jahid tiba-tiba mengubah ekspersi wajahnya dengan begitu menyesal.
Semua orang lantas menatap Pak Jahid dengan bingung.
“Sehari sebelum Pak Burhan meninggal. Saya sempat melihat dia berjalan sambil membawa bakul besar. Saya ingin mendekatinya untuk memberi bantuan tapi urung karena saya pikir dia akan kembali menolak. Soalnya saya sempat malu besar ketika berusaha menolongnya di hari lain dan ditolak mentah-mentah di depan banyak orang. Dia bilang saat itu kalau dia bukan lagi orang tua dan masih kuat untuk bekerja sendiri. Dia lalu pergi meninggalkan saya.” Pak Jahid mulai meneteskan air mata. “Padahal maksud saya baik. Kemudian saat dia tampak capek menenteng bakul dari sana ke mari, dia pun terjatuh. Saya tetap tidak menolongnya. Saya menyesal sekali. Apalagi saya langsung pergi saat itu.”
Mendengar berbagai cerita penyesalan yang dialami mereka bersama Pak Burhan, saya jadi teringat namun tidak ingin menyampaikan di depan khalayak. Saya seperti malu pada diri sendiri hanya karena Pak Burhan juga sering menolak bantuan saya.
Kala itu. Saya melihat Pak Burhan terjatuh. Saya melihat bakul berisi nasi sisa itu berserakan di tanah. Saya melihat dia berjuang seorang diri untuk memunguti nasi sisa itu sedikit demi sedikit. Namun saya tidak membantunya dan malah pergi meninggalkannya. Pak Burhan, kami menyesal, saya sangat menyesal.

Watampone, 10-01-15 22:20


JUSTANG ZEALOTOUS. Menulis cerpen, puisi, dan artikel. Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP Muhammadiyah Bone. Anggota dari Forum Lingkar Pena Cabang Bone. Beberapa karyanya sudah pernah diterbitkan.